Jika PENDUDUK SURGA Bercocok Tanam


Oleh: Abu Faiz al-Atsari

Merupakan bukti akan besarnya rahmat Allah kepada makhluk-Nya, Alloh membentangkan surga kepada para hamba-Nya yang mu’min. Surga merupakan tempat seorang hamba menuai hasil perbuatannya ketika hidup di dunia. Dan termasuk kesempurnaan nikmat Alloh Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia membolehkan segala sesuatu, terma­suk di dalamnya membolehkan melakukan apa yang ia usahakan/ kerjakan ketika di dunia. Kisah berikut sebagai saksi bahwa ada seorang ahlil jannah yang bekerja dengan bercocok tanam.

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Pada suatu hari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbincang-bincang (de­ngan para sahabatnya, red.), dan di sisi beliau ada seorang laki-laki dari ahli badi’ah (badui/Arab pegunungan, red.). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang dari ahli jannah (penduduk surga) yang meminta ke­pada Robbnya untuk bertani, maka Allah berfirman: ‘Bukankah engkau sudah mendapatkan apa yang engkau inginkan?’ Maka dia menjawab: ‘Ya, tetapi saya senang  berrcocok tanam.’ Maka Alloh pun mengizinkannya. Lalu ia segera menebar benih, dan dalam waktu sekejap mata, (benih itu) tumbuh, meranum, dan tiba waktu panennya. Dan hal itu pun (menumpuk) seperti gunung. Kemudian Alloh mengatakan: ‘Wahai anak Adam, ambillah (semuanya), maka sesungguhnya hal itu tidak akan mengenyangkanmu sedikitpun.'” Maka dia (laki-laki dari Arab pegunungan itu) berkata: “Demi Alloh, engkau tidak akan menjumpai mereka kecuali (me­reka adalah) orang-orang Quraisy atau orang-orang Anshor, karena mereka adalah orang-orang yang suka bertani, (sedangkan kami bukan orang-orang yang suka bercocok tanam, red.). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR Bukhori dalam Kitabul Hartsi wal Muzaro’ah: 2348, Ahmad 2/512)

Mutiara Kisah

Kisah menarik di atas merupakan salah satu cuplikan dari kehidupan di surga yang penuh dengan kenikmatan, sungguh Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Beberapa ibroh (pelajaran) berharga yang dapat dipetik dari kisah di atas ialah sebagai berikut:

l. Bahwasanya apa saja yang diinginkan di surga, dari perkara-perkara dunia, maka hal itu sangat mungkin bisa terwujud; demikian dikatakan oleh al-Mihlab.

Akan tetapi, kenikmatan yang ada di surga sungguh sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan apa yang ada di dunia. Alloh menggambarkan kenikmatan surga dalam firman-Nya:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ

(Apakah) perumpamaan (penghu-ni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khomer (arak) yang lezat rasanya bagi peminum-nya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka mem-peroleh di dalamnya segala macam buahan-buahan dan ampunan dari Robb mereka…. (QS. Mu­hammad [47]: 15)

Dan juga dalam sebuah hadits qudsi yang bersumber dari sahabat Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku telah menyiapkan untuk hamba-Ku yang sholih apa-apa yang belum pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar telinga, dan belum pernah terbetik dalam sanubari manusia.'” Kemudian Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Jika kalian berkehendak, bacalah (firman Allah): Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan-Nya untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. as-Sajdah [32]: 17).” (HR. Bukhori: 4779)

Ya Alloh jadikanlah kami termasuk penghuni surga-Mu. Amin!

2. Adanya isyarat tentang keutamaan orang-orang yang memiliki sifat qona’ah dan tercelanya sifat rakusdan tamak.

Makna qona’ah secara bahasa berarti ridho dengan apa yang telah diberikan. (Lihat Mu’jam al-Wasith 2/743)

Berkata Ibnu al-Atsir rahimahullah: “Al-qona’ah berasal dari kata al-qunu yang berarti ridho dengan sesuatu yang sedikit dari sebuah pemberian.” (Lihat an-Nihayah 4/114)

Rosululloh bersabda:

Sungguh beruntung orang yang telah (masuk) Islam, dan diberi rezeki dengan kecukupan, dan Alloh relakan atas bagian yang telah diberikan kepadanya. ” (HR. Muslim: 1054, Tirmidzi: 2349)

Berkata Imam Nawawi “Dan makna al-kafaf adalah merasa cukup tanpa tambahan atau pengurangan. Dan dalam hadits ini ada keutamaan bagi orang yang memiliki sifat-sifat di atas, bahkan sebagian orang berdalil (dengan hadits di atas) bahwa al-kafaf (merasa cukup) adalah lebih mulia dari kemiskin-an dan kekayaan.” (Lihat Syarah Shohih Muslim 7/119)

Dan dalam riwayat yang lain Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

Beruntunglah orang yang diberi hidayah dengan Islam dan diberi kehidupan yang cukup, serta dia rela (dengan apa yang telah diberi­kan kepadanya). ” (HR. Tirmidzi: 2349, lihat Shohih Sunan Tirmid­zi 2/543 dan ash-Shohihah: 1506)

Maka kebahagiaan seseorang terletak pada kesempurnaan agamanya, kecukupan dalam kehidupannya, dan rasa qona’ahnya dengan apa yang telah diberikan Alloh kepadanya. (Lihat Bahjatun Nazhirin 1/572)

3. Merupakan fithroh manusia, bahwa jiwaitu (senang) memperbanyak harta dunia.

Alloh berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Dijadikan indah pada (pandan-gan)   manusia   kecintaan   terhadap apa-apa yang dilngini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda  pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia…. (QS.Ali’Imron[3]: 14)

Berkata Ibnu Katsir: “Hanya saja inilah perhiasan kehidupan du­nia yang fana, dan di sisi Allohlah tempat kembali yang baik (surga), maknanya (di sanalah) se­baik-baik balasan dan sebaik-baik tempat kembali.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/22)

4. Tetapnya sifat Kalam (berbicara) bagi Alloh, dan Alloh akan mengajak bicara para penduduk surga. Dan semua penduduk surga akan ridho dengan ketetapan dari Alloh.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: إن الله يقول لأهل الجنة ، يا أهل

Sesungguhnya Alloh akan berbicara kepada penduduk surga de­ngan mengatakan: ‘Wahai para ptnduduk surga.’ Maka mereka menjawab: ‘Aku penuhi panggilan-Mu wahai Robb kami, dan segala kebaikan ada di tangan-Mu.’ Kemudian Alloh berfirman: ‘Apakah kalian semua telah ridho?’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana kami tidak ridho wahai Robb kami, padahal Engkau telah memberikan kepada kami apa-apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada salah seorangpun dari makhluk-Mu.’ Alloh berfirman: ‘Maukah kalian Aku beri dengan sesuatu yang lebih mulia dan yang demikian itu?’Mereka menjawab: ‘Wahai Robb kami apakah itu, sesuatu yang lebih mulia (dari hal ini semua)?’Alloh berfirman: ‘Aku halalkan bagi kalian keridhoan-Ku dan Aku tidak akan murka ke­pada kalian setelah ini, selamanya.'”(HR.Bukhori:7518)

Berkata al-Hafizh rahimahullah: “Di dalam hadits di atas ada dalil atas ridhonya semua penduduk surga dengan keadaannya masing-masing, sekalipun mereka berbeda-beda kedudukan dan derajatnya di surga, karena semuanya men­jawab dengan satu lafazh yaitu: ‘Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada salah seorang pun dari makhluk-Mu.”‘ (Fathul Bari 13/606)

5. Sifat manusia sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaannya, demikian dikatakan oleh Ibnu Baththol rahimahullah. Wallohu A’lam bish-showab.

(Maroji‘: Shohih al-Qpshosh an-Nabawi oleh Abu Ishaq al-Huwaini, Fathul Bari oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani, Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi, Bahjatun Nazhirin oleh Syaikh Salim al-Hilali, dll.)

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 11 th. Ke-6, hlm. 55-57

Iklan