HADITS NABI, YANG TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL


Oleti: Ustadz Abu Ahmad as-Salafi

MUQODDIMAH

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Hadits Nabi Yang Tekstual Dan Kontekstual, Telaah Ma’ani Al-Hadits Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, Dan Lokal, oleh Prof Dr. HM. Syuhudi Isma’il. Buku ini dahulu diserahkan kepada kami oleh Akhuna al-Ustadz al-Fadhil Abu Nu’aim Abdul Aziz Al-Atsari -Rohimahulloh- agar kami memberikan tela’ah dan bantahan terhadapnya. Dan dengan memohon taufiq dari Alloh maka pada bahasan kali ini kami berusaha memenuhi permintaan beliau untuk melakukan telaah kritis terhadap buku ini yang secara umum isinya banyak menghujat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana buku Studi Kritis Atas Hadits Nabi, Antara Pemahaman Tekstual Dan Kontekstual oleh Muhammad al-Ghozali yang telah kita bahas di dalam majalah AL FURQON pada edisi yang lalu.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU  INI

Buku ini semula adalah naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar yang disampaikan oleh Prof. Dr. HM Syuhudi Isma’il di hadapan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa IAIN Alauddin Ujung Pandang (Makassar) pada tanggal 26 Maret 1994.sebagai­mana tertera dalam Kata Pengantar buku ini, dan diterbitkan oleh PT Bulan Bintang Jakarta cetakan pertama tahun 1994 M / 1415 H.

PENULIS SANGAT TERPENGARUH  DENGAN  ORIENTALIS BARAT

Kesan pertama terhadap buku ini (adalah, -adm) bahwa penulis banyak terpengaruh dengan tulisan para orientalis barat tentang Islam, seperti W. Montgomery Watt dalam bukunya yang berjudul Muhammad Prophet and Statesman, dan Philip K. Hitti dalam bukunya yang berjudul History of The. Arabs, hal ini nampak sekali tatkala penulis membagi ajaran Islam dan Hadits Nabi menjadi tiga bagian: Uni­versal (berlaku pada semua zaman dan tempat), Temporal (hanya berlaku pada masa tertentu), dan Lokal (hanya berlaku pada tempat tertentu)

Penulis berkata dalam bukunya -Hadits Nabi Yang Tekstual Dan Kontekstual- pada hal. 3-4: “Kalau ajaran Islam yang sesuai dengan segala waktu dan tempat itu dihubungkan dengan berbagai kemungkinan persamaan dan perbedaan masyarakat tersebut, maka berarti dalam Islam ada ajaran yang berlakunya tidak terikat oleh waktu dan tempat, di samping ada juga ajaran yang terikat oleh waktu dan atau tempat tertentu. Jadi dalam Islam ada ajaran yang bersifat universal, ada yang temporal, dan ada yang lokal. Menurut petunjuk Al-Qur’an, Nabi Muham­mad diutus oleh Allah untuk semua umat manusia dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Itu berarti, kehadiran Nabi Muhammad membawa kebaikan dan rahmat bagi semua umat manusia dalam se­gala waktu dan tempat. Kalau begitu, hadits Nabi, yang merupakan salah satu sumber utama agama Islam di samping Al-Qur’an, mengandung ajaran yang bersifat universal, temporal, dan lokal terse­but. Menurut petunjuk Al-Qur’an, Nabi Muham­mad selain dinyatakan sebagai Rasulullah, juga dinyatakan sebagai manusia biasa. Dalam sejarah, nabi Muhammad berperan dalam banyak fungsi, antara lain sebagai Rasulullah, kepala negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim, dan pribadi. Kalau begitu, hadits yang merupakan sesuatu yang berasal dari Nabi mengandung petun­juk yang pemahaman dan penerapannya perlu dikaitkan juga dengan peran Nabi tatkala hadits itu terjadi.” Kemudian di catatan kaki penulis menyebut dua referensinya yaitu Muhammad Prophet and Statesman oleh W. Montgomery Watt, dan History of The Arabs oleh Philip K. Hitti.

Kami katakan: Pembagian ajaran Islam dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi universal, temporal, dan lokal adalah pembagian yang tidak pernah dikenal di dalam Islam, tidak ada satu pun dari para sahabat, para salaf, dan para imam yang menyebutkan pembagian tersebut. Maka bisa dikatakan bahwa pembagian ini adalah pembagian yang bid’ah dan batil dengan nash al-Qur’an dan as-Sunnah , karena yang haq bahwasanya semua yang dibawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah bersif at universal berlaku di semua zaman dan tempat, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua (QS. al-A’rof [7]: 158)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Alloh ber­firman kepada Nabi dan Rosul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Katakanlah -Wahai Nabi Muhammad- : ‘Wahai manusia -ini ditujukan kepada manusia berkulit merah dan hitam, orang-orang Arab dan orang-orang ‘Ajam (selain Arab)- Sesungguhnya aku adalah rosul bagi kalian semuanya- yaitu seluruh kalian, dan ini adalah kemuliaan dan keagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bah­wa dia adalah penutup para nabi dan bahwasanya dia diutus kepada manusia semuanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/311)

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini mengandung penjelasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rosul bagi semua manu­sia, Alloh menjelaskan hal itu dalam banyak ayat-Nya, seperti firman Alloh (yang artinya) “Tidaklah kami utus Engkau melainkan untuk seluruh manusia” dan di tempat lain bahwa keumuman risalahnya dibatasi bagi siapa saja yang sampai padanya al-Qur’an ini, yaitu firman Alloh (yang artinya) “Dan diwahyukan al-Qur’an ini kepadaku agar aku memberi  peringatan dengannya dan orang yang sampai al-Qur’an ini padanya. “” (Adhwaul Bayan, 2/299)

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادةً قُلِ اللّهِ شَهِيدٌ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? ” Katakanlah: “Allah”, dia menjadi saksi antara Aku dan kamu. dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran (kepadanya). ” (QS. al-An’am [6]: 19)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di berkata: “Maka al-Qur’an ini di dalamnya terdapat peringatan bagi kalian, wahai yang diajak bicara dan setiap orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya) hingga hari kiamat.” (Tafsir as-Sa’di, hal. 381)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adalah Nabi yang sebelumku diutus hanya kepada kaumnya sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits Jabir bin Abdulloh)

PEMAHAMAN HADITS SECARA TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL

Setelah penulis mensifati hadits menjadi uni­versal, temporal, dan lokal, maka pada giliran berikutnya dia membagi pemahaman matan ha­dits menjadi tekstual dan kontekstual, penulis berkata dalam Pendahuluan hal. 6: “Mungkin saja suatu hadits lebih tepat dipahami secara tersurat (tekstual), sedang hadits tertentu lainnya lebih te­pat dipahami secara yang tersirat (kontekstual). Pemahaman dan penerapan hadits secara tekstual dilakukan bila hadits yang bersangkutan, setelah dihubungkan dengan segi-segi yang berkaitan dengannya, misalnya latar belakang terjadinya, tetap menuntut pemahaman sesuai dengan yang tertulis dalam teks hadits yang bersangkutan. Dalam pada itu, pemahaman dan penerapan hadits secara kon­tekstual dilakukan bila “dibalik” teks suatu hadits, ada petunjuk yang kuat yang mengharuskan hadits yang bersangkutan dipahami dan diterapkan tidak sebagaimana maknanya yang tersurat.”

Kami katakan: Penulis hendak membuat tangga bagi dirinya untuk menolak makna yang hakiki dari suatu hadits dan memalingkannya kepada makna yang bathil, inilah yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok bid’ah kawakan seperti kelompok Jahmiyyah yang membuat pembagian kalimat menjadi hakikat (makna sebenarnya) dan majaz (makna kiasan). Dengan majaz inilah mereka banyak sekali menolak hadits-hadits tentang sifat-sifat Alloh dan yang lainnya. Pembagian ucapan menjadi hakikat dan majaz adalah pembagian yang bid’ah yang datang sesudah zaman sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Syaikh al-Albani, dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. (kitab Risalah Hakikat wal Majaz, Mukhtasor Shawa’iq Mursalah, Risalah Man’u Jawazil Majaz, kaset Hakiqat wal Majaz, dan al-Ushul min Ilmil Ushul hal. 28 cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakikatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu.” (Tanbih Rajulil Aqil, 2/487)

Hanya saja ada beberapa makna yang dipahami berbeda dengan dhohirnya tetapi dengan dalil yang shohih, seperti firman Alloh:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu me-minta perlindungan kepada Alloh dari setan yang ter-kutuk. (QS. al-Nahl [16]: 98) Maknanya yaitu “Jika kamu hendak membaca al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Alloh” bukan “Jika kamu selesai membaca al-Qur’an,” karena di dalam hadits yang shohih -dalam Sunan Abu Dawud 1/203 dan dishohihkankan oleh Syaikh al-Albani-.bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak membaca al-Qur’an beliau berlindung kepada Alloh dari setan (Lihat Syarah Aqidah Wasithiyyah, Syaikh al-Utsaimin 1/90)

KAIDAH-KAIDAH PENULIS UNTUK MENOLAK HADITS NABI

Walhasil, penulis mengawali bukunya ini de­ngan pendahuluan yang berisi kaidah-kaidah umum untuk menolak hadits dan menyelewengkan makna hadits, yang kemudian dia terapkan kaidah tersebut pada halaman-halaman berikutnya, kaidah-kaidah tersebut adalah:

  1. Menolak hadits dengan alasan hanya bersifat temporal (sementara).
  2. Menolak hadits dengan alasan hanya bersifat lokal (berlaku pada tempat tertentu).
  3. Memalingkan makna hadits dari makna sebenarnya dengan dalih harus dipahami secara kontekstual (tersirat).

Kaidah-kaidah ini telah kita jelaskan kebathilannya di dalam uraian kita di atas, dan untuk lebih memperjelas lagi dalam uraian berikut ini akan kami paparkan contoh-contoh penolakan penulis terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaidah-kaidahnya di atas.

CONTOH  HADITS YANG  DITOLAK OLEH PENULIS DENGAN  ALASAN BERSIFAT TEMPORAL

Hadits Larangan Wanita Menjadi Pemimpin.

Dalam hal. 64 penulis membawakan hadits Abu Bakroh yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohihnya 4/228 bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan pemerintahan mereka kepada wanita.”

Penulis mengomentari hadits ini dengan ber­kata: “Pada waktu itu, derajat kaum wanita dalam masyarakat berada di bawah derajat kaum laki-laki. Wanita sama sekali tidak dipercaya untuk ikut serta mengurus kepentingan masyarakat dan negara… Dalam sejarah, penghargaan masyarakat ke­pada kaum wanita makin meningkat dan akhirnya dalam banyak hal, kaum wanita diberi kedudukan sama dengan kaum laki-laki. Al-Qur’an sendiri memberi peluang sama kepada kaum wanita dan kaum laki-laki untuk melakukan berbagai amal kebajikan. Dalam keadaan wanita telah memiliki kewibawaan dan kemampuan untuk memimpin, serta masyarakat bersedia menerimanya sebagai pemimpin, maka tidak ada salahnya wanita dipilih dan diangkat sebagi pemimpin. Dengan demikian, hadits di atas harus dipahami secara kontekstual sebab kandungan petunjuknya bersifat temporal.”

Kemudian di dalam catatan kaki penulis menjelaskan bahwa dia taklid kepada Qosim Amin seorang antek prientalis Eropa yang hidup di Mesir pada tahun 1865-1908 di dalam dua bukunya yaitu Tahrir al-Mar’ah dan al-Mar’ah al-]adidah.

Kami katakan: Cukuplah sebagai tanda kekeliruan penulis bahwa dalam hal ini dia taklid kepada seorang antek orientalis barat yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita, yang pada hakekatnya emansipasi ini adalah usaha merendahkan martabat wanita yang telah dijaga dan dijunjung kehormatannya oleh syari’at Islam. Dan hadits ini tidaklah bersifat temporal sebagaimana dikatakan oleh penulis, bahkan berlaku hingga hari Kiamat dengan kesepakatan para ulama sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam Baghowi dalam Syarhus Sunnah, 10/77. Beliau rahimahullahberkata: “Para ulama sepakat bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin.” Ijma’ ulama ini juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam al-Fishol 3/110, Qurthubi dalam Tafsirnya 13/122, dan Syaukani dalam Nailul Author 4/617 (Untuk penjelasan lebih luas tentang masalah ini lihat bahasan Polemik Presiden Wanita dalam Majalah AL FURQON III/5 Rubrik Hadits)

CONTOH HADITS YANG DITOLAK OLEH PENULIS DENGAN ALASAN BERSIFAT LOKAL

Hadits Perintah Memelihara Jenggot Dan Memotong Kumis. Dalam hal. 68 dari bukunya ini penulis membawakan hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohihnya 4/39 dan Muslim dalam shohihnya 1/222 bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pendekkanlah kumis dan peliharalah jenggot.”

Kemudian penulis mengomentarinya dengan mengatakan: “Perintah Nabi tersebut memang relevan untuk orang-orang Arab, Pakistan, dan Iain-lain yang secara alamiah mereka dikaruniai rambut yang subur termasuk di bagian kumis dan jenggot. Tingkat kesuburan dan ketebalan rambut milik orang-orang Indonesia tidak sama dengan milik orang-orang Arab tersebut. Banyak orang Indonesia yang kumis dan jenggotnya jarang. Atas kenyataan itu, maka hadits di atas harus dipahami secara kontekstual. Kandungan hadits tersebut bersifat lokal.”

Kami katakan: Pernyataan penulis ini adalah perkataan yang ganjil dan bathil, tidak ada satu pun ulama yang mu’tabar yang berpendapat bahwa’perintah ini khusus bagi orang-orang Arab dan Paki­stan atau hanya kepada orang-orang yang subur rambut kumis dan jenggotnya. Bahkan para ulama sepakat bahwa mencukur jenggot adalah haram. Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullahberkata: “Para ulama sepakat bahwa mencukur jenggot merupakan perbuatan mutslah (memperburuk) yang terlarang “(Marotibul Ijma’, hal. 157)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ‘rahimahullah berkata: “Diharamkan mencukur jenggot berdasarkan hadits-hadits yang shohih dan tidak ada seorang ulama pun yang membolehkannya.” (Ikhtiyarot Ilmiyyah hal. 10)

Syaikh Ali Mahfudz berkata: “Empat madzhab telah sepakat tentang wajibnya memelihara jenggot dan haramnya mencukur jenggot.” (Al-Ibda’fi Mad-haril Ibtida’, hal. 384)

CONTOH HADITS YANG DISELEWENGKAN  MAKNANYA  DENGAN DALIH  HARUS  DIFAHAMI  SECARA  KONTEKSTUAL

Hadits Alloh Turun ke Langit Dunia. Pada halaman 20 dari bukunya ini penulis membawakan sebuah hadits dari Abu Huroiroh yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohihnya 1/200 dan Muslim dalam Shohihnya 1/521-522 bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Robb kami -Tabaraka wa Ta’ala- setiap malam turun ke langit dunia pada saat sepertiga malam yang akhir…”

Kemudian penulis mengomentarinya dengan mengatakan: “Ulama yang memahami petunjuk hadits secara tekstual berpendapat bahwa matan hadits tersebut berkualitas lemah (dha’if) [?!. –adm], bahkan palsu sebab Allah digambarkan sebagai naik-turun ke langit dunia. Itu berarti, Alloh disamakan dengan makhluk. Padahal, matan hadits tersebut berkualitas shahih bila dipahami secara kontekstual. Maksud matan hadits yang menyebutkan bahwa Alloh turun ke langit dunia adalah limpah­an rahmatNya. Malam pertiga akhir dipilih karena saat yang demikian itu adalah saat yang mudah un­tuk memperoleh suasana khusyuk dalam berdo’a dan beribadah salat. Dalam keadaan yang penuh kekhusyukan itu, maka kehadiran limpahan rahmat Alloh mudah diperoleh.”

Kami katakan: Penulis telah menyelewengkan makna Alloh turun ke langit dunia kepada turunnya limpahan rohmat-Nya, ini merupakan contoh tahrif (penyelewengan makna) yang bathil yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok bid’ah seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan yang lainnya. Adapun para ulama Salafush Sholih maka me­reka sepakat menetapkan sifat turun-Nya Alloh ke langit dunia sesuai dengan keagungan-Nya dan tanpa menyerupakan turun-Nya Alloh dengan turunnya satu pun dari makhluk-Nya.

Al-Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa Salafush Sholih dan orang-orang yang meniti jalan mereka telah sepakat untuk menetap­kan turun-Nya Alloh setiap malam ke langit dunia. Demikian pula mereka bersepakat menetapkan sifat datang dan semisalnya dari sifat-sifat yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil. Dan tidak ada seorang pun dari ulama salaf yang mentakwil satu pun darinya. Adapun orang-orang Mu’tazilah dan Jahmiyyah, maka mereka menolak dan tidak menerimanya. Dan hadits Nuzul Mutawatir dari Rosu­lulloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. “(Shorimul Munki hal. 229)

Dan banyak para ulama lain yang menukil ijma’ ulama atas masalah ini seperti Ibnu Abdil Barr dalam Tamhid 3/349, Al-Ajuri dalam asy-Syari’ah 2/93, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Syarah Hadits Nuzul hal. 69 (Untuk pembahasan lebih mendetail dalam masalah ini lihat bahasan Turun-Nya Allah ke Langit Dunia, dalam Majalah AL FURQON IV/3 Rubrik Hadits)

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Dari uraian di atas maka disimpulkan bahwa:

»  Penulis buku ini banyak diilhami oleh pemikiran-pemikiran orientalis barat.

»  Penulis membuat kaidah-kaidah yang bathil tentang penolakan hadits-hadits yang shohih dan penyelewengan makna-maknanya, kaidah-kaidah ini dibungkus dengan bahasa-bahasa ‘ilmiyyah’ seperti temporal, lokal, dan kontekstual.

»  Penulis banyak terpengaruh dengan kelompok-kelompok bid’ah yang menolak hadits-hadits tentang sifat-sifat Alloh.

»  Buku ini sangat berbahaya dan tidak layak dijadikan sebagai referensi baik untuk kalangan akademis maupun kalangan umum

Inilah yang bisa kami sampaikan dari tela’ah ringkas terhadap buku ini dan semoga Alloh selalu memberikan taufiq kepada kita semua agar kita selalu bisa menempuh jalan yang lurus di dalam semua segi kehidupan. Amin.

3 thoughts on “HADITS NABI, YANG TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL

  1. Ping-balik: Antara TEKSTUAL dan KONTEKSTUAL Dalam Memahami al-Qur’an dan as-Sunnah | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.