Pembawa Bendera FILSAFAT “ISLAM”


Oleh Ustadz Armen Halim Naro
rahimahullah

Jelaslah sudah bahwa filsafat adalah induk kebodohan, sumber kebingungan dan kesesatan, penghalalan terhadap semua yang diharomkan, pembuat penyelewengan dan kezindikan.

Adapun manthiq adalah pintu menuju filsafat. Pintu kejahatan adalah kejahatan. Filsafat dan manthiq telah mencemari agama yang yang bersih dan lurus ini. Merupakan sebuah kebodohan jika kita menjerumuskan diri kita dan kaum muslimin ke lembah kesesatan dengan mengadopsi virus filsafat. Apalagi jika hal ini dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan yang berlabelkan Islam. Masyarakat awam yang haus bimbingan akan menerima dan membenarkan kesesatan ini karena disampaikan oleh orang yang “berpendidikan islami”.

Ironis memang, tapi demikianlah kenyataannya. Jika kita menghendaki masyarakat kita selamat dari racun filsafat maka pihak yang bersangkutan harus segera mengambil sikap yang nyata.

Berikut ini kami sampaikan beberapa filosof yang dinisbatkan kepada Islam. Waspadailah. (red.)

 

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi[1]

Nisbat kepada kabilah Kindah salah satu kabilah di Jazirah Arab. la dilahirkan di Kufah tahun 185 H di saat kebanyakan dari individu kabilah ini berpindah pada waktu yang sudah cukup lama ke Iraq dan bertempat tinggal di sana.[2] Ayahnya Ishaq bin ash-Shobah[3], menjadi gubernur di Kufah pada masa pemerintahan Mahdi, Hadi, dan Rosyid.

Al-Kindi lebih dikenal dengan sebutan “Filosof Arab” lantaran kabilahnya dari bangsa Arab. Dia mengambil ilmu di Bashroh dan Kufah, ahli sejarah tidak menyebutkan siapa saja gurunya. Dia meninggal ta­hun 260 H dan dikatakan 258 H.

Dia banyak sekali meninggalkan karangan tentang filsafat, dihitung oleh pengarang al-Fahrosat sampai delapan halaman! Dan Muhammad Luthfi menyebut di antaranya sebanyak 231 kitab[4]. Sebenarnya al-Kindi besar oleh pengajaran filsafat. Dialah filosof pertama yang dinisbatkan kepada Islam. Dia telah mencapai dalam pengetahuannya tentang filsafat kepada suatu tingkat yang paling tinggi, hingga dia memperoleh kedudukan di sisi dua khalifah Abbasiyyah yaitu al-Makmun dan al-Mu’tashim. Al-Makmun termasuk orang yang memberi dorongan kepadanya dan orang-orang yang semisalnya untuk menerjemahkan karangan Aristoteles dan yang lainnya dari para filosof Yunani. Dia sangat menguasai bahasa Siryani dan Yunani.[5]

Untuk menjalankan tugas ini dia memperkerjakan orang-orang yang kebanyakan mereka dari orang-orang Nasrani dari penerjemah yang membantunya. Dia juga yang mengawasi mereka, dan ti­dak jarang menyunting (editing), mentash’hih hasil terjemahan pada sebagian kata-kata yang menjadi penghalang dalam jalannya penerjemahan.[6]

Kedudukan penting yang diperoleh al-Kindi dalam bidang filsafat di bawah naungan negara tersebut tidak lain lantaran sangat besar perhatiannya terhadap peninggalan Yunani dan pengagungan terhadapnya, dan dia mempunyai perhatian khusus terhadap Aristoteles beserta peninggalannya baik dalam perihal penerjemahan, penyusunan, dan pengaturan, hingga dalam menghitung jumlah kitab-kitabnya.

Penghormatannya kepada para filosof Islam telah sampai pada tingkatan keyakinannya bahwa kakeknya yang teratas mempunyai hubungan dengan bangsa Ighriq secara nasab. Berkata Diburt: “Dan dari sini al-Kindi telah berhasil mengangkat kebudayaan Persia dan hikmah Yunani lebih tinggi dari agama Arab dan keutamaannya. Bahkan dia berpendapat -tentu mengikut pendapat yang lain- bahwa Qahthan silsilah yang teringgi bagi Arab selatan saudara Yunani yang turun besama keturunan Ighriq.”‘[7]

Kesimpulan. Bahwasanya laki-laki ini seorang filosof dengan semua arti yang dimaksud, semua karangannya tidak keluar dari permasalahan filsafat, falak, nujum, musik, hisab, geometrika, dan dia sangat mengagumi para filosof; hingga mereka berkata: “Sesungguhnya perumpamaan yang agung menurut al-Kindi adalah Socrates Syahid berhala di Athena, dan dia telah mengarang kitab yang sangat banyak sekali seputar Socrates, buku-buku dan pendapat-pendapatnya, dan dia berusaha untuk meleburkan antara Socrates dengan Aristoteles dengan metode madzhab Neo-Platoisme.”[8]

Adapun tentang kepandaiannya dalam ilmu syar’i, maka kitab-kitabnya tidak banyak bercerita ke­pada kita tentang hal itu, dan para penulis biografinya tidak pula pernah menetapkan hal ini sedikitpun. Sedangkan mengenai sejauh mana pengamalan agamanya dan iltizamnya dengan ajaran-ajaran Is­lam, maka kita biarkan cerita ini kepada pakar sejarah Ahlus Sunnah, al-Hafidh adz-Dzahabi rahimahullah dalam perkataan beliau: “Dia adalah pimpinan para hukama pemula dan manthiq Yunani, ilmu bentuk dan nujum, kedokteran, dan yang lainnya. Tidak ada yang dapat menyamainya dalam ilmu yang telah lama ditinggalkan ini. Dia mempunyai keahlian yang mendalam dalam ilmu geometrika dan musik … dan dia tertuduh dalam agamanya, bakhil, tidak mempunyai muru’ah (wibawa) … hendak menandingi al-Qur’an setelah beberapa hari, akhirnya dia mengakui bahwa dia tidak sanggup menyainginya![9]

Inilah dia al-Kindi yang diagung-agungkan oleh para rasionalis seakan-akan dia adalah seorang imam dari imam kaum muslimin, kiranya dia tidak lain hanyalah sebagai pewaris ilmu Per­sia dan Yunani, dan dialah orang yang pertama kali mengambil madzhab Masysya’un10] dalam Islam, dan dialah yang merintis usaha peleburan yang terkenal setelahnya.[11]

Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Thorkhon al-Farobi[12]

Nisbat ke persimpangan Farob, suatu daerah di Turki di Khurasan (Turkistan). Dia dilahirkan di kampung Wasij tahun 259 H atau 260 H.[13]

AI-Farobi tiba di Baghdad dalam usia muda be­liau dan dia mengambil ilmu di sana, kemudian dia menuju Halab tahun 330 H yang mana dia tinggal di bawah asuhan Hamdaniyyin dari sekte Syi’ah, dan dia memperoleh kemuliaan dari Saifud Daulah al-Hamdani. Kemudian dia berangkat ke Mesir, kemudian Damaskus, dan meninggal di sana 339 H, dia berumur delapan puluh tahun.

Adapun perkembangan dan pengetahuannya, dia telah berjibaku diBaghdad mempelajari manthiq, filsafat, musik, dan matematika. Dia lama berguru ke­pada Matta bin Yunus[14], filosof Nasrani yang terke­nal; dia mengambil darinya filsafat, manthiq. Dan para ahli sejarah sepakat bahwa dia juga mempunyai guru satu lagi bernama Yuhanna bin Milan, dia juga filosof Nasrani, dan dikatakan bahwa al-Farobi menguasai tujuh puluh bahasa.[15]

Dari keahliannya memainkan musik, gitar, dan seruling, suatu hari dia masuk ke majelis Saifud Daulah dan dia berdebat dengan para ulama pada beberapa bidang ilmu, kemudian dia mengeluarkan seruling dan dia memainkannya sehingga gembira dan tertawalah orang-orang yang hadir; kemudian dia mengubah nada seruling, maka tidurlah semua yang ada di sana termasuk para penjaga, kemudian dia berdiri dan berlalu![16]

Ketika dia telah sampai beberapa jenjang, mulailah dia memfokuskan diri kepada karangan Aritoteles, dan memberikan perhatian kepadanya yang belum pernah ada seperti dia sebelumnya, oleh sebab itu dikenallah dia oleh penduduk timur sebagai “Guru Kedua” dalam pengertian bahwa Aristoteles ialah “Guru Pertama” dan di antara bukti perhatiannya kepada peninggalan Aristoteles bahwa dia pernah membaca kitab Thabi’ah empat puluh kali, dan kitab an-Nafsu dua ratus kali.[17]“Jasanya” terhadap filsafat Aristoteles sangatlah besar, dimulai dari menulis dan menentukan buku-buku Aristoteles serta meringkasnya dari yang lainnya sebelum menerjemahkan dan mensyarahkannya, dan orang-orang setelahnya mengikuti metode dan kiatnya, hingga buku-buku Aristoteles tidaklah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa lama dan baru kecuali sesuai dengan metode penulisan yang dipilih oleh al-Farobi.[18]

Ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau lebih mengetahui atau Aritoteles?” Dia menjawab: “Jika aku bertemu dengannya niscaya aku adalah murid terbesarnya.”[19] Dari ucapannya terkungkap bahwa dia begitu mengkultuskan Aristoteles secara berlebihan, dia berkata: “Kalaulah bukan karena dua filosof yaitu Plato dan Aristoteles serta orang-orang yang me­ngikuti jejak mereka, niscaya Alloh tidak akan menyelamatkan orang-orang yang berakal … dan niscaya orang tinggal dalam kebingungan dan keraguan.”[20]

Karangan al-Farobi sangat banyak dan sangat berbahaya. Tentang banyaknya, Muhammad Luthfi menghitungnya berjumlah 102 kitab, dan disebutkan oleh pentahqiq kitabnya Fushushul Hukam jumlahnya sebanyak 129 kitab. Dari sisi bahayanya, ialah bahwa semua karangannya menyimpan semua bahaya yang dibawa oleh buku-buku filsafat ketuhanan, dan dia mengalahkan mereka dengan keluasan telaahnya dan kefanatikannya kepada filsafat hingga dia mencoba untuk mengkombinasikan antara agama dan filsafat dengan sebuah metode yang khas yang dia bangun di atas penggabungan filsafat dengan berbagai macam bentuk pendapat mereka, sehingga jika telah menyatu dia melangkah kepada langkah berikutnya yaitu kombinasi antar syari’at dan filsafat; maka dia mengarang beberapa kitab di antaranya: atTawassuth baina Aristhu wa Jalianius, al-Jam’u baina Ra’yil Hakimain Aflathun wa Aristhu, Ittifaq baina Ara ‘i Abqrot wa Aflathun.

Berkata adz-Dzahabi rahimahullah: “Dia mempunyai karangan-karangan yang masyhur, barangsiapa mencari kebenaran dengannya niscaya akan sesat dan bingung.”[21]

Maksudnya, bahwasanya laki-laki ini (al-Farobi) telah meninggalkan bagi umat pengaruh filsafat sebagai penanam saham besar dalam menambah wabah yang ditimpakan kepada umat ini akibat menyibukkan diri dengan peninggalan asing yang telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, dan dia tidak dikenal mempunyai murid selain dari orang-orang Nasrani.[22]

Kenyataan ini menggambarkan kepada kita suatu hal yang sangat mengkhawatirkan, seorang muslim menjadi murid dari orang-orang Nasrani,dan tidak ada yang berguru kepadanya kecuali orang-orang Nasrani; mungkin saja percampuran yang meragukan ini dengan mereka di samping karangan-karangannya itulah yang membuat dia tertuduh seba­gai orang zindik[23] sehingga Te bor berkata: “Adapun para ulama Islam yang hakiki telah menuduhnya zin­dik, maka terkenallah dia dengan tuduhan tersebut, dan pendapat mereka ini jelas mempunyai sandaran yang kuat.[24]

Abu Ali al-Husain bin Abdulloh bin Hasan bin Ali bin Sina[25]

Digelari “Syaikhar-Ra’is” (GuruKetua), tabib yang masyhur pada zamannya, filosof dan ahli manthiq. la dilahirkan di Ansyinah -kota kecil dekat Bukhoro-tahun 370 H. Aslinya orang Persia, dibesarkan di negeri belakang sungai (yaitu daerah Khurosan,pen.), ayahnya berasal dari suku Balakh, sang ayah lebih senang tinggal di Bukhoro pada masa pemerintahan Nuh bin Manshur tempat dia bekerja sebagai pegawai kerajaan. la meninggal tahun 428 H.

Mengenai pertumbuhan dan perkembangan wawasannya, keluarganya mengambil kebiasaan dan gaya hidup Persia yang sangat kokoh, dan sepakat semua sumber bahwa ayah dan saudaranya merupakan para juru dakwah Isma’iliyyah Bathiniyyah (salah satu sekte Syi’ah yang sangat berbahaya,pen.). Maka tumbuhlah Ibnu Sina di atas filsafat kebatinan, dan dia tidak memperoleh ilmu syar’i kecuali apa yang dia peroleh dari ayahnya yang menganut sekte Bathiniyyah, dan juga dia mengambil sebagian ilmu dengan Abu Bakr al-Khawarizmi, kemudian dia ber-nulazamah dengan salah satu guru Nasrani yaitu Isa bin Yahya, kemudian dia belajar ilmu kedokteran dan beberapa ilmu filsafat.[26] Sedangkan kebanyakan imunya dia ambil dari menelaah buku secara otodidak.

Ketika dia berumur tujuh belas tahun dengan izin Alloh ‘Azza wa Jalla dia berhasil mengobati Amir Nuh bin Manshur yang tertimpa penyakit sangat parah yang tidak bisa diobati oleh para tabib. Maka Nuh merasa gembira dengannya dan dia dekatkan. Setelah kejadian yang mengangkat namanya di sisi gubernur, dia meminta izin agar diperbolehkan masuk di perpustakaan pribadinya, dia berkata: “Kemudian aku masuk, kiranya aku temukan buku-buku yang tidak terbilang banyaknya dari segala bidang, maka aku memperoleh banyak faedah …. Ketika umurku telah mencapai delapan belas tahun aku telah menyelesaikan semua ilmu yang ada di dalamnya.”[27] Artinya, dia memfokuskan diri setahun penuh untuk menelaah hingga dia menguasainya atau menghafal dari ilmu-ilmu akal yang membuatnya duduk teratas di antara pewaris Aristoteles dalam filsafat. Dan Ibnu Sina tetap berpegang dengan filsafat Aristotelesnya sampai akhir kehidupannya.[28]

Di antara perhatiannya terhadap buku-buku iristoteles, dia pernah berkata: “Suatu hari aku membaca kitab Ma Ba’da Thobi’ah maka saya tidak dapat memahaminya, maka aku ulang sebanyak empat puluh kali, sampai aku hafal akan tetapi tetap saja aku tidak paham, sehingga membuatku putus asa. Kemudian jatuh ke tanganku satu jilid karangan Abu Nashr al-Farobi menerangkan kuci-kunci kitab sehingga aku dapat memahami maknanya yang membuat aku bahagia sekali, karenanya aku bersedekah harta yang sangat banyak.[29]

Oleh sebab itu, berkata adz-Dzahabi rahimahullah tentang karangan-karangan al-Ghozali: “Barangsiapa yang mencari petunjuk dengannya akan sesat dan bingung.” Kemudian beliau menambahkan: “… dan darinya lahirlah Ibnu Sina.”[30]

Adapun karangannya sangatlah banyak, dan kitabnya as-Syifa’ bahkan dicantumkan oleh buku ensiklopedi dunia.[31]

Abul Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd

Dikenal dengan al-Hafid untuk membedakannya dengan Ibnu Rusyd kakeknya[32], filosof pada zamannya, pemilik peninggalan filsafat yang sangat luas di Barat,dilahirkan di Cordova Andalus tahun 520 H, setelah meninggal kakeknya sebulan, Ibnu Rusyd hidup yang dapat membuat perdebatan; ia mening­gal 595 H, umurnya 75 tahun.

Pertumbuhannya. Ibnu Rusyd -berbeda de­ngan tokoh-tokoh yang sebelumnya- berada di rumah ahli fiqih dan para qodli, yang mana ayah-ayahnya dari pemimpin madzhab Maliki; dia, ayahnya,dan kakeknya adalah qodli Cordova, dan kelihatan bahwa belajarnya semenjak kecil terbatas pada ilmu syari’at, Arab, dan kedokteran, hanya menyebarnya buku-buku filsafat yang telah diterjemahkan di An­dalus penyebab langsung dari berkiblatnya Ibnu Rusyd kepada filsafat dan kepada penguasaan ter­hadap ilmu tersebut. Berkata adz-Dzahabi rahimahullah:”Dia mengambil dari Abu Marwan bin Masarroh dan yang lainnya sehingga menjadi ahli dalam fiqih, dia juga mengambil ilmu kedokteran dari Abu Marwan bin Khozbul, kemudian dia memfokuskan diri pada ilmu orang-orang terdahulu dan mendalami bala’ filsafat sehingga dia menjadi percontohan dalam ilmu terse­but.[33]

Adapun karangan Ibnu Rusyd telah disebutkan oleh pentahqiq kitab al-Hidayah fi Takhriji Ahaditsil Bidayah sebanyak 92 kitab. Dari jumlah ini bagian ilmu syari’at tidak mencapai jumlahnya jika dihitung de­ngan jari tangan sebelah, selain itu semuanya tentang filsafat dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya.

Perhatiannya kepada Aristoteles. Yang membuat berbeda Ibnu Rusyd dengan para filosof lainnya adalah jasanya dalam mensyarah filsafat Aristoteles, syarah yang menjadikannya berada di peringkat para filosof besar terdahulu. Merupakan kebenaran pahit yang harus disebutkan, para filosof yang menisbatkan diri mereka kepada Islam pada kenyataannya sangat mengkultuskan para filosof Yunani dan mengangkat mereka pada derajat yang tertinggi. Para filosof Yunani menjadi panduan dan imam mereka untuk setiap urusan, hingga berkata Muhammad Luthfisalah seorang filosof modern yang mempunyai perhatian khusus terhadap Ibnu Rusyd dan filsafat­nya-: “Sedangkan penghormatan Ibnu Rusyd terha­dap Aristoteles tidak mempunyai batas, hampir saja dia menganggapnya tuhan, dan dia telah meletakkan untuknya sifat-sifat yang berada di atas kesempurnaan manusia baik dalam segi akal dan kemuliaan. Jika seandainya Ibnu Rusyd mengatakan tuhan itu banyak, niscaya dia akan menjadikan Aristoteles adalah tuhan dituhan.”[34]

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam menyifati Ibnu Rusyd: “Dia orang yang sangat fanatik kepada perkataan masysya^un Aristoteles dan para pengikutnya, dan dari orang yang paling banyak perhatian kepadanya, dan kesepakatan dengannya, dan menerangkan apa yang telah diselisihi oleh Ibnu Sina dan yang semisalnya.”[35]

Kedudukannya di mata filosof Barat. Barat mempunyai perhatian terhadap Ibnu Rusyd dan filsafatnya sebagai hasil dari perhatiannya kepada Aristoteles dan kelebihannya dalam mensyarah dan merinci maksud-maksud filsafatnya, dan disifatilah dia termasuk dari “orang bijaksana” yang besar pada abad pertengahan secara umum, dialah pendiri madzhab pemikiran yang beraliran bebas. Dia menempati kedudukan tinggi di mata orang-orang Eropa hingga mereka menjadikan dia sejajar dengan para filosof mereka yang menentang aqidah-aqidah agama[36]; salah seorang penulis Inggris menulis tentangnya: “Ibnu Rusyd merupakan pemikir Islam yang sangat masyhur, karena dia pemikir terbesar yang memberi pengaruh sangat jauh dalam pemikiran orang-orang Eropa. Metodenya dalam dalam mensyarah Aristo­teles menjadi teladan pada abad-abad pertengahan, dan kelihatan jasanya ketika dia mensyarah madzhab Siyanitzam (ketuhanan alam) yang mendukung tentang abadinya alam materi … maka sejarah telah menetapkan bahwa Ibnu Rusyd adalah filosof yang paling sedikit terpengaruh dengan tasawuf, dan orang yang sangat kuat mendukung akal. Dia sering menentang sudut pandang syari’at pada setiap pendapat yang sangat mendasar, maka dia mengingkari tentang dibangkitkannya kembali jasad, dan dia mengatakan pendapat jasad akan dibangkitkan kembali merupakan khurofat belaka, sikapnya dalam hal ini sama dengan orang-orang sebelumnya dari mu’aththilah.[37]

Muhammad Luthfi menilai sikap Ibnu Rusyd tentang aqidah agama, dalam perkataannya: “Dan Ibnu Rusyd telah keluar dari aqidah agama karena tiga alasan. Pertama: Perkataannya tentang azalinya alam dan azalinya ruh yang menggerakkannya. Kedua: Wajib adanya sebab dari terjadinya sesuatu, maka tidak ada campur tangan Tuhan, dan tidak juga mukjizat nabawiyyah, serta karomah para wali; karena mempercayainya berarti membatalkan teori adanya se­bab dan akibat. Ketiga: Binasanya sesuatu tidak akan menjadi hidup kekal kembali (yaitu pengingkarannya akan hari akhirot,pen.)[38]

Maka tidak diragukan lagi keyakinan-keyakinan seperti ini yang membuatnya kehilangan kepercayaan yang telah dia peroleh dari masyarakat dan negaranya. Maka Gubernur Ya’qub bin Yusuf bin Abdul Mu’min 595 H mengasingkannya ke Alisanah, kota kecil yang dipenuhi oleh orang-orang Yahudi, dan telah keluar surat perintahnya ditempelkan ke seluruh daerah di Andalus di dalamnya keterangan tentang perihal Ibnu Rusyd dan murid-muridnya, di antaranya perkataannya: “…. Sesungguhnya mereka sama dengan umat secara dhohir, pakaian dan bahasa; dan bertentangan dengan mereka secara batin, kesesatan dan tuduhan mereka. Ketika kami mendapatkan mereka bagaikan duri di pelupuk agama dan titik hitam di lembaran yang mengkilap, kami buang mereka kare­na Alloh ‘Azza wa Jalla sebagaimana seseorang membuang biji, dan kami jauhkan mereka sebagaimana layak dilakukan terhadap orang-orang yang bodoh dan bersalah …. Berhati-hatilah -semoga kalian diberi taufiq oleh Alloh ‘Azza wa Jalla dari sekelompok kecil ini sebagaimana kalian berhati-hati dari racun yang mengalir di badan. Barangsiapa yang mendapatkan buku dari buku-buku mereka maka hendaklah dibakar… semoga Alloh ‘Azza wa Jalla  menyucikan tanah kalian dari orang-orang mulhidin, dan semoga Dia menulis di shohifah kebaikan kalian karena bantuan kalian terhadap kebenaran dan kebersamaan kalian di atasnya, sesungguhnya Dialah Pemberi nikmat dan yang Maha Mulia.[39]

Dan cobaan yang dirasakan oleh Ibnu Rusyd dan murid-muridnya yang semasa dengannya tidak hanya sebatas itu. Pada akhir abad ke-12 Masehi muncul di persimpangan kota Britania di Perancis seorang pemikir yang terpengaruh oleh filsafat Ibnu Rusyd, namanya Amuri al-Binyawi, maka dia dan pengikutnya ‘menyerang” ajaran-ajaran gereja secara terang-terangan, sehingga terjadilah kerusuhan. Mereka dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Pemimpin mereka berhasil melepaskan diri. Kemudian tahulah orang-orang ge­reja bahwa sebab bala tersebut adalah filsafat Aristoteles sebagaimana yang telah disyarah Ibnu Rusyd, maka diadakanlah kongres agama di Paris tahun 1209 M, keputusannya adalah dilarangnya buku-buku Aristoteles dan syarah lbnu Rusyd. Dan pelarangan ini berlangsung selama tiga puluh tahun.

Sebenarnya metode Ibnu Rusyd berbeda jauh dari dua filosof yang mendahuluinya yaitu al-Farobi dan Ibnu Sina, ditambah lagi dengan dikenalnya dia di kalangan Maghrib (Marokko) karena filsafat di sana tidak begitu dikenal sebagaimana di timur Islam, bersamaan dengan itu Ibnu Rusyd tidaklah mengemukakan pemikiran dan pendapatnya secara terang-terangan dan pemikirannya tidak diketahui kecuali setelah masa yang cukup panjang, dia berpura-pura di hadapan ahli syari’at dengan menyibukkan dirinya dengan fiqih dan qodlo. Berkata Muhammad Luthfi: “Ibnu Rusyd telah mengetahui perseteruan antara madzhabnya dengan aqidah yang tersebar sehingga dia harus berpura-pura agar tidak dikenal pemikiran­nya. Maka dia berusaha untuk mendapatkan keridloan orang-orang syari’at dengan sebagian kitab yang ia karang.[40]

Di antara kitab-kitab tersebut tanpa diragukan lagi adalah kitabnyayang masyhur “Bidayatul Mujtahid

Mereka berempat: al-Kindi, al-Farobi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd; merekalah quthub pemikiran filsafat di dunia Islam dan simbolnya, dan kepada merekalah kembali “jasa” penyempurnaan kombinasi antara filsa­fat dengan Islam. Sekali lagi kami berpesan, berhati-hatilah dari mereka sebagaimana kalian berhati-hati dari racun yang mengalir di badan. Barangsiapa yang mendapatkan buku dari buku-buku mereka maka hendaknya dimusnahkan.(red).

Dinukilkan dan diringkas dari kitab

Jinayatut Ta’wil  alal Aqidah Islamiyyah

oleh DR. Ahmad Louh.


[1] Lihat biografinya di al-Fahrosat hal. 357-365, Siyar A’lamin Nubala 12/337, Ikhbarul Ulama bi Akhbaril Hukama hal. 240-247 Qufthi, Lisanul Mizan 6/305, dan Sarhul Uyun hal. 123 Ibnu Nabatah.

[2] Tarikh Falasifatil Islam hal. 177.

[3] “Maqbul” (peringkat dia dalam periwayatan hadits) dari rowi Abu Dawud. Lihat Siyar 12/337 dan Taqrib no. 360.

[4] Tarikh Falasifatil Islam hal. 12.

[5] Tarikh Falasifatil Islam hal. 1.

[6] Lihat Tarikhul Falasifatil Islamiyyah oleh Kurbin hal. 236 cet. III (Beirut, 1983) diterjemahkan oleh Nashir Marwah dkk.

[7] Tarikhui Falsafah fil Islam hal. 177-178 dan Mas’udi menisbatkan di Murujuz Zahab 2/243-244 pendapat ini kepada sebagian ahli sejarah, dan dia menyebutkan bahwa al-Kindi mengikuti pendapat ini.

[8] Tarikh Falasifatil Islam hal. 188.

[9] SiyarA’laminNubala 12/337.

[10] al-Masvsya’un: Mereka adalah Aristoteles dengan para pengikutnya, disebut dengan itu karena mereka mendapat pengajaran filsafat darinya sambil berjalan. (Lihat Dar’u Ta’arudhil Aql wan Naql 6/210,10/93 dan Ikhbarul Ulama bin Ahkamil Hukama oleh Qufthi hal. 14, Tarikhul Falasifatil Islamiyyah oleh Kurbin hal. 2268 dan dia menyebutkan faedah dari penyampaian dengan lisan menurut mereka.

[11] Lihat Tarikhul Falsafah fil Islam hal. 176 dan Tarikhul Falsafah Islamiyyah hal. 240.

[12] Lihat biografinya di al-Fahrosat hal.367, Wafayatul A ‘yan 5/153-157 dan Siyar 15/416.

[13] Lihat Tarikh Falasifatil Islam hal. 13, Tarikhul Falsafah fil Islam hal. 169, dan Tarikhul Falsafah Islamiyyah hal. 242.

[14] Yang berakhir kepemimpinan filosof kepadanya pada zaman tersebut, dia beragama Nasrani, meninggal di Baghdad tahun 328 H,dan dia dikenal juga dengan: Yunus bin Yunan.

[15] Lihat Siyar 15/417

[16] Lihat Wafayatul A’yan 5/1 55-1 56 dan Siyar 15/41 7.

[17] Lihat Qishshotul Hadloroh 13/1 04.

[18] Lihat Tarikh Falasifatil Islam hal. 1 6.

[19] Siyar A’lamin Nubala 1 5/418.

[20] al-Jam’u bainal Hakimain hal. 29-30 (Kairo, 1907)

[21] Siyar A’lamin Nubala 1 5/417.

[22] Lihat Tarikhul Falsafah fil Islam hal. 226, Tarikh Falasifatil Islam hal. 36, dan Tarikhul Falsafah Islamiyyah hal. 25 1 .

[23] Lafadh “zindik” bermula dari orang yang mangatakan alam adalah azali,dan disebut juga orang yang mengikuti sebagian sekte filsafat dengannya, kemudian berlaku umum pada seseorang yang sesat, ragu,dan mulhid. Lihat Qamus al-Wasith huruf “zai”[J]. (pen.)

[24] Tarikhul Falsafah fil Islam hal. 226.

[25] Lihat biografinya di Wafayatul A’yan 2/157-152, Mizan 1/539, Siyar 17/531-537.

[26] Lihat Tarikhul Falsafah al-lslamiyyah hal.255, dan Tarikh Falasifatil Islam hal.53.

[27] Siyar A’lamin  Nubala 17/532.

[28] Qishshotul Hadloroh 1.3/208.

[29] Siyar A’lamin Nubala 17/532.

[30] Siyar A’lamin Nubala 15/417.

[31] Tarikh Falasifatil Islam hal.55.

[32] Lihat biografinya di Wafayatul A’yan 2/114, SiyarA’lamin Nubala 12/30-310, Syazarotuz Zahab Ibnul Ammad 4/420.

[33] Siyar 12/308; adz-Dzahabi berkata (12/310): “Tidak layak meriwayatkan (hadits) darinya.”

[34] Tarikh Falasifatil Islam hal. 155.

[35] Daru Ta’arudhil Aql wan Naql 6/210.

[36] Tarikh Falasifatil Islam hal. 112.

[37] Tarikh Wajiz lil Fikril Hurr John Robertson hal. 112.

[38] Tarikh Falasifatil Islam hal. 172.

[39] Lihat nash di atas di Tarikh Falasifatil Islam hal. 144-145. Ada sembilan bait syair tentang pujian terhadap tindakan tegas dari Gubernur Ya’qub yang sengaja penerjemah tinggalkan.

[40] Lihat Tarikh Falasifatil Islam hal. 222.

Iklan