Bacaan QUNUT dalam SHALAT


Bacaan QUNUT dalam SHALAT[1]

cover majalah soal qunutOleh: Abu Ibrahim Muhammad Ali hafidzahullah

Sudah menjadi satu kebiasaan di kebanyakan masjid yang ada di tanah air kita, ketika shalat Shubuh berjamaah, imam selalu membaca do’a qunut setelah rukuk pada raka’at terakhir dengan bacaan “Allohummahdinaa fiiman hadait …dst.” kemudian diaminkan oleh para makmum di belakangnya.

Do’a tersebut kebanyakan telah dihafal oleh kalangan awam, lebih-lebih mereka yang dianggap pandai dalam urusan agama. Hal ini dikarenakan do’a qunut ini tidak pernah mereka tinggalkan. Atau, mereka menganggap itu merupakan sunnah rawatib (sunnah yang selayaknya dilaksanakan terus) dalam shalat Shubuh. Atau bahkan yang lebih ekstrem, menganggap bahwa qunut Shubuh merupakan suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga tidak jarang kita jumpai seorang makmum yang sedang shalat dengan seorang imam yang tidak dikenalnya, kemudian tatkala imamnya tidak membaca qunut dan langsung sujud setelah i’tidal, maka dia (si makmum) segera membatalkan shalatnya dan mengulangi shalatnya, atau kalau tidak demikian maka dia terus mengikuti imamnya sampai salam kernudian mengulangi shalat Shubuhnya karena dia menganggap shalat Shubuhnya tidak sah tanpa qunut.

Terjadinya hal tersebut tidak lain karena faktor ketidaktahuan mereka dalam masalah ini, atau memang mereka tidak mau tahu lantaran mereka telah terjerat oleh perangkap taqlid buta, atau fanatik madzhab, atau sebab lainnya.

Untuk mengetahui bagairnana yang benar, kita harus kembalikan kepada Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui semua khilaf di antara manusia. Untuk itu, pada edisi kali ini penulis akan mengulas dengan singkat permasalahan qunut dalam shalat, baik qunut shalat Shubuh, qunut Witir, atau yang lainnya. Mudah-mudahan Alloh Ta’ala memudahkannya.

1.      QUNUT DALAM SHALAT SHUBUH

Termasuk kebiasaan kebanyakan orang, mereka terus-menerus melakukan qunut di setiap shalat Shubuh saja, sedangkan dalam shalat yang lain mereka tidak melakukannya.

Dalil mereka:

  1. Mereka berpegang dengan hadits:

‘an Anasin radhiyallahu ‘anhu qoola, maa zaala rosuulullaahi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaqnutu fishshubhi hatta faaroqo ad-dunya.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata “Rasulullah senantiasa senantiasa berqunut dalam shalat Shubuhnya sampai meninggal dunia.”

Takhrij Hadits:
Hadits ini dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 3/110, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf  2/312, Imam Ahmad dalam al-Musnad 3/162, ad-Daruquthni dalam as-Sunan 2/39, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 2/201, dan ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar 1/248.

Di dalam hadits ini ada seorang perawi lemah yang bernama Abu Ja’far ar-Razi yang telah dikritik oleh para pakar hadits:

  • Ahmad bin Hanbal mengatakan tentangnya: “Dia bukan perawi yang kuat.”
  • Ibnul Madini berkata: “Dia adalah perawi yang mencampur hadits (salah dalam meriwayatkan hadits).”
  • Abu Zur’ah berkata: “Dia sering salah (dalam meriwayatkan hadits).”
  • Ibnu Hibban berkata: “Dia sering bersendirian dengan riwayat-riwayat yang mungkar, meriwayatkan hadits-hadits dari para perawi yang masyhur (keterpercayaannya) .”[2]
  • Ibnul Qayyim mengatakan: “Abu Ja’far telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.”[3]
  • Syaikh al-Albani dalam Silsilah adh-Dhaifah hadits no. 1238, beliau mengatakan: “Hadits ini mungkar.” Dengan sebab perawi yang disebutkan di atas.
  1. Ada hadits lain yang semakna dengan hadits pertama yang dijadikan sandaran pengkhususan qunut secara terus-menerus dalam shalat Shubuh, dan dianggap sebagai penguat hadits yang pertama, yaitu:

‘an Anasin radhiyallahu ‘anhu qoola, qonata  rosuulullaahi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa abuu bakrin wa ‘umaru wa ‘utsmaanu radhiyallahu ‘anhum

Dari Anas beliau berkata: “Rasulullah melakukan qunut, begitu juga Abu Bakr, Umar, dan Utsman.[4]

Takhrij Hadits:
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Baihaqi (dalam as-Sunan al-Kubra 2/201) dan oleh Daruquthni (dalam as-Sunan 2/166).

Dalam hadits ini ada dua orang perawi yang bernama Ismail bin Muslim al-Makki dan ‘Amr bin ‘ Ubaid, yang keduanya telah dikritik oleh para pakar hadits, di antaranya:

  • Imam Baihaqi mengatakan: “Kami tidak menjadikan Ismail dan ‘Amr sebagai hujjah (dalam periwayatan hadits).[5]
  • Al-Khatib dalam al-Kifayah (hal. 372) mengatakan: “Dia (Ismail) adalah perawi yang ditinggalkan haditsnya.”
  • Syaikh al-Albani mengatakan: “Demikian juga Imam Nasa’i mengatakannya (Ismail adalah perawi yang ditinggalkan haditsnya) dan telah ditinggalkan oleh para pakar hadits. Adapun ‘Amr bin ‘Ubaid, maka dia telah dituduh dusta ditambah lagi dia seorang Mu’tazilah. Kemudian (hadits ini diriwayatkan oleh) al-Hasan al-Bashri, walaupun dia seorang yang tinggi derajatnya tetapi dia memalsukan (mungkin lebih tepat dengan istilah mentadlis, -adm) hadits dengan cara ‘an’anah (yaitu dengan mengatakan ‘an/“dari”); andaikan sanadnya shahih sampai kepada beliau (al-Hasan al-Bashri) maka tetap hadits itu tidak bisa dijadikan sebagai hujjah karena telah diriwayatkan oleh dua perawi yang ditinggalkan haditsnya (matruukaani).[6]

1.1. Kesimpulan tentang hadits qunut shubuh secara terus-menerus:

 Dari hadits-hadits yang telah kami paparkan semuanya tidak bisa dipakai sebagai hujjah untuk melegalisasi qunut Shubuh secara terus-menerus. Adapun sebagian ulama yang menghasankan hadits di atas dengan sebab banyaknya jalan riwayat hadits tersebut, maka tidak dapat diterima karena semuanya tidak dapat saling menguatkan dengan sebab sangat lemahnya dan bisa dikatakan mungkar karena menyelisihi hadits yang shahih dari Anas sendiri yang telah mengingkari adanya qunut Shubuh secara terus-menerus (sebagaimana akan kami jelaskan nanti).

1.2. Hukum Qunut Shubuh Secara Terus Menerus

Hadits yang disebutkan di atas tidak bisa dijadikan sandaran sebagai dalil qunut dalam shalat Shubuh secara terus-menerus karena kelemahannya. Oleh karenanya, banyak  ulama yang telah mengomentari qunut Shubuh ini, di antaranya;

  1. Thariq bin Asyyam radhiyallahu ‘anhu –seorang sahabat yang mengikuti shalat berjamaah di belakang Rasulullah, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali bin Abu Thalib– beliau mengatakan qunut Shubuh adalah bid’ah sebagaimana dalam hadits berikut ini:

Dari Sa’d bin Thariq al-Asyja’i berkata: Aku berkata kepada bapakku (Thariq): “Wahai bapakku, sungguh engkau telah mengikuti shalat berjamaah bersama dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali bin Abu Thalib, apakah mereka semua melakukan qunut pada shalat Shubuh?” Dia menjawab: “Wahai anakku itu adalah bid’ah.”
(HR. Tirmidzi 1292, Ibnu Majah 1/393, Nasa’i 3/203-204; dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil hadits no. 435.)

  1. Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan para ulama yang semisalnya berdalil dengan hadits di atas (hadits Sa’d) bahwa qunut ratib (terus-menerus) dalam shalat Shubuh tidak dibolehkan.[7]
  2. Imam Ahmad mengatakan: “Tidak ada qunut dalam shalat Shubuh kecuali bila terjadi musibah (Nazilah) yang menimpa kaum muslimin.”[8]
  3. Al-Mubarakfuri mengatakan (ketika mengomentari hadits-hadits tentang qunut): “Qunut itu adalah qunut Nazilah, dan tidak pernah ada hadits shahih menerangkan adanya qunut dalam shalat kecuali qunut Nazilah.”  (Taudhih al-Ahkam 2/83.)

Maka dapat kita simpulkan hukum qunut dalam shalat Shubuh secara terus-menerus adalah bid’ah, yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi kita dan para sahabatnya; selayaknya bagi setiap muslim untuk meninggalkannya. Namun sangat disayangkan banyak di kalangan kaum muslimin meninggalkan hadits-hadits yang shahih tentang qunut Nazilah, kemudian mengamalkan hadits yang lemah bahkan mungkar tentang qunut shalat Shubuh secara terus-menerus. (Lihat al-Qaul al-Mubin fi Akhtha’ al-Mushallin hal. 130)

1.3. Kalaupun Shahih, Hadits Itu Bukan Dalil Untuk Terus-Menerus Qunut Shubuh

Andaikan kita mengatakan hadits itu shahih, itu pun tidak dapat dijadikan sebagai dalil dikarenakan beberapa hal:

  1. Perkataan yaqnutu fish shubhi(qunut pada shalat Shubuh) dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu di atas mengandung beberapa kemungkinan makna, bisa bermakna tunduk patuh, khusyuk, thuma’ninah, dan terus-menerus taat. Perhatikan beberapa makna ayat ini :

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

Kepunyaan-Nyalah siapa saja yang di langit dan di bumi, semuanya tunduk patuh hanya kepada-Nya. (QS. ar-Rum [30]: 26).

وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحاً نُّؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ

Dan barangsiapa di antara kalian (istri-istri Nabi) terus-menerus taat kepada Alloh dan Rasul-Nya dan mengerjakan amalan shalih, maka Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat. (QS. al-Ahzab[33]:31)

وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

Dan berdirilah (dalam shalatmu) dalam keadaan khusyuk. (QS. al-Baqarah[2]:238)

Dari keterangan beberapa makna qunut di atas, kita ketahui bahwa (seandainya benar/shahih hadits Anas di atas), maka yang dimaksud oleh Anas adalah do’a ketika i’tidal yang disyariatkan, bukan do’a qunut yang mereka maksudkan, karena dalam I’tidal harus khusyuk, thuma’ninah, dan tenang, dan tidak ada keterangan khusus makna qunut dalam hadits Anas itu adalah ucapan “Allohumahdinaa fiiman hadait… dst. ” serta karena Anas tidak mengatakan bahwa Rasulullah senantiasa mengucapkan do’a khusus qunut Shubuh yang berbunyi “Allohumahdinaa fiiman hadait… dst.” Maka dari mana mereka mengkhususkan qunut ketika shalat Shubuh dengan do’a itu?

  1. Dalam hadits yang shahih Anas radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan qunut pada shalat Shubuh dan Maghrib serta tidak mengkhususkan qunut dalam shalat Shubuh. Demikian juga yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu.[9] Sehingga kita dapat mengatakan bahwa yang shahih: Nabi tidak mengkhususkan qunut dalam shalat Shubuh saja, bahkan beliau qunut pada shalat Shubuh dan Maghrib.
  1. Qunut yang dimaksud oleh Anas adalah qunut Nazilah (do’a supaya diselamatkan dari suatu musibah). Oleh karena itu, Anas sendiri pernah meriwayatkan hadits Nabi dengan mengatakan:

Qonata rosuulullaahi shallallahu ‘alaihi wa sallam syahron yad’uu ‘ala hayyin min ahyaa’il ‘arobi tsumma tarokahu

“Rasulullah melakukan qunut (mendo’akan kehancuran) atas suatu kaum di antara kaum-kaum Arab selama sebulan, kemudian beliau tinggalkan (qunut tersebut). (HR. Muslim 304, Ahmad dalam al-Musnad 3/191, Abu Dawud 1445, Nasai 2/203, dan lainnya.)

  1. Bahwasanya Anas radhiyallahu ‘anhu sendiri meriwayatkan bahwa bukan kebiasaan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya: melakukan qunut dalam shalat, akan tetapi permulaan adanya do’a qunut adalah ketika Nabi mendo’akan (kehancuran) atas Ri’l dan Dzakwan sebagaimana dalam hadits yang dikeluarkan oteh Imam Bukhari dan Muslim:

“Dan Anas berkata: Rasulullah pernah mengutus tujuh puluh orang laki-laki yang dikenal sebagai al-Qurra’ (para pembaca al-Qur’an) dalam sebuah keperluan. Kemudian tatkala sampai di sumur Maunah, mereka dihadang oleh penduduk dua kampung dari bani Sulaim, bani Ri’l, dan bani Dzakwan, maka mereka mengatakan: “Demi Alloh kami tidak bermaksud kepada kalian, kami hanya ingin lewat karena sebuah keperluan Rasulullah.” Kemudian mereka membunuh mereka (utusan Rasulullah tersebut). Maka Rasulullah mendo’akan kehancuran mereka dalam shalat Shubuh selama sebulan, dan itulah permulaan (adanya) Qunut kami, dan dulu kami tidak membaca do’a qunut.” (HR. Bukhari 1002, Muslim 297 )

Hadits di atas menunjukkan bahwa bukan termasuk petunjuk Nabi terus-menerus melaksanakan qunut, bahkan qunut Nabi hanya sebatas kebutuhan saja, tatkala musibah itu berlalu maka Nabi berhenti dari qunutnya. Dan oleh karena itu, tatkala Rasulullah berdo’a qunut Nazilah dalam shalat Isya’ selama satu bulan untuk keselamatan beberapa kaum muslimin yang hendak datang kepada beliau, lalu suatu ketika beliau berhenti dari qunutnya, kemudian Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah akan hal itu, maka Rasulullah bersabda:

Au maa taroohum qod qodimuu

Tidak tahukah engkau bahwa mereka (yang kita do’akan) telah datang?  (HR. Bukhari 804, Muslim 294)

Maka inilah qunutnya Rasulullah, beliau tidak berqunut kecuali ada musibah yang menghadang kaum muslimin (Nazilah), dan dilakukan sebatas kebutuhan, kemudian beliau tinggalkan.

2. QUNUT NAZILAH/NAWAZIL

Qunut Nazilah/Nawazil  adalah do’a kebaikan/kemenangan bagi kaum muslimin dan do’a kehancuran bagi orang-orang kafir/musuh Islam yang dibaca ketika shalat untuk memohon keselamatan dari Alloh Ta’ala, tatkala kaum muslimin ditimpa suatu marabahaya atau musibah.

Hukum qunut Nazilah adalah sunnah dilakukan setelah rukuk pada rakaat terakhir di setiap shalat fardhu, setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah.

Akan tetapi yang sangat disayangkan, banyak di antara kaum muslimin tidak mengetahui qu­nut Nazilah sehingga mereka meninggalkan sama sekali sunnah ini, padahal hadits-hadits tentang qunut Nazilah banyak sekali dan derajatnya shahih. (Ta’liq Syaikh Ahmad Syakir dalam Jami’ at-Tirmidzi 2/252)

2. 1. Dalil qunut Nazilah

1. Banyak dalil yang menjelaskan disunnahkannya qunut Nazilah, sebagaimana beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu. Dan untuk lebih jelasnya, ada sebuah ha­dits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut ini:

Dari  Abu   Hurairah    radhiyallahu ‘anhu    beliau berkata: “Sungguh aku akan melakukan shalat yang mirip dengan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu    membaca doa qunut setelah mengucapkan sami’allohu liman hamidah pada rakaat tera­khir dari shalat Zhuhur, Isya’, dan Shubuh; beliau mendo’akan (keselamatan) buat kaum mu’minin dan melaknat orang-orang kafir. (HR. Bukhari 1/204, Muslim 2/135, Abu Dawud 1440, Nasai 1/164, Daruquthni 178, Baihaqi 2/206, Ahmad 2/255)

2. Hadits shahih yang lain tentang qunut Nazilah adalah:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma    beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama sebulan penuh dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Shubuh dalam setiap penghujung shalat setelah mengucapkan sami’allohu liman hamidah, pada rakaat yang terakh­ir; beliau mendo’akan kehancuran beberapa penduduk kampung bani Sulaim, dari (kabilah) Ri’l, Dzakwan, dan Ushayyah, sedangkan orang-orang yang di belakangnya mengaminkannya. [10]

2.2 Imam Membaca Qunut, Makmum Mengaminkan

Adapun yang disunnahkan bagi makmum hanyalah meng­ucapkan amin atas do’a imamnya. Dan termasuk kesalahan yang di­lakukan oleh para makmum menambah-nambahi ucapan selain mengaminkan do’a imam, seperti yang banyak mereka ucapkan ke­tika imam membaca do’a qunut, mereka menjawabnya dengan ucapan amien ya Alloh, atau me­reka mengucapkan subhanalloh, atau haq ya Alloh, atau asyhid! (saksikan!), dan sebagainya; hal ini didasari oleh hadits yang telah lalu diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau mengatakan:

Wa yu-amminu man kholfahu

. . .  dan orang-orang yang di be-lakangnya mengaminkannya.[11]

Begitu juga, tidak disyariatkan membalikkan kedua tangan ketika mendo’akan kehancuran musuh/orang kafir, kemudian mengembalikan/membalikkan kedua tangan kepada posisi semula (menengadah) ketika imam mendo’akan kembali kebaikan bagi kaum muslimin, sebagaima­na yang dilakukan oleh beberapa orang yang kita saksikan di Masjidil Haram atau yang lainnya, atau sebagaimana yang mereka lakukan yaitu membalikkan ke­dua tangan tatkala imam berdo’a supaya diangkat bala dan bahaya dari kaum muslimin,[12]

2. 3 Mengangkat Tangan Ketika Qunut

Disyariatkan bagi imam dan makmum ketika mebaca qunut Nazilah dan qunut Witir untuk mengangkat kedua tangannya. Hal ini didasari oleh hadits dan atsar dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum, di antaranya sebagaimana yang dikatakan oleh Tsabit dari Anas bin Malik radhiyyallhu ‘anhu beliau berkata:

Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap shalat Shubuh beliau mengangkat kedua tangannya mendo’akan ‘kehancuran mereka (orang-orang kafir). (HR. Baihaqi 2/211)

Dan Imam Baihaqi juga menerangkan bahwa telah sah dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam do’a qunut mereka mengangkat tangannya, seperti Umar bin Kha-ththab radhiyyallhu ‘anhu dan lainnya, dan be­liau nyatakan hadits dan atsar itu semuanya shahih. (Lihat as-Sunan al-Kubra 2/212)

2. 4 Tidak Mengusap Muka Setelah Qunut

Berkata al-Izz bin Abdul Salam: “Tidaklah mengusap wajahnya setelah berdo’a kecuali orang yang bodoh.” (Lihat al-Qaul al-Mubin fi Akhtha’al-Mushallin hal. 133)

Perkataan beliau di atas di­dasari lantaran tidak adanya satu hadits pun yang shahih tentang mengusap wajah setelah berdo’a. Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengannya semuanya tidak dapat dijadikan sebagai hujjah karena sangat lemahnya.

Imam al-Baihaqi mengatakan: “Tidak ada satu pun dari ulama salaf yang mengusap wajah setelah berdo’a.” (as-Sunan al-Kubra 2/212)

Imam Nawawi mengatakan: “Tidak disunnahkan mengusap wajah setelah do’a.” (Shahih al-Adzkar hal.960)

. Syaikh al^Albani menyatakan bahwa mengusap wajah setelah berdo’a adalah bid’ah karena hal itu tidak dicontohkan oleh panutan kita. (Irwa’al-Ghalil 2/l78)

3. QUNUT WITIR

Qunut Witir adalah do’a di penghujung shalat (Witir) yang pernah diajarkan oieh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dilakukan sebelum rukuk[13] atau sesudah rukuk[14] pada rakaat terakhir dari shalat Witir. Adapun do’a yang dibaca:

Dari al-Hasan bin Ali  radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat untuk aku ucapkan ketika qunut Witir

اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبرك لي فيما اعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت تباركت ربنا وتعاليت

(yang artinya): “Wahai Allah, berilah aku petunjuk seperti orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan seperti orang yang Eng­kau beri kesehatan, sayangilah aku seperti orang yang Engkau sayangi, berilah keberkahan pada apa yang Engkau berikan padaku, jauhkanlah aku dari kejahatan (makhluk) yang Engkau taqdirkan, sesungguhnya Engkaulah yang menentu-kan hukuman dan tidak satu pun yang menghukum-Mu, sesungguhnya siapa yang Engkau bela tidak akan terhina, dan tidak menjadi mulia orang yang Engkau musuhi, Maha Suci Engkau wahai Rabb kami yang Maha Tinggi. ” (HR. Abu Dawud 1425-1426, Tirmidzi 464, dan Nasai 3/248; disha-hihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil 2/172)

3.1. Do’a Setelah Shalat Witir

Disunnahkan bagi yang telah melaksanakan shalal Witir untuk mengucapkan do’a berikut ini:Sifat Shalat Witir

Adalah Rasuiullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Witir tiga rakaat, dengan membaca pada rakaat pertama surat Sabbihisma Rabbikal A’la, pada rakaat kedua surat Qul ya ayyubal kafirun, dan pada rakaat ketiga surat Qul huwa-Allohu Ahad,  dan beliau membaca qunut Witir sebelum rukuk; kemudian tatkala selesai beliau membaca Subhanal Malikil Quddus (Maha Suci Allah Sang Ma­haraja yang Maha Suci) diulang tiga kali, beliau memanjangkan (bacaan itu) pada akhirnya.” fHR. Nasai 3/235, dan dishahihkan oleh al-Al-bani dalam Sunan Nasai 1699)

Kesimpulan

  1. Kebiasaan yang berjalan di masyarakat dengan qunut Shubuh secara terus-menerus disebabkan
    ketidaktahuan dan didasari de­ngan taqlid/ikut-ikutan saja.
  2. Hadits-hadits    tentang    qunut Shubuh    secara    terus-menerus (yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu adalah sangat lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah, dan justru hadits-hadits yang sah dari Anas  radhiyallahu ‘anhu   mengingkari adanya qunut Shubuh se­cara terus-menerus kecuali qunut Nazilah.
  3. Qunut Shubuh dengan bacaan “Allohumahdinii fiiman hadait…dst.”, adalah salah kaprah karena do’a ini diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma un­tuk do’a qunut Witir bukan qu­nut Shubuh.
  4. Telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya,  mereka melakukan qunut   Nazilah   setelah   rukuk dalam rakaat terakhir di setiap shalat fardhu.
  5. Apabila imam membaca do’a qu­nut, disyariatkan bagi makmum mengucapkan “amin”.
  6. Ketika   membaca   do’a   qunut (baik Nazilah atau Witir), imam dan makmum mengangkat ke­dua tangannya.
  7. Tidak    disyariatkan    mengusap wajah setelah do’a qunut.
  8. Disunnahkan do’a qunut dalam shalat Witir baik sebelum atau sesudah rukuk dengan bacaan:“Allohumahdinii fiiman hadait…dst.”

Wallohu A’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 10 tahun V// Jumada Awal 1427 H // Juni 2006 hal. 37-43, sebagian teks disalin dari http://wahidsangexekutor.blogspot.com


[1] Pembahasan qunut dalam shalat telah dijelaskan pada majalah AL FURQON edisi 5/III dalam rubric Soal-Jawab, dan juga telah dibahas pada edisi 9/V. Akan tetapi, karena masih ada beberapa pertanyaan yang berkisar tentang qunut, kami coba membahasnya dengan pembahasan yang tidak terfokus pada qunut Shubuh saja, melainkan juga pembahasan qunut Nazilah dan qunut Witir, sebagai upaya menjawab pertanyaan para pembaca. Semoga bermanfaat.

[2] Lihat Mizanul I’tidal 3/320, Tahdzibut Tahdzib 12/57, dan Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhuah no. 1328.

[3] Lihat Zadul Ma’ad 1/276.

[4] HR. Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 2/201, dan Daruquthni dalam as-Sunan 2/166.

[5] Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah 3/385; kemudian Syaikh al-Albani berkomentar tentang Ismail al-Makki bahwa dia seorang yang haditsnya lemah.

[6] Lihat footnote no. 4.

[7] Lihat Subulus Salam 1/387 dalam penjelasan hadits Sa’d di atas.

[8] Lihat Tuhfatul Ahwadzi 2/434

[9] HR. Muslim 1/470, Ahmad dalam al-Musnad 4/275, Tirmidzi dalam al-Jami’ 401, Abu Dawud 1441, dan lainnya,

[10] HR. Abu Dawud 1443, Baihaqi 2/200,. Ahmad 1/301, dan lainnya; dihasankan al-Albani dalam Misykat  al-Mashabih no. 1290.

[11] Lihat footnote no. 10.

[12] Lihat al- Qaul al-Mubin fi Akhtha al-Mushallin hal. 132

[13] Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut sebelum rukuk (dishahihkan oleh al-Albani dalam SunanAbi Dawud 2l‘135).

[14] Sebagaimana hadits-hadits qunut setelah rukuk secara umum yang telah lalu (lihat al-Mulakhashat al-Fiqhiyyah hal. 51). Dan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Iraqi: “Telah datang (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) hadits-hadits qunut Witir dari berbagai jalan perawi yang menunjukkan disyariatkannya qunut Witir. Sebagian hadits itu hasan, sebagian yang lain shahih, dan telah sah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut (Witir) baik sebelum atau sesudah rukuk; sedangkan kebanyakan sahabat, tabi’in, para ahli fiqh seperti Imam Ahmad dan selainnya memilih qunut (Witir) dilakukan sesudah rukuk.” (Taudhihul Ahkam 2/86)

2 thoughts on “Bacaan QUNUT dalam SHALAT

    • Na’am, shohih. Akan tetapi, hadits dengan lafadz tersebut telah dijelaskan takhrijnya pd artikel di atas mas. Yakni haditsnya mungkar. Jadi gak bisa diamalkan. Wallahu A’lam

Komentar ditutup.