TAFSIR ASH-SHOBUNI Dalam TIMBANGAN ULAMA


TAFSIR ASH-SHOBUNI Dalam TIMBANGAN ULAMA[1]

oleh: abu ubaidah al-atsari

Shafwah At Tafasir-500x500Bagi setsagian kalangan yang berkecimpung dalam dunia tafsir, tentu tidak asing lagi dengan kitab-kitab tafsir ash-Shabuni semisal Mukhtashar Ibnu Jarir, Mukhtashar Ibnu Katsir, dan Shafwah Tafasir. Ironisnya, kitab-kitab ini masih banyak beredar di toko-toko buku, bahkan tak sedikit sebagian kalangan menjadikannya sebagai referensi dalam pengajaran maupun tulisan; mereka tidak tahu ternyata buku-buku tersebut menyimpan racun di dalamnya.

Ulasan berikut mencoba mernberikan wawasan dan bukti-bukti otentik secara ringkas akan hal itu. Kita berdo’a kepada Alloh agar menampakkan kebenaran kepada kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengamalkannya, dan menampakkan kebatilan kepada kita serta memberikan kekuatan untuk menjauhinya. Atniin.

Para Ulama Mengkritik Muhammad Ali ash-Shabuni

Sebagai pembelaan ulama terhadap ilmu syar’i, maka bantahan dan kritikan mereka terhadap Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni mengalir sangat deras, baik berupa tulisan maupun lisan. Di antara barisan yang paling tersohor adalah Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Muhammad bin Isma’il al-Anshari, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, Syaikh Abu Bakr al-Jazairi, dan masih banyak lagi lainnya; mereka semua telah mengoreksi kitab-kitab tafsir ash-Shabuni, ternyata di dalamnya sarat dengan penyimpangan dan kesalahan yang amat parah!!

Apabila anda membaca bantahan-bantahan tersebut, niscaya anda akan heran bagaimana seorang seperti ash-Shabuni memiliki beberapa sifat tercela, di antaranya tidak memiliki amanat ilmiah, jahil, rusak aqidahnya dalam masalah tauhid asma’ wa shifat, sufi tulen, fanatik madzhab, berbohong atas ulama semisal Imam Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir dengan kedok ringkasan!!

Tidak Amanat Ilmiah

Ibnu Qayyim berkata dalam Raudhah Muhibbin (hal. 473): “Saya mendengar seorang pernah berkata kepada syaikhuna (Ibnu Taimiyyah): Apabila seorang berkhianat dalam menilai mata uang dirham, maka Alloh menghilangkan pengetahuannya tentang dirham’ Syaikh lalu mengatakan: ‘Demikian juga seorang yang berkhianat terhadap Alloh dan Rasul-Nya dalam masalah ilmu'”

Banyak sekali contoh bukti bahwa Muhammad Ali ash-Shabuni tidak amanat dalam penulisaimya. Di antaranya:

1. Ketika menafsirkan surat Shad [38]: 75

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

Alloh berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.”

Dia (ash-Shobuni) mengganti lafazh (yadayya) “dengan kedua tangan-Ku” sebagaimana dalam teks asli ucapan Ibnu Jarir dengan lafazh (bi dzaatiy) “dengan dzat-Ku”. Apa tujuannya?! Tujuannya agar tidak menetapkan sifat tersebut bagi Alloh. Dia berkata dalam Shafwah Tafasir (3/65): “Rabbnya berfirman kepadanya: Apakah yang mencegahmu dan menghalangimu untuk bersujud kepada makhluk yang Aku ciptakan dengan dzat-Ku tanpa perantara ayah dan ibu?!'”

2. Ketika menafsirkan surat Yunus [10]: 3

ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

(Dzat) yang demikian itulah Alloh, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran?!

Dia berkata dalam Mukhtashar ath-Thabari 1/573: “Inilah Rabb kalian maka ikhlaskanlah ibadah kepada-Nya dan esakanlah Dia dalam rububiyyah.” Padahal teks asli ucapan Imam ath-Thabari: “Beribadahlah kepada Rabb kalian yang ini sifat-Nya dan ikhlaskanlah ibadah kepada-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah.

Perubahan ini merupakan pengkhianatan ilmiah dari dua segi:

Pertama: Dia membuang ucapan ath-Thabari “yang ini sifat-Nya” sedangkan awal ayat ini adalah:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Alloh Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia naik/tinggi di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya.

Dengan demikian, anda tahu rahasia di balik pembuangan kata tersebut, yaitu lari dari menetapkan sifat istiwa’ (tinggi) bagi Alloh.

Kedua: Dia membuang lafazh uluhiyyah, sebab orang-orang Asya’irah tidak setuju dengan Ahli Sunnah dalam pembagian tauhid menjadi tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

3. Ketika menafsirkan surat al-Qalam [68]: 42

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.

Dalam Shafwah Tafasir (3/430) ketika menafsirkan ayat ini, ash-Shabuni membawakan hadits yang dia potong sebelumnya:

Setiap mu’min dan mu’minah sujud kepada Alloh, dan tinggal orangyang sujud di dunia karena pamer, dia ingin sujud tetapi punggungnya menjadi seperti satu kayu.

Awal hadits ini yang dipotong oleh ash-Shabuni adalah sebagai berikut:

Rabb kita menyingkap betis-Nya, lalu setiap mu’min dan mu’minah bersujud kepada-Nya.

Pemotongan ini pernah ditanyakan langsung oleh Syaikh Jamil Zainu kepada ash-Shabuni ketika bertemu di Masjid Haram Makkah, ternyata jawabnya dengan enteng: “Semua ahli tafsir mentakwil”, yakni tidak mengambil tekstual ayat dan hadits, lalu katanya pula: “Hadits yang saya inginkan, itulah yang saya cantumkan!!”

Sungguh perbuatan seperti ini adalah pengkhianatan terhadap tafsir aslinya, apalagi dia telah berjanji di awal kitab Mukhtasharnya: “Kitab ringkasan tafsir Imam ath-Thabari yang sekarang ada di hadapan pembaca budiman ini adalah Tafsir ath-Thabari sendiri, bahkan hampir semuanya adalah ucapan dia seratus persen.”

Katanya lagi: “Kami tidak membuat sesuatu yang baru, kami meringkasnya dari tafsir beliau, dan menukilnya dengan amanat dan jeli.” Namun, manakah amanat dan kejelian yang dia lakukan?!! Ataukah hal itu dia lakukan karena mengikuti arus hawa nafsunya dalam mengubah sifat-sifat Alloh?!!

Penyimpangan Dalam Aqidah

Hal yang paling berbahaya dalam kitab tafsir ash-Shabuni adalah penafsirannya yang menyimpang terhadap ayat-ayat sifat, apalagi dia membuat opini bahwa tulisannya tersebut adalah aqidah Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Katsir yang dikenal sebagai ulama salaf, padahal kewajiban bagi seorang yang meringkas kitab ulama adalah tidak menyelisihi maksud penulis pertama.

Oleh karenanya, dengan tegas kami mengumumkan bahwa kitab ringkasan Tafsir Ibnu Jarir dan Tafsir Ibnu Katsir oleh ash-Shabuni ini adalah sebuah bentuk kezhaliman terhadap kedua ulama tersebut, dan penisbatannya kepada Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir adalah penisbatan yang tidak dapat dipercaya, hanya sekedar omong kosong belaka. Berikut beberapa bukti dan contoh penyimpangannya:

1. Dalam Shafwah Tafasir 1/213 ketika menafsirkan surat Ali Imran [3]: 77

وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ وَلاَ يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Alloh tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.

Dia berkata: “Ini adalah kata kiasan dari kemarahan-Nya. Dan juga kata kiasan untuk merendahkan mereka sebagaimana dikatakan az-Zamakhsari.”

Ucapan dan penafsiran ini menunjukkan pengingkarannya terhadap sifat kalam (bicara) dan melihat bagi Alloh. Sesungguhnya pembicaraan dan penglihatan Alloh kepada orang-orang beriman di hari kiamat akan menambah kebahagiaan dan kelezafan nikmat mereka. Sebaliknya hal itu akan menambah siksa bagi orang-orang kafir.

2. Dalam Shafwah Tafasir 1/162 ketika menafsirkan surat al-Baqarah [2]: 255

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Dia (Alloh) Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Dia berkata: “Yakni ketinggian dalam kedudukan dan kekuasan.”

Penafsiran ini kurang, suatu hal yang mengisyaratkan bahwa dia mengingkari sifat ketinggian Alloh, karena Alloh tinggi dalam sifat-Nya dan juga tinggi dalam dzat-Nya, sebagaimana hal ini dipaparkan secara panjang lebar dalam kitab-kitab aqidah[2].

3. Masih dalam Shafwah Tafasir 3/335 ketika menafsirkan al-Mujadilah [58]: 1

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ

Sesungguhnya Alloh telah mendengar.

Dia berkata: “Makna mendengar yaitu mengabulkan do’anya, bukan hanya mengetahui saja.”

Penafsiran ini juga amat jauh sekali, dia melakukan hal tersebut karena tidak ingin menetapkan sifat mendengar bagi Alloh, padahal banyak sekali dalil-dalil yang menetapkan sifat tersebut.

4. Dalam banyak tempat di kitabnya Shafwah Tafasir 1/(207, 293, 476), 21(9, 22, 77, 118), 3/108 dia selalu lari dari tauhid uluhiyyah.

Misalkan, dia mengganti lafazh “tauhid ubudiyyah” dengan “tauhid rububiyyah”, mengartikan Laa Ilaha Illalloh dengan “Tiada Tuhan selain Alloh” padahal yang benar: “Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi kecuali hanya Alloh semata” … dan sebagainya dari kata-kata yang menunjukkan ketidaksetujuannya dengan pembagian ulama salaf bahwa tauhid menjadi tiga macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid ibadah, Tauhid Asma’ wa Shifat[3].

Kejahilan Dalam Hadits[4]

Tentang bidang yang satu ini, maka hal itu sangat nampak nyata dalam kitab-kitabnya. Dalam kitab Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir saja, banyak sekali dia menampakkan kejahilannya tersebut.

1. Perlu diketahui bahwa ada dua metode yang ditempuh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika mentakhrij hadits-hadits di luar Shahih Bukhari-Muslim:

Pertama: Mencantumkan hadits dengan sanad para ahli hadits yang meriwayatkannya, baik dia penulis sunan, musnad, maupun tafsir.

Kedua: Mencantumkan hadits beserta keterangan ulama yang meriwayatkannya tanpa menyebutkan sanadnya.

Pada dua metode di atas, terkadang beliau memberikan komentar tentang kedudukan hadits dan ini merupakan salah satu keistimewaan tafsirnya dan terkadang beliau diam tidak berkomentar, lebih-lebih pada metode pertama; tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut adalah shahih. Oleh karenanya, merupakan kesalahan Syaikh ash-Shabuni tatkala menilai bahwa hadits-hadits yang tidak diberi komentar oleh Ibnu Katsir berarti shahih, ketika dia mencantumkan dalam Mukhtasharnya dan pada pembukaannya hal. 9 dia mengatakan bahwa dia (Ibnu Katsir, red.) hanya menampilkan hadits-hadits yang shahih saja dan membuang hadits-hadits yang lemah dan riwayat-riwayat israiliyyat!! Semua ini hanyalah kebohongan semata.

2. Di lembar pertama kitabnya Mukhtashar Ibnu Katsir dan Shafwah Tafasir dicantumkan empat hadits dengan takhrij yang dusta lalu tertulis nama orang yang berinfaq untuk mencetak kitabnya tersebut. Hadits-hadits tersebut adalah:

a.  “Umatku yang paling mulia adalah pengemban al-Qur’an.” Tirmidzi
Padahal hadits ini tidak diriwayatkan Tirmidzi, yang benar riwayat Thabrani.

b.  “Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam al-Qur’an maka baginya kebaikan…” Bukhari
Padahal Bukhari tidak meriwayatkan, yang benar riwayat Tirmidzi.

c. “Bacalah   al-Qur’an   karena   dia kelak di hari kiamat akan memberi  syafa’at  bagi  pembacanya.” Bukhari.

Padahal Bukhari tidak meriwayatkan, yang benar riwayat Muslim saja.

d. “Aku tinggalkan bagi kalian sesuatu apabila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat…” Muttafaq ‘alaihi
Kesalahan yang fatal, yang benar riwayat Malik dalam al-Muwaththa’.

Terlepas apakah itu tulisan ash-Shabuni sendiri ataukah orang yang berinfaq tadi, tapi yang jelas itu tertulis di kitabnya. Anggaplah itu bukan tulisannya sendiri, tetapi kerelaannya untuk dicantumkan di kitabnya menunjukkan persetujuannya.

Aneh dan lucunya, dia malah mencela dan merendahkan Syaikh al-Albani, ahli hadits abad ini, di mana dia berkata tentang Syaikh al-Albani dalam kitabnya Kasyful Iftiraat (hal. 70); “Dia bukanlah apa-apa di hadapan para ahli bidang ini, dia memiliki keanehan-keanehan dalam masalah penshahihan dan kritik hadits yang membuat kening berkeringat karenanya.”

Alangkah bagusnya komentar Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid menanggapi ucapan di atas: “Ini merupakan kejahilan yang sangat dalam dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al-Albani dan perjuangannya dalam membela Sunnah dan aqidah Salaf sangat populer dalam hati para ahli ilmu. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil. Saya tidak mau memperpanjang bahasan, saya serahkan hukumnya pada saudara pembaca.” (at-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabuni fi Tafsir hal. 41)

Demikianlah penjelasan ringkas tentang kitab-kitab ash-Shabuni, sehingga menjadi perhatian bagi kita bersama. Kita memohon kepada Alloh agar memberi hidayah kepada dia dan kepada kita semua. Amiin.

­sumber: majalah al-Furqon, edisi 9 tahun V/ Robi’uts Tsani 1427 H [Mei’06], hal. 49-52

sumber gambar: http://tokobukumenarakudus.com/index.php?route=product/product&product_id=130


[1] Disarikan dari at-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabunifi Tafsir oleh Syaikh DR. Bakr bin Abdullah Abu Zaid dan Tanbihat Haammah ‘ala
Kitab Shafwah Tafasir
oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

[2] Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Ketinggian Alloh ada dua macam:

Pertama: Ketinggian sifat. Hal ini disepakati oleh seluruh orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam, termasuk Jahmiyyah dan sejenisnya.

Kedua: Ketinggian dzat. Hal ini diingkari oleh mayoritas orang yang menisbatkan kepada Islam seperti Jahmiyyah dan sebagian Asya’irah, karena para peneliti di kalangan mereka menetapkan ketinggian Dzat Alloh. Dan ketinggian tidaklah kontradiktif dengan kebersamaan Alloh bersama makhluk-Nya dengan ilmu, pendengaran, dan pengetahuan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Alloh.” (al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid 1/308)

[3] Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Pembagian ini oleh ulama salaf diisyaratkan oleh Ibnu Mandah, Ibnu Jarir ath-Thabari dan selainnya, dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, demikian pula az-Zabidi dalam Taajul Arus dan guru kami asy-Syinqithi dalam Adhwaul Bayan, semoga Alloh merahmati semuanya. Pembagian ini diambil dari nash-nash syar’i secara sempurna. Hal ini sama halnya dengan pembagian setiap ahli bidang agama, seperti para ahli nahwu yang membagi kalam Arab menjadi tiga: isim, fi’il, dan huruf. Dan tidak ada seorang Arab pun yang mencela ahli nahwu dengan pembagian tersebut. Demikian pula pembagian-pembagian lainnya.” (at-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabuni fi Tafsir hal.30)

[4] Lihat Muqaddimah Silsilah Ahadits ash-Shahihah juz 4 oleh al-Albani.

Iklan