FILSAFAT ISLAM, Konspirasi Keji


Definisi Filsafat Menurut Bahasa dan Istilah

Lafadh filsafat diambil dari bahasa Yunani, asalnya: Fila-Sufia (artinya; Cinta Hikmah), Fila atau filu  mempunyai arti pencinta dan sufia bermakna hikmah, sehingga dari asal itu sebutan filosof bermakna orang pencinta hikmah.[1]

Para pakar filsafat sendiri kesulitan mendefinisikan makna filsafat, semua sumber yang berhasil penulis temukan sebatas penyebutan ciri, sifat, bidangnya dan lainnya.

PEMBAHASAN FILSAFAT

Syahrastani membagi filsafat dalam tiga bagian;

1 .    Ilmu tentang “Apa”?

2.    Ilmu tentang “Mengapa”?

3 .    Ilmu tentang “Berapa”?

Ilmu yang menerangkan tentang hakikat sesuatuadalah Ilmu ilahiyyah atau metafisika, ilmu yang menerangkan kaifiat sesuatu adalah ilmu fisika, sedangkan ilmu vang menerangkan kapasitas sesuatu disebut dengan ilmu pasti[2]

APA YANG DlMAKSUD “FILSAFAT ISLAM”?

Pendahulu umat mi tidak pernah merasa bangga dengan sesuatu sebagaimana berbangganya mereka terhadap Dienul Islam, Kitabulloh, dan Sunnah Ro­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan mereka tidak pernah membahas apa yang dinamakan dengan “filsafat” karena mereka memang tidak membutuhkannya sama sekali.

Setelah semua sebab dan proses berlangsung melalui tangan orang-orang tertentu, masuklah filsafat de­ngan semua virus dan racunnya ke Negeri Islam. Tentu bukan filsafat murni, akan tetapi filsafat yang telah terkombinasi dengan ilmu-ilmu Islam, kombinasi yang terlampau dipaksakan, karena mengkombinasikan dua ilmu yang saling berlawanan, (yang, –adm) nantinya dikenal sebagai “Filsafat Islam”.

Bahwasanya mereka semua sepakat apa yang dinamakan dengan filsafat Islam tidak memberi gambaran Islam yang murni, dan bukan pula menggambarkan fil­safat murni. Akan tetapi, ia merupakan gabungan dari pemikiran asing yang dikemas dengan kemasan Islam atau diberi pakaian dengan pakaian Islam.

Perkembangan “Filsafat Islam”

Ketika kerajaan Persia berhasil ditaklukkan, mereka mendapatkan kitab-kitab yang sangat banyak, sampai Sa’ad (bin Abi Waqqosh) radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Kholifaturrosyid Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu minta diizinkan untuk memindahkan kitab-kitab tersebut kepada kaum muslimin, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu menulis surat balasan, yaitu agar dibuang ke sungai, jika seandainya di dalam kitab-kitab itu ada petunjuk maka kita telah diberi petunjuk oleh Alloh ‘Azza wa Jallalebih baik darinya, dan jika di dalamnya ada kesesatan, maka Alloh ‘Azza wa Jalla secara tidak langsung telah menjauhkannya dari kita. Kemu­dian beliau buang ke sungai atau beliau bakar.[3]

Sikap ini merupakan kerja nyata dari pelajaran yang beliau terima dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di tangan Umar radhiyallahu ‘anhu ada beberapa lembaran Taurot, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangnya dan beliau marah serta berkata (artinya): “Apakah kalian bimbang karenanya, wahai Ibnul Khoththob?! Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa untuk kalian yang lebih mengkilat dan suci… dan demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, jika seandainya Musa sekarang masih hidup, tidak mungkin ia lepas kecuali harus mengikutiku.”[4]

Begitulah berlangsung kemurnian dan kesucian ini, hingga muncul ilmu campuran filsafat tersebut, membuat rusak apa yang selama ini baik dan menjadi berantakan apa yang selama ini teratur dari urusan aqidah, kecuali yang dirahmati Alloh ‘Azza wa Jalla.

Perpindahan filsafat Yunani, Persia dan India masuk ke negeri Islam tidaklah sekaligus, dan tidak pula melalui satu jalan, ada tiga hal yang paling menonjol sebagai peran utama masuknya ilmu tersebut;

a. Pertama: Peranan perguruan Iskandariyyah

Perguruan Iskandariyyah adalah perguruan terbesar Yunani yang terletak di wilayah timur dalam pengaruhnya dalam bidang keilmuan, kebudayaan, dan penemuan; sebagaimana ia juga merupakan ba­sis pertemuan bangsa-bangsa yang beraneka ragam: Yunani, Mesir, Yahudi, Itali, Arab, Persia, Ethiopia, Suria, Indian, dan Nubia serta bangsa lainnya. Penduduk aslinya memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dalam pengajaran filsafat. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa perguruan tinggi tersebut adalah basis dan markas pertama di dunia untuk mempelajari filasafat Yunani secara fokus.[5]

Kota ini -sekalipun penuh sesak dengan filsafat- telah mencapai masa kejayaannya di bawah pemerintahan Nasrani. Hal ini membuat berkembang pesatnya pengajaran Neo-Platoisme di wilayah ini.

Neo-Platoisme adalah gabungan antara ilmu fil­safat dan agama yang muncul di akhir-akhir abad ke-dua Masehi. Tempat asalnya adalah Iskandariyyah. Para pendiri madzhab ini telah berupaya mengkombinasikan antara ajaran agama Masehi dan madzhab Yunani, terutama Plato.[6] Di antara yang terkenal dari guru besar mereka adalah Platin[7].

Madzhab penggabungan ini sudah mulai berkem­bang semenjak kemunculannya pada abad pertama di tangan Vilon, seorang yang beragama Yahudi, yang tengah mengupayakan penggabungan filsafat dengan ajaran Yahudi; semenjak itu ia menjadi sebuah mad­zhab bagi setiap kelompok yang berpikir dan berupaya untuk mengkombinasikan antara agama dan filsafat atau filsafat dengan agama.[8]

Ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir, perguruan ini menjadi satu-satunya perguruan Yunani yang tersisa. Semenjak itu berpindahlah pengajaran filsafat dari Iskandariyyah ke Anthiokia. Setelah beberapa lama berdiri, perguruan itu pun hampir tutup; yang tinggal hanya seorang pengajar dengan dua orang muridnya, salah seorang dari mereka dari Haron dan yang satu lagi dari Marw. Yang dari Marw mempunyai dua murid, salah satu dari mereka bernama Ibrohim al-Marwazi dan yang satu lagi Yuhana bin Hilan[9]. Sedangyang dari Haron belajar dengannya Isro’il Uskup dan Quwalri.

Keempat murid ini pindah ke Baghdad. Isroil memfokuskan diri dalam pendalaman agama sebagaimana Yuhana. Sedangkan Ibrohim al-Marwazi tinggal di Baghdad, dan al-Marwazi mempunyai seorang murid bernama Matta bin Yunan[10].

Sedangkan kaum muslimin yang menjadi pemberi fasilitas untuk mereka telah merasakan bencana dari pengaruh Neo-Platoisme, (sebagai salah satu faktor yang mendorong kaum muslimin untuk menganut salah satu sekte filsafat ini, karena dialah sekte yang berkembang ketika itu, juga karena dia dikemas dengan kemasan agama).[11] Beberapa waktu lamanya mereka disibukkan dengan filsafat tersebut yang akhirnya mengorbitkan para filosof yang menisbatkan diri kepada Islam.

b. Kedua: Peran individu

Ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan berbagai negeri di wilayah Timur dan di wilayah Barat, mereka juga berhubungan dengan bangsa-bangsa yang mempunyai kebudayaan, adat-istiadat, dan kebiasaan yang bertolak belakang dengan kebudayan Islam, tidak jarang bertentangan dengan pengajaran secara umum, sehingga para cendekiawan bangsa lain hanya memiliki dua pilihan, kalau tidak nengumumkan keislaman mereka secara jujur dan dengan keimanan, maka:
(1) masuk Islam dengan taqiyyah(berpura-pura, pen.) sambil menaruh kedengkian, atau
(2) tetap berada dalam kekufuran secara lerang-terangan, karena pada dasarnya Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk menganut ajarannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya individu mempunyai pengaruh besar dalam penyampaian filsafat Yunani kepada kaum muslimin. Hal ini terbukti dengan selalu berinteraksinya mereka dengan kaum nnslimin, baik dalam hubungan dengan masyarakat maupun pemerintah. Di antara mereka ialah:

● Musa bin Maimun bin Yusuf Abu Imron al-Qurthubi, seorang tabib dan filosof beragama Yahudi zindik (masuk Islam dengan menyembunyikan kekufuran, pen.). la dilahirkan dan belajar di Cordova tahun 529 H, berpindah-pindah bersama ayahnya di kota-kota Andalus (Spanyol,pen.). Pernah tinggal di Fas selama sembilan tahun, tatkala itu dia mengaku dirinya sebagai seorang muslim, sampai dia menyelesaikan hafalan al-Quran dan belajar fiqih dalam madzhab Maliki. Ketika masuk Mesir tahun 567 H ia kembali ke agama Yahudinya, kemudian ia pun tinggal di Kairo menjabat sebagai pimpinan agama Yahudi selama 34 tahun, sampai dia meninggal pada tahun 601 H[12]Selaku pemimpin Yahudi dia tidak pernah menjauhkan diri dari lingkungan kaum muslimin. Bahkan orang-orang Mesir telah mengenalnya se­bagai seorang tabib yang mahir, hingga diangkatlah dia sebagai tabib pribadi Nuruddin anak sulung Sholahuddin al-Ayyubi, dan juga sebagai tabib pribadi Qadhi al-Bisani menteri Sholahuddin. Pada waktu bersamaan ia juga memiliki peran di kancah politik dan agama. Adapun peran politiknya, dia pergunakan kedudukannya di sisi sulthan untuk mengangkat permasalahan Yahudi Mesir; yaitu ke­tika Sulthan Sholahuddin menaklukan Palestina, dia (Sulthan, –adm) telah lama punya rencana untuk mengusir mereka yang tinggal di sana. Musa bin Maimun berhasil memahamkan kepada Sulthan agar mereka tetap diizinkan untuk tinggal di sana.[13] Sedangkan perannya dalam agama, dia telah ber­hasil menyebarkan filsafat di kalangan kaum mus­limin di sela-sela sepuluh karangannya yang dia tulis dalam bahasa Arab, terutama dari kitabnya yang berjudul Dalalatul Ha’irin.

la (Musa bin Maimun, red.) telah mewariskan ke­pada anaknya, Abraham bin Musa, untuk menggantikan posisinya sebagai pimpinan dan tabib negeri, ia juga mewariskan kepada cucunya Daud bin Abraham dan cucunya yang lain Sulaiman bin Abraham dalam kepimpinan agama Yahudi; dan ketiga-tiganya mewarisi filsafat Ibnu Maimun.[14]

Abu Ja’far al-Manshur (meninggal 158 H). Sebagai salah seorang khalifah Abbasiyyah ketika itu, beliau begitu menyukai ilmu nujum[15] dan ahli nujum, dan menjadikan mereka sebagai penasehatnya -kebanyakannya dari para filosof-. Kita dapati salah se­orang dari orang-orang terdekat pemerintah tatkala itu dan termasuk teman dekat al-Manshur dalam rentang waktu yang cukup panjang yaitu filosof Nubikht yang beragama Majusi; dia menyebarkan pengajaran filsafatnya sambil bekerja sebagai ahli nujum. Ketika ia tidak lagi mampu untuk menjalankan tugasnya, al-Manshur memintanya agar anaknya menggantikan posisinya; maka didatangkanlah anaknya, Abu Sahal[16], selanjutnya ia melanjutkan langkah ayahnya dalam ilmu nujum dan dalam penyebaran filsafat.

c. Ketiga: Peran terjemahan

Kebanyakan sumber menyatakan bahwa kegiatan penerjemahan ini bermula pada masa khilafah Bani Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Kholid bin Yazid tahun 85 atau 90 H. Kholid ini sangat gemar dengan buku-buku kimia[17] (istilah kimia pada zaman dahulu adalah semacam sihir dan semisalnya bukan ilmu kimia yang ada pada zaman sekarang red.), dan ia sendiri sangat pandai dalam ilmu ini, sampai-sampai dia mengarang tiga risalah tentang kimia, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Kholkan, hanya saja adz-Dzahabi mengingkari bahwa dia telah mengarangnya[18]; bagaimana pun, sekurang-kurangnya Kholid mempunyai perhatian kepada ilmu ini. Dialah orang yang pertama kali yang mendatangkan para penerjemah untuk menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab.

Hanya saja penerjemahan ini terbatas pada sebagian bidang-bidang ilmu saja, seperti perkataan hikmah, pepatah, surat-menyurat, wasiat, dan yang mempunyai hubungan dengan sejarah filsafat secara umum.[19]

Pada masa Abu Ja’far al-Manshur, khalifah kedua Bani Abbasiyyah, dimulailah penerjemahan buku-buku Yunani tentang biologi, kedokteran, dan manthiq ke dalam bahasa Arab.[20] Di antara yang ditugaskan dalam penerjemahan pada masanya adalah Abdulloh bin Muqoffa‘ (meninggal 142 H) yang telah mener­jemahkan buku-buku manthiq dari perkataan Aristoteles.[21]

Selanjutnya.pada masa Harun ar-Rasyid (mening­gal 198 H), ia dirikan tempat untuk penerjemahan yang disebut dengan “Baitul Hikmah”. Mulailah usaha penerjemahan diatur secara terorganisir yang langsung ditangani oleh negara. Dipilihlah para pekerja dan pegawai. Menterinya, Yahya bin Kholid al-Barmaki al-Farisi, memberikan perhatian yang besar terhadap dunia terjemahan ini, orang ini dikenal sebagai seorang zindik dan mempunyai tipudaya terhadap Islam.[22]Dialah yang mengirim surat untuk meminta buku-buku Yunani kepada raja Romawi — sebagaimana yang diriwayatkan pada salah satu dari dua riwayat- dan dia menetapkan beberapa penerjemah dari para filosof dan orang-orang zindik. Karena sesuatu tujuan yang ada pada diri mereka, mereka tidak mencukupkan diri dalam menerjemahkan buku-buku yang ada manfaatnya saja seperti ketabiban, pengobatan, dan ilmu biografi; akan tetapi, sampai kepada penerjemahan buku-buku filsafat tentang ketuhanan yang dipenuhi dengan kekufuran dan ilhad. Tujuan mereka tidak lain yaitu berkhidmat untuk agama mereka dan melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, kebanyakan mereka dari orang-orang Nasrani dari suku Nashthur dan suku Ya’aqibah.

Pertama kali yang mereka lakukan adalah mengeluarkan buku-buku Yunani dan memasoknya ke nega­ra Islam. Lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan tersebarlah di kalangan kaum muslimin.

Sebuah cerita sejarah tentang ketamakan Yahya bin Kholid (al-Barmaki) ini untuk memasukkan filsa­fat ke dalam tubuh kaum muslimin yaitu ketika sam­pai kepadanya berita tentang buku-buku filsafat yang telah dikuburkan oleh orang Romawi sendiri, mulailah dia mencari muka kepada raja Romawi dengan mengirim hadiah-hadiah tanpa meminta balasan. Ketika raja merasa hadiah yang dikirimkan tersebut berlebihan, dia kumpulkan para bithriq (penasehat)nya, lalu ia berkata: “Orang ini sebagai pembantu orang Arab yang telah memberikan kepadaku banyak hadiah dan dia tidak meminta sesuatu apapun kepadaku. Aku melihat ada sesuatu yang diinginkannya, dan aku takut jika nanti permintaannya memberatkanku. Sungguh permasalahan ini membuatku sangat risau.”

Ketika sampai utusan Yahya, dia berkata kepada me­reka: “Katakan kepada tuan kalian jika ia menginginkan sesuatu, maka hendaklah ia sebutkan!” Ketika utus­an tadi memberi tahu Yahya, ia membalasnya dengan berkata kepadanya: “Aku membutuhkan buku-buku yang berada dalam bangunan mati tersebut untuk dikirimkan kepadaku, nanti akan aku pilih buku yang aku butuhkan setelah itu aku akan mengembalikannya kepadamu.”

Ketika raja Romawi tersebut membaca surat itu, ia pun tersenyum girang. Setelah itu dia langsung mengumpulkan para bithriq, pendeta, dan uskup; kemudian ia berkata kepada mereka: “Sebagaimana yang aku sampaikan kepada kalian tentang pembantu orang Arab tersebut, ia memberi hadiah untuk menginginkan sesuatu dariku, dan ia telah menyebutkannya. Kiranya vang dia butuhkan adalah sesuatu yang sangat mudah dan ringan…” (Lalu mereka bertanya: “Apa itu?”) Dan ia berkata: “Dia menginginkan buku-buku Yunani, untuk dipilih apa yang ia kehendaki dan nantinya akan mengembalikannya kepada kita lagi.” Mereka berkata: “Apa pendapat Baginda tentang permasalahan ini?” Dia berkata: “Aku mengetahui bahwa tidaklah orang-orang sebelum kita membangun bangunan tersebut kecuali karena takut jatuh ke tangan orang-orang Nasrani setelah mereka telaah yang menjadi penyebab kehancuran dan perpecahan mereka. Pendapatku, agar mengirimkan kepadanya dan meminta untuk tidak dikembalikan kepada kita, dia akan merasakan efeknya dan kita selamat dari keburukannya, karena sepeninggalanku nanti akan ada orang yang berani mengeluarkannya kepada masyarakat (hingga) membuat mereka iatuh ke dalam apa yang selama ini ditakutkan.” Me­reka berkata: “Alangkah tepatnya pendapat Baginda Raja! Teruskanlah!”

Lalu dikirimlah buku-buku tersebut kepada Yahya bin Kholid.[23]

Riwayat ini menerangkan kepada kita beberapa hal yang sangat berharga:

  1. Peran penerjemahan dalam memasukkan filsafat kepada kaum muslimin.
  2. Peran orang-orang zindik dan selain mereka yang hidup dengan khalifah, yang tidak mempunyai niat baik terhadap Islam dan kaum muslimin.
  3. Kesepakatan Nasrani tentang bahaya kitab filsafat Yunani.
  4. Kesepakatan mereka dalam menghancurkan Islam dan kaum muslimin karena hasad yang ada pada diri mereka.

Pada masa Khalifah al-Mamun dunia terjemahan sedang berada di puncaknya, dengan menyempurnakan proyek pembangunan “Baitul Hikmah” yang telah mulai digarap pada masa ayahnya Harun ar-Ra-syid. Bahkan ia terjun langsung sebagai penanggung iawab tugas ini untuk menambah buku-buku Yunani dan mengawasi pekerjaan terjemahan.

Berkata ash-Shofadi: “Disebutkan ketika al-Ma’mun mengadakan perjanjian perdamaian de­ngan raja-raja Nasrani -yaitu raja Pulau Cyprus-, ia menulis surat meminta dikirimkan khazanah buku-buku Yunani, karena mereka mempunyai peninggalan buku Yunani yang cukup banyak pada sebuah tempat yang tidak diperlihatkan kepada siapapun. Raja pun mengumpulkan orang-orang terpercaya dan para cendekiawannya, kemudian dia meminta saran me­reka. Mereka semua mengusulkan agar tidak dikirim, kecuali seorang pendeta. la berkata kepada sang raja: “Kirimlah kepada mereka. Ilmu ini tidaklah masuk ke sebuah bangsa yang bersyari’at kecuali membuatnya hancur dan membuat para ulama mereka berpecah-belah.”[24]

Antara riwayat ini dengan riwayat sebelumnya tentang kisah al-Barmaki tidak ada pertentangan.[25]Riwayat pertama menerangkan tentang awal mula didatangkannya buku-buku Yunani yang sebelumnya tersebar di daerah-daerah yang tersembunyi di gua-gua, dan riwayat kedua menerangkan penambahan buku-buku tersebut oleh al-Ma’mun dan penerjemah­an berkembang pesat pada masanya.

Upaya al-Ma”mun tidak hanya sebatas penukilan dan penerjemahan -sebagaimana yang telah kita terangkan-. Akan tetapi, bersamaan dengan itu ia juga memaksa kaum muslimin kepada suatu bid’ah seba­gai konsekuensi yang ditimbulkan dari penerjemahan tersebut. la menindas para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terutama Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dengan menyiksanya dalam penjara tanpa alasan; hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ber­kata: “Aku rasa Alloh ‘Azza wa Jalla tidak akan membiarkan al-Ma’mun dan ia harus mempperoleh (balasan)-Nya dari apa yang telah ia perbuat kepada umat dengan mema­sukkan ilmu filsafat ini.”[26]

Mengenai penerjemah, rata-rata berasal dari orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Shabfiyyah; dan di sini berkatalah Muhammad Luthfi: “Selayaknyalah kita memberikan penghargaan kepada pemiliknya dengan rasa bangga dan dengan senang hati, kepada mereka yang telah menghabiskan waktu dalam memindahkan ilmu dan filsafat pada masa Abbasiyyah yang pertama; kebanyakan mereka dari ahli kitab, bu­kan dari kaum muslimin.”[27]

Kami (penulis) berkata: Kami sama sekali tidak mengerti keutamaan apa yang layak mereka peroleh dalam memindahkan musibah tersebut dan menambah kesibukan kaum muslimin dengannya!!

Dan tentu kita dapat membayangkan sejauh mana bahaya penerjemahan ini, dengan mengetahui berapa buku-buku yang diterjemahkan dan berkembang di masyarakat Islam tanpa pengawasan, ditambah tujuan dari para penerjemah yang tidak terlupakan oleh kita. Begitulah kaum muslimin diserang dalam segi pemikiran dalam rumah tangga mereka sendiri, berjatuhanlah korban yang sangat banyak, jatuhlah mereka satu persatu ke dalam bid’ah atau kezindikan.

Siapa yang Berperan Dalam Usaha Kombinasi Antara Islam dan Filsafat?

Di bawah ini ada beberapa catatan tentang peran para tokoh di balik masuknya filsafat ke dalam Islam.

● al-Farobi telah mengkombinasikan antara agama dan filsafat, dia sebagai orang pertama yang merintis untuk orang-orang yang datang setelahnya. la berusaha memadukan pendapat Plato dan Aritoteles, padahal dua ajaran itu sangat berjauhan[28], sampai dia mengarang kitab dengan judul al-Jam’u bainal Hakimain (Mengkombinasikan Antara Dua Filosof).

● Ikhwan Shafa, mereka adalah sekelompok filosof kebatinan terselubung yang muncul di Bashroh pada abad keempat hijriyyah. Kemudian mereka membangun satu madzhab dan mendakwakan bahwa syari’at telah dikotori dengan kebodohan dan telah bercampur dengan kesesatan, tidak mungkin dibersihkan kecuali dengan filsafat, (karena jika sejalan antara filsafat Yunani dan syari’at Arab maka terciptalah kesempurnaan[29]); dan menurut pandangan mereka, dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidaklah cukup.

Usaha mereka tidak sebatas pada permasalahan kombinasi agama dengan filsafat saja. Akan tetapi, usaha mereka sudah sampai pada tahap kombi­nasi antara semua agama dan madzhab. Mereka sendiri meyakini hal tersebut. Mereka sebutkan bahwa mereka berharap dapat mengkombinasikan hikmah semua umat dan agama termasuk ajaran semua nabi mereka: Nuh, Ibrohim, Socrates, Plato, Razadisyt, Isa, Muhammad, dan Ali. Mereka sangat mengagungkan Socrates dan Isa beserta para pengikutnya, sebagaimana mereka mengagungkan anak-anak Ali dan menganggap mereka sebagai syahid yang suci, meninggal karena menegakkan aqidah mereka yang berdiri di atas akal.[30]Mereka berkata secara terang-terangan: “Secara umum, hendaklah para saudara-saudara kami -semoga mereka dibantu olah Alloh ‘Azza wa Jalla– agar jangan pernah memusuhi suatu ilmu apapun, atau meninggalkan satu buku dari buku apapun, serta janganlah fanatik dengan madzhab apapun, karena pendapat kami mencakup semua madzhab dan semua ilmu.”[31]

● Pada abad kelima muncul di pentas Islam Abu Hamid al-Ghozali, seorang yang telah menghabiskan waktu dan tenaganya dalam upaya kombinasi anta­ra agama dan filsafat secara umum, antara manthiq dan ilmu-ilmu Islam secara khusus. la memiliki semangat dalam usaha ini, sulit ditemukan pada yang lainnya.

Filsafat Islam Bukanlah Islam

Mudah-mudahan telah jelas dari pembahasan yang telah berlalu, filsafat yang datang kepada kaum muslimin tidaklak ada hubungan dengan Islam sedikit pun. Usaha yang telah menguras tenaga dalam upaya pengkombinasian filsafat dengan Islam merupakan bukti nyata betapa jauhnya perbedaan antara keduanya. Lantaran bila saling berdekatan dan kebersamaan tidaklah diperlukan upaya pendekatan dan kombinasi.

Islam ialah gabungan antara ilmu dan amal. Sedangkan ilmu -sekalipun penting— tujuannya tiada lain kecuali untuk diamalkan. Jika seseorang mengambil semua ilmu syari’at tetapi dia tidak mengamalkan apa yang diinginkan oleh ilmu tersebut, tidaklah ia disebut sebagai muslim yang sempurna keislamannya, bukan juga mukmin yang sempurna keimanannya, dan tidak ternasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan filsafat -kebalikan dari itu semua- hanya sebatas analisis dan kajian, lalu hasil. Menurut filsafat, amal tidak mempunyai arti sama sekali.[32]

Dan yang menambahnya keyakinan kita tentang jauhnya filsafat dan manthiq dari Islam adalah sikap tegas dan keras yang dicontohkan oleh ulama Islam, kebanvakan mereka adalah orang-orang yang memiliki kedisiplinan ilmu yang mendalam baik dalam sisi agama maupun akal, sekiranya memungkinkan kombinasi antara Islam dan filsafat tersebut dan dapat mendatangkan suatu mashlahat, niscaya mereka lebih dahulu dan lebih layak dalam usaha tersebut daripada mereka-mereka yang sedikit tersebut.

Pendapat Ulama Islam Terhadap Filsafat

Berikut ini selayang pandang sikap para ulama semenjak munculnya benih-benih filsafat hingga tersebarnya di kalangan masyarakat muslim:

●   Di antara orang-orang yang mempunyai sikap keras dan tegas terhadap filsafat adalah Imam Abu Hanifah an-Nu’man rahimahullah. Berkata Nuh Jami’: “Aku ber­kata kepada Abu Hanifah: “Apa pendapat anda tentang perkara yang dibuat orang dengan pembicaan mereka tentang sifat batin dan jisim?” Beliau menjawab: “(Itu) perkataan para filosof, hendaklah engkau (berpegang) dengan Sunnah dan jalan salaf, dan jangan sekali-kali engkau membuat sesuatu yang baru karena hal terse­but merupakan bid’ah.”[33]   

●  Di antara mereka, Abul Faroj Abdurrohman bin al-Jauzi rahimahullah (meninggal 597 H), dia menggolongkan orang yang disibukkan dengan filsafat sebagai orang yang telah terperangkap dalam jerat setan tanpa mereka sadari. Beliau berkata: “Iblis telah memasang jeratnya terhadap beberapa kelompok dari orang-orang yang seagama dengan kita. Iblis tersebut masuk kepada mereka dari pintu kecerdasan dan kejeniusan mereka, dia perlihatkan kepada mereka bahwa kebenaran hanya dengan mengikuti filsafat karena mereka adalah para filosof, yang keluar dari ucapan mereka perbuatan dan perkataan yang menunjukkan puncak dari kecerdasan dan kematangan dalam cara berpikir.[34]
● Abu Amr bin Utsman bin Abdurrohman yang dikenal sebagai Ibnu Sholah rahimahullah (meninggal 643 H). Ketika ditanya tentang manthiq dan filsafat, beliau menjawab -dalam fatwanya yang masyhur-: “Filsafat adalah induk kebodohan dan penghalalan terhadap semua yang diharomkan syari’at, sumber kebingungan dan kesesatan, dan membuat penyelewangan dan kezindikan. Adapun manthiq adalah pintu menuju filsa­fat dan pintu kejahatan adalah kejahatan, syari’at tidak membolehkan seseorang menyibukkan diri dengannya, tidak dari para sahabat, tabi’in, para ulama mujtahid dan salafush sholih maupun orang-orang yang mengikuti mereka.”[35]Alasan (keluarnya) hukum yang jelas dan tegas ini sebagaimana yang beliau katakan: “Syari’at beserta ilmu-ilmunya telah sempurna, dan para ulamanya telah menyelami ke dalam lautan hakikatnya yang sekiranya tidak memerlukan filsafat dan para filosof. Barangsiapa menyibukkan dirinya dengan manthiq dan filsafat karena suatu faedah maka setan telah menipunya.”[36]

●      Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyyah rahimahullah (meninggal 728 H), dia adalah orang yang paling banyak membantah dan memfokuskan diri terhadap bahaya manthiq dan filsafat, serta menyebutkan sanksi yang diberikan syari’at terhadap yang mempelajari keduanya.

Kritikan beliau terhadap filsafat memiliki cara dan metode khusus; beliau terjun langsung menyelami dasarnya, berenang di atas ombaknya, dan mempelajarinya secara mendalam mengalahkan pakar-pakar filosof sendiri dan melebihi mereka dalam menjabarkan kaidah-kaidahnya, sehingga memungkinkan bagi beliau menerangkan apa yang terkandung di dalamnya dari kebatilan. Berkata Syaikh Abdurrohman al-Wakil rahimahullah: “Cukuplah bagi anda bahwasanya beliau -yaitu Ibnu Taimiyyah- lebih mendahului para filosof Barat dan para pemikir mereka dalam membantah manthiq Aristoteles, menerangkan apa yang terkandung dari kelemahan dan kerancuan, dan cukuplah bagi anda bahwasanya beliau bertarung melawan para filosof -thoghut manusia dan sumber fitnah bagi mereka-, maka kemenangan dan kejayaan selalu bersamanya, bersenjatakan dengan nash yang shohih dan akal yang sehat dalam pertarungan tersebut, dan beliau mengkombinasikan dua kekuatan tersebut.”[37]

Sebenarnya karya ilmiah yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dalam metode membantah filsafat dan man­thiq masih menunggu orang yang mengkajinya dengan kajian secara mendalam dan teliti, dan usaha tersebut tersebar di semua karya beliau yang sangat banyak, di samping kitab-kitab dan risalah-risalah yang beliau khususkan untuk membantah mereka. Di antara kitab yang mengandung bantahan kepada mereka ialah: Dar’u Ta’arudhil Aql wan Naql (Penolakan Terhadap Dakwaan Akal dan Naql Saling Bertentangan), Minhajus Sunnah, Bughyatul Murtad, ash-Shofadiyyah, al-Istiqomah, dan Naqdhu Ta’sisil Jahmiyyah (Bantahan Dasar Pemahaman Jahmiyyah). Dan di antara kitab khusus dalam membantah filsafat dan manthiq: Nashihatu Ahlil Iman fir Roddi ‘alaManthqil Yunan (Nasehat Ahli Iman Dalam Bantahan Ahli Manthiq Yunani[38], Naqdhul Manthiq (Bantahan Manthiq), dan yang lainnya dari kitab dan risalah-risalah kecil.

Metode bantahan beliau terhadap filasafat, secara global mencakup dua segi: (1) menerangkan kesalahan filsafat secara akal yang sehat,
(2) menerangkan kesalahannya secara naql (nash) yang shahih.

Tidak diragukan lagi bahwa sisi pertama memakan banyak tenaga dan waktu beliau, karena mereka mengaku berpegang de­ngan akal, sehingga banyaklah yang tertipu oleh me­reka. Sedangkan segi kedua, segi inilah yang berhubungan dengan pembahasan kita di sini, yaitu beliau mene­rangkan bahwa filsafat adalah suatu hal dan agama adalah hal lain (yakni tidak berhubungan satu sama lain, red.).

  al-Hafidh Syamsuddin Muhammad bin Ah­mad adz-Dzahabi rahimahullah (meninggal 748 H). Beliau salah seorang yang menimba ilmu dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, dan karangan-karangannya dipenuhi tentang sikap beliau terhadap filsafat dan ilmu kalam pada setiap kesempatan. Beliau berkata -tentang biografi Ali bin Abdulloh az-Zaghuni-: “Bahkan sedikit sekali yang mendalami ilmu kalam kecuali ijtihadnya membawanya kepada perkataan yang bertentangan dengan Sunnah. Oleh karenanya, para ulama salaf mencela orang yang mempelajari ilmu orang yang terdahulu, karena ilmu kalam lahir dari perkataan para filosof (penganut mazhab) Dahriyyah. Barangsiapa mengkombinasikan antara ilmu para anbiya’ dan de­ngan ilmu para filosof bermodal kecerdasannnya, mestilah ia mendapatkan pertentangan; sebaliknya siapa yang berhenti dan berjalan di belakang para rosul, de­ngan mendiamkan apa yang mereka diamkan dan mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak memperdalam, karena para rasul ‘alaihimus sholatu was sallam mendiamkan dan tidak pernah memperdalamnya, maka dia telah berjalan di atas jalan salafush-sholih, selamatlah agama dan keyakinannya. Kita memohon kepada Alloh ‘Azza wa Jalla keselamatan dalam agama.”[39]

  Dan di antara mereka, pewaris Syaikhul Islam dalam ilmu serta muridnya yang jenius, Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakr yang terkenal sebagai Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, beliau telah menguras tenaganya -sebagaimana gurunya- dalam memban­tah seluruh kelompok yang sesat, terutama orang-orang rasionalis yang berusaha mengkombinasikan antara kaidah-kaidah manthiq dan kesesatannya de­ngan pokok-pokok dasar Islam. Di antara perkataannya membantah orang yang mendakwakan bahwa belajar manthiq adalah fardhu ‘ain atau fardhu kifayah: “Mempermasalahkan hal ini hanya memperturutkan hawa nafsu, karena ilmu tersebut lebih layak disebut suatu kebodohan daripada suatu ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Ini­lah Syafi’i dan Ahmad serta para imam yang lainnya dan karangan-karangan mereka. Bagi siapa yang mau memperhatikannya, apakah mereka memperhatikan batasan-batasan manthiq dan ragamnya? Apakah ilmu mereka sah tanpa hal itu? Sebaliknya, mereka lebih agung dan lebih besar dalam segi pemikiran daripada menyibukkan diri dengan igauan ahli manthiq. Tidak lah ilmu manthiq berada pada suatu ilmu, kecuali dia akan merusaknya dan mengubah bentuknya serta dia kacaukan kaidahnya.”[40]

      al-Allamah Abdurrohman bin Kholdun rahimahullah (meninggal 808 H). Ketika membuat satu pasal dalam muqoddimah kitab Tarikhnya dengan judul “Pasal: Tentang batalnya filsafat dan rusak pemahaman penganutnya”, beliau mengkritik banyak dari dasar-dasar filsafat yang sangat berbahaya dan merupakan pelecehan terhadap aqidah. Misalnya, beliau-membantah mereka seperti: “Sandaran wujud kepada akal”, karena akal menurut mereka adalah falak; sebagaimana juga beliau membantah mereka dalam memasukkan semua di belakang alam ke dalam filsafat, dan perkataan me­reka bahwa Ilahiyat tidak akan bisa mencapainya secara yakin, perkataan mereka: “Sesungguhnya kebahagiaan adalah mengetahui wujud dan ma’rifah saja.” Perkataan mereka: “Sesungguhnya manusia dapat dengan sendirinya menyucikan diri dan memperbaikinya.”

Beliau berkata tentang buku-buku filsafat yang terjemahannya telah tersebar luas pada masanya: “Hendaklah orang yang membacanya berhati-hati semampunya terhadap marabahayanya, dan hendaklah bagi yang akan membacanya telah kenyang dahulu dengan ilmu syari’at dan telah menelaah tafsir dan fiqih, dan janganlah seseorang terjun ke dalamnya sedangkan dia dalam keadaan kosong dari ilmu agama, sangat sedikit orang yang selamat dari kerusakannya.”[41]

Jika seandainya kita bercerita tentang Ibnu Kholdun al-Ifriqi, sangat bagus kita menyebutkan tindakan yang diambil oleh Raja al-Manshur perdana menteri kerajaan-kerajaan Andalus Abu Amir Muhammad bin Abdulloh bin Abu Amir (393 H) karena dia telah berjasa dalam memerangi filsafat yang dibuat-buat oleh orang. Beliau ini menggunakan kekuasaannya, karena beliau memegang tampuk kekuasaan dari Hisyam bin al-Hakam yang menjadi khalifah padahal umurnya masih sembilan tahun, sedang orang tua Hisyam sa­ngat gemar mengoleksi kitab-kitab filsafat dan manthiq; maka dengan sengaja Ibnu Amir pergi ke perpustakaan Hikam, kemudian beliau keluarkan semua yang ada di dalamnya dari kitab-kitab filsafat, kecuali kitab kedokteran dan hisab, kemudian dia perintahkan untuk dibakar di hadapan para ulama.[42]

  Muhammad bin Ibrohim al-Yamani yang dikenal sebagai Ibnul Wazir rahimahullah (meninggal 840 H). la menerangkan tentang kebobrokan filsafat dan menghancurkan pemahaman mereka dalam sebuah karangannya yang dia beri judul Tarjih Asalibil Qufan ala Asalibil Yunan (Membenarkan Metode al-Quran dari Metode Yunani), di kitab ini beliau mentaqrir bahwa di dalam al-Qur’an al-Karim telah terkumpul ilmu yang paling shohih dan ilmu yang paling jelas yang dapat dipahami oleh akal, sebagaimana juga mencakup amalan yang paling mulia dan paling mudah bagi manusia, serta di dalamnya dalil-dalil akal yang mengalahkan ilmu manthiq dan ilmu kalam yang tidak lepas dari pemahaman yang dibuat-buat dan dipaksakan dalam permasalahan yang ringan dan yang mendasar, dan tidak ada di dalamnya (al-Qur’an, -adm) metode para filosof dan ahli kalam.[43]

  Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah (meninggal 911 H) mempunyai jasa yang patut dipuji dalam bantahannya terhadap manthiq. Beliau mengarang kitab Fashlul Ka­lam fi Dzammil Kalam (Kata Putus Dalam Celaan Terha­dap Ilmu Kalam), al-Qoulul Musyriq fi Tahrimil Isytighol bil Manthiq (Untaian Cerah Tentang Haromnya Menyibukkan Diri Dengan Manthiq), Shounul Manthiq wal Kalam ‘an Fannil Manthiqi wal Kalam (Menjaga Ucapan dan Kalam Tentang Seni Manthiq dan Ilmu Kalam), dan Jahdul Qorihah fi Tajridin Nashihah (Upaya Maksimal Dalam Memberi Nasehat) yang merupakan ringkasan dari kitab Syaikhul Islam (yakni: ar-Roddu ‘alal Man-thiqiyyin (Bantahan Terhadap Ahli Manthiq)).

Kesimpulan

Dari ini semua, jika seandainya dapat digabungkan antara filsafat dan Islam dan dalam kombinasi tersebut ada mashlahat syar’i, niscaya para imam dari kalangan ahlul hadits, fiqih, dan ijtihad, merekalah yang terlebih dahulu mengupayakannya. Akan tetapi, ketika mereka mengambil sikap tegas menentang filsa­fat, dengan demikian kita jadi mengerti bahwa filsafat  adalah sesuatu yang lain, berbeda dengan Islam.

Agar lebih jelas bagi kita dari apa yang telah disebutkan, bahwa buah menyibukkan diri dengan al-Qur’an dan hadits tiada lain adalah hidayah, petunjuk, dan istiqomah; sedangkan buah filsafat ialah kebalikan itu semua. Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah; “Alangkah indahnya apa yang disifati oleh Alloh‘Azza wa Jalla akan kitab-Nya dengan firman-Nya:

إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً

Sesungguhnya al-Qur^an ini memberikan petunjuk ke­pada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS. al-Isro [17]: 9)

Sedangkan jalan yang ditempuh para filosof bersamaan dengan kesesatan mereka di setiap sisi. Perjalanannya berliku-liku dan jalan yang mereka tempuh sangat jauh. Pada akhirnya, mengantarkan mereka kepada suatu tujuan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari adzab Alloh ‘Azza wa Jalla, apalagi mendatangkan kebahagiaan, apalagi memperoleh kesempurnaan bagi jiwa manusia melaluinya.[44]

Sumber: Majalah AL FURQON edisi khusus th. ke-6, Ramadhan-Syawal 1427 H, hal. 27-35


[1] Lihat: al-Farqu Bainal Firoq Abdul Qohir al-Baghdadi 2/58, Minhajus Sunnah Ibnu Taimiyyah 1/359, Muqoddimah Ibnu Kholdun 2/671, Mabadi’ al-Falsafah Rabu Bart hal. 19 (Beirut, 1976) Terjemah: Ahmad Amin, Tarikh Falasifatil Islam Muhammad Luthfi Jum’ah hal. 248 (Beirut, Maktabah Ilmiyyah), Qishshotul Iman Nadim Jasir hal. Ill (Beirut, al-Maktabul Islami cet. 3 (1389), al-Mu’jamul Falsafi Jamil Sholiba 2/160 (Darul Kitab Lubnani, 1982).

[2] Lihat al-Milal wan Nihal 2/58-59.

[3] Muqoddimah  Ibnu Kholdun 2/603.

[4] HR. Ahmad dalam Musnad 3/387, Darimi dalam Sunan 1/115, Ibnu Abi Ashim dalam Sunnah hal. 28, Ibnu Abdil Barr dalam Jdmi’ 2/42; dalam sanadnya ada Mujalid bin Sa’id (tidak kuat, dan telah berubah pada akhir kehidupannya (Taqrib no. 6478)) akan tetapi sanadnya hasan dengan jalan-jalan lain. Oleh karenanya, dihasankari oleh Syaikh Albani dalam Dzilalul Jannah dan dalam Takhrijul Misykah 1/63, serta di Irwa~ 6/34 no. 1589.

[5] Lihat Qishshotul Hadloroh 11/99-101.

[6] Filosof Yunani yang terkenal, lahir di Athena kira-kira tahun 427 SM, dia telah menghabiskan masa hidupnya dengan kajian dan pengaja­ran filsafat, sampai dia meninggal tahun 347 SM. Meninggalkan banyak pengaruh dan tulisan. Lihat Ikhbarul Ulama hi Akhbaril Hukama al-Qufthi hal. 13 cet. Darul Atsar — Beirut, dan Qishshotul Hadloroh 7/468-490 disebutkan biografinya secara panjang.

[7] Dilahirkan di Mesir 204 M, kemudian belajar di Persia dan mendalami Filsafat Timur, kemudian mengajar di Roma dari tahun 244 M sampai dia meninggal kira-kira tahun 270 M. (Ikhbarul Ulama bi Akhbaril Hukama al-Qufthi hal. 170 dan Mabadi’ al-Falsafah hal. 128)

[8] Lihat Tarikh Firoq al-Iskamiyyah al-Ghorobi hal. 139.

[9] Dan dialah nantinya menjadi guru besar al-Farobi (pen.)

[10] Dia juga guru besar al-Farobi (pen.)

[11] Mabadi al-Falsafah Rabu Bart hal. 128.

[12] Lihat Qishshotul Hadloroh 14/120  dan  al-A’lam Zarkli 7/329 cet. 6 (Beirut- 1984).

[13] Lihat Qishshotul  Hadloroh 14/121.

[14] Lihat Qishshotul Hadloroh 14/121.

[15] UhntSiyarA’lamNubala7/88.

[16] Namanya aslinya bukanlah Abu Sahal, akan tetapi dia berkata: “Ketika aku berhadapan dengan al-Manshur, dia berkata: ‘Sebutlah namamu di hadapan Amirul Mu’minin.’ Maka aku berkata: ‘Namaku adalah Khor Syamaz Man Thima Za Ma Baza Da Bada Khosru Nahsyah.’ Ke­mudian dia (al-Ma’mun) berkata: ‘Semua ini adalah namamu?!’Aku berkata: ‘Ya.’ Kemudian al-Manshur tersenyum dan berkata: ‘Ayahmu tidaklah berbuat apa-apa untukmu, maka pilihlah dua perkara; engkau singkat namamu dari semua nama yang engkau sebutkan dengan (nama) Thimaz, atau aku  memberimu kunyah sebagai pengganti dari namamu, yaitu Abu Sahal.'”

Kemudian dia berkata: “Aku pilih kunyah.” Maka terkenallah dia dengan kunyahnya dan hilanglah namanya. (Lihat Qishshotul Hadloroh al-Quthfi hal. 266)

[17] Lihat Shounul Manthiq as-Suyuthi Jial. 9.

[18] WafayatulAyan 2/224 dan Siyar 4/383.

[19] Lihat al-Islam Awal Madzahib al-Falsafah al-Mu’ashirah Muhammad  Mushthofa Hilmi hal. 97 cet. 2 (Iskandariah – 1406) dan  Tarikh Falsafahfil Islam hal. 35.

[20] Tarikh Falsafah  fil Islam hal. 35.

[21] Lihat Qishshotul Hadloroh  hal. 148 dan Tarikh  Firoq al-Iskamiyyah  hal. 134.

[22] Lihat Shounul Manthiq as-Suyuthi hal. 7-8.

[23] al-Hujjah ‘da Tarikil Mahajjah al-Maqdisi hal. 954-967 (Madinah) Tahqiq: Muhammad bin Ibrahim Harun (Thesis S-3 di Universitas

Madinah, 1409 H), dan diriwayatkan oleh  adl-Dlobbi dalam kitab Bughyatul Multamis hal. 144 (Kairo, 1967) dari Humaidi dalam Jazwatul

Muqtabishal 109.

[24] (Al-Ghaitsul Musjim  syarah Lamiyatil ‘Ajam) 1/79

[25]  (Shaunul Manthiq) 11-12

[26] (Al-Ghaistul Musjim) 1/79 dan penulis belum menemukan (perkataan di atas) dari kitab-kitab Syaikhul Islam sampai sekarang, dan ungkapan kata ” harus ” perlu dikoreksi!

[27] Ibid hal. (Sin)

[28] Lihat. Mukaddimah (Bughyatul Murtad) DR. Musa Al- Duwaiys hal.70

[29] (Rasa-il Ikhwan Al-Shafa) 3/87

[30] Lihat ( Rasa-il Ikhwan shafa) 4/103-104 dan (Tarikh Falasafah fil Islam) Hal.162

[31] (Rasa-il Ikhwan shafa) 4/105

[32] The port: Ibid Hal. 186

[33] Lihat: (Minhajus Sunnah) 3/286 dan (Bughyatul Murtad) Hal.183

[34] (Talbis Iblis) Hal. 48

[35] (Fatawa Ibnus Shalah) l/209-212/Beirut/1406/Tahqiq: QaTaji

[36] Ibid 1/199, di sini se’suai perkataannya dengan Ibnul Jauzi bahwa mendalami filsafat.merupakan bentuk makar syaithan.

[37] (Mukaddimah Naqdhul Manthiq) Hal.5/Kairo/1370/Tahqiq Muhammad Abdurrazzaq Hamazah dan yang lainnya.

[38] Dan dia yang dikenal dengan (Ar- .Raddu ‘Alal Manthiqiyyin)

[39] (9Mizanul Ttidal) 3/144 no.5885

[40] (Miftah Daris Sa’adah) 1/167

[41] Lihat ( Al-Muqaddimah) Hal. 671,673,674,676,677 secar berurutan.

[42] (Siar A’lamin Nubala O 17/15,123

[43] Lihat ( Tarjih Asalibil Quran) Hal. 7/Mesir/1349 H.

[44] (Ar-Raddu “alal Manthiqiyyin) Hal. 162

Iklan

One thought on “FILSAFAT ISLAM, Konspirasi Keji

  1. Ping-balik: Bahaya FILSAFAT | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.