Peleceh Islam Selalu Bermunculan


Peleceh Islam Selalu Bermunculan

Tafsir QS. At-Taubah [9]: 65-66

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ – لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At-Taubah [9]: 65-66)

Ayat di atas membahas peristiwa, hukum, dan hukuman atas orang yang melecehkan Islam, mengolok-olok Alloh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Jika kita melihat kenyataan umat, baik itu orang kafir atau orang yang menamakan dirinya muslim  -di mana saja, siaran TV, surat kabar, majalah, radio, internet, dan lainnya- sering kita jumpai orang mengolok-olok Islam dan pemeluknya. Berikut ini beberapa fakta sebagai permisalan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarikaturkan seperti orang yang bersorban di atasnya bom dan dua wanita yang bercadar. Orang yang istiqamah ingin mengamalkan ajaran Islam secara kaffah dinamakan kolot. Lihat kasus yang mencuat di IAIN dengan “anjinghu Akbar”. Islam dianggap kaku dan keras, karena mengharamkan pria bercampur dengan wanita secara bebas, Islam menindas hak wanita, karena harus menutup semua anggota badannya. Islam adalah teroris karena mengebom dan menyandera orang yang tidak bersalah. Hukuman Islam sangat kejam karena pelaku tindak kriminal dibunuh, dipotong tangan, dan dirajam, peminum khamer dicambuk, ulamanya tidak terjun dalam urusan politik, tidak mau ikut pemilihan umum, tidak mau toleransi dengan agama lain. Berbohong atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut mereka, -admin) tidak mengapa karena bukan bermaksud menghina, akan tetapi dalam rangka memuliakannya. Dan masih banyak contoh lain.

Bualan ini bukan hanya keluar dari mulut orang kafir saja, akan tetapi dari orang yang mengaku muslim, bahkan dari tokoh umat. Bukankah ini sangat berbahaya!? Oleh karena itu, tidaklah layak musuh Islam dibiarkan berteriak sehingga mereka leluasa mengganyang ajaran Islam dan merusak umat.

Semoga Alloh ‘azza wa jalla memberi petunjuk kepada kami dan kaum muslimin untuk membantah segala syubhat yang dilontarkan oleh musuh Alloh.

Asbabun Nuzul

Hampir setjap ahli tafsir salafush shalih menjelaskan peristiwa asbabun nuzul ayat ini. Adapun ringkasnya sebagai berikut:

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Muhammad bin Kaeb, Zaid bin Aslam, dan Oatadah berkata (ringkasnya demikian): Ada seorang laki-laki (orang munafiq) pada waktu perang Tabuk dia berkarta: “Tidaklah kami melihat semisal Ourra’ (pembaca al-Qur’an) kita ini, mereka paling besar perutnya (karena banyak makan), paling pendusta (ketika berbicara), paling penakut (bila berhadapan dengan musuh).”Perkataan itu ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Lalu Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Bohong kamu, akan tetapi kamu munafiq, sungguh aku akan memberi tahu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .” Maka pergilah Auf untuk menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahu perkataan orang munafiq ini. Belum sampai datang kepada beliau, turunlah ayat yang memberitahu keadaan sebenarnya.

Lalu orang munafiq itu datang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu itu beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya, lalu orang itu berkata: “Wahai Nabi, sebenarnya kami hanya bersenda gurau. Kami bicara layaknya orang yang berbicara saat naik kendaraan agar kami tidak terasa capai di dalam perjalanan.” Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seolah-olah aku melihat dia sedang menggantungkan tangannya di tali unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan dua kakinya tertindih dengan batu, dalam kondisi seperti itu dia berkata: “Wahai Nabi! Maafkan kami, kami hanya bersenda gurau dan main-main.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan membacakan ayat (yang artinya): “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Beliau tidak melihat dia dan tidak berbicara lagi selain ayat ini. (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir dalam tafsirnya 10/119, dan tafsir lainnya)