DAKWAH SALAFIYYAH DIGUGAT


Judul Artikel

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (QS al-Buruj [85]: 10)

Telah menyebar fitnah pelecehan kepada salafiyyin, pembawa dakwah salafiyyah, baik lewat tulisan, seperti buku: Sejarah Berdarah Sekte Salafi, Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik, Islam Menolak Pandangan Wahabi, Mazhab Wahabi Monopoli Kebenaran, dll. Penghinaan lewat internet, televisi, radio, koran, majalah, dan khotbah, lewat organisasi bahkan pengusiran. Siapakah mereka itu? Mengapa mereka membenci dakwah salaf? Silakan baca tulisan berikut sebelum memutuskan untuk bersikap pro atau kontra, karena semua sikap dan tindakan ada balasannya.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Imam Syaukani rahimahullah berkata, “Tidaklah ka­lian (orang yang berdosa) mencela atau marah atau mengingkari, atau membenci kami melain­kan karena kami beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan mengimani kitab yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan ke­pada kami, padahal kalian mengetahui bahwa kami ini di atas kebenaran, sedangkan kalian umumnya orang yang fasik disebabkan kalian tidak mau beriman dan enggan melaksanakan perintah Allah.” (Tafsir Fathul Qadir 2/326)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pembesar Najran negeri Yaman pemilik parit berapi, penduduknya mayoritas orang kafir dan ada sebagian yang beriman, orang yang beriman dipaksa agar kufur, tetapi mereka enggan, lalu pembesar orang kafir yang memiliki parit berapi menyuruh mereka agar duduk di sekitar parit, lalu memberi tahu orang yang beriman, barang siapa yang mau kufur, mereka dibolehkan keluar dari sekitar parit, dan barang siapa yang menolak seruan kufur dan dia tetap beriman kepada Allah ‘Azza wan Jalla mereka dibakar di parit. Pem­besar ini durhaka kepada Allah ‘Azza wan Jalla dan durhaka kepada orang yang beriman. Oleh karena itu, mereka berhak dilaknat. {قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ} ‘Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit’.” (Tafsir al-Kanmur Rahman 1/918)

Begitulah kejahatan dan kekejaman orang yang menolak sunnah kepada ahli sunnah mulai sejak dahulu sampai hari Kiamat. Lalu apa hubungan ayat yang mulia ini dengan pembahasan kita, silakan simak pembahasan berikut ini

MAKNA DAKWAH SALAFIYYAH

Dakwah artinya seruan atau ajakan. Sementara itu, as-salaf menurut bahasa adalah lawan dari al-khalaf, artinya pendahulu.

Allah ‘Azza wan Jalla menyebut kalimat salaf dengan firman-Nya:

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفاً وَمَثَلاً لِلْآخِرِينَ

Dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. (QS az-Zukhruf [43]: 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dirinya as-salaf kepada putrinya Fatimah radhiyallahu ‘anha:

HR. Muslim 7/142

“Sungguh aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku. ” (HR Muslim 7/142)

Imam as-Safarini rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan as-salaf ialah prinsip para sahabat dan para tabi’in yang dikenal jujur pemahamannya, lalu generasi sesudahnya yang dikenal seb­agai imam agama, dan dikenal mulia agamanya, tidak tertuduh sebagai orang ahli bid’ah, atau tidak (ter)kena pengaruh aliran (yang) tersesat semisal firqah Khawarij, Syi’ah Rafidhah, Qadariyah, Murji’ah, Jabariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Karamiyah serta kelompok tersesat lainnya.” (Lawami’ul Anwar 1/20)

Kesimpulannya, dakwah salafiyyah bukanlah dakwah baru dan bid’ah tersesat, melainkan dakwah Ahli Sunnah wal Jama’ah, istilahnya bersumber dari ayat al-Qur’an dan Sunnah, ti­dak seperti kelompok yang memusuhinya umumnya nama diambil dari pendiri dan sifat moralnya yang jelek.

WAJIB KEMBALI KEPADA PEMAHAMAN AS-SALAF

Telah kita maklumi bahwa istilah as-salaf di­ambil dari al-Qur’an dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan produk manusia seperti lazimnya kelompok tersesat lainnya. Para ulama sunnah ketika mengajak kita agar kembali kepada pemahaman as-salaf berarti mengajak kembali kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat dan para ulama yang mengikuti jejak mereka. Adapun dalilnya dari al-Qur’an banyak sekali, misalnya firman Allah Ta’ala:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. (QS Luqman [31]: 15)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan ayat ini, “Semua para sahabat kembali kepada hukum Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hendaknya mengikuti ja­lan sahabat, perkataannya, terutama keyakinannya, karena mereka orang yang mendapat petunjuk.” (I’lamul Muivaqqi’in 4/130)

Silakan baca surat lainnya, seperti surat an-Nisa’ [4]: 115, at-Taubah [9]: 100, dan ayat lainnya.

Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewajibkan kita kembali kepada pemahaman as-salaf ash-shalih, beliau menjelaskan penyakitnya umat Islam pada zaman sekarang, bergolong-golong, berpecah-belah, lalu menunjukkan solusinya agar kembali kepada pemahaman sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:'Alaikum bi Sunnati.......

“Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan mendapati perselisihan yang banyak, maka hendaknya kalian berpegang teguh kepada sunnah-ku dan sunnah khalifah pengganti setelahku yang mendapatkan petunjuk, peganglah dan genggamlah erat-erat. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru (diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat. ” (Shahih: Ibnu Majah no. 4607)

Adapun dalil perkataan shahabat radhiyallahu ‘anhum, misal­nya:

Ibnu Mas’ud berkata: Barang siapa ingin ber­pegang kepada sunnah maka berpeganglah sun­nah orang yang telah meninggal dunia, mereka itu shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka umat yang paling baik, hatinya jernih, ilmunya paling dalam, tidak membebani dirinya kepada hal yang tidak dimampui. Allah memilih mereka untuk menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengambil agamanya, mereka meniru dan mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka diatas petunjuk yang lurus. (Syarah Usulu I’tiqodi ahli Sunnah oleh Allalakaai 1/156)

Beliau radhiyallahu ‘anhujuga berkata: Ikutilah sunnah Ra­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah Shahabat, dan jangan berbuat bid’ah, maka sudah cukup untuk dirimu (Sunan Ad Darimi 1/235)

Adapun fatwa Imam Empat, misalnya: Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak mungkin umat ini akan menjadi baik kecuali mengikuti orang yang baik pertama kalinya yaitu para sahabat.” (at-Tamhid 10/23)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Landasan sun­nah menurut kita Ahli Sunnah wal Jama’ah: berpegang teguh kepada prinsip para sahabat, mengikuti jejak mereka, dan menjauhi bid’ah.” (Ushulus Sunnah Imam Ahmad 1/14)

Dengan demikian, umat Islam wajib mengi­kuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah as-salaf ash-shalih yaitu sunnah sahabat radhiyallahu ‘anhum dan pengikut mereka yang setia.

SELAIN DAKWAH SALAFIYYAH DAKWAH BID’AH

Ini bukan berarti mau menang sendiri, bukan pula berarti emosi atau hasud, melainkan dalil yang mengharuskan demikian, karena jalan yang benar hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah batil. Allah Ta’alaberfirman:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Yunus [10]: 32)

Imam Syaukani rahimahullahberkata, “Maksud ayat ini, bahwa apa pun setelah yang benar pasti salah dan sesat, selain Allah Jalla Jalalah pasti batil, bagaimana kalian berpaling dari yang benar dan berpegang kepada yang batil?” (Fathul Qadir 2/642)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

Maka kepada perkataan apakah sesudah al-Qur’an ini mereka akan beriman? (QS al-Mursalat [77]: 50)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa selain sun­nah adalah bid’ah:

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Mu­hammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam), sejelek-jelek urusan (agama) adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan (bid’ah) adalah sesat. ” (HR Muslim 3/11)

Selain as-salaf adalah bid’ah karena as-salaf kembali kepada sunnah, sedangkan lawan dari sunnah adalah bid’ah. Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad hafidzahullah berkata, “Yang ketiga, tentang penggunaan as-sunnah, bahwa kebalikan sunnah adalah bid’ah.” Lalu beliau membacakan hadits yang disampaikan oleh Sahabat al-Irbadh bin Sariyah (hadits shahih: Ibnu Majah no. 4607 seperti keterangan di atas).

Para ulama sunnah as-salaf ash-shalih, se­perti Imam Abu Hatim rahimahullah, beliau berkata, “Tanda ahli bid’ah pasti memusuhi ahli hadits, ahli sunnah.” (Syarh Qashidah Ibnul Qayyim 2/82)

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahtatkala dilapori oleh Ibnu Abi Qutailah bahwa ada orang yang mencela ahli hadits, beliau berdiri sambil mengibaskan bajunya, lalu berkata, “Mereka itu zindik, zindik, zindik— yaitu munafik.” Lalu beliau masuk rumah. (Jawabu Ahlus Sunnah Nabawiyyah fi Naqdhi Kalamisy Syi’ah waz Zaidiyyah 1/19)

MENGAPA  DAKWAH  SALAFIYYAH  DIMUSUHI?

Dakwah salafiyyah dimusuhi karena mengajak manusia agar kembali kepada sunnah saja, tidak mau mengerjakan syirik dan bid’ah. Se­perti halnya pada zaman dahulu orang mukmin dibakar di parit oleh pembesar Najran di negeri Yaman karena mereka beriman kepada Allah Ta’ala saja, tidak mau kufur. Musuh as-salaf sekarang juga demikian. Seandainya dakwah salafiyyah mendiamkan syirik, bid’ah, dan maksiat, tentu tidak dimusuhi karena cocok dengan hawa nafsu mereka. Ini maunya mereka seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

ذَلِكُم بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِن يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا

Yang demikian itu adalah karena kamu kafir (menolak) apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya (menerima) apabila Allah dipersekutukan. (QSGhafir[4o]:i2)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِن يَرَوْاْ كُلَّ آيَةٍ لاَّ يُؤْمِنُواْ بِهَا وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الرُّشْدِ لاَ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً وَإِن يَرَوْاْ سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلاً ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ

Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadannya. (QS al-A’raf [7]: 146)

Dakwah salafiyyah dibenci oleh kelompok Khawarij, Takfiri, dan Haraki karena tidak mau menghujat pemimpin, tidak mau mengafirkan pemerintah, dan tidak mau berbai’at kepada amirnya. Dakwah salafiyyah dibenci oleh orang yang fanatik organisasi karena kajiannya tidak pernah menyinggung dan mendukung organisasinya. Dakwah salafiyyah dibenci oleh orang tarekat dan sufi karena mereka tidak mau meminta kepada wali dan orang yang mati. Dak­wah salafiyyah dibenci oleh ahli bi’dah karena sering melarang bid’ah dan syirik. Dakwah salafiyyah diserang oleh Mu’tazilah ahli kalam, mantiq, filsafat, dan JIL karena tidak mau mendahulukan rasio dan logikanya, tetapi mendahulukan al-Qur’an dan Sunnah. Dakwah salafiyyah dibenci Jama’ah Tabligh karena tidak mau khuruj bersama mereka. Dakwah salafiyyah dibenci oleh Syi’ah dan Rafidhah karena tidak mau men­gafirkan Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhudan sahabat lainnya. Dakwah salafiyyah dibenci oleh pekerja yang curang karena tidak mau menerima uang suap, pelicin, tidak mau bohong dan menerima uang haram. Dakwah salafiyyah dibenci karena tidak mau berorganisasi dan berpartai. Dakwah salafiyyah dibenci karena dituduh teroris karena jenggotnya panjang, celananya setengah betis, dan istrinya bercadar, melarang wanita bergaul bebas dengan pria yang bukan mahramnya, dan banyak tuduhan lain­nya.

Akan tetapi, semua alasan membenci dakwah salafiyyah itu tidak berdalil melainkan hanya berasal dari hawa nafsu, perasaan dengki, dan tidak senang. Mereka—pembenci dakwah salafiyyah—justru membiarkan wanita pengumbar aurat, pergaulan bebas, syirik dan bid’ah.

Untuk membantah semua tuduhan jahat me­reka ini cukup dengan satu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:3 hal yang Allah ridho, dan 3 hal yang membuat Allah murka

“Sesungguhnya Allah menyenangi kamu pada tiga perkara dan membenci kamu pada tiga perkara. Allah senang: (1) bila kamu kalian beribadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya de­ngan apa pun, (2) bila kamu berpegang teguh ke­pada tali agama Allah serta tidak berpecah-belah, (3) jika kamu mau menasihati pemimpinmu. Dan Allah membenci kamu: (1) bicara hanya berdasarkan katanya orang, (2) banyak bertanya dan meminta, dan (3) menghambur-hamburkan harta.” (HR Muslim 5/130 no. 1241 dan al-Muwaththa’ 6/81)

Perhatikan! Allah ‘Azza wa Jallamencintai hamba agar beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jallasaja, tetapi musuh sunnah bangga dengan syirik, mereka minta kepada ahli kubur, paranormal dan kiai. Orang yang fanatik golongan juga menolak dalil yang bukan dari tokoh atau nenek moyangnya (baca no. 1). Allah ‘Azza wa Jalla melarang berpecah belah, teta­pi musuh sunnah bangga dengan perpecahan, mereka bangga dengan kelompok dan wadah-nya, inilah penyakitnya golongan, tarekat, dan pergerakan (baca no. 2). Allah ‘Azza wa Jallasenang bila kita umat Islam mau menasihati pemimpin negara yang salah, tetapi golongan yang tersesat merasa bangga mendemo, berunjuk rasa, menebar teror, dan menggulingkan pemimpin negerinya (baca no. 3). Semua kelompok di atas prinsipnya apa kata pemimpinnya, padahal hal itu dibenci dan dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla(baca no. 4). Jika dinasihati maka mereka membantah dan bertanya kepada hal yang bukan pembahasannya (baca no. 5). Semua kelompok di atas pasti menyia-nyiakan harta yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya, bahkan tidak bermanfaat pula untuk urusan dunianya (baca no. 6).

MESTINYA  DIDUKUNG  BUKAN  DIBENDUNG

Jika kita beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah, berpijak kepada akal yang sehat, menerima fitrah yang suci, tentu kita senang bila menjumpai orang mengamalkan sunnah dan orang yang menyeru kepada sunnah, tetapi sebaliknya mereka bersikap hasud dan membendung dakwah sunnah (salafiyyah) karena mengikuti hawa nafsu dirinya atau tokoh kelompoknya. Mereka ini penyembah hawa nafsu (silakan baca surat al-Furqan [25]: 42 dan al-Jatsiyah [45]: 23).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidaklah mereka memusuhi orang yang beriman yang dibakar di parit melainkan karena mereka beri­man kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mestinya orang kafir yang berbuat kemungkaran yang harus diingkari dan diperkarakan, sedangkan orang yang beriman wajib didukung dan dibantu bahkan dimudahkan urusannya. Orang yang durhaka yang menghalangi orang yang beriman sehingga me­reka dibakar; tidaklah diragukan bahwa mereka ini musuh yang sangat besar bahayanya. Orang yang beriman jangan diperkarakan dan dipersulit, (justru) mereka berhak dipuji, karena mereka beribadah kepada Dzat yang berhak disembah, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah (Allah) yang rnenciptakan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jallaberarti dia memahami maksud dan tujuan diciptakan manusia dan telah memberikan hak kepada. yang punya hak.” (Tafsir al-Qur’an li Ibni ‘Utsaimin 3/23)

MASIH  ADA  KESEMPATAN  BERTAUBAT

Dosa itu berbahaya, apalagi dosa yang berhubungan dengan hamba. Tidak cukup dengan istighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi hendaknya berusaha untuk membebaskannya. Bukankah orang mati syahid diampuni semua dosanya kecuali hutang, sebagaimana keterangan hadits yang shahih? Apalagi dosa penghinaan kepada orang yang membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh amat berat dosanya karena me­reka menghina wahyu Allah ‘Azza wa Jalla  walaupun me­reka tidak bermaksud demikian, bahkan boleh jadi pelakunya menjadi kafir (silakan baca surat at-Taubah [9]: 65-66, yakni kisahnya orang munafik yang bersenda gurau menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya):

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sombong itu menolak kebenaran dan menghina manusia. ” (HR Muslim 1/65 no. 275)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar kemudian menyeru dengan suara yang lantang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Larangan menyakiti kaum muslimin

‘Wahai sekalian orang-orang yang masuk Islam dengan lidahnya, (namun) keimanan belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan jangan (pula) kalian mencari-cari aib cacat mereka. Barangsiapa yang menyelidiki aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan menyelidiki aibnya. Barangsiapa yang aibnya diselidiki oleh Allah, maka Dia akan membuka (aib)nya walau­pun (ia merahasiakannya) di dalam rumahnya.'” (HR Tirmidzi no. 2032. Hasan: al-Misykah: 5044 dan at-Ta’liq ar-Raghib 3/277)

Bagaimana dengan yang melecehkan orang mukmin karena berpegang kepada sunnah, bukankah lebih besar dosanya?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf berkata: Perhatikan sifat lembut Allah Ta’ala kepada orang kafir yang membakar orang yang beriman di parit yang disebut di dalam surat al-Buruj ayat 10, Allah Jalla Jalalah menawarkan kepada mereka bila mau bertaubat maka dosanya akan diampuni, jika enggan bertaubat maka akan dihukum di neraka yang membakar.” (Tafsir Ibnu Utsaimin 6/23)

PEMBELA KEBENARAN PASTI MENJUMPAI PERMUSUHAN

Ayat di atas jelas sekali bahwa tidaklah mereka dimasukkan parit api melainkan karena beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, begitulah sunnatullah berlaku sampai akhir zaman. Hal ini perlu dimaklumi oleh umat Islam yang baru keluar dari penjara orang musyrik, ahli bid’ah, pergerakan, dan golongan yang tersesat. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan hal ini dengan firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS al-Furqan [25]: 31)

Imam Syaukani rahimahullah berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak sedih dan takut bila disakiti dan dianiaya oleh kaumnya. Hendaknya bersabar karena para utusan sebelumnya juga demikian. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla  pasti menolong para utusan-Nya yang bersabar dan istiqamah.” (Fathul Qadir 5/274)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimusuhi oleh pamannya yang bernama Abu Jahal. Nabi Musa ‘alaihis salam dimusuhi oleh anak pamannya yang bernama Qarun. Nabi Zakaria ‘alaihis salam dan Yahya ‘alaihis salam dibunuh oleh orang Yahudi. Nabi Isa bin Maryam ‘alaihis salam hendak dibunuh oleh orang Yahudi, tetapi Allah ‘Azza wa Jalla mengangkatnya (ke langit). Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam mau dibunuh oleh orang Yahudi tetapi Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkannya. Beliau disihir dan diracun, para Khulafaur Rasyidin banyak yang dibunuh, Imam Ahmad bin Hambal dianiaya oleh penguasa yang curang atas perintah orang Mu’tazilah karena tidak mau mengatakan al-Qur’an itu makhluk. Demikian pula Syaikhul Is­lam dipenjarakan. Syaikh Albani dituduh murji’ (berpaham Murjiah). Syaikh Abdul Aziz bin Baz dituduh ulama haid. Syaikh Ibnu Utsaimin di­tuduh mumayyi‘ (tidak tegas). Maka bagaimana dengan diri kita yang baru sedikit ilmunya, tentu tidak lepas dari fitnah dan tuduhan bermacam-macam dari kelompok selain Ahli Sunnah.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Syi’ah Rafidhah mengejek Ahli Sunnah dengan julukan nawashib karena Ahli Sunnah mencintai Sahabat Abu Da­kar radhiyallahu ‘anhu, dan Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu yang menurut anggapan mereka memerangi Sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu. Kelompok Qadariyyah menuduh Ahli Sunnah jabriyyah karena beriman kepada takdir. Kelompok Jahmiyyah menuduhnya musyabbihah karena Ahli Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Ke­lompok Murjiah menuduh Ahli Sunnah syakkakan (orang yang ragu-ragu). Ahli kalam dan falsafah menggelarinya dengan hasyawiyyah (dangkal pemikirannya tidak punya ilmu). Kelompok Sufi menuduhnya mahjubin (tidak bisa berhubungan langsung dengan Allah ‘Azza wa Jalla). Orang kafir Quraisy mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan tuduhan tukang sihir, penyair, dukun, dan pembohong.” (Syarh al-Fatwa al-Hamawiyyah i/ 585)

Akan tetapi, semua itu tidaklah membahayakan orang yang berilmu dan beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. serta istiqamah di atas kebenaran. Ra­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Tidak berbahaya celaan manusia kepada siapa yang istiqomah di atas kebenaran

“Ada sekelompok umatku yang selalu setia membela kebenaran. Mereka tidak merasa gentar sedikit pun terhadap orang-orang yang merendahkan me­reka, dan mereka akan tetap seperti itu hingga hari Kiamat. ” (HR Muslim 6/52-53 no. 1099)

DAKWAH  SALAFIYYAH  TERBUKA UNTUK  SEMUA LAPISAN  MANUSIA

Maksudnya, dakwah salafiyyah tidak mengikat golongan. Siapa pun yang ingin mendengarkannya dipersilakan tanpa ada syarat atau janji setia secara tertulis atau lisan. Karena dakwah salafiyyah dakwah menyebarkan ilmu al-Qur’an dan Sunnah, semua lapisan manusia berhak mendengarkan, baik yang pro dan yang kontra, yang curiga dan yang ikhlas ingin mencari kebenaran. Karena dakwah salafiyyah bermaksud menyampaikan risalah Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada sampingan ingin cari muka, kedudukan, dan kekayaan. Dakwah salafiyyah berbeda dengan  undangan walimatul arusy yang terbatas dengan makanan yang tersedia, yang tidak diundang tidak boleh hadir, sebagaimana keterangan hadits yang shahih.

Adapun dakwah organisasi, partai, gerakan dan kelompok takfir, bait dan jamaah selain Ahlus Sunnah, dakwah mereka ruang lingkupnya sempit dan terbatas dengan ketetapan dan prinsip. Mereka memanggil umat tidak atas nama Is­lam, tetapi atas nama organisasi atau tarekat atau wadah yang dirintis. Yang dijadikan matera kajian pun terbatas dengan ketetapan-ketetapan hasil musyawarah dan pendapat-pendapat. Mereka lebih senang mendahulukan pendapat-pendapat daripada ayat al-Qur’an dan Sunnah, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS al-Hujurat [49]: i)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Hendaknya umat Islam tidak berkata sebelum Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, dan tidak beramal sebelum menjumpai dalil perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan perintah Rasul-Nya. Inilah adab orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasu­lullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir al-Karimur Rahman 1/799)

Jika mereka menjumpai perselisihan antara anggotanya maka kembali kepada keputusan tokohnya. Tentu prinsip ini menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’alayang mewajibkan kita mengembalikan semua perselisihan kepada al-Qur’an dan Sun­nah (silakan baca surat an-Nisa’ ayat 59 dan 65).

Mereka mengajak umat dengan menampilkan karya dan amal usahanya serta keberhasilan atau keajaiban yang pernah dialaminya. Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla melarangnya? Dia berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS an-Najm [53]: 32)

Terkadang mereka mendakwahi umat de­ngan kebohongan, cerita dusta, dan janji palsu. Mereka menghalangi pengikurnya keluar dari kelompoknya dengan memfitnah orang yang menyampaikan sunnah.

Prinsip-prinsip mereka mudah berubah karena dihasilkan dari analisis, pemikiran, perasan, atau impian yang semua itu tidak mungkin ti­dak berubah, apalagi manusia kadar berpikirnya berbeda. Mereka lancang sekali mengatakan ayat ini dihapus, tidak relevan, belum waktunya, dan berbagai alasan hanya sekadar demi menurupi aibnya dari orang ‘luar’ dan agar pengikutnya tidak keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar tidak disesatkan oleh tokoh umat yang menye­satkan. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kepada umatku para tokoh umat yang menyesatkan.” (HR Imam Ahmad 6/441, dishahihkan oleh al-Albani)

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Tidaklah yang merusak agama melainkan pemimpin yang menyesatkan, ulama penjilat dan pendeta (ahli ibadah) tersesat.” (Syarh Aqidah Thahawiyyah oleh Abdul Aziz al Rajihi 1/138)

MENOLAK YANG  HAQ  KARENA  BUKAN  DARI  GOLONGANNYA

Inilah prinsip orang Yahudi dan Nasrani yang ditiru oleh sebagian besar kaum muslimin pada zaman sekarang. Ketika kebenaran datang kepada mereka dari selain golongannya mereka berkata sebagaimana yang Allah firmankan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya. (QS al-Baqarah [2]: 91)

Jika keterangan itu datang dari tokoh dan mursyidnya, mereka menerima sekalipun salah, atau hanya berpatokan dengan logika atau perasaan, tetapi jika penjelasan itu dari yang bukan kelompoknya walaupun benar dari al-Qur’an dan hadist yang shahih mereka menolaknya. Ini adalah kebodohan dan hawa nafsu yang ditolak oleh akal yang sehat dan fithroh yang selamat.

Allah Jalla Jalalah membantah mereka agar mereka menggunakan akalnya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. ” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS al-Baqarah [2]: 170)

Orang yang benar-benar beriman, tentu tidak menjadikan panutan hidupnya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Kita boleh mengambil pendapat tokoh masyarakat bila ada dasarnya dari al-Qur’an atau hadits yang shahih atau keterangan sahabat. Sebaliknya, jika tokoh kelompok itu salah dan melanggar hukum Allah Ta’ala, sekalipun titel (gelar)nya berganda dan pendiri serta perintis dakwah dan perjuangan, maka kita harus menolaknya dan meluruskan kesalahannya karena pijakan kita bukanlah “kebenaran pada seseorang”, melainkan “apakah orang itu berpegang kepada yang benar.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka’teri-malah. Dan apa yang dilarangnya bagimu,. maka tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7)

Beginilah seharusnya orang yang beriman, agar kita bersatu di atas sunnah dan jauh dari perpecahan dan jerat bid’ah.

MENYIKAPI  AHLI  BID’AH

Ahli bid’ah lebih berbahaya daripada orang kafir, karena orang kafir tampak kekufurannya sehingga tidak asing bagi kaum muslimin yang awam. Lain halnya dengan ahli bid’ah, mereka berselubung di dalam barisan kaum muslimin. Mereka meminjam dalil al-Qur’an dan Sunnah untuk merusak orang Islam awam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita agar waspada terhadap para da’i penyembah hawa nafsu. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Apakah sesudah datangnya kebaikan ini ada kejahatan?” Beliau menjawab, “Benar.” (Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam relanjutkan:)

Da'i di ambang pintu Jahannam“Yaitu datangnya para da’i di ambang pintu neraka Jahannam. Barangsiapa yang mengikuti seruan mereka, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka. ” Lalu aku (Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan kepada kami kriteria me­reka!” Beliau menjawab, “Mereka itu kaum dari umat kami dan berbicara dengan bahasa kami.” (HR. Bukhari 3/1319)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman banyak ulamanya dan sedikit juru pidato yang mulutnya pintar membual, dan sesungguhnya akan datang zaman sesudah kalian banyak juru pidato yang jago bersilat lidah dan sedikit ula­manya. (Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitab al-‘Ilm  him. 109 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam takhrijnya)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat, karena pelaku maksiat akan bertaubat, sedangkan ahli bid’ah enggan bertaubat.” (Dar’u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naqli 4/190)

Dan masih banyak hadits yang menjelaskan bahayanya bid’ah, jika perkara ini kita diamkan padahal kita mampu menegurnya maka turun laknat Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana orang kafir bani Israil dilaknat, silahkan baca surat Al-Maidah ayat no: 77 dan 78

Kita wajib membantah mereka dengan sun­nah dan hikmah. Ibnu Taimiyyah berkata; “Apabila ahli bid’ah menyeru manusia kepada akidah yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah dan dikhawatirkan akan menyesatkan manusia, maka jelaskan kesesatannya kepada manusia agar manusia menjauhinya, menasihati mereka dengan cara yang baik, dan ikhlas mencari ridho Allah ‘Azza wa Jalla, tidak dengan hawa nafsu. Majmu’ fa-tawa Ibnu Taimiyyah 28/221

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan petunjuk ke­pada kita semua, dan menjauhkan kita dari perkara bid’ah dan pendukungnya.

Sumber: Majalah Al-Furqon No. 131, Edisi 6, Tahun Keduabelas, Muharram 1434 H, hal. 4-11

Iklan

One thought on “DAKWAH SALAFIYYAH DIGUGAT

Komentar ditutup.