Cabang-cabang Kaidah: Kesulitan Membawa Kemudahan


Oleh Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Kaidah “Kesulitan membawa kemudahan” yang telah kita bahas pada edisi lalu mempunyai beberapa cabang kaidah, di antaranya:

PERTAMA

Idzaa dhooqol amru ittasama wa idza ittasama dhooqo

(Jika sebuah perkara itu tnenyempit maka akan menjadi luas, namun jika meluas maka akan jadi sempit)

Makna kaidah

Apabila terdapat sesuatu yang membuat sebuah perkara menjadi sulit maka akan mendapatkan kemudahan dan keringanan dari syari’at, namun apabila kesulitan itu sudah hilang maka hukumnya kembali seperti semula.

Dalil kaidah

Kaidah ini didasari oleh beberapa dalil, di antaranya:

1.   Firman Alloh Ta’ala:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُواْ لَكُمْ عَدُوّاً مُّبِيناً – وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُواْ أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُواْ حِذْرَكُمْ إِنَّ اللّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَاباً مُّهِيناً – فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dati mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan ycmg kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkari senjata-senjatamu, jika kamu inendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Alloh telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa [4]: 101-103)

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwasanya saat situasi menakutkan di tengah kancah medan pertempuran, maka Alloh Ta’ala membolehkan shalat dengan cara mengqashar dan mengubah tatacaranya dari semula. Namun setelah keadaan kembali tenang, Alloh kembali ‘azza wa jalla merintahkan untuk menunaikan shalat dengan sempurna seperti sedia kala.

2.   Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Abdullah bin Waqid berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan hewan   kurban  setelah   tiga  hari.” Maka Abdullah bin Abu Bakr berkata: Maka saya menyebutkan hal itu kepada Amrah lalu dia berkata: “Dia benar. Saya mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anha   berkata:  Orang-orang badui datang pada waktu hari raya ‘iedul adh-ha pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Simpanlah daging kurban kalian selama tiga hari, lalu shadaqahkanlah yang masih tersisa.’ Dan setelah kejadian itu para sahabat berkata  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:  ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya manusia menjadikan tempat minuman mereka dari hewan kurban mereka dan mereka juga mengeluarkan  minyak samin  dari daging kurbannya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘(Lho,) mengapa begitu?’ Mereka menjawab: ‘Engkau melarang memakan daging kurban setelah tiga hari’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Dulu saya larang perbuatan tersebut karena ada orang-orang badui yang datang ke Madinah saat hari raya  ‘iedul adhha, maka sekarang makanlah, simpanlah, dan shadaqahkanlah.'” (HR. Bukhari 5570, Mus-lim 1971)

Sisi pengambilan dalil dari hadits ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin agar jangan menyimpan daging kurban melebihi tiga hari tatkala kaum muslimin dalam keadaan masih sulit, juga saat orang-orang Arab badui berdatangan ke Madinah pada hari raya ‘iedul adhha; namun setelah Alloh meluaskan rizqi kaum muslimin maka hukumnya kembali semula. Oleh karena itu, Rasulullah | shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan untuk menyimpan, bershadaqah, dan memanfaatkannya seperti sedia kala.

Contoh penerapan kaidah

  • · Orang kelaparan boleh makan bangkai, namun kalau sudah hilang laparnya maka hukumnya kembali menjadi haram.
  • · Orang sakit boleh tidak berpuasa Ramadhan, namun kalau sudah sembuh maka menjadi wajib kembali.
  • ·Orang sakit boleh shalat sambil duduk, namun jika di tengah-tengah shalat sembuh maka wajib kembali berdiri.

KEDUA

Adh-Dhoruurootu tubiihul mahdhzuurooti

(Keadaan   terpaksa   membolehkan sesuatu yang terlarang)

Makna kaidah

Sesuatu yang terlarang dalam pandangan syar’i maka dibolehkan kalau dalam keadaan terpaksa.

Dalil kaidah

1— Firman Alloh:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

Sesungguhnya Alloh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. al-An’am [6]: 119)

2— Firman Alloh:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ

Tetapi barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. al-Baqarah [2]: 173)

KETIGA

Adh-dhoruurotu tuqoddaru bi qodariHa

(Sebu’ah keterpaksaan itu diukur sesuai dengan kadarnya masing-masing)

Makna kaidah

Kaidah ini pada dasarnya adalah bentuk pengkhususan dari kaidah yang kedua, yaitu meskipun sebuah keterpaksaaan itu menjadikan sesuatu yang terlarang menjadi boleh, namun itu Cuma sekedar batas keterpaksaan itu saja dan tidak boleh melebihinya. Dalam artian sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa maka cukup itu saja dan tidak boleh melebihinya.

Contoh penerapan kaidah

Kalau seseorang sakit pada daerah aurat, maka boleh bagi dokter untuk membukanya, namun sekedar tempat yang butuh diobati saja, bukan merembet pada lainnya.

KEEMPAT

Maa jaaza li ‘udzrin bathola bi zawaaliHi

(Apa yang diperbolehkan karena sebuah sebab, maka tidak diperbolehkan lagi kalau sebabnya sudah hilang)

 

Makna kaidah

Makna kaidah hampir mirip dengan kaidah sebelumnya, bahwasannya kalau terdapat sesuatu yang asalnya terlarang lalu lantaran ada sebab tertentu menjadi diperbolehkan, maka kalau sebabnya hilang berarti hukumnya kembali terlarang.

Contoh penerapan kaidah

  •  Seorang laki-laki yang diperbolehkan memakai pakaian dari sutera karena penyakit gatal yang menimpanya, maka kalau sudah sembuh wajib melepasnya.
  • Wanita yang suaminya wafat wajib tinggal di rumah selama masa iddah dan ihdad; namun kalau terpaksa keluar, misalnya untuk mencari nafkah atau untuk belanja karena tidak ada yang membelanjakan untuknya, maka diperbolehkan. Namun kalau ditemukan orang yang menanggung nafkahnya atau membelanjakan untuknya maka dia wajib tetap berada di rumah.

KELIMA

Alidhthirooru laa yubthilu haqqol ghoiri

(Keterpaksaan tidak menggugurkan hak orang lain)

Makna kaidah

Bahwa sebuah keterpaksaan yang mengharuskan seseorang untuk memakan barang yang haram, dan anggaplah bahwa barang yang haram itu milik orang lain, maka hak orang tersebut tidak gugur, namun wajib bagi si pemakan dalam keadaan terpaksa tersebut untuk menggantinya.

 

Contoh penerapan kaidah

  • · Kalau ada seseorang yang sangat kelaparan, lalu tidak menemukan makanan apa pun kecuali makanan milik orang lain, maka dia boleh memakannya, namun harus mengantinya dengan benda yang sama atau dengan harga barang tersebut.
  • · Kalau ada sebuah kapal di tengah laut hampir tenggelam karena terlalu berat muatannya, maka diperbolehkan bahkan wajib membuang benda-benda berat yang berada di dalamnya, namun bagi pemilik kapal harus menggantinya.

KEENAM

idzaa ta’adzdzaro al-ashlu yushooru ila al-badali

(Kalau hukum asalnya tidak bisa didapatkan, maka kerjakan gantinya)

Makna kaidah

Bahwa sebuah hukum yang pada dasarnya disyari’atkan oleh Alloh dan Rasul-Nya itu tidak bisa dilakukan dikarenakan oleh sebab-sebab tertentu, maka bisa dikerjakan dengan hukum lain sebagai gantinya yang telah ditentukan oleh syara’.

Dalil kaidah

Banyak sekali ayat dan hadits yang menunjukkan akan hal ini, di antaranya:

Firman Alloh Ta’ala:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Firman Alloh Ta’ala:

وَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنكُمْ طَوْلاً أَن يَنكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِن مِّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ

Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup pembelanjaannya untuk menikahi wanita merdeka lagi beriman, maka ia boleh menikah dengan wanita beriman dari budak-budak yang kamu miliki. (QS. an-Nisa [4]: 25)

Contoh penerapan kaidah

Penerapan kaidah ini hampir sama dengan beberapa kaidah sebelumnya. Wallohu A’lam.

Sumber: majalah al-Furqon edisi 9 tahun V, Robi’uts Tsani 1427 H, hal. 34-36