Pernak-Pernik DUNIA WANITA


Penulis:al-Ustadz  Ahmad  Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

MENIKAH DENGAN KERABAT DEKAT

Ada anggapan pada sebagian masyarakat bahwa menikah dengan keluarga dekat akan berakibat lahirnya keturunan yang lemah baik fisik maupun mentalnya. Benarkah anggapan tersebut?

Anggapan ini perlu ditinjau ulang, karena tidak ada dasarnya yang kuat, baik secara syar’i maupun ilmu medis. Adapun dalam tinjauan syar’i adalah karena tidak adanya satu pun dalil yang menunjukkan akan hal tersebut. Hanya ada satu riwayat yang berbunyi:

Menikahlah kalian dengan orang jauh, jangan sampai anak kalian menjadi lemah.

Riwayat ini disebutkan sebagai sebuah hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kitab fiqih, hadits dan bahasa, seperti LisanulArab oleh Imam Ibnu Mandhur 14/489, an-Nihayah fi Ghoribil Hadits oleh Ibnul Atsir 3/106, juga Ghoribul Hadits oleh Ibnu Qutaibah 3/733.

Berkata Imam Ibnu Sholah rahimahullah:“Saya tidak mendapatkannya mempunyai asal-usul yang terpercaya.”

Pernyataan ini disepakati oleh al-Hafidz al-lroqi dalam Takhrij Ihya’ 2/40 dan al-Hafidl Ibnu Hajar dalam Talkhisul Habir 3/1158. Imam Ibnu Qutaibah memasukkan hadits ini termasuk dalam kelompok hadits yang disebutkan oleh Ahli bahasa namun tidak diketahui sanadnya.

Adapun secara tinjauan medis, DR. al-Kabariti, seorang spesialis ilmu Genetika dari Kuwait berkata: “Keyakinan bahwa menikah dengan keluarga dekat bisa mengakibatkan penyakit keturunan adalah se­buah keyakinan yang salah. Karena dalam riset ilmiah tidak ditemukan perbedaan antara masyarakat yang biasa menikah dengan orang jauh maupun menikah dengan keluarga dekat.” (Lihat al-Hayah az-Zaujiyyah as-Sa’idah oleh Abdul Hamid Khozar hal: 76)

Hal ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan dan beliau hafidzahullah menjawab: “Pendapat ini tidak benar. Menikah dengan saudara sepupu ataupun yang ma­sih keluarga dekat tidak menyebabkan lahirnya anak yang lemah dan cacat, baik fisik maupun mentalnya. Ini adalah sebuah keyakinan yang salah. Memang sebagian ulama berpendapat sebaiknya menikah dengan orang yang bukan dari kerabatnya, karena bisa melahirkan anak yang lebih cerdas. Namun ini bukan berarti kalau menikah dengan kerabat dekat akan melahirkan anak yang cacat. Tidak ada satu pun ulama yang pernah mengatakannya. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menikahkan putrinya Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan saudara sepupunya, Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. Dan banyak sahabat yapg menikah dengan keluarga dekatnya.” (al-Muntaqo min Fatawa Syaikh Fauzan 5/257)

Fatwa serupa pun pernah dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah. (Lihat Fatawa Islamiyah kumpulan Mu­hammad al-Musnid 3/108)

Menikah dengan orang yang terpaut umur sangat jauh

Tidak ada khilaf di kalangan para ulama bahwa pernikahan antara seorang laki-laki dengan wanita meskipun keduanya terpaut umur  yang sangat jauh adalah sah, misalnya si wanita masih berumur 20 tahun sedangkan suami sudah 70 tahun. Namun, apakah disunnahkan untuk melihat perbedaan umur ini dalam menentukan pernikahan?

Imam Nasa’i (6/62) meriwayatkan dengan sanad hasan dari Buroidah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma melamar Fathimah radhiyallahu ‘anha, maka Rosululloh menjawab: “Dia masih kecil.” Lalu Ali pun melamarnya, maka Rosu­lulloh menikahkanya dengannya.

Berkata Syaikh Mushthofa al-Adawi: “Sabda Rosululloh: Dia ma­sih kecil terdapat dua kemungkinan: (1) Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma tatkala melamar Fathimah radhiyallahu ‘anha, saat itu beliau masih kecil belum mungkin un­tuk jima’, sedangkan tatkala Ali radhiyallahu ‘anhu melamar, maka saat itu Fathimah sudah besar, maka Rosululloh pun menikahkannya. (2) Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat adanya perbedaan umur yang sangat tajam antara Fathimah dengan Abu Bakr dan Umar.

Berkata as-Sindi dalam Hasyi-yah Sunan Nasa’i: “Dhohir hadits ini menunjukkan bahwa melamarnya Ali tidak terpaut jauh dengan waktu melamarnya Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari sini maka diketahui bahwa yang dilihat oleh Rosululloh adalah terpautnya umur yang jauh antara Fathimah dengan keduanya, dan hal ini tidak terdapat pada Ali, maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menikahkannya. Dari sini dapat diambil sebuah faedah bahwa menikah dengan yang sebaya itu disenangi dalam pernikahan karena itu akan lebih bisa membuat keduanya cocok dan serasi, meski pun hal ini bisa saja ditinggalkan demi melihat sesuatu yang lebih utama seperti pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha.”

Kemudian Syaikh Mushthofa melanjutkan: “Yang nampak bagiku bahwa seorang wanita dipilihkan untuk menikah dengan laki-laki yang sebaya dengannya, kalau ada seorang wanita yang masih berumur 13 tahun maka dibenci untuk dinikahkan dengan laki-laki yang sudah berumur 70 tahun, meskipun hukum asalnya boleh, namun dibencinya itu karena biasanya umur semacam ini tidak bisa menjadikan wanita bisa menjaga kehormatannya. Meskipun terkadang karena sebab tertentu pernikahan semacam ini tidak menjadi dibenci bahkan bisa saja menjadi disunnahkan.” (Lihat Jami‘Ahkamin Nisa’ 3/357)

Pernikahan ala jahiliah

Imam Bukhori rahimahullah -dalam Shohihnya 5127- meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anhaberkata: “Sesungguhnya pernikahan pada zaman Jahiliah ada empat macam.

Salah satunya adalah seperti pernikahan manusia pada saat ini, dimana seorang laki-laki meminang pada wali wanita, lalu laki-laki tersebut memberinya mahar dan menikahinya.

Kedua: Seorang laki-laki mengatakan ke­pada istrinya saat dia sudah suci dari haid:”Pergilah ke Fulan, dan mintalah engkau untuk dikumpuli.” Dan si suaminya tidak boleh mendekatinya serta tidak boleh jima’ dengan­nya sampai jelas sudah hamil dari laki-laki tersebut, dan apabila su­dah nyata hamilnya maka boleh bagi suaminya untuk mengumpulinya apabila dia menginginkan. Dia melakukan hal ini demi menginginkan anak yang cerdas, perni­kahan ini dinamakan dengan perni­kahan istibdlo’.

Ketiga: Pernikahan model lain adalah beberapa orang kurang dari sepuluh sepakat untuk mengumpuli seorang wanita, lalu apabila wanita tersebut hamil dan melahirkan beberapa hari, maka wanita tersebut memanggil me­reka semua, dan tidak ada seorang pun yang bisa menolak. Dan tatkaia semuanya sudah berkumpul, maka wanita itu berkata kepada mereka: “Kalian semua sudah mengetahui apa yang kalian lakukan, dan sekarang ini saya sudah melahirkan, maka ini adalah anakmu wahai fulan.” si wanita tersebut menyebut nama salah satu dari mereka yang ,dia senangi, maka anak itu pun dianggap sebagai anaknya dan ia ti­dak bisa menolak.

Keempat: Perni­kahan model lain adalah kaum laki-laki masuk mengumpuli seorang wanita dan dia tidak menolak siapa pun yang datang kepadanya, dia inilah seorang pelacur, dia memasang bendera di depan rumahnya seba­gai tanda bahwa barangsiapa yang ingin, maka boleh berkumpul de­ngannya, lalu apabila dia hamil dan melahirkan maka semua laki-laki yang pernah berkumpul dengannya berkumpul lalu dipanggillah qo-fah (semacam seorang yang bisa menentukan nasab anak dengan berdasarkan kemiripan anak dan bapaknya terutama kemiripan kaki keduanya -pent) kemudian dia pun dianggap sebagai anaknya dan dia tidak bisa menolak. Namun tatkaia Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka beliau menghapus semua pernikahan jahiliah kecuali pernikahan yang dilakukan oleh kaum muslimin saat ini.”

 

Bolehkah seseorang dinasabkan kepada ibunya?

Pada dasarnya jika seseorang bukan anak zina atau anak li’an maka dia dinasabkan kepada bapaknya. Namun boleh seseorang dinasab­kan kepada ibunya kalau memang dia dikenal dengan nama itu dan tidak menyakiti juga tidak membahayakan baginya.

Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum dinasab­kan kepada ibunya. Di antaranya adalah Ibnu Ummi Maktum, Abdulloh Ibnu Mas’ud yang terkadang disebut Ibnu Ummi Abd, Sahl Ibnu Hadholiyyah dan lainnya.

Adapun tentang Ibnu Ummi Maktum adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Fathimah binti Qois berkata bahwa suaminya menceraikannya dan dia tidak mau memberinya nafkah, maka dia pun datang kepada Rosululloh lalu mengabarkan hal tersebut. Maka be­liau bersabda: “Engkau tidak berhak mendapatkan nafkah, pindahlah ke rumah Ibnu Ummi Maktum, karena dia itu seorang laki-laki yang buta.”

Adapun Ibnu Mas’ud, maka apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Khudzaifah berkata: “Sesungguhnya orang yang paling mirip dengan Rosululloh adalah Ibnu Ummi Abd, saat mulai dari dia keluar rumah sampai kembali ke rumah lagi, dan saya tidak mengetahui apa yang dia lakukan kalau berada di dalam rumah dengan keluarganya.”

Juga kita kenal nama Muham­mad bin Hanafiyyah, yang mana sebenarnya beliau adalah Muhammad bin Ali bin AbiTholib, namun ibunya bukan Fathimah binti Rosululloh, akan tetapi seorang wanita dari Bani Hanifah. Maka untuk membedakan mana yang cucu Rosululloh dengan yang bukan, dikenallah beliau de­ngan nama tersebut. (Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Mushthofa al-Adawi 4/312)

 Wanita adalah makhluk yang kurang akal dan agamanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya:”Kita sering mendengar hadits ‘Wanita adalah makhlukyang kurang akal dan agamanya’ sehingga digunakan oleh sebagian kaum laki-laki untuk mencemooh kaum wanita. Kami harapkan Syaikh untuk menjelaskan maksud dari hadits ini.

Beliau rahimahullah menjawab: Arti ha­dits Rosululloh: “Soya tidak pernah melihat makhluk yang kurang akal dan agamanya namun mampu mengalahkan keteguhan seorang laki-laki dari pada salah seorang di antara kalian (para wanita).” Ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rosu­lulloh apa kekurangan agamanya.” Beliau menjawab: “Bukankah per­saksian dua orang wanita seban ding dengan persaksian seorang laki-laki?!” Beliau pun ditanya lagi: “Wahai Rosululloh, apa kekurang­an agamanya?” Beliau menjawab: “Bukankah apabila sedang haid mereka tidak melaksanakan sholat dan puasa?!”(HR. Bukhori Muslim)

Nabi menjelaskan kekurangan akalnya dari sisi kelemahan hafalannya dan bahwa persaksianya harus diperkuat dengan persaksian wani­ta lain yang mendukungnya, karena kadang dia lupa sehingga bisa jadi dia menambah atau mengurangi dalam persaksian, sebagaimana difirmankan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhoi, supaya jika seseorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. . . (QS.al-Baqoroh[2]:282)

Sedangkan kekurangan aga­manya karena ketika wanita mengalami haid dan nifas maka dia meninggalkan sholat dan puasa serta tidak mengqodho’ sholatnya. Ini merupakan kekurangan agama.

Tapi ini bukan berarti merupa­kan kekurangan agama dalam segala hal. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa kekurangan akalnya terjadi pada sisi ketidaktepatan dalam per­saksian, dan kekurangan agamanya terjadi pada kondisinya yang senantiasa meninggalkan sholat dan pua­sa ketika haid dan nifas. Ini bukan berarti wanita senantiasa berada di bawah pria dalam segala sesuatu dan pria selalu lebih utama dari pria dalam segala sesuatu. Memang laki-laki lebih utama dari wanita secara umum karena beberapa sebab, seperti firman Alloh:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh telah melebihkan sebahagian m-reka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan seba­gian dariharta mereka. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Justru kadang-kadang wanita melebihi laki-laki dalam beberapa hal. Banyak wanita yang melakukan perbuatan sholih melebihi laki-laki, di antara mereka ada yang menjadi perowi hadits dan lainnya.

Kekurangan yang ada pada mereka hanya khusus pada akal dan agamanya, maka tidak boleh seorang mu’min untuk menyebutnya sebagai makhluk yang kurang dalam segala hal. Hendaknya masalah ini diperhatikan dan difahami. (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah 4/292 dengan diringkas)

Laki-laki  mengucapkan salam dan berkata kepada wanita: “saya mencintaimu karena Alloh.”

Dibolehkan bagi seorang laki-laki untuk mengucapkan kepada wanita: “Saya meneintaimu karena Alloh.” Kalau hal ini tidak akan memunculkan fitnah.

Imam Bukhori 3785 meriwayatkan dari Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik berkata: “Rosu­lulloh melihat beberapa wanita bersama anak-anak kecil datang, maka Rosululloh pun menyambutnya seraya berkata: Kalian adalah termasuk orang yang paling saya cintai.” Rosu­lulloh mengatakannya dua kali.”

Begitu juga boleh bagi seorang laki-laki mengucapkan salam pada wanita dan sebaliknya kalau aman dari fitnah. Banyak sekali dalil yang menunjukkan akan hal ini, di antaranya:

Dari Ummu Hani’ berkata: “Pada saat Fatkhu Makkah saya datang kepada Rosululloh, dan ketika itu beliau sedang mandi ditutupi dengan sehelai kain oleh putri beliau Fathimah, maka saya pun mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rosululloh ber­tanya: “Siapa ini?” dia menjawab: “Saya Ummu Hani’ binti Abu Tholib,” Maka Rosululloh menjawab: “Selamat datang wahai Ummu Hani'” (HR. Bukhori: 61 58, Muslim: 336)

Dari Hasan al-Bashri berkata: “Dahulu para wanita (shohabiah) mengucapkan salam kepada laki-laki.” (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod: 1046 dengan sanad hasan)

Dari Asma’ binti Yazid al-Anshoriyyah berkata: “Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami kaum wanita dan beliau mengucapkan salam ke­pada kami,” (HR. Abu Dawud: 5204, Ibnu Majah: 3701 Ahmad 6/452, lihat ash-Shohihah: 823)

 Antara mengurusi rumah tangga dan menuntut ILMU

Syaikh Sholih Fauzan hafidzahullah per­nah ditanya: “Mana yang lebih utama bagi seorang wanita muslimah, mengurusi kewajiban di rumahnya ataukah mengkhususkan diri menuntut ilmu dengan menyuruh pembantu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga?”

Jawab beliau hafidzahullah: “Memang hendaknya wanita muslimah me­nuntut ilmu agama semampunya, akan tetapi melayani suami dan taat kepadanya serta mendidik anak-anaknya adalah pekerjaan yang utama. Hendaknya ia menyediakan tiap hari untuk belajar meskipun sebentar atau menyediakan waktunya setiap hari untuk membaca, dan sisanya dipergunakan untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Dengan demikian ia tidak meninggalkan menuntut ilmu, dan juga tidak meninggalkan pekerjaan rumahnya dengan cara menyerahkannya pada pembantu. Hendaknya seorang istri bijaksana dalam hal ini, dengan menyediakan waktu seben­tar untuk belajar dan menyediakan waktu yang cukup untuk mengurusi pekerjaan rumah.” (al-Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Fauzan 7/179)

Potong rambut wanita

Syaikh Sholih al-Fauzan pernah ditanya tentang hukum memotong rambut wanita, maka beliau hafidzahullah menjawab: “Jika menyerupai rambut wanita kafir, maka hukumnya ti­dak boleh, berdasarkan riwayat Ibnu Umar bahwa Rosululloh bersabda:

Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk darinya. (HR. Abu Dawud 4031 Ah­mad 2/50. Dishohihkan al-Albani dalam Shohihul Jami3/106)

Demikian pula jika mencukurnya seperti laki-laki, dengan mencukur pendek hingga melampaui ujung kedua telinga, karena Rosu­lulloh melaknat wanita yang me­nyerupai laki-laki dan perbuatan tersebut merupakan dosa besar. Apabila tidak dengan tujuan me­nyerupai, tetapi dengan tujuan lain yang bukan untuk berhias, seperti karena tidak mampu memelihara atau karena terus memanjang hing­ga menyebabkan kesulitan baginya, maka para ulama membolehkan mencukur sebatas keperluan. Ber­dasarkan hadits Abu Usamah bin Abdurrohman yang menyebutkan bahwa rambut istri Rosululloh se­perti wafroh. Dan wafroh adalah rambut yang memanjang melebihi kedua telinga. (Zinatul Mar’ah, Syaikh Abdulloh Fauzan hal: 97)

Sembelihan wanita

Boleh bagi seorang wanita un­tuk menyembelih binatang dengan tangannya sendiri, dan hukum sembelihannya halal apabila memenuhi syarat, sebagaimana hal ini juga berlaku bagi laki-laki.

Imam Bukhori -dalam Shohih-nya 5501- meriwayatkan dari Ka’b bin Malik bahwa salah seorang budak wanita miliknya mengembalakan kambing di gunung Sal’. Lalu dia melihat salah. satu kambing tersebut ada yang akan mati, maka dia langsung memecah .batu dan menyembelih kambing tersebut. Maka Ka’b bin Malik berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian makan sampai saya bertanya kepada Rosu­lulloh atau sampai saya utus utusan untuk bertanya kepada Rosululloh.” ternyata Rosululloh memerintahkan untuk memakannya.

Dan ini adalah madzhab Jumhur para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 9/632

Wanita di surga

Syaikh Utsaimin rahimahullah ditanya: “Laki-laki mendapatkan istri bidadari di surga, lalu wanita mendapatkan apa?”

Jawab beliau rahimahullah: “Para wanita akan mendapatkan pria ahli surga, dan pria ahli surga lebih utama dari pada bidadari. Pria yang paling baik ada di antara pria ahli surga. Dengan demikian bisa jadi bagian wanita di surga lebih besar dan lebih baik daripada bagian laki-laki.” (Fatawa wa Durus Haromil Makki, Syaikh Utsaimin 1/132 dengan diringkas)

Sumber: AL FURQON, edisi 11 th. ke-6, Jumada Tsaniyah 1428 H, hal. 58-61

Iklan