Jalan Menuju Surga


Jalan Menuju SurgaDari Abu ‘Abdillah Jabir bin ‘Abdillah al-Anshdri radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasululldh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bagaimana pendapat Anda jika aku melakukan shalat fardhu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah sedikit pun akan hal itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.” Laki-laki itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambah sedikit pun atas yang demikian itu.”

Takhrij Hadits

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 15 (18)), Ahmad (III/316, 348), dan Abu Ya’ala (no. 1936, 2291), Abu ‘Awanah (I/4-5), dan Ibnu Mandah dalam Kitabul Iman (no. 137).

Syarah Hadits

Orang laki-laki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini ialah an-Nu’man bin Qauqal al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat yang mengikuti Perang Badar dan terbunuh pada Perang Uhud.

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat bagi seturuh alam

Allah ‘azza wa jalla telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan yang akan menjerumuskan mereka ke neraka dan menuntun mereka ke jalan hidayah yang akan menyampaikan ke surga. Jalan ke sana adalah jalan yang jelas dan mudah. Allah subhanahu wa ta’ala  menetapkan batasan-batasannya dan mewajibkan adab-adabnya. Barang-siapa komitmen dan berpegang teguh akan masuk ke surga dan barangsiapa melewati batas dan menyalahinya akan dicampakkan ke dalam neraka. Sesungguhnya yang telah ditetapkan dan diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ada pada batas kemampuan manusia, karena Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya. Inilah yang tampak dengan jelas pada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya.[1]

2. Rindu surga dan menempuh jalannya

Jabir radhiyallahu ‘anhu  menceritakan tentang seorang Mukmin yang bercita-cita masuk surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Dia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang jalannya dan meminta fatwa tentang amal yang akan memasukkannya ke dalam surga yang sangat luas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepada yang diinginkannya untuk mewujudkan cita-citanya.

Ada hadits yang semakna dengan hadits di atas. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Tunjukkanlah aku amalan yang jika aku kerjakan maka aku akan masuk surga.” Beliau menjawab,

Engkau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, mengerjakan shalat fardhu, membayar zakat yang wajib, dan berpuasa Ramadhan.”

Orang itu berkata, “Demi (Allah) yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak akan menambahnya sedikit pun selamanya dan tidak akan menguranginya. Ketika ia telah pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang senang melihat seseorang dari penghuni surga, maka hendaklah ia melihat orang ini.”[2]

Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah  radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan rambutnya kusut, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Kabarkan kepadaku, shalat apa yang diwajibkan Allah ‘azza wa jalla, atasku?” Beliau menjawab, “Shalat yang lima waktu, kecuali jika engkau mengerjakan salah satu yang disunnahkan.” Orang itu berkata, “Kabarkan kepadaku puasa apa yang Allah ‘azza wa jalla wajibkan atasku?” Beliau menjawab, “Puasa Ramadhan, kecuali jika engkau mau mengerjakan puasa yang sunnah.” Orang itu berkata, “Kabarkanlah kepadaku zakat apa yang Allah ‘azza wa jalla wajibkan atasku?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengabarkannya tentang syari’at-syari’at Islam. Kemudian orang itu berkata, “Demi (Allah) yang telah memuliakanmu dengan kebenaran, aku tidak mengerjakan suatu amalan sunnah dan aku tidak mengurangi apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan atasku sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar (jujur), ia akan beruntung.” Atau beliau bersabda, “Jika ia benar (jujur), ia akan masuk surga.”[3]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu  bahwa ada seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia menyebutkan hadits semakna dengan di atas dan menambahkan di dalamnya, “Haji ke Baitullah bagi yang mampu menuju ke sana.” Maka orang itu berkata, “Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia benar (jujur), sungguh, ia akan masuk surga.”[4]

Yang dimaksud oleh orang Arab Badui itu adalah bahwa ia tidak menambahkan ibadah-ibadah sunnah selain dari shalat yang wajib, zakat yang wajib, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Jadi, ia bukan bermaksud tidak mengerjakan satu pun dari syari’at-syari’at Islam dan kewajiban-kewajiban selain ibadah di atas. Hadits-hadits di atas tidak menyebutkan sikap menjauhi hal-hal yang diharamkan, karena penanya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam| tentang perbuatan-perbuatan yang memasukkan pelakunya ke surga.[5]Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi apa-apa yang diharamkan maka akan masuk surga. Dan banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa masuk surga itu dengan melaksanakan kewajiban mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala , di antaranya: diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa, beliau bersabda:

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan, ‘La ilaha illallah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah ‘azza wa jalla ) kemudian ia mati dalam keadaan seperti itu, kecuali ia masuk surga. ”

Aku (Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Meskipun ia berzina dan mencuri.” Beliau mengulanginya tiga kali, kemudian pada kali keempat beliau bersabda, “Meskipun Abu Dzar –radhiyallahu ‘anhu– tidak menyukainya.” Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pun keluar dan berkata, “Kendati Abu Dzar –radhiyallahu ‘anhu- tidak menyukainya.”[6]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah ‘azza wa jalla semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah hamba dan Rasul-Nya, bahwa ‘Isa adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala , Rasul-Nya, kalimat dan ruh (milik)-Nya yang dimasukkan kepada Maryam, bahwa surga itu benar, dan neraka itu benar, maka Allah subhanahu wa ta’ala memasukkannya ke dalam surga menurut apa yang ia amalkan. “[7]

Iklan