10 FAEDAH TENTANG TAZKIYAH


 

:: METODE TAZKIYAH::

Akhir-akhir ini, banyak bermunculan metode-metode baru untuk penyucian jiwa dan hati sehingga terkadang muncul suatu komentar: “Salaf itu bagus dalam masalah aqidahnya, tapi dalam masalah tazkiyah, saya lebih memilih model dzikirnya fulan (!), khuruj dan mudzakarohnya jama’ah fulan (!), mabit dan muhasabahnya harokah fulan (!)”.

Dari sini lahirlah pertanyaan, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak mengajarkan metode tazkiyah nufus?! Mengapa mereka tidak merasa cukup dengannya, bahkan menginginkan metode-metode selainnya?!! Semoga Alloh merohmati Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tatkala mengatakan: “Sesungguhnya Alloh mengutus para Rosul untuk mengemban tazkiyah/ penyucian dan pengobatan hati umat. Dan penyucian jiwa lebih berat daripada pengobatan badan. Maka barangsiapa yang menyucikan dirinya dengan riyadhoh, mujahadah, khulwah[1] yang tidak di-contohkan oleh para Rosul, maka perumpamaannya seperti pasien yang mengobati penyakitnya dengan caranya sendiri. Akankah hal ini sama dengan cara para dokter?! Sesungguhnya para Rosul adalah dokter hati. Jadi tidak ada cara/metode untuk penyucian jiwa kecuali dari cara yang diajarkan Rosul. (Madarij Salikin, Ibnu Qayyim 2/315)

:: DAMPAK MAKSIAT::

Imam Abu Hanifah apabila mendapatkan suatu kesulitan dalam sebuah masalah, maka dia berkata kepada para sahabatnya: “Tidaklah hal ini terjadi kecuali karena dosa yang saya lakukan!!” Setelah itu dia beristighfar dan melakukan sholat, sehingga tersingkaplah kesulitan tersebut, kemudian beliau ber­kata: “Semoga Alloh menerima taubatku!”

Tatkala kabar ini sampai kepada Fudhail bin lyadh, beliau pun menangis seraya berkata: “Hal itu karena sedikitnya dosa beliau! Adapun orang selainnya, mereka tidak memperhatikan hal ini!”. (Thobaqot Hanafiyyah, Ali al-Qori 2/487)

:: KELEZATAN HATI::

Aku berusaha meneliti suatu hal yang dicari oleh semua orang, temyata saya tidak mendapati kecuali satu perkara, yaitu ketenangan dan hilangnya kegelisahan. (Mudawatun Nufus, Ibnu Hazm hal. 76)

Tapi tahukah anda kiat untuk menggapainya?! Ketenangan tidaklah diraih dengan melimpahnya harta, cantiknya wanita, tingginya pangkat dan tahta, atau hiburan-hiburan semu yang bersifat sementara! Namun ketenangan hanyalah dapat diraih dengan keimanan dan amal sholeh. Bacalah firman Alloh:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an-Nahl [16]: 97)

Ibrohim bin Ad-ham berkata: “Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kenikmatan hati kami, niscaya mereka akan menebas kami dengan pedang-pedang mereka!!”. (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya 7/370, al-Baihaqi, az-Zuhud 2/81)

:: FAEDAH DOSA::

Sesungguhnya termasuk hikmah Alloh, bila Dia menjadikan hati sebagian hamba-Nya terkadang jatuh dalam kelalaian sehingga terjerembab dalam kubang dosa. Ada dua faedah dari dosa yang dilakukan oleh seorang pendosa.

Pertama: Pengakuan akan dosa mereka dan kurangnya mereka dalam menunaikan kewajiban serta menghilangkan penyakit ‘ujub dari diri mereka. Hal ini lebih dicintai oleh Alloh dari ketaatan banyak, sebab selalu dalam ketaatan kerap kali menyeret pelakunya pada penyakit ‘ujub.

Kedua: Meraih ampunan dan kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya, karena Alloh suka untuk mengasihi dan mengampuni. Diantara nama-Nya adalah al-Ghoffar (Maha Pengampun), al-Afuw (Maha Pengasih), at-Tawwab (Maha menjadikan hamba-Nya untuk bertaubat dan Maha menerima taubat) Seandainya semua hamba tidak terjatuh dalam dosa, lantas untuk siapakah ampunan dan kasih sayang-Nya?! (Lathoiful Ma’arif, Ibnu Rojab hal. 57-58)

:: JADILAH KUNCI KEBAIKAN ::

Dari Anas bin Malik berkata: Rosululloh bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup kejelekan, dan di antara manusia juga ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kejelekan dan penutup kebaikan. Maka berbahagialah seorang yang dikaruniai Alloh kunci kebaikan baginya dan celakalah orang yang diberi kunci kejelekan untuknya. (HR. Ibnu Majah: 237 dan dihasankan al-Albani dalam ash-Shohihah: 1332)

Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup kejelekan, maka hendaknya dia mengamalkan beberapa kiat berikut:

  1. Ikhlas hanya untuk Alloh dalam segala ucapan dan perbuatan.
  2. Selalu berdoa agar Alloh memudahkan hal itu.
  3. Bersemangat dalam menuntut ilmu.
  4. Aktif beribadah kepada Alloh, terutama sholat.
  5. Berhias diri dengan akhlak yang bagus lagi mulia.
  6. Bersahabat dengan orang-orang sholih.
  7. Menganjurkan orang lain berbuat baik dan mencegah mereka dari kejelekan.
  8. Mengingat kedahsyatan hari pembalasan.
  9. Kunci semua itu adalah semangat yang kuat, dan meminta pertolongan kepada Alloh. (al-Fawaid al-Mantsuroh: Khuthob wa Nashoih, Kalimat wa Maqolat, Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hal. 161-162)

 

:: ISTIGHFAR, KUNCI RIZKI ::

Ibnu Subaih berkata: “Pernah ada seorang datang mengadu kepada Hasan Bashri akan kemarau yang berkepanjangan, maka beliau berkata kepada orang tersebut: ‘Perbanyaklah istighfar (minta ampun) ke­pada Alloh!’, Ada orang datang lagi mengeluhkan kemiskinan yang menimpanya, maka beliau berkata kepadanya: Perbanyaklah istighfar kepada Alloh!’ Orang ketiga datang mengadu seraya berkata: Tolong doakan saya agar dikarunia anak.’ Beliau pun menjawab: Perbanyaklah istighfar kepada Alloh!” Orang keempat datang juga mengeluhkan kebunnya yang gersang, beliau pun tetap berkata: Perbanyak­lah istighfar kepada Alloh!” Kami pun heran akan jawabannya yang selalu itu tak berubah dan menanyakannya kepada beliau, lalu beliau berkata: “Jawaban itu bukan dariku, bukankah Alloh telah berfirman dalam surat Nuh [71]: 10-12

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً ۝ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً۝وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Robbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, al-Qurthubi 18/261)

:: KEAJAIBAN TAQWA::

Seorang hamba apabila melakukan dosa secara sembunyi, maka dia akan merasakan pengaruhnya akan nampak pada orang sekitarnya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang memperbaiki hubungan dirinya dengan Alloh.

Sebuah kisah menakjubkan tentang masalah ini adalah kisah Habib Abu Muhammad, dia adalah seorang pedagang yang menghutangkan dirham (dengan riba). Suatu saat dia melewati anak-anak kecil yang sedang bermain. Tiba-tiba, sebagian me­reka berkata kepada lainnya: “Telah datang pemakan riba.” Mendengarnya, Habib menundukkan kepalanya seraya mengatakan: “Ya Robbi, Engkau telah membongkar rahasiaku pada anak-anak.”

Dia pun pulang dan mengumpulkan semua hartanya seraya berkata: “Ya Robbi, saya adalah tawanan, saya menebus diriku dengan semua harta ini, maka bebaskanlah diriku.” Keesokan harinya, diapun bershodaqoh dengan semua hartanya dan menyibukkan diri dengan ibadah.

Kemudian pada suatu hari, dia melewati anak-anak tersebut lagi. Tatkala mereka melihatnya, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian lainnya: “Diam semua! Telah datang Habib, sang ahli iba­dah!” Mendengarnya, Habib pun menangis seraya mengatakan: “Ya Robbi, Engkau terkadang mencela dan terkadang lagi memuji. Dan semuanya itu dari Engkau.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab 1/411)

:: WANITA CERDAS::

Robi’ah al-‘Adawiyyah pernah mengatakan ke­pada ayahnya: “Wahai ayahku, saya tidak mengahalalkan dirimu untuk memberiku makanan yang haram.” Ayahnya balik menjawab: “Bagaimana pendapatmu kalau saya tidak mendapatkan kecuali yang haram?!” Dia menjawab: “Lebih baik kita sabar untuk lapar di dunia daripada sabar untuk tinggal di neraka!”. (Wafayatul A’yan, Ibnu Khallikan 2/285)

:: KECINTAAN ALLOH::

. Ada sepuluh kiat untuk menggapai kecintaan Alloh dan agar Alloh mencintai kita:

  1. Membaca   al-Qur’an   dengan   merenungi   kandungannya.
  2. Melaksanakan amalan-amalan sunnah.
  3. Selalu berdzikir pada setiap keadaan, baik dengan lisan, hati dan anggota badan.
  4. Mendahulukan kecintaan Alloh daripada kemauan hawa nafsu.
  5. Menghayati nama dan sifat Alloh.
  6. Memperhatikan nikmat-nikmat Alloh, baik yang lahir maupun batin.
  7. Merendahkan hati sepenuhnya di hadapan Alloh
  8. Munajat kepada Alloh di saat turun-Nya, membaca kalam-Nya, menghadirkan hati di hadapan-Nya, kemudian menutup semua itu dengan taubat dan istighfar.
  9. Berkawan dengan orang-orang sholih dan memetik buah kebaikan mereka.
  10. Menjauhkan segala sebab yang dapat menghalangi antara hati dengan Alloh.

Dengan sepuluh kiat ini, seorang hamba akan dapat meraih kecintaan. Kunci semua itu adalah dua hal: Kesiapan hati untuk mengamalkannya dan terbukanya pandangan. Hanya kepada Alloh-lah kita memohon pertolongan. (Madarij Salikin, Ibnul Qoyyim 2/596-597)

:: PENGAKUAN TULUS::

 

Demi  Alloh,   seandainya   mereka   mengetahui jeleknya hatiku

Niscaya seorang yang bertemu denganku akan enggan salam  padaku

Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman  denganku

Aku akan menjadi hina setelah mulia.

Tetapi    Engkau    menutupi    kecacatan    dan kesalahanku

Dan  Engkau  bersikap lembut dari dosa dan

keangkuhanku Bagi-Mu lah segala pujian

Dengan hati, badan dan lidahku

Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak

Tetapi aku kurang mensyukuri. nikmat-nikmat

tersebut.[2]


[1] Ini adalah istilah-istilah tasawwuf untuk penyucian jiwa. (lihat Mu’jam ash-Shufi, DR. Mahmud Abdurrozzaq 2/654, 968)

[2] Nuniyah al-Qohthoni hal. 9

Iklan