DAKWAH SALAFIYAH DAN DAULAH SU’UDIYAH


Disusun oleh: Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

 

Dalam pembahasan yang lalu (dalam majalah yang kami nukil tulisan ini, _adm) telah kita jelaskan bahwa Salafiyyah bukan suatu hizb (kelompok) atau golongan. Sesungguhnya dia adalah jama’ah yang berjalan di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jamaah yang terdahulu dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berlanjut terus-menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka dakwah Salafiyyah adalah dakwah kepada Islam yang murni dan bukan dakwah hizbiyyah. Imam dakwah Salafiyyah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam yang datang berikutnya dari para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari kiamat.

Di antara daulah yang ditegakkan atas landasan dakwah Salafiyyah adalah Daulah Su’udiyyah di Jazirah Arabiyyah, yang dikenal sebagai pembela Dakwah Salafiyyah yang gigih sejak berdirinya hingga saat ini.

Maka Daulah Su’udiyyah memiliki kehormatan sebagai pembela dakwah yang haq dan pembela para ulama Sunnah.

Usaha yang agung dari Daulah Su’udiyyah di dalam mendakwahkan Islam yang haq, menyejukkan mata dan membesarkan hati setiap muslim yang cinta kepada Islam yang haq, tetapi sebaliknya membuat geram dan panas orang-orang yang hatinya diselubungi oleh kebatilan dan kebid’ahan!

Lihatlah di semua media massa sekarang, siapakah yang memusuhi Daulah Su’udiyyah saat ini? Mereka adalah gabungan dari berbagai kelompok bid’ah mulai dari Syi’ah Rafidhah, Shufiyyah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Quthbiyyah Ikhwaniyyah, Quthbiyyah Sururiyyah, Tablighiyyah, Hizbut Tahrir, JIL, dan sederet nama-nama lainnya yang menunjukkan kesesatan jalan mereka. Dari jati diri mereka bisa disimpulkan bahwa mereka memusuhi Daulah Su’udiyyah bukan karena orang-orangnya, tapi karena dakwah Daulah Su’udiyyah kepada manhaj salaf.

Berangkat dari kenyataan ini, terbetik dalam benak kami untuk menyumbangkan sedikit pembelaan kepada daulah pembela Dakwah Salafiyyah ini sebagai wujud loyalitas kami kepada al-haq dan ahlinya.

PERTEMUAN ANTARA DUAIMAM DAKWAH SALAFIYYAH

Membicarakan tentang Dakwah Salafiyyah di Jazirah Arabiyyah tidak bisa dilepaskan dari sebuah pertemuan yang bersejarah pada tahun 1158 H bertepatan dengan tahun 1745 M antara dua imam Dakwah Salafiyyah: Mujaddid Abad ke-12 H Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Amir ar-Rasyid Muhammad bin Su’ud -penguasa negeri Dar’iyyah waktu itu dan pendiri Daulah Su’udiyyah-, keduanya sepakat untuk bekerja sama mendakwahkan dakwah Tauhid -Dakwah Salafiyyah- dengan segenap daya upaya. Muhammad bin Su’ud menyambut baik kedatangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Dar’iyyah dan mengatakan kepada Syaikh:

“Berbahagialah di negeri yang lebih baik daripada negerimu, dan berbahagialah dengan dukungan dan pembelaan.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Dan aku memberi khabar gembira kepadamu dengan kemuliaan dan kedudukan yang kokoh, kalimat ini – laa ilaha illaLLah – barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, mengamalkannya, dan membelanya, maka Alloh akan memberikan kekuasaan kepadanya pada negeri dan hamba-hamba-Nya, dialah kalimat tauhid, yang merupakan dakwah para rasul semuanya. Engkau melihat bahwa Najed dan sekitarnya dipenuhi dengan kesyirikan, kejahilan, perpecahan, dan peperangan di antara mereka, aku berharap agar engkau menjadi imam bagi kaum muslimin, demikian juga pada keturunanmu.”

Maka Muhammad bin Su’ud berkata: “Wahai Syaikh, ini adalah agama Alloh dan Rasul-Nya, yang tidak ada keraguan di dalamnya. Berbahagialah dengan pembelaan kepadamu dan kepada dakwah yang engkau seru, dan aku akan berjihad membela dakwah Tauhid.” (Tarikh Najed oleh Husain bin Ghannam hal. 87 dan Unwanul Majd fi Tarikhi Najed oleh Utsman bin Bisyr 1/12)

Maka mulailah kedua imam Dakwah Salafiyyah tersebut beserta para pendukung keduanya menyebarkan Dakwah Salafiyyah dengan modal ilmu dan keimanan, dan mengibarkan bendera jihad di depan setiap para penghalang jalan dakwah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak henti-hentinya melancarkan dakwah kepada Allah, mengajarkan ilmu-ilmu syar’i kepada para penuntut ilmu, menyingkap syubhat-syubhat yang disebarkan oleh orang-orang kafir, para penyembah kubur, dan selain mereka. Beliau menghasung umat agar berjihad dengan berbagai jenisnya. Beliau juga langsung turun di medan jihad beserta anak-anak beliau. Beliau tulis karya-karya ilmiah dan risalah-risalah yang bermanfaat di dalam menjelaskan aqidah yang shahihah, sekaligus membantah setiap pemikiran yang menyelisihinya dengan berbagai macam argumen, sehingga nampaklah agama Alloh, menanglah pasukan Alloh dan hinalah pasukan setan, menyebarlah aqidah salafiyyah di Jazirah Arabiyyah dan sekitarnya, bertambah banyaklah para penyeru kepada kebenaran, dihapuslah syi’ar-syi’ar kebid’ahan, kes’yirikan, dan khurafat, ditegakkanlah jihad, dan masjid-masjid dimakmurkan dengan shalat dan halaqah-halaqah pengajaran Islam yang murni. (Muqaddimah Syaikh Abdul Aziz bin Baz atas kitab Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami hal. 4)

BERDIRINYA DAULAH SU’UDIYYAH SALAFIYYAH

Para ulama tarikh sepakat bahwa pendiri Daulah Su’udiyyah (Kerajaan Saudi Arabia) adalah al-Imam Muhammad bin Su’ud, dialah yang membuat sunnah hasanah pada keturunannya di dalam membela agama Alloh dan memuliakan para ulama Sunnah. (Lihat Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/234-235)

DR. Munir al-Ajlani menyebutkan bahwa pendiri Daulah Su’udiyyah adalah Muhammad bin Su’ud, dengan baiatnya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengikhlaskan ibadah semata kepada Alloh dan ittiba’ kepada hukum Islam yang shahih di dalam siyasah (politik) daulah, serta menegakkan jihad fi sabilillah. (Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 46-47)

Maka Daulah Su’udiyyah adalah Daulah Islamiyyah yang ditegakkan untuk menerapkan hukum Islam dalam kehidupan dan sekaligus Daulah Salafiyyah yang membela dakwah salafiyyah dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

DAULAH SU’UDIYYAH DAN DAULAH UTSMANIYYAH

Sebagian orang menyangka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Su’ud melakukan pemberontakan terhadap Daulah Utsmaniyyah, seperti yang dilakukan Muhammad bin Hasan al-Hajawi ats-Tsa’alibi al-Fasi di dalam kitabnya al-Fikru Samifi Tarikhil Fiqh Islami (2/374) yang menyatakan bahwa Muhammad bin Su’ud mendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk merealisasikan impiannya di dalam melepaskan diri dari kekuasaan Daulah Turki Utsmani!

Pernyataan Muhammad bin Hasan al-Fasi di atas adalah pernyataan yang keliru, karena menyelisihi realita sejarah, realita sejarah menunjukkan bahwa di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melancarkan dakwahnya dan bahkan jauh sebelumnya negeri Najed -termasuk Dar’iyyah- tidak pernah menjadi wilayah Daulah Utsmaniyyah. (Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 47)

Di antara bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Najed tidak pernah masuk dalam wilayah Daulah Turki Utsmani adalah sebuah dokumen yang ditulis oleh Yamin Ali Affandi dengan judul asli berbahasa Turki: Qawanin Ali Utsman Dur Madhamin Daftar Diwan, di dalamnya terdapat daftar wilayah Daulah Turki Utsmani sejak penghujung abad ke-11 H yang terbagi menjadi 32 wilayah, 14 wilayah darinya adalah wilayah-wilayah di Jazirah Arabiyyah, dan Najed tidak tercantum dalam daftar wilayah tersebut. (Lihat Bilad Arabiyyah wa Daulah Utsmaniyyah oleh Sathi’ al-Hushari hal. 230-240)

Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap pemerhati sejarah Islam bahwa banyak dari wilayah-wilayah kaum muslimin yang tidak masuk ke dalam wilayah Daulah Turki Utsmani yang ditunjukkan oleh adanya daulah-daulah yang sezaman dengan Daulah Turki Utsmani seperti Daulah Shafawiyyah Rafidhiyyah di Iran, Daulah Mongoliyyah di India, Daulah Maghribiyyah di Maroko (Afrika Utara), dan beberapa Negara Islam di Indonesia.

DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE PERTAMA DARI DAULAH SU’UDIYYAH

Tidak henti-hentinya al-Imam Muhammad bin Su’ud memenuhi janjinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam mendukung dakwah Salafiyyah dan berjihad fi sabilillah di hadapan para penghalang dakwah hingga beliau wafat pada tahun 1179 H.

Sepeninggal Muhammad bin Su’ud, dibaiatlah putranya -Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud- sebagai imam kaum muslimin. Di antara yang membaiatnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad memiliki perhatian yang besar kepada keilmuan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sejak usia dini, ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab masih di negeri Uyainah dia mengirim surat kepada Syaikh agar menuliskan kepadanya tafsir Surat al-Fatihah, maka Syaikh menuliskan kepadanya tafsir Surat al-Fatihah yang di dalamnya terkandung aqidah Salafush Shalih, ketika itu dia belum mencapai usia baligh. Merupakan hal yang dimaklumi bahwa menuntut ilmu dalam usia dini memiliki atsar yang dalam dan kokoh.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud memiliki sebuah risalah yang agung, yang memiliki andil yang besar di dalam menyebarkan aqidah Salafush Shalih, dia buka risalah tersebut dengan pujian kepada Alloh dan shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia berkata: