UNTUKMU WAHAI PARA SUAMI


__________________________________ Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf -hafidzahullah-

surat dalam botolKalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera, itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang dahsyat.

Bersatunya dua insan yang punya karakteristik, latar belakang, pendidikan, mental, dan lainnya yang mungkin serba berbeda akan banyak menimbulkan banyak gesekan. Dari sinilah sebuah pertengkaran kecil, perseteruan unik dalam keluarga, sudah dianggap sebagai bumbu pelengkap kelezatan hidup dalam kebersamaan.

Namun, kalau hal itu tidak diatasi dan disikapi dengan bagus dan arif, maka yang namanya pertengkaran kecil itu akan menjadi sebuah bumerang yang terkadang bisa mengkandaskan bahtera itu sebelum sampai pada cita-cita impian bersama.

Sangat miris hati ini saat mendengar bahwa kaum ibu-ibu banyak yang memakan daging suami mereka sendiri. Banyak suasana obrolan yang seharusnya bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, malah menjadi lainnya. Terdorong untuk menasehati sesama muslim karena memang agama ini adalah nasehat, maka hati ini pun tergerak untuk menggugah dan tangan ini pun mulailah menorehkan untaian kata-kata ini. Pada awalnya saya bingung dari siapa saya harus memulai, apakah dari suami ataukah istri, karena saya yakin masalah ini tidak bisa dibebankan pada salah satu saja, namun karena saya adalah laki-laki yang juga seorang suami, maka lebih baik jika saya mulai dari jenisku sendiri, kaum suami.

Bacalah, resapilah, lalu renungkanlah mudah-mudahan ini bisa menjadi setitik obat bagi sebuah luka dan semoga rumah tangga menjadi penuh dengan berkah baik saat senang maupun susah, baik saat lapang maupun sempit.

Pahamilah Karakter Istrimu

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang Nabi nan mulia telah mengkhabarkan kepada kita kaum laki-laki tentang siapa sebenarnya seseorang yang selalu mendampingi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam sebuah gambaran yang indah beliau pernah bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berwasiatlah kalian yang baik kepada kaum wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, namunjika engkau membiarkannya maka dia akan selamanya bengkok, oleh karena itu berwasiatlah yang baik kepada wanita.” (HR. Bukhari 5168, MusIim1468)

Tahukah engkau bagaimana sebuah tulang rusuk yang bengkok? Dimana-mana tulang rusuk itu keras dan kaku, maka butuh cara tertentu untuk bisa meluruskannya. Kalau engkau meluruskannya dengan keras dan secara langsung, tidak diragukan lagi bahwa tulang itu akan segera patah. Kalau sekedar patahnya tulang tidaklah mengapa, namun kalau patahnya sebuah keluarga, maka apakah maknanya?!

Namun bukan berarti itu membuat sang suami harus menyerah beralaskan dengan bengkoknya tulang rusuk, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menandaskan bahwa kalau engkau biarkan maka dia akan selamanya bengkok. Lalu bagaimana solusinya? Perhatikanlah hadits berikut:

Dari Samurah  bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk, maka jika engkau meluruskannya niscaya engkau akan mematahkannya. Oleh karena itu, ambillah sikap mudarah, niscaya engkau akan bisa hidup dengannya.'” (HR. Ibnu Hibban 1308 dengan sanad yang shahih)

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Al-mudarah adalah bersikap basa-basi dan lunak.”

Beliau juga berkata: “Hadits ini menunjukkan akan diperintahkan bersikap mudarah kepada wanita untuk mengambil hati dan menggaet simpatinya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa cara bersikap dengan wanita harus banyak memaafkan dan bersabar akan kebengkokannya; dan barangsiapa yang menginginkan untuk meluruskannya niscaya dia tidak akan bisa hidup bersama mereka, padahal tidak mungkin ada seorang pun laki-laki yang bisa hidup tanpa wanita. Di sini seakan-akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwasanya hidup senang bersama seorang istri tidak mungkin bisa dicapai kecuali harus dengan bersabar atas kekurangannya.” (Lihat Fathul Bari 9/254 dengan sedikit perubahan)

Sikap mudarah yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mempunyai konsekuensi berikut ini:

Bukankah Seorang Muslim Itu Lembut Tutur Kata dan Sikapnya?

Bertuturlah yang lembut kepada istrimu. Kaum laki-laki saja senang dengan kelembutan kata dan ucapan, apalagi wanita yang memang diciptakan dengan segala kelemah-lembutannya?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan bagi kita semua. Camkanlah hadits berikut ini!

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukan orang keji ucapannya juga bukan orangyang suka melaknat dan mencela.” (HR. Bukhari 6046)

Dari sinilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah seorang laki-laki mu’min mencela seorang wanita mu’minah, karena jika dia tidak suka salah satu perangainya maka dia akan ridha dengan perangainya yang lain'” (HR. Muslim 1469, Ahmad 8163)

Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri:”Nikahkanlah anakmu dengan orang yang agamanya bagus, karena jika dia mencintainya maka dia akan memuliakannya sedangkan jika tidak mencintainya maka tidak akan menzhaliminya.”

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersikap lembut kepada istri-istrinya, meskipun dalam suasana yang melelahkan, semisal dalam sebuah perjalanan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Saya keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah berjalanan, dan saat itu saya masih kecil (langsing) belum gemuk, maka beliau berkata kepada para sahabat lainnya: “Berangkatlah kalian terlebih dahulu.”Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah, ayo kita lomba lari.” Maka saya pun meladeni lomba bersama beliau dan saya bisa mendahului beliau. Sehingga tatkala saya sudah menjadi gemuk, saya pun keluar lagi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya: “Majulah kalian terlebih dahulu.” Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah, kita lomba lari lagi.” Namun kali ini beliau mendahuluiku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa seraya berkata: “Ini sebagai balasan kekalahan yang dahulu.” (HR. Ahmad 6/264, Abu Dawud 2578, IbnuMajah 1979)

Sikap lembut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada tingkatan beliau membiarkan Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk bermain dengan boneka-boneka mainannya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perang Tabuk atau Khaibar dan saat itu di kamarku ada kain penutup. Lalu berhembuslah angin dan membuka bagian yang tertutupi berupa boneka-boneka kecil milik Aisyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa ini wahai Aisyah?” Aisyah menjawab: “Boneka-boneka milikku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di antaranya ada kuda yang punya dua sayap yang terbuat dari kulit, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang berada di tengah-tengah itu?” Aisyah menjawab: “Kuda.” “Lalu apa itu?” tanya Rasulullah selanjutnya. Aisyah menimpali: “Dua sayap.” Maka Rasulullah bertanya lagi: “Memangnya ada kuda yang punya dua sayap?”Maka Aisyah menjawab: “Tidakkah engkau mendengar bahwa bahwa Nabi Sulaiman punya kuda yang punya banyak sayap?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa sampai nampak gigi geraham beliau. (HR. Abu Dawud 4932, Shahih, lihat Adabuz Zifaf, 170)

Lihatlah wahai saudaraku… bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap kepada seorang istri; penuh dengan kelembutan, senda gurau, rileks, dan lainnya.

Tidak sampai di situ saja, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil teman-teman Aisyah untuk bermain boneka bersama.

Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya bermain boneka berbentuk anak wanita di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya juga mempunyai teman-teman wanita yang bermain bersamaku, dan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk maka mereka bersembunyi lalu Rasulullah mengutus mereka untuk bersamaku lalu mereka pun bermain lagi denganku.”(HR. Bukhari 6130)

Apakah Istrimu Lebih Baik Daripada Ummahatul Mu’minin ?

Saya sangat heran kepada sebagian ikhwan yang tatkala sebelum menikah dia membayangkan bahwa kalau nantinya dia sudah menikah dengan seorang akhwat yang banyak belajar agama, maka hidupnya hanya akan berisi ketentraman dan keindahan tanpa adanya pertengkaran, keributan, dan lainnya.

Ada yang sering mereka katakan: Bukankah para akhwat itu tahu bahwa seorang istri yang shalihah adalah kalau dilihat oleh suami maka akan menyenangkannya, kalau diperintah oleh suami maka akan menaatinya, kalau ditinggal pergi oleh suami maka dia akan menjaga diri dan hartanya, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Untuk ikhwan semacam itu saya katakan: Apakah istri anda lebih bagus daripada para wanita sahabat bahkan lebih bagus daripada para Ummahatul Mu’minin?

Apakah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbebas dari permasalahan rumah tangga? Lihatlah, bukankah telah terjadi perceraian di kalangan para sahabat? Bukankah sampai terjadi khulu’ (tuntutan cerai dari pihak istri) di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bertengkar dengan istrinya selama sebulan penuh? Dan bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceraikan Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha meskipun kemudian beliau merujuknya kembali?

Wallohi, seseorang yang menginginkan kehidupan semacam itu, saya khawatir kekecewaannya akan menjadi sangat besar dan lukanya akan menjadi sangat lebar?

Perhatikanlah,ya akhi riwayat berikut ini:

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu datang minta izin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menemukan para sahabat sedang duduk-duduk di pintu rumah beliau, mereka tidak diizinkan masuk namun Abu Bakr diizinkan masuk. Ternyata beliau menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk terdiam, dan di sekitar beliau ada istri-istrinya. Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu pun datang dan beliau diizinkan masuk sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun masih duduk terdiam. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata:”Wallohi, saya akan membuat Rasulullah tertawa.” Maka beliau berkata: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu seandainya putrinya Kharijah (istri Abu Bakr) minta nafkah kepadaku, namun saya malah bangkit dan menohok lehernya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun tertawa seraya berkata: “Sebagaimana engkau lihat, semua istriku minta tambahan nafkah kepadaku.”Maka Umar radhiyallahu ‘anhu pun bangkit dan menohok leher Hafshah radhiyallahu ‘anha, begitu pula Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Keduanya berkata: “Mengapa kalian minta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang tidak beliau punyai?” Mereka berdua menjawab: “Wallohi, kami tidak minta yang tidak beliau punyai.”Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan diri dari mereka selama satu bulan, kemudian turunlah firman Alloh:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحاً جَمِيلاً – وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْراً عَظِيماً

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka ‘marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Alloh dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Alloh menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab [33]: 28-29)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memulainya dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Saya ingin menyampaikan kepadamu sebuah perkara, jangan tergesa-gesa memutuskan sebelum engkau minta pendapat kedua orang tuamu.” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Apa itu wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, lalu Aisyah berkata:”Apakah mengenai engkau saya harus minta pendapat kedua orang tuaku? Bahkan saya pilih Alloh, Rasul-Nya dan kampung akhirat, tapi saya mohon kepada engkau agar jangan bilang pada satu pun istrimu dengan jawabanku ini.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: “Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bertanya mengenai ini kecuali akan aku jawab, karena saya tidak diutus oleh Alloh untuk menyulitkan namun Alloh mengutusku untuk mengajar dan membuat kemudahan.”(HR.Muslim 1478)

Lihatlah Fathimah radhiyallahu ‘anha binti Rasulullah, kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan penghulu wanita ahli surga, namun lihatlah kasus ini:

Dari Sahl bin Sa’d berkata: Nama yang paling dicintai Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah AbuTurab (Bapak tanah) dan dia sangat senang kalau dipanggil dengan nama itu. Karena suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Fathimah radhiyallahu ‘anha namun beliau tidak menemukan Ali di rumah, lalu Rasulullah bertaya: “Di mana sepupumu (Ali)?” Fathimah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Kami sedang ada masalah, lalu dia marah kepadaku, kemudian dia keluar dan tidak tidur siang di rumah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada seseorang: “Cari tahu di mana dia.” Maka orang itu pun datang seraya berkata: “Wahai Rasulullah, Ali tidur di masjid.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang dan saat itu baju beliau terjatuh ke tanah, maka beliau pun kena tanah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusapnya dan mengatakan: “Bangun wahai Abu Turab, bangun wahai Abu Turab.” (HR. Bukhari 6280, Muslim 24^39)

Ini hanya dua kasus sekian banyak yang ada yang terjadi pada zaman yang mulia dan dilakoni oleh orang-orang mulia, apakah engkau bisa mengambil pelajaran darinya?

Belum Tentu Itu Kewajiban Mereka

Memasak, menyapu rumah, mencuci piring, mencuci ompol anak sudah menjadi kelaziman umum bahwa itu tugas istri, saya tidak hendak membahas masalah ini, karena ada tempatnya tersendiri, yang di situ insya Alloh anda akan mengetahui bahwa para ulama berselisih tajam apakah semua itu tugas istri ataukah suami, namun anggaplah kita ambil pendapat yang mengatakan bahwa itu semua adalah tugas istri di rumah, namun apakah dengan begitu maka berarti seorang suami lepas tangan seraya berkata: “Itu ‘kan tugas dan tanggung jawabmu, tugasmu adalah tugasmu dan tugasku adalah tugasku.” Kemudian dengan alasan semacam itu, maka selama suami berada di rumah sepulang kerja atau hari libur maka seakan-akan itu adalah waktu istirahat total yang tidak boleh diganggu?

Wallohi, tidak wahai saudaraku!!! Lihatlah panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang sangat sibuk mengurusi dakwah sekaligus mengurusi umat, bagaimanakah beliau dalam rumahnya?

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kepada kita apa yang beliau kerjakan: Ibrahim bin Aswad bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:”Apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat bersama keluarganya? Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau mengerjakan pekerjaan keluarganya, lalu apabila tiba waktu shalat beliau keluar rumah untuk shalat.” (HR. Bukhari 6039)

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjahit bajunya sendiri? Bukankah para sahabat Rasulullah juga melakukan hal yang sama?

Akhil Aziz, mengaji, ta’lim, kerja kantor, dan lainnya adalah sebuah kewajiban, namun mengurusi keluarga juga sebuah kewajiban; orang bijak adalah yang bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Lihatlah hadits Hanzhalah berikut ini:

Dari Hanzhalah al-Usayyidi radhiyallahu ‘anhu (beliau adalah salah satu penulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bertemu denganku lalu berkata: “Bagaimana khabarmu wahai Hanzhalah?” Saya menjawab: “Hanzhalah telah munafiq.” Berkata Abu Bakr: “Subhanalloh, apa yang barusan engkau katakan tadi?” Saya menjawab: “Kalau kita sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mengingatkan kita akan neraka dan surga seakan-akan kita melihatnya secara langsung,namun apabila kita pulang kita tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan, maka banyak yang kita lupakan.” Maka Abu Bakr berkata: “Wallohi, saya pun demikian.” Maka saya dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah munafiq.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Mengapa gerangan?” Sayajawab: “Wahai Rasulullah, kalau kami sedang bersamamu, engkau ingatkan kami akan neraka dan surga maka seakan-akan kami melihatnya secara langsung, namun apabila kita pulang lalu kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan maka kami banyak lupa.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap seperti saat kalian bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian saat di tempat tidur maupun di jalanan, akan tetapi wahai Hanzhalah, sekali tempo, sekali tempo (tiga kali).” (HR. Muslim 2750)

Kalau beribadah terus-menerus, puasa terus-menerus, shalat terus-menerus dengan meninggalkan keluarganya saja dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagaimana dengan lainnya?

Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kepada kita tentang kisah antara Utsman bin Mazh’un dengan istrinya, beliau berkata: Datang kepadaku Khuwailah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi as-Sulmiyah, dan dia adalah istri Utsman bin Mazh’un, lalu Rasulullah melihat lusuhnya penampilah Khuwailah. Maka beliau bertaya: “Wahai Aisyah, alangkah lusuhnya penampilan Khuwailah.’ Maka saya menjawab: “Wahai Rasulullah, dia itu bagaikan seorang wanita tak bersuami, karena suaminya selalu berpuasa pada waktu siang dan selalu shalat pada waktu malam, maka dia itu seakan-akan tidak punya suami, oleh karena itu dia biarkan dirinya dan tidak diurus.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengirim utusan memangil Utsman bin Mazh’un, maka dia pun datang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya: “Wahai Utsman, apakah engkau membenci sunnahku?” Dia menjawab: “Demi Alloh, tidak wahai Rasulullah, bahkan sunnahhmu lah yang saya cari.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Namun saya tidur dan shalat, puasa dan berbuka, dan saya juga menikah dengan wanita. Takutlah engkau kepada Alloh wahai Utsman, karena keluargamu mempunyai hak yang harus engkau penuhi,tamumu pun mempunyai hak yang harus engkau penuhi, dan dirimu juga mempunyai hak yang harus engkau tunaikan, maka puasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah.” (HR. Ahmad 26.839 dengan sanad shahih)

Hargai dan Jangan Cari-cari Kesalahan

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari masjid lalu datang ke rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha dan bertanya: “Wahai Aisyah, adakah makanan?” Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Tidak ada makanan apa-apa wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Kalau begitu saya puasa.” (HR. Muslim 1451)

Terkadang banyak masalah kecil yang bisa memicu permasalahan suami istri. Makanan misalnya, mungkin seorang istri sudah bersusah payah memasak sambil momong anak, namun tatkala suami datang dan mencicipi makanan, lalu dengan enteng dia mengatakan: “Masakannya nggak enak”, “Masak sayur kok rasanya begini”, … atau kata yang senada, tentu akan sangat menyakitkan. Mengapakah kita tidak berusaha meniru jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta lauk kepada keluarganya, namun mereka mengatakan: “Kita tidak punya apa-apa kecuali cuka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memintanya dan beliau makan dengannya, seraya berkata: “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”(HR. Muslim 2052)

Benarkah bahwa cuka adalah sebaik-baik lauk? Tentu semua orang mengatakan tidak, karena daging, keju, dan lainnya jauh lebih baik, namun mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal itu kepada istrinya?

Di antara yang bisa ditangkap adalah untuk menyenangkan, menghargai, dan tidak melukai hatinya. Bukankah beliau yang mengajarkan untuk tidak mencela makanan?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika beliau senang maka beliau makan, namun jika tidak maka beliau tinggalkan.” (HR. Bukhari 5409, Muslim 2046)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita kalau pulang dari perjalanan agar jangan pulang mendadak, tapi harus terlebih dahulu memberitahukan kedatangannya.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian pergi lama, maka janganlah dia pulang mendadak pada waktu malam.”(HR. Bukhari 5244)

Ada apakah gerangan? Jawabnya, supaya tidak membuka jalan bagi suami untuk mencari-cari kesalahan si istri, atau mungkin agar suami tidak melihat istrinya dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

Dalam Kisah Mereka Terdapat Pelajaran

Syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuli dalam Tuhfatul Arus menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik.

Ada seorang laki-laki yang datang kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Saya sudah tidak lagi mencintai istriku.” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu  berkata: “Sesungguhnya sebuah rumah tangga itu tidak cukup dibangun berdasarkan cinta saja.”

Engkau benar wahai Amirul Mu’minin, memang tidak selamanya dengan cinta, namun ada pengorbanan, terdapat pengabdian, serta ditemukan perjuangan.

Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir menyebutkan sebuah judul yang unik dan menarik: “Bagaimana engkau bersikap kepada istri yang tidak engkau cintai”. Ada banyak kisah yang beliau ceritakan, namun saya petik salah satu di antaranya:

Ada seseorang yang bertanya kepada Abu Utsman an-Naisaburi: “Apakah amal perbuatanmu yang paling engkau harapkan pahalanya?” Dia menjawab: “Dahulu saat saya masih remaja, keluargaku sangat bersemangat menikahkanku namun saya menolak, kemudian datanglah kepadaku seorang wanita dan berkata:’Wahai Abu Utsman, saya mencintaimu, dan saya mohon atas nama Alloh agar engkau menikahiku.”‘

Berkata Abu Utsman: “Lalu saya pun mendatangi bapaknya, ternyata dia itu orang fakir, lalu dia menikahkan aku dan dia sangat gembira. Lalu saat istriku masuk menemuiku ternyata dia itu wanita yang sangat jelek, namun cara pergaulannya kepadaku membuatku tidak bisa keluar, maka saya pun tetap berada di tempat dan saya tidak menampakkan kebencian padanya, meskipun sebenarnya hatiku seperti berada di atas tungku api karena memendam kebencian padanya. Saya tetap melakukan itu semua selama lima belas tahun sehingga dia meninggal dunia, oleh karena itu tidak ada amal perbuatan yang paling saya harapkan pahalanya melainkan saat aku menjaga perasaan hatinya.”

Akhir kalam

Tiada kata yang paling pantas untuk kujadikan penutup nasehat ini kecuali sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

Orang mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. (HR. Ahmad 2/472 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih)

Wallohul Muwaffiq, Wallohu A’lam.

Sumber: majalah al Furqon ed. 9 th. 5/ Rabi’uts Tsani 1427 H [Mei’ 06], hal. 56-61

ilustrasi gambar: http://adiospunk.wordpress.com/2011/07/19/saatnya-cinta-tak-lagi-mengirimkan-berita-untuk-kekasihnya/