Nafi’ Maula Ibnu Umar Difitnah


Oleh: al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf al-Atsari -hafidzahullah-

Para orientalis dan konco-konconya telah mengarahkan bidikan untuk mencela kehormatan para sahabat, tabi’in, serta para pengemban hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mula-mula mereka mengarahkan sasaran kepada para sahabat, terutama sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau dianggap membuat-buat hadits lah, pro dengan bani Umayyah lah, dan tuduhan-tuduhan bohong lainnya.

Setelah itu mereka memperlebar sayap tuduhan kepada para imam tabi’in, terutama Imam az-Zuhri, beliau dinilai membuat-buat hadits karena hubungan dekatnya dengan bani Umayyah dan merekalah yang mendesaknya untuk membuat hadits-hadits yang sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka! Demikian pula mereka mencela Ikrimah, maula Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Di balik setiap tuduhan yang mereka lontarkan terdapat tujuan yang nyaris keji. Dengan menuding Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berarti meruntuhkan sejumlah hadits yang sangat banyak, karena beliau adalah sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits, terhitung lebih dari lima ribu hadits!! Demikian juga dengan celaan kepada az-Zuhri, berarti celaan kepada hadits secara keseluruhan, karena beliaulah orang pertama yang membukukan hadits dengan izin Khalifah Umar bin Abdul Aziz!! Adapun kepada Ikrimah, hal itu karena beliau adalah perawi hadits: “Siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah”. Maka dengan mencelanya, gugurlah hukuman bagi orang yang murtad!!

Di hadapan anda sekarang, sebuah celaan lainnya yang baru terhadap salah seorang pakar imam tabi’in yang mulia, Nafi’ maula Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Adapun pengibar bendera celaan tersebut adalah juru dakwah populer dan penulis produktif, Syaikh Muhammad al-Ghazali!!

Coba kita perhatikan bersama komentar al-Ghazali terhadap imam yang mulia ini agar anda mengetahui bagaimana adab dan akhlaqnya terhadap para imam kaum muslimin, para pengemban agama.

Dalam kitabnya yang berjudul Humun Da’iyah (hal. 111) pada sub-judul “Kekeliruan Ahli Hadits” dia mengatakan:

“Dengan kedangkalan inilah mereka meriwayatkan suatu riwayat yang kami nilai sebagai kesalahan dalam memahami maksud, seperti kesalahan Nafi’ maula Ibnu Umar tentang masalah bersenggama dengan istri dan menyerang musuh tanpa dakwah terlebih dahulu.”

Dalam kitab lainnya yang berjudul as-Sunnah an-Nabawiyyah (hal. 103) setelah menyebutkan hadits Nafi’ maula Ibnu Umar yang tercantum dalam Shahih Bukhari-Muslim tentang perang Bani Musthaliq, dia mengatakan:

 “Nafi’ -semoga Alloh mengampuninya- keliru, sebab menyeru manusia kepada Islam selalu ditegakkan di awal pembukaan dan secara terus-menerus. Bani Musthaliq tidaklah diperangi kecuali setelah sampainya dakwah pada mereka, tetapi mereka menolaknya dan memilih peperangan.

Riwayat Nafi’ ini bukanlah kesalahan pertamanya, dia memiliki kesalahan yang lebih parah dari pada ini, yaitu tatkala dia mengatakan: ‘Saya pernah memegang mushaf untuk Ibnu Umar, lalu dia membaca firman Alloh:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. al-Baqarah [2]: 223)

Ibnu Umar lalu bertanya: Tahukah engkau ayat ini turun berkaitan tentang masalah apa?! Jawabku: Tidak. Dia melanjutkan: Ayat ini turun berkaitan dengan seorang lelaki yang mendatangi istrinya pada duburnya, hal itu kemudian menjadi masalah besar, maka turunlah ayat ini’

Abdullah bin Hasan menceritakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Salim, putra Abdullah bin Umar seraya mengatakan: ‘Wahai pamanku, bagaimana sebenarnya hadits yang diceritakan Nafi’ dari Abdullah bin Umar bahwa beliau tidak menganggap masalah mendatangi istri pada dubur mereka?’ Kata Salim: ‘Dia salah, yang dikatakan Abdullah adalah: Suami mendatangi pada farji istri tetapi lewat duburnya'”

Selanjutnya, al-Ghazali berkata lagi:

“Sekalipun demikian, masih ada saja di antara kita -kaum muslimin- orang yang lupa akan semua hal ini, hanya karena percaya kepada seorang rawi yang kacau pikirannya, di mana dia menganggap bahwa dakwah kepada Islam hanyalah di awal Islam saja kemudian dihapus! Lantas siapa yang menghapusnya?!”

Jawaban:

A. MUQADDIMAH

Sebelum memasuki gerbang pembahasan, ada beberapa point terlebih dahulu yang perlu kami sampaikan kepada para pembaca tercinta untuk menyorot ucapan di atas:

1. Siapa yang Tidak Menghormati Ulama?

Syaikh Muhammad al-Ghazali sendiri pernah mengatakan dalam kitabnya Khuluq Muslim (hal. 82): “Ucapan yang indah selalu indah, baik berhadapan dengan kawan maupun lawan, dia memiliki buah yang manis rasanya. Ucapan indah bersama kawan dapat melanggengkan persahabatan dan menutup tipu daya setan yang berusaha untuk memutuskan tali persaudaraan . . . Adapun ucapan bersama lawan, maka dia dapat memadamkan kobaran api permusuhan atau paling tidak mempersempit gerak kerusakannya.”

Jadi, al-Ghazali menilai ucapan indah itu harus diberikan baik kepada lawan maupun kawan!! Kalau demikian, lantas mengapa dia tidak menerapkannya kepada seorang imam kaum muslimin?! Apakah yang anda ucapkan terhadap Nafi’ maula Ibnu Umar adalah ucapan yang indah?! Sungguh, betapa banyak omongan yang kontra dengan perbuatan!! Ingatlah sabda Rasulullah:

Mencela seorang mu’min adalah kefasiqan dan memeranginya adalah sebuah kekufuran. (HR. Bukhari 48, Muslim 116)

Seorang mu’min bukanlah pencela, pelaknat, pelaku perbuatan keji dan kotor ucapannya. (HR. Ahmad 1/405, Bukhari dalam Adab Mufrad 117, Tirmdzi 1977, dihasankan Ibnu Hibban 48, al-Hakim 1/12, dan dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah 320)

Sesungguhnya al-Ghazali telah menulis sebuah kitab tentang Akhlaq Muslim, bukankah selayaknya bagi dirinya untuk merealisasikan apa yang digoreskan oleh tangannya sendiri dalam kitab tersebut?!

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, (QS.al-Baqarah[2]:44)

Hendaknya kita bertaqwa kepada Alloh terhadap para ulama, sebab daging mereka beracun; siapa pun yang berkata jelek terhadap mereka, niscaya akan binasa!!

2..  Nafi’ [ adalah ] Imam Sekalipun Mereka Membencinya

Katakanlah pada kami: Adakah ulama ahli hadits yang menyifati Nafi’ dengan sifat-sifat yang diberikan oleh al-Ghazali?! Ataukah al-Ghazali tidak bisa memilih kata-kata yang indah sehingga harus menjuluki Nafi’ sebagai rawi yang kacau pikirannya?! Berikut beberapa ungkapan para ulama besar tentang Nafi’ agar anda mengetahui betapa bahayanya ucapan dan celaan kepadanya:

Adz-Dzahabi berkata: “Umat telah bersepakat bahwa beliau adalah hujjah secara mutlak.” (Siyar A’lam Nubala 5/101)

Ubaidullah bin Umar berkata: “Sesungguhnya Alloh telah memberikan kami nikmat berupa Nafi?’ Katanya juga: “Umar bin Abdul Aziz mengutusnya ke Mesir untuk mengajarkan hadits.” (Tahdzib Tah-dzib 10/369)