Kemiripan SYI’AH dengan YAHUDI


Muqoddimah

Agama Syi’ah adalah suatu agama yang dicetuskan oleh seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’. Dia melakukan kemunafikan dengan menampakkan keIslaman dan menyembunyikan kekufuran. Dia merasa geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa..

Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama orang-orang Yahudi Shon’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan umatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya -termasuk Ibnu Saba’ sendiri- ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Kholifah, Madinah Nabairiyah. Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Kholifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, padahal Ali radhiyallahu ‘anhu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai ‘Syi’ah Ali’ (pendukung Ali radhiyallahu ‘anhu), padahal Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu membenci mereka bahkan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara licik dan keji. (Lihat pengakuan tokoh-tokoh besar Syi’ah tentang Abdulloh bin Saba’ di dalam kitab Abdulloh bin Saba’ Haqiqoh La Khoyal – edisi Indonesia: Abduloh bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif, oleh Syaikh Dr. Sa’di Al-Hasyimi)

Yang sangat mengherankan, sekarang ini ada sebagian orang-orang Syi’ah yang mengingkari eksistensi Abdulloh bin Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka, dan agar manusia melupakan peran Yahudi dalam menelorkan agama Syi’ah. Padahal begitu banyak kemiripan antara Syi’ah dan Yahudi yang menunjukkan bahwa dua agama ini memiliki hubungan yang sangat erat.

Insya Allah dalam pembahasan kali ini akan kami paparkan sebagian kemiripan-kemiripan Syi’ah dengan Yahudi untuk membuka mata sebagian dari kaum muslimin yang masih kabur tentang hakikat agama Syi’ah ini dan sekaligus sebagai kewaspadaan bagi kita semua terhadap bahaya agama Syi’ah ini.

YAHUDI MENGUBAH TAUROT, SYI’AH MENGUBAH AL-QUR’AN

Alloh telah mengkhabarkan di dalam kitab-Nya bahwa orang-orang Yahudi telah mengubah-ubah Taurot, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىَ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمُ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(tetapi) Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad -HI) senantiasa akan melihat ke-khianatan mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), raaka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik, (QS. al-Maidah [5]: 13)

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurot, kemudian mereka tidak memikulnya adalah se­perti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat-lah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Alloh itu. dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim. (QS. al-Jumu’ah[62]: 5)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yaitu seperti keledai yang jika membawa kitab-kitab tidak tahu isinya, maka dia membawanya seperti membawa beban tanpa mengetahui apa yang ada padanya, demikian juga mereka ketika membawa kitab yang diberikan kepada mereka, mereka hafalkan lafadznya, dalam keadaan tidak memahaminya dan tidak mengamalkan kandungannya, bahkan mereka takwil, mereka ubah, dan mereka ganti.”

Seorang ulama Yahudi yang kemudian masuk Islam dan menamai dirinya Abdussalam berkata: “Sungguh kami telah mendapati dalam tafsir Taurot yang paling masyhur yang mereka namai dengan Talmudz, bahwa Raja Talmai -yang datang sesudah Bukhtanashshor- telah meminta kitab Taurot dari para ulama Yahudi, maka mereka takut menampakkan Taurot kepadanya karena dia mengingkari sebagian dari kandungan-kandungan Taurot, maka 70 ulama Yahudi bersepakat untuk mengubah apa yang dikehendaki oleh raja tersebut hal-hal yang diingkari olehnya karena mereka takut kepadanya. Jika saja mereka setuju untuk mengubahnya maka bagaimana mereka dipercaya dan dipakai sandaran atas satu ayat?!” (Idh-harul Haq, hal. 273)

Adapun orang-orang Syi’ah Rofidhoh maka mereka juga melakukan pengubahan terhadap al-Qur’an, seperti dilakukan oleh seorang gembong syi’ah Ali bin Ibrohim al-Qummi (meninggal tahun 307 H) di dalam Tafsirnya, dia mengatakan bahwa ayat  [آل عمران: 43]: يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ adalah keliru, yang benar adalah وَارْكَعِي وَاسْجُدِي .

Dan dia mengatakan bahwa ayat [آل عمران:110]:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

Adalah keliru, yang benar adalah: كنتم خير أئمة أخرجت للناس (Lihat Tafsir al-Qummi 1/8-11)

YAHUDI MEMBATASI IMAMAH  PADA KELUARGA DAUD DAN SYI’AH MEMBATASI IMAMAH PADA ALI DAN KETURUNANNYA

Orang-orang Yahudi membatasi imamah (kepemimpinan) pada keluarga Dawud sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab mereka: “Bagi Dawud dan keturunannya dan rumahnya dan kursinya keselamatan selama-lamanya di sisi Robb.” (al-Ishhah Tsani paragraf 33) “Raja Sulaiman diberkahi dan kursi Dawud tetap di depan Robb selama-lama­nya.” (al-Ishhah Tsani paragraf 45)

Mereka sangat berlebihan dalam masalah ini hingga menganggap bahwa Alloh berjanji akan melanggengkan kekuasaan dalam keturunan Dawud walaupun mereka telah kafir: “Allah berfirman: Aku dapati Dawud adalah hamba-Ku, dengan minyak kesucian-Ku, Aku usap dia, dan Kujadikan selama-lamanya keturunannya dan kursinya seperti hari-hari langit, walaupun keturunannya telah meninggalkan syari’at-Ku dan tidak menjalankan hukum-hukum-Ku…” (Mazmur ke-89 paragraf 20 dst)

Tidak henti-hentinya orang-orang Yahudi hing­ga saat ini terus meyakini aqidah ini dan memimpikan kembalinya singgasana Israel dan diangkatnya seorang keturunan Dawud atasnya. Di dalam Protokolat Zionis tertera: “Dan sekarang aku akan membahas metode yang bisa menguatkan negara Raja Dawud, hingga berlangsung sampai hari Akhir.” (Protokolat ke-24 hal. 210)

Adapun orang-orang Syi’ah maka mereka meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan imamah sepeninggalnya kepada Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, ke­mudian berpindah kepada anaknya: Hasan bin Ali, kemudian kepada Husain bin Ali, kemudian berpindah-pindah ke keturunan Husain hingga berhenti pada Imam Mahdi yang ditunggu yaitu imam yang kedua belas menurut mereka.

Al-Arballi -seorang gembong syi’ah- meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Para imam sepeninggalku ada dua belas orang, yang pertama adalah Engkau wahai Ali dan yang terakhir adalah al-Qaim yang Alloh akan menaklukkan pada tangannya belahan timur bumi dan baratnya.” (Kasyful Ghummah 2/507)

Ash-Shaduq -seorang tokoh Syi’ah- meriwayatkan dari Zuroroh bin A’yun bahwasanya dia berkata: “Aku mendengar Abu Ja’far Alaihi Salam (?!, -adm) berkata: ‘Kami adalah dua belas imam, di antara me­reka adalah Hasan dan Husain dan kemudian para imam dari keturunan Husain.'” (al-Khishol hal. 478)

Jumlah imam yang dua belas ini dikatakan oleh orang-orang Syi’ah sebagai kesesuaian dengan jumlah asbath Bani Isroil, hal ini menunjukkan begitu sangatnya kegandrungan orang-orang Syi’ah untuk menyerupai orang-orang Yahudi. Ash-Shaduq menulis sebuah judul dalam kitabnya al-Khishol (hal. 465): “Alloh telah mengeluarkan dari Bani Is­roil dua belas sibthon, dan menebarkan dari Hasan dan Husain 12 sibthon.”

Keyakinan orang-orang Yahudi dan orang-orang Syi’ah bahwa imamah terbatas pada orang-orang tertentu adalah keyakinan yang bathil, di an­tara dalil yang menunjukkan kebatilannya adalah firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang sholih. (QS. al-An-biya’ [21]: 105)

Dalam ayat ini mensyaratkan kesholihan dalam mempusakai bumi dan menguasainya dan tidak membatasinya pada kelompok atau ras sebagai­mana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Syi’ah.

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan di antara mereka itu para imam (pemimpin) yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. as-Sajadah [32]: 24)

Ayat di atas menunjukkan bahwa imamah sesungguhnya didapatkan dengan keimanan dan kesabaran dan bukan secara warisan sebagaimana sangkaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Rofidhoh.

YAHUDI MENGKULTUSKAN AHBAR DAN RUHBAN, SYI’AH MENGKULTUSKAN PARA IMAM MEREKA

Orang-orang Yahudi begitu ghuluiv pada ahbar (ulama) dan ruhban (ahli ibadah) mereka sehingga menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh, menjadikan syari’at mereka sebagai syari’at Alloh. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rohib-rohib mereka sebagai Tuhan selain Alloh (QS. at-Taubah [9]: 31)

Orang-orang Yahudi menganggap bahwa Tal­mud yang merupakan hasil pemikiran para ulama mereka lebih afdhol dibandingkan dengan Taurot yang diturunkan oleh Alloh kepada Musa ‘alaihis salam. Dalam Talmudz tertera: “Lihatlah wahai anak-anakku kepada perkataan hakhamat (para ulama) lebih daripada perhatianmu kepada syari’at Musa.” (Kanzul Marshod hal. 45)

Adapun orang-orang Syi’ah maka mereka begitu ghuluw pada para imam mereka, hingga memberikan kepada mereka sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Alloh, seperti mengetahui ilmu ghoib, dan mengetahui segala kejadian hingga hari Kiamat, di dalam kitab al-Kafi dari Abdullah bin Bisyr dari Abu Abdilloh bahwasanya dia berkata: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi, aku tahu apa yang di surga, aku tahu apa yang di neraka, dan aku tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi “(Ushul al-Kafi oleh Kulaini 1/261)

Khomeini berkata: “Sesungguhnya syari’at para imam seperti syari’at al-Qur’an tidaklah khusus bagi suatu generasi, Sesungguhnya dia adalah syari’at semuanya di setiap zaman dan tempat, dan hingga hari kiamat wajib dilaksanakan dan diikuti.” (Hukumah Islamiyyah hal. 113)

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa sikap ghuluw yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Syi’ah ini adalah perkara yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya serta sebab kebinasaan semua pemeluk agama, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ

Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar. (QS. an-Nisa’ [4]: 171)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Awaslah kalian dari sikap ghuluw karena sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam agama.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 1/347 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya 2/1108 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1283)

YAHUDI MENGIMANI REINKARNASI, DEMIKIAN JUGA SYI’AH

Yahudi mengatakan orang-orang Yahudi akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka meninggal du­nia, di dalam al-Ish-hah ke-26 dari Safar Isy’iya para­graf 19 disebutkan tentang reinkarnasi orang-orang Yahudi di saat keluarnya al-Masih al-Muntadhor (yang ditunggu): “Hiduplah orang-orangmu yang sudah mati, dan berdirilah para mayat.”

Adapun Syi’ah, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) para imam mereka seperti Ali, al-Hasan, al-Husain radhiyallahu ‘anhum, dan yang lainnya. (Lihat Bashoir Darajat hal. 295-296, Biharul Anwar 27/303-304, dan al-Iiqadh minal Haj’ah hal. 220)

Aqidah roj’ah (reinkarnasi) ini adalah keyakinan yang bathil dengan nash Kitabulloh, Alloh ‘Azza wa Jalla ber­firman:

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Robbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang sholih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan me­reka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. al-Mukminun [23]: 99-100)

Ayat ini memotong setiap harapan kembali/re-inkarnasi ke dunia, sama saja untuk tujuan beramal sholih atau tujuan-tujuan lain yang didakwakan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Syi’ah, dan Alloh telah menegaskan bahwa ada barzakh (pembatas) antara kematian dan kebangkitan atau pembatas antara dunia dan akhirat sebagaimana disebutkan oleh para ahli tafsir. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/256)

YAHUDI MEYAKINI BAHWA ALLOH MENGETAHUI SESUATU SETELAH TADINYA TIDAK TAHU, BEGITU JUGA DENGAN SYI’AH

Yahudi dikenal lancang terhadap Alloh Ta’ala, mereka mengatakan bahwa Alloh menyesal tatkala memilih Saul menjadi raja bagi Bani Isroil karena dia menyelisihi perintah-perintah-Nya. Di dalam Safar Samuel disebutkan: “Dan adalah perkataan Tuhan kepada Nabi Samuel adalah: Aku telah menyesal menjadikan Saul sebagai raja, karena dia telah kembali di belakang-Ku dan tidak menegakkan kalam-Ku.” (al-Ishhah ke-15 paragraf 10-11)

Perkataan ini menunjukkan bahwa Alloh Ta’ala tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara Saul, kalau seandainya tahu maka tidak akan memilihnya menjadi raja bagi Bani Isroil -Maha suci Alloh dari perkataan mereka-.

Adapun orang-orang Syi’ah maka di antara pokok-pokok aqidah mereka yang disepakati oleh mereka adalah menetapkan sifat Bada’ bagiAlloh. Al-Kulaini berkata: “Tidaklah Alloh diibadahi dengan sesuatu yang seperti Bada’.”(al-Kafi 1/146)

Bada’ secara bahasa memiliki dua makna, yang pertama: nampak setelah sebelumnya tersembunyi, dan yang kedua: mencetuskan pemikiran baru (lihat Lisanul Arab 14/66), dan maksud orang-orang Syi’ah dari kata Bada’ ini tidak keluar dari maknanya se­cara bahasa.

Al-‘Iyasyi -seorang gembong Syi’ah- berkata dalam Tafsimya 1/44: ”

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Dan (ingatlah), ketika kami berjanji kepada Musa empat puluh malam, (QS. al-Baqoroh: 51)

Abu Ja’far Alaihi Salam (?!) berkata: “Adalah dalam ilmu dan takdir tiga puluh malam kemudian nam­pak bagi Alloh maka Dia tambah sepuluh malam maka sempurnalah perjanjian Tuhannya yang awal dan akhir menjadi empat puluh malam.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa Alloh tidaklah mengetahui waktu perjanjian kepada Musa kecuali tiga puluh malam, itulah yang ada pada ilmu dan takdir-Nya. Adapun sepuluh malam yang berikutnya belum diketahui oleh Alloh, bahkan lepas dari ilmu dan takdir-Nya -Maha suci Alloh dari perkataan mereka-.

Keyakinan Yahudi dan Syi’ah ini jelas merupakan kebathilan yang nyata, karena yang haq bahwasanya Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Alloh baik di langit maupun di bumi. Alloh telah mentakdirkan takdir-takdir para makhluk sebelum Alloh ciptakan mereka, maka penciptaan tersebut sesuai dengan takdir-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ۝ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia me­ngetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Alloh-lah kamu kembali, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan (QS. al-An’am [6]: 59-60)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kunci-kunci ghoib ada lima tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok kecuali Alloh, ti­dak ada yang tahu apa yang berkurang dari rahim-rahim kecuali Alloh, tidak ada yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Alloh, tidak tahu jiwa di bumi manakah dia akan mail, dan tidak ada yang tahu kapan terjadinya hari kiamat kecuali Alloh “(Diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohihnya:4697)

Di antara do’a Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a sholat Istikhoroh yang berbunyi:

-Allahumma innii astakhiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudrotika wa as-aluka min fadhlika al-Azhiim, fa-innaka taqdiru walaa aqdiru wata’lamu walaa a’lamu, wa-anta ‘allaamul ghuyuubi-

Ya Alloh sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan keMahaKua-saan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui se­dang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghoib.” (Shohih Bukhori 1/391)

NIFAQ YAHUDI DAN TAQIYYAH SYI’AH

Nifaq (kemunafikan) adalah menampakkan ucapan atau perbuatan yang berbeda dengan yang ada dalam hati, dia adalah akhlak orang-orang Yahudi yang masyhur sejak dahulu kala, hingga nifaq merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri perjalanan hidup mereka. Alloh telah mengabarkan dalam al-Qur’an sebagian dari gambaran-gambaran kenifakan orang-orang Yahudi tatkala mereka bermu’amalah dengan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Alloh berfirman:

وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman,” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur becid terhadap kamu. (QS. Ali Imron [3]: 119)

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا جَآؤُوكُمْ قَالُوَاْ آمَنَّا وَقَد دَّخَلُواْ بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُواْ بِهِ وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكْتُمُونَ

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Alloh lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. [5] al-Maidah: 61)

Demikian juga kitab-kitab (buatan) Yahudi telah menanamkan sifat nifaq pada setiap Yahudi yang mereka bungkus dengan pakaian agama, di dalam sebagian ajaran-ajaran Talmud tertera: “Hendaknya seorang Yahudi berpura-pura baik kepada setiap orang luar untuk menjaga diri dari kejelekannya dengan menyembunyikan padanya kejelekan dan kesumat.” (Judzurul Bala’ hal 80)

Di tempat lain dari Talmud tertera: “Hendak­nya seorang Yahudi jika bertemu dengan orang luar mengucapkan salam kepadanya seraya mengatakan: Semoga Alloh membantumu atau memberkahimu, dengan syarat dia hina dia dengan sembunyi-sembunyi.” (Kanzul Marshod hal. 71)

Adapun orang-orang Syi’ah maka di antara aqidah mereka yang masyhur adalah aqidah taqiyyah. Taqiyyah menurut agama Syi’ah memiliki kedudukan yang agung sebagaimana diriwayatkan oleh al-Kulaini bahwa Ja’far ash-Shadiq berkata: “Taqiyyah adalah dari agamaku, dan agama nenek moyangku, dan tidak ada irnan bagi orang yang tidak ada taqiy­yah padanya.” (Ushul al-Kafi 2/219)

Di dalam kitab Ushul Ashliyyah oleh Abdulloh Syabbr -seorang gembong Syi’ah- hal. 320 tertera: “Wahai Dawud, seandainya aku katakan kepadamu bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan sholat maka sungguh aku telah benar.”

Apakah taqiyyah menurut orang-orang Syi’ah? Seorang gembong Syi’ah yang bernama al-Mufid berkata dalam kitabnya Tashhihul I’tiqad hal. 115: “Taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinan padanya. Menyembunyikannya dari orang-orang yang menyelisihi dan tidak menampakkan kepada mereka hal-hal yang bisa mengakibatkan madhorat baik dalam masalah agama maupun dalam masalah dunia.”

Khomeini berkata “Taqiyyah maknanya adalah: hendaknya seseorang mengatakan suatu ucapan yang berbeda dengan kenyataan, atau menampak­kan perbuatan yang menyelisihi timbangan-timbangan syari’at untuk menjaga darah, atau kehormatan atau harta.” (Kasyful Asror hal.147)

Dan kenyataannya bahwa taqiyyah Syi’ah sama dengan nifaq Yahudi, segi kesamaan antara keduanya bahwa orang-orang Yahudi terus menggunakan nifaq ini dalam makar  mereka terhadap kaum muslimin sejak zaman Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini, demikian juga orang-orang Syi’ah terus menggunakan taqiyyah di dalam bermu’amalah dengan kaum muslimin hingga saat ini, sedangkan taqiyyah secara syar’i hanya dibolehkan jika menghadapi orang kafir, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Alloh kembali (mu). (QS. Ali Imron: 28)

Ibnu Jarir ath-Thobari berkata: “Taqiyyah yang disebutkan oleh Alloh dalam ayat ini hanyalah taqi­yyah menghadapi orang kafir bukan selain mereka.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Aayil Qur’an, 6/316)

Dan sifat nifaq adalah sifat yang tercela yang dicela oleh Alloh dalam banyak ayat-Nya dan diancam dengan adzab yang pedih. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً

Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS. an-Nisa’ [4]: 140)

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. an-Nisa’ [4]: 145)

PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan tentang sebagian kemiripan-kemiripan Syi’ah dengan Yahudi, yang menunjukkan dengan jelas kepada kita semua tentang kemiripan dua agama ini dan persamaan sumber-sumber keduanya.

Dan masih banyak hal-hal lain yang belum kami cantumkan karena keterbatasan tempat, yang bisa dilihat di dalam kitab rujukan kami dalam pembahasan ini yaitu kitab Badzl al-Majhud fi Itsbat Musya-bahah ar-Rofidhoh li al-Yahud, oleh Syaikh Abdulloh al-Jamili, terbitan Maktabah al-Ghuroba’ al-Atsariyyah Madman, cet. kedua tahun 1419 H setebal 784 halaman.

Semoga Alloh selalu menjaga kita dari segala macam fitnah yang nampak dan tidak nampak dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya para nabi, para Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Amin.

Sumber: AL FURQON edisi 11 tahun ke-6, hal. 29-35