BERMAKMUM DI BELAKANG IMAM YANG SELALU MELAKUKAN QUNUT SUBUH


  1. Sehubungan dengan keumuman hadits:  “Sesungguhnya imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti”, apabila saya shalat di belakang imam yang mengerjakan qunut bid’ah (qunut Shubuh), apakah saya ikut mengangkat tangan (untuk) mengamini, atau bagaimana yang seharusnya saya
    lakukan?
  2. Dalam shalat jahr, bacaan “bismillah” pada al-Fatihah dan awal surat yang lainnya, dibaca secara jahr (keras) atau sirr (lirih/pelan)?

Thamrin Rizal (Cikarang – JABAR)

Jawab:

1. Soal pertama mencakup 3 (tiga) masalah, yaitu: (1) hadits “Dijadikan imam…”, (2) hukum qunut Shubuh, dan (3) sikap makmum di belakang imam yang selalu qunut Shubuh.

a. Hadits tersebut berbunyi:

Dijadikan Imam untuk Diikuti

Sesungguhnya dijadikan imam itu hanyalah untuk diikuti. Apabila itnam bertakbir maka bertakbirlah kamu, apabila imam rukuk maka rukuklah kamu, apabila imam sujud maka sujudlah kamu, dan apabila imam shalat dengan berdiri maka shalatlah kamu dengan berdiri pula.

Hadits di atas shahih, diriwayatkan oleh Bukhari no. 378, Muslim no. 411, Tirmidzi 361, Nasa’i 794, Abu Dawud 601, Ibnu Majah 846, Ahmad 684, Malik 306, dan Darimi 1256.

Hadits di atas menjelaskan bahwa kewajiban makmum adalah mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh imam dari gerakan-gerakan shalat yang merupakan rukun, kewajiban, dan kesunnahan di dalam shalat, serta diamnya imam.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan kewajiban (bagi makmum) untuk mengikuti imam, dan imam adalah panutan dalam perpindahan shalat dan seluruh amalan shalat, serta ucapannya. Tidak boleh (bagi makmum) menyelisihinya.” (Taudhihul Ahkam 2/245) ,

Oleh karena itu, merupakan kewajiban makmum untuk mengikuti gerakan perpindahan imam dan amalan lainnya dalam shalat yang telah ditentukan oleh syari’at. Tidak boleh bagi makmum mendahului gerakan imam.

 

b. Hukum Qunut Shubuh

Qunut Shubuh secara terus-menerus (selama-lamanya) tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang amalan yang tidak ada dasar contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti menyelisihi Sunnahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa membuat-buat (amalan ibadah yang baru) dalam urusan (agama) kami, sesuatu yang tidak ada (contohnya) dalam urusan tersebut maka ia tertolak. (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda agar umatnya mencontoh tata cara shalat beliau:

Shalat sbgm Rosul shalat

Shalatlah engkau sebagaimana engkau melihat aku shalat. (HR. Bukhari 631, 6008, 7246, dan Darimi 1253)

Adapun hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia. (HR Ahmad dalam Musnadnya no. 12196, maka hadits tersebut adalah dha’if!)

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahulloh berkata: “Hadits qunut Shubuh terus-menerus yang biasa dikerjakan oleh kaum muslimin pada setiap Shubuh itu diriwayatkan oleh imam-imam: Ahmad, Baihaqi, Daruquthni, Hakim, Abdurrazzaq dan Abu Nuaim…

Hadits di atas derajatnya lemah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Ja’far Isa bin Abu Isa ar-Razi, dia dilemahkan oleh sejumlah ulama ahli hadits di antaranya adalah Imam Ahmad, Abu Zur’ah, al-Fallas, Ibnul Madini, Ibnu Hibban, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim.” (al-Masail 1/235-236, Ust. Abdul Hakim Ab-dat, dinukil secara ringkas)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pernah) melakukan qunut dalam shalat Shubuh sesudah rukuk selama sebulan[1], kemudian setelah itu beliau meninggalkannya. Jadi bukanlah termasuk Sunnah beliau melakukan qunut pada shalat Shubuh selama-lamanya.

Dan termasuk hal yang tidak masuk akal ialah jikalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap pagi setelah i’tidal dari rukuk (selalu) berdo’a:

doa qunut

dengan mengeraskan bacaannya, serta para sahabat mengaminkannya secara terus-menerus hingga beliau meninggal dunia, sementara hal itu tidak diketahui oleh umat ini, bahkan kebanyakan umat beliau menyia-nyiakannya, begitu juga mayoritas sahabat beliau, bahkan semuanya, sehingga sampai-sampai seseorang di antara mereka ada yang mengatakan bahwa (qunut) itu adalah perkara baru, sebagaimana dikatakan oleh Sa’id bin Thariq al-Asyja’i[2]:

‘Aku berkata kepada ayahku: Wahai ayah, sungguh engkau telah pernah shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah semenjak 5 tahun. Apakah mereka melakukan qunut[3] di dalam shalat fajar (Shubuh)? Maka ia (bapakku) menjawab: Wahai anakku, (qunut Shubuh itu) adalah perbuatan yang diada-adakan[4] (bid’ah)!’ (HR. Ahlus-sunan dan Ahmad).” (Zaadul Ma’ad 1/194-195)

(Lihat pula pembahasan lebih rinci pada AL FURQON Edisi 5/ III rubrik Soal Jawab)

c. Sikap Makmum

Setelah seseorang mengetahui bahwa qunut Shubuh terus-menerus tidak ada sunnahnya, maka sikap makmum yang mendapati imamnya demikian hendaknya ia tidak mengikutinya. Adapun hadits “Dijadikan imam adalah untuk diikuti…” adalah dalam hal-hal yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang beliau memerintahkan umatnya agar menetapi sifat dan tata cara shalat seperti yang be-liau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

Seyogyanya bagi makmum -jika berilmu- untuk memberi nasehat kepada imamnya dengan cara yang baik supaya meninggalkan hal itu (qunut Shubuh terus-menerus). Jika imam mau meninggalkannya maka Alhamdulillah, jika tidak maka sebagai makmum ketika imam tengah berqunut maka ia tetap diam saja, tidak mengangkat tangan dan tidak mengaminkan qunutnya imam. Wallohu a’lam.[5]

2. Shalat jahr adalah shalat yang disunnahkan padanya untuk mengeraskan bacaan surat al-Fatihah dan surat lain setelahnya, yakni pada shalat Shubuh, dan 2 raka’at pertama shalat Maghrib dan Isya’.

Sedang pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, dan raka’at ke-3 shalat Maghrib, serta 2 raka’at akhir shalat Isya’ bacaan secara sirr (lirih atau pelan). Dalilnya adalah ijma’ kaum muslimin dengan penukilan kaum belakangan dari kaum salaf, disertai hadits-hadits yang menjelaskan hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Nawawi. (Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 107, Irwa’ al-Ghalil no. 345)

Adapun pada shalat jahriyyah maka sebagian ulama berpendapat bacaan basmalah dibaca keras (nyaring) sebelum surat al-Fatihah maupun surat-surat yang lain, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Apabila kamu membaca al-Fatihah maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena ia adalah salah satu ayatnya. (HR. Daruquthni dan ia menganggap yang betul adalah mauquf)

Dalil lain adalah hadits Nu’aim al-Mujmir, ia berkata: “Aku shalat di belakang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, maka ia membaca bismillahir-rahmanirrahim, lalu ia membaca ummul Qur’an (surat al-Fatihah) sehingga sampai waladhdhad-liin, lalu ia mengucapkan aamiin. Dia juga mengucapkan Allohu Akbar setiap kali sujud, dan jika berdiri dari duduk. Kemudian sesudah salam (Abu Hurairah) mengatakan: ‘Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku adalah orang yang paling mirip shalatnya di antaramu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah)

Namun, hadits ini diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama ahli hadits. Sebagian mereka menshahihkannya dan sebagian lain melemahkannya.

Adapun yang menshahihkannya adalah Ibnu Hajar, Nawawi, Daruquthni, Ibmi Khuzaimah, Hakim, dan Baihaqi. Sedang yang mendha’ifkannya adalah Ibnu Taimiyyah, ia berkata: “Ahli hadits telah bersepakat bahwa tidak tsabit hadits yang terang dalam mengeraskan bacaan [basmallah, ini yang mungkin beliau maksud, _adm] al-Fatihah, tetapi didapati secara jelas pada hadits-hadits palsu.” (Taudhihul Ahkam 2/40)

Berkata al-Albani tentang hadits di atas: “Sanadnya lemah.” (Dha’if Sunan Nasa’i hal. 32 no. 904)

Sedang mayoritas ulama berpendapat bahwa basmalah itu dibaca sirr (lirih) dalam shalat jahriyyah berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

Awal bacaan shalat Jahr

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa membuka shalat mereka dengan (membaca) alhamdulillaahi rabbil alamin. (HR. Bukhari 743, Muslim 399)

Dan riwayat Muslim no. 399 dengan tambahan:

bismillah dengan pelan

Aku tidak mendengar seorang pun di antara mereka membaca bismillahirrahmanirrahim.

bismillah pelan 2

Mereka tidak menyebut bismillahir-rahmanirrahim pada awal bacaan dan tidak pula pada akhirnya.

Dan dalam riwayat lain oleh Ahmad no. 12380, Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuberkata: “Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di belakang Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum mereka (semuanya) tidak mengeraskan bismillahirrahmanirrahim.

Dalam riwayat lain bagi Ibnu Khuzaimah:

biasa pelan

Mereka biasa melirihkan (memelankan bacaannya).

Tidak membacanya secara keras basmalah pada shalat jahriyyah adalah pendapat jumhur ulama, dan ini diriwayatkan dari Khulafa’ur Rasyidin serta sekelompok kaum salaf dan khalaf, dan inilah yang lebih kuat. (Lihat Taudhihul Ahkam 2/38). Wa billahit taufiq. (Abu Ahmad al-Furqani)

Sumber: majalah al Furqon ed. 9 thn. V/Rabi’u Tsani 1427 H [Mei’06], hal. 4-6


[1] Yakni qunut nazilah, yaitu mendo’akan kehancuran bagi kaum musyrikin sebagaimana dalarn hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Khatib.

[2] Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi 402, Nasa’i 1080, Ibnu Majah 1241, Ahmad 15317, 25952, 25953; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi 402, Shahih Sunan Nasa’i 1079.

[3] Qunut ialah do’a di dalam shalat sebelum rukuk atau sesudahnya.

[4] Yakni: perkara yang diada-adakan dalam agama.

[5] Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya soal yang serupa, beliau menjawab, :Ya boleh bagi ma’mum yang mengikutinya dan mengaminkan do’anya. Namun jika dia shalat di belang imam yang tidak qunut maka itu lebih utama. (Fatwa Syaikh Muhammad al-Utsaimin 1/392). Lihat pula Majmu’ Fatawa Ibmi Baz IV/293.

Iklan

One thought on “BERMAKMUM DI BELAKANG IMAM YANG SELALU MELAKUKAN QUNUT SUBUH

  1. Ping-balik: Bacaan QUNUT dalam SHALAT | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.