Antara TEKSTUAL dan KONTEKSTUAL Dalam Memahami al-Qur’an dan as-Sunnah


Merupakan sesuatu yang sudah mapan dalam aqidah kaum muslimin bahwa Islam yang dibawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah syariat yang berlaku untuk semua manusia di semua tempat sampai hari kiamat. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ini aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya)… (QS. al-An’am [6]: 19)

dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Para nabi sebelumku hanya diutus kepada kaumnya saja sedangkan aku diutus kepada semua manusia.” (HR. Bukhori Muslim)

Namun patut disayangkan sekali pada dekade terakhir ini ada sebuah syubhat yang dihembuskan oleh kaum orientalis kafir dan para pengekornya dari kalangan kaum muslimin bahwa syariat Islam terbagi menjadi universal, temporal dan lokal. Syubhat ini tentunya adalah sebuah racun yang sangat mematikan. Karena hal ini adalah batu loncatan bagi kaum zindiq untuk menolak syariat Islam dengan dalih syariat ini hanya bersifat temporal atau hanya bersifat lokal.

Bukankah pada orang yang menolak syariat hijab, jilbab bagi kaum wanita, jenggot dan lainnya berpijak pada syubuhat bahwa dalilnya bersifat lokal!? Juga bukankah yang menolak larangan wanita menjadi pemimpin, hukum rajam bagi pelaku zina, larangan wanita safar tanpa mahrom atau lainnya berdalih pada syubuhat bahwa dalilnya bersifat temporal!? Lihatlah, kaedah tekstual dan kontekstual telah membawa para pengusungnya untuk mengingkari banyak sekali syariat Islam yang difirmankan oleh Alloh Ta’ala serta disabdakan oleh Rosululloh –shallallahu ‘alaihi wa sallam-!!

Pemahaman semacam ini sangat mirip sekali dengan racun orang Shufiyyah yang membagi manusia menjadi syariat, hakekat dan ma’rifat. Juga sangat mirip sekali dengan pijakan kelompok sesat semacam Jahmiyyah dan Mu’tazilah serta lainnya yang membagi nash-nash al-Qur’an dan Sunnah kepada hakekat dan majaz. Yang semua itu menjadi sebuah tangga untuk menolak syariat Islam yang agung ini.

Dari sini, maka kalau kita temukan sebagian keterangan ulama Ahlus Sunnah yang kesannya menggunakan kaedah kontestual maka yakinilah bahwa itu dengan sebuah dalil yang sangat kuat, karena memang pada dasarnya hukum Islam itu universal.

Contoh mudah:

Rosululloh –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda .(Yang artinya): “Kalau kalian buang hajat maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya, namun menghadaplah ke arah timur atau barat.” Sabda Rosululloh “menghadaplah ke arah timur atau barat”, hanya berlaku untuk daerah yang berada di sebelah utara atau selatan Makkah, karena intinya adalah sabda Rosululloh-shallallahu ‘alaihi wa sallam– : “Janganlah menghadap atau membelakangi kiblat.”

Bandingkan hal ini dengan kesepakatan ulama bahwa barangsiapa yang mengatakan hu­kum rajam sudah tidak relevan lagi dengan peradaban modern, maka dia kafir.

Dari sini, maka ambillah Islam dari tangan para ulama Ahlus Sunnah, agar kita bertemu dengan Alloh dengan membawa pemahaman Islam yang benar, dan jauhilah memahami Islam dari ahlu bid’ah dan syubuhat yang hatinya berpenyakit, karena mereka hanya akan membuat hati semakin sakit dan hitam. Semoga Alloh memberi taufiq kepada kita semua.

Sumber: AL FURQON Edisi 11 Tahun VI //Jumada Tsaniyah 1428 [Juni-Juli 2007]

Tulisan Terkait:

Hadits Nabi, yang Tekstual dan Kontekstual