BAGAIMANA ULAMA BERIJTIHAD


Ustadz Arifin Badri

Allah subhanahu wa ta’ala  telah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Rasul dan agama Islam sebagai penutup seluruh syari’at dan agama. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs al-Ahzab/33:40)

Bukan hanya sekedar sebagai penutup, akan tetapi Islam juga menjadi standar kebenaran bagi seluruh syari’at terdahulu. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian atas kitab-kitab yang lain, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah  kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran  yang telah datang kepadamu.” (Qs al-Maidah/5:48)

Ini salah satu hikmah dijadikannya Islam sebagai agama yang wajib untuk diarnalkan oleh seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Dzat Yang jiwa (Nabi) Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorangpun dari umat ini, baik yang beragama Yahudi atau Nasrani, lalu ia mati sedangkan ia belum beriman dengan agama yang aku bawa (yaitu agama Islam), melainkan ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim no 218 )

Islam adalah satu-satunya syari’at yang wajib diamalkan dan yang dapat mewujudkan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di dunia dan akhirat. Islam adalah agama yang cocok untuk diarnalkan di setiap zaman, negeri dan tatanan masyarakat. Karena dalam syari’at Islam dijelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan umat manusia, baik urusan agama ataupun dunia. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan telah Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah din”. (Qs an-Nahl/16:89)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatu, sampai tata-cara buang air kecil dan besar. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi siapapun untuk merekayasa suatu metode atau ajaran dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau memakmurkan bumi yang kita huni ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan kami, dan tidakiah ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara, melainkan beliau tetah mengajarkan ilmu tentangnya kepada kami. Selanjutnya Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu  berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkanmu ke surga dan menjauhkanmu dari neraka, melainkan telah dijelaskan kepadamu.” (HR at-Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani)

Fakta ilmiyah ini berlaku dalam segala aspek kehidupan umat manusia.

Untuk sediklt memberikan gambaran kaitan syari’at Islam dalam berbagai masalah kontemporer; berikut disampaikan metodologi Ulama ahli ijtihad dalam melakukan studi kasus masalah-masalah tersebut.

1. Tidak Gegabah Dalam Berpikir Dan Menyimpulkan

Biasanya, bila Ulama ahli ijtihad dihadapkan kepada suatu masalah yang belum pernah terjadi, mereka bersikap ekstra hati-hati. Bahkan, pada banyak kesempatan, mereka tidak segera memberikan jawaban atas masalah tersebut. Mereka menunda jawabannya untuk beberapa hari, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mempelajarinya dengan Ulama’ ahli ijtihad lainnya:

Abu Hushain Utsman bin ‘Ashim Al-Asadi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya mereka itu sangat gegabah ketika berfatwa tentang suatu masalah, yang andaikan masalah tersebut disampaikan kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, niscaya ia segera mengumpulkan para pemuka sahabat yang ikut dalam perang Badar untuk berdiskusi. [1]

Demikianlah tradisi para Khulafaur Rasyidin ketika menghadapi berbagai masalah kontemporer. Mereka mengumpulkan Ulama ahli ijtihad dari kalangan Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, berdiskusi dan bahkan membuat pengumuman kepada masyarakat umum: “Barang siapa yang memiliki ilmu tentang permasalahan tersebut hendaknya segera menyampaikannya”.

Dikisahkan, ada seorang wanita datang kepada Khalifah Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan bahwa suaminya mati dibunuh orang lain. la meminta agar ia mendapatkan bagian warisan dari diyat (tebusan) suaminya itu. Khaltfah Umar radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku tidak mengetahui apakah engkau juga berhak mendapatkan bagian darinya?” Lalu beliau radhiyallahu ‘anhu membuat pengumuman: “Barang siapa yang mengetahui ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini, hendaknya datang menemuiku.” Maka datanglah ad-Dhahak bin Sufyan al-Kilabi, yang berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhku untuk memberikan bagian warisan istri Asyyam ad-Dhababi dari diyat suaminya.” Mendapatkan masukan ini, maka Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu segera memberikan bagian warisan wanita tersebut dari diyat suaminya. (HR. at-Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Inilah metode pertama yang harus ditempuh oleh setiap orang yang hendak memahami dan menghukumi berbagai masalah kontemporer.

2. Menguasai Hukum Syari’at

Keahlian pertama dan utama yang harus dimiliki seseorang yang hendak memahami dan menghukumi berbagai masalah kontemporer ialah penguasaan terhadap ilmu syari’at. Berbagai disiplin ilmu syari’at terkait, baik ilmu bahasa, ushul fikih, ilmu hadits dan lainnya benar-benar harus terlebih dahulu dikuasai. Apalah gunanya seseorang merenung dan berpikir tentang suatu kasus kontemporer, bila ia tidak menguasai ilmu agama. Orang itu hanya akan menyengsarakan dirinya dan juga menyesatkan saudaranya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ – مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisanmu secara dusta”ini haial dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mensada-adakan kebohonsan terhadap Allah tidaklah beruntuns, itu adalah kesenangan sedikit; sedangkan bagi mereka azab yang pedih.” (Qs an-Nahl/16:116-117)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari  para hamba-Nya, akan tetapi ia mengangkat ilmu dengan cara mematikan para Ulama’. Hingga pada saatnya nanti, Allah tidak lagi menyisakan seorang Ulama’-pun, sehingga manusia akan menobatkan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka ditanya, dan merekapun menjawab dengan tanpa ilmu,   akibatnya   merekapun   tersesat   dan menyesatkan”. (Muttafaq ‘alaih)

Tentu kita semua sepakat bahwa ilmu syari’at  tidak mungkin dapat dikuasai oleh “Ulama’ karbitan” atau “praktisi dadakan”.[2] Ulama’ karbitan atau praktisi dadakan yang dihasilkan berbagai institusi atau badan usaha, dengan melatih kadernya selama beberapa waktu, tidaklah layak untuk menjadi rujukan dalam permasalahan semacam ini. Apalagi untuk menjadi Ulama yang benar-benar berhak untuk berijtihad dalam berbagai masalah kontemporer.

Pada suatu hari Imam Malik bin Anas rahimahullah mendapati imam Rabi’ah bin Abdurrahman dalam keadaan menangis. Spontan, Imam Malik rahimahullah bertanya kepadanya: “Apa gerangan yang menyebabkan kamu menangis? Apakah engkau ditimpa musibah?” la menjawab: “Tidak, aku menangis karena adanya orang tak berilmu yang dimintai fatwa.” Lalu Imam Rabi’ah berkata:” Sungguh, sebagian orang yang berfatwa di sini lebih layak untuk dipenjara daripada para pencuri.”[3]

Ibnu Shalah rahimahullah mengomentari kisah ini dengan berkata: “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati Imam Rabi’ah, apa gerangan komentarnya andaikan ia menyaksikan perilaku masyarakat di zaman ini.”[4]

Sebagian Ulama’ menjelaskan alasan yang mendasari Ulama’ ahli ijtihad bersikap ekstra hati-hati, dengan berkata: “Barang siapa yang hendak menjawab suatu pertanyaan, maka hendaknya terlebih dahulu ia memikirkan bagaimanakah caranya ia dapat selamat di akhirat, setelahnya, barulah ia menjawab.”[5]

3. Menguasai Permasalahan Yang Dihadapi Dengan Sempurna.

Dahulu para Ulama’ berkata:

“Hukum suatu masalah adalah cabang pemahaman terhadap gambaran masalah tersebut”.

Berdasarkan ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tidaklah seorang mufti dan hakim dapat rnemberikan fatwa atau keputusan hukum dengan benar, kecuali bila ia memiliki dua jenis pemahaman: Pertama: pemahaman tentang masalah yang terjadi, dan kajian mendalam tentang hakekat sebenarnya pada kejadian tersebut. Kajian itu dapat dilakukan dengan bantuan berbagai pertanda dan indikasi yang berkaitan, hingga ia benar-benar menguasai masalah yang dimaksud. Pemahaman kedua: Memahami apa yang menjadi kewajiban dalam masalah itu, yaitu hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diputuskan dalam al-Qur’an atau melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah itu. Selanjutnya ia mencocokkan kedua jenis pemahaman ini.”[6]

“Sesungguhnya realita suatu masalah -menurut Ulama- terbagi menjadi dua bagian:

Bagian pertama : realita yang memiliki pengaruh dalam penentuan hukum syari’at. Memahami realita jenis ini merupakan suatu keharusan. Barangsiapa yang menghukumi suatu masalah, tanpa memahami realitanya, maka dia telah berbuat kesalahan. Jika suatu realita memiliki pengaruh dalam penentuan hukum, maka wajib di kuasai oleh para Ulama.