Hukum asal segala sesuatu adalah tetap dalam keadaannya semula, dan keyakinan tidak bisa hilang karena keraguan


Kaidah yang agung ini telah ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengadukan keadaan yang dirasakannya sewaktu shalat. Laki-laki itu merasakan sesuatu di perutnya seolah-olah telah berhadats, sehingga ia ragu-ragu apakah telah berhadats ataukah belum. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

Kentut

Janganlah dia keluar dari shalat sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya.[i]

Yaitu, janganlah ia keluar (berhenti-red) dari shalatnya disebabkan apa yang ia rasakan di perutnya

tersebut ; sampai benar-benar ia yakin telah berhadats.

Oleh karena itu, seseorang yang yakin terhadap suatu perkara tertentu, maka asalnya perkara yang diyakini tersebut tetap dalam keadaannya semula. Dan perkara yang diyakini itu tidaklah bisa dihilangkan hanya sekedar karena keragu-raguan. Adapun penerapan kaidah yang mulia ini dapat diketahui dari contoh-contoh berikut :

1 . Seseorang yang yakin bahwa dirinya dalam keadaan suci (tidak berhadats) kemudian muncul dalam benaknya keraguan apakah ia telah berhadats ataukah belum, maka pada asalnya ia masih dalam keadaaan suci, sampai ia yakin bahwa ia memang telah berhadats. Demikian pula, seseorang yang yakin bahwa ia dalam keadaan berhadats kemudian ragu-ragu apakah ia sudah bersuci ataukah belum maka pada asalnya ia tetap dalam keadaan berhadats.

2. Seseorang yang ragu-ragu terhadap air yang ada dalam suatu wadah, apakah air tersebut masih suci ataukah tidak, maka ia mengembalikan pada hukum asalnya, yaitu hukum asal air adalah suci (tidak najis), sampai muncul keyakinan bahwa air tersebut memang telah berubah menjadi tidak suci lagi karena terkena najis. Demikian pula, hukum asal segala sesuatu adalah suci. Maka kapan saja seseorang ragu-ragu tentang kesucian air, baju, tempat, bejana, atau selainya maka ia menghukuminya dengan hukum asal tersebut, yaitu asalnya suci. Oleh karena itu, jika seseorang terkena air dari suatu saluran air, atau menginjak suatu benda basah, padahal ia tidak mengetahui apakah benda tersebut suci ataukah tidak, maka asalnya benda tersebut adalah suci (tidak najis).

3.   Apabila seseorang ragu-ragu tentang jumlah rakaat dalam shalatnya, apakah sudah dua rakaat ataukah tiga raka’at, maka ia berpedoman pada keyakinannya, yaitu ia mengembalikan kepada jumlah raka’at yang lebih sedikit, kemudian ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.

4.  Seseorang yang sedang melaksanakan thawaf di Baitullah, jika ia menemui keraguan tentang jumlah putaran  yang  telah  ia  lakukan,   maka ia memutuskan sesuai yang ia yakini, yaitu kembali pada jumlah yang paling sedikit. Demikian pula seseorang yang ragu-ragu ketika melaksanakan sa’i.

5.   Seseorang yang ragu-ragu tentang jumlah basuhan ketika berwudhu, mandi wajib atau selainnya, maka   ia   berpedoman   kepada   keyakinan sebelumnya, yaitu kembali pada jumlah basuhan yang terkecil.

6.   Seorang suami yang ragu-ragu, apakah telah mentalak isterinya ataukah belum, maka pada asalnya ia belum mentalak istrinya. Dikarenakan hubungan suami istri sejak semula telah terjalin dengan keyakinan, maka hubungan tersebut tidaklah terputus hanya sekedar karena keraguan.

7.   Seorang suami yang ragu-ragu tentang jumlah talak yang telah ia ucapkan kepada istrinya, maka ia mengambil jumlah yang paling sedikit.

8.   Apabila seseorang mempunyai tanggungan untuk mengqadha’ shalat yang ditinggalkannya karena udzur, kemudian ia ragu-ragu tentang berapa jumlah shalat yang ditinggalkannya, maka ia melaksanakan shalat sampai muncul keyakinan bahwa tanggungannya telah ditunaikan. Hal ini karena kewajiban mensgqadha’ shalat telah mengikat dirinya, sehingga kewajiban itu tidaklah lepas dari tanggungannya kecuali dengan keyakinan. Demikian pula jika ia mempunyai kewajiban untuk mengqadha‘ puasa.

9.  Apabila seorang wanita ragu-ragu apakah ia telah keluar dari masa iddahnya ataukah belum, maka hukum asalnya ia masih tetap dalam masa iddah.

10. Jika timbul keraguan tentang jumlah susuan yang mengkonsekuensikan hubungan mahram antara anak susuan dengan ibu susuannya, apakah sudah lima kali susuan ataukah belum, maka yang dijadikan patokan adalah jumlah yang terkecil, sampai muncul keyakinan bahwa jumlah susuan sudah mencapai lima kali.

11. Jika seseorang melempar blnatang buruan (dengan tombak, panah atau senjata lainnya) dengan menyebut nama AUah subhanahu wa ta’ala. terlebih dahulu, kemudian setelah beberapa waktu ia menemukan binatang itu mati terkena senjatanya, namun ia lalu ragu-ragu apakah binatang itu mati karena lemparan senjatanya ataukah karena sebab yang lain, maka asalnya binatang tersebut halal untuk dikonsumsi (bukan bangkai). Karena pada asalnya tidak ada sebab lain yang mengakibatkan kematian binatang tersebut, sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang shahih.

Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang kita ragukan keberadaannya, maka hal tersebut asalnya tidak ada. Dan segala sesuatu yang kita ragukan jumlahnya, maka asalnya kita kembalikan pada bilangan yang terkecil.

Banyak sekali contoh permasalahan yang masuk dalam kaidah ini. Jika kita mau mencermati dan meneliti pembahasan dalam kitab-kitab fikih, maka kita akan mengetahui betapa besar manfaat kaidah ini. Sebagaimana kita juga akan mengetahui manfaat yang besar dari kaidah-kaidah fikih lainnya yang mengumpulkan berbagai permasalahan yang serupa dan menghukuminya dengan hukum yang sama.

Apabila seseorang menguasai kaidah-kaidah fikih tersebut, maka ia akan memiliki kemampuan untuk mengembalikan permasalahan-permasalahan kepada pokoknya dan menggabungkan perkara-perkara ke dalam kaidah yang sesuai. Wallahul Muwaffiq.

Dinukil dari Kitab Al Qawaidul wal Ushulul Jamiah, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di tahqiq Khalid bin Ali bin Muhammad al-Musyaiqih hal 57-58.

Sumber:

Majalah as-Sunnah ed. 02/ th. XIII/ Jumadil Ula 1430 H/2009 M, hal 46-47


[i] HR. Bukhari dalam Kitab Al-Wudhu’ Bab La Yatawaddha’ Min-as Syak, No. 137. Muslim dalam Kitab Al-Haidh, Bab Al-Wudhu’Min Luhumi Al-lbil, No. 361 dari Abdullah bin Zaid -radhiyallahu ‘anhu-

 

Iklan