Peringatan HAUL, Tradisi Islami?


Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

MUOODDIMAH

koverAcara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian seseorang. Awalnya, acara ini biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun di hari kematian si mayit atau yang masyhur dikenal dengan “haul” yang berarti “tahun” dalam bahasa Arab.

Perayaan haul dengan berbagai variasi acaranya cukup memukau banyak kalangan, dihadiri oleh para tokoh agama dan petinggi daerah. Masyarakat pun berjubel-jubel antusias menghadirinya dengan berbagai macam keyakinan dan tujuan hingga tanpa disadari acara ini seakan menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya diasingkan dari masyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, acara tersebut seolah-olah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah atau wajib dikerjakan, dan sebaliknya bid’ah dan salah bila ditinggalkan.

Hal yang sangat mengherankan adalah kurangnya usaha banyak orang untuk mencari kebenaran tentang status hukum perayaan ini ditinjau dari sudut pandang syari’at Islam yang mulia. Oleh karena itu, penting sekali adanya penjelasan secara ilmiah dan komprehensif tentang masalah yang menjadi pro dan kontra ini sehingga tidak menyisakan celah-celah perdebatan dan keraguan pada masyarakat kaum muslimin tentang hakikat perayaan ini. Berikut ini adalah usaha sederhana dari hamba yang lemah ini untuk mengupas masalah ini. Semoga bermanfaat.

ISLAM TELAH SEMPURNA

Di antara rakmat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada umat ini adalah disempurnakannya agama ini sebagaimana dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu. (QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini merupakan kenikmatan Alloh yang terbesar kepada umat ini, di mana Alloh telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan (tidak membutuhkan) nabi selain nabi mereka. Oleh karena itu, Alloh menjadikannya sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Maka tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang beliau haramkan, tidak ada agama selain apa yang beliau syari’atkan, dan setiap apa yang beliau beritakan adalah benar dan jujur, tiada kedustaan di dalamnya.”

Tidaklah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia ini melainkan telah meninggalkan kaum muslimin dalam jalan yang terang-benderang, malamnya seperti siangnya. Semua permasalahan yang dibutuhkan oleh hamba telah dijelaskan dalam syari’at Islam, hingga permasalahan yang dipandang remeh oleh kebanyakan manusia seperti adab buang hajat.

Dengan sempurnanya Islam, maka segala perbuatan bid’ah dalam agama dinilai sebagai kelancangan terhadap syari’at dan ralat terhadap pembuat syari’at bahwa masih ada permasalahan yang belum dijelaskan. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah mengeluarkan perkataan emas tentang ayat ini. Beliau berkata:

“Barang siapa melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik (bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena Alloh Ta’ala berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.’ Karena itu, apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga  tidak termasuk agama. [1]

PERAYAAN DALAM ISLAM

Ketahuilah— wahai saudaraku— bahwa perayaan tahunan dalam Islam hanya ada dua macam, Idul Fitri dan Idul Adha, berdasarkan hadits:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang-senang (bergembira) sebagaimana di waktu jahiliah, lalu beliau bersabda, ‘Saya datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang sebagaimana di waktu jahiliah. Dan sesungguhnya Alloh telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, Idul Adha dan Idul Fitri. “[2]

Hadits ini menunjukkan bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin umatnya membuat-buat perayaan baru yang tidak disyari’atkan Islam. Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah, “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita, tetapi berdasakan syari’at dan dalil.”[3]

Beliau juga berkata, “Tidak disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk membuat perayaan kecuali perayaan yang diizinkan syari’at yaitu Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari tasyriq — ini perayaan tahunan, dan hari Jum’at — ini perayaan mingguan. Selain itu, menjadikannya sebagai perayaan adalah bid’ah dan tidak ada asalnya dalam syari’at.”[4]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Perayaan dalam Islam itu terbatas dan diketahui. Hal ini sesuai dengan kaidah syari’at bahwa ibadah itu harus sesuai dengan dalil sehingga tidak boleh beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan. Dan hal ini juga berdasarkan kaidah haramnya berbuat bid’ah dalam agama. Dan sesuai dengan kaidah haramnya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam hal-hal yang khusus bagi mereka, baik berupa ucapan, perbuatan, mode dan sebagainya”[5]

Adapun perayaan dan peringatan pada zaman sekarang, maka tak terhitung jumlahnya, baik di negeri muslim apalagi di negeri non muslim. Lihatlah, betapa banyak perayaan yang diselenggarakan di kuburan, petilasan, tokoh, negara, dan sebagainya dari perayaan-perayaan yang tidak diizinkan oleh Alloh. Di India misalnya, berdasarkan penelitian penduduk di sana memiliki 144 hari perayaan pada setiap tahunnya.[6]

GAMBARAN SEPUTAR PERAYAAN HAUL

Sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut, alangkah baiknya kita mengetahui gambaran perayaan haul secara singkat agar kita memahami masalah ini dengan baik:[7]

Definisinya

Haul yang sering disebut dengan khol adalah berasal dari kata Arab “haul” yang artinya secara bahasa adalah “tahun”. Adapun yang dimaksud dengan perayaan haul sebagaimana yang lazim berjalan di masyakat tanah air ialah acara peringatan hari ulang tahun kematian.

Waktu dan tempat

Acara ini biasanya diselenggarakan di halaman kuburan mayit yang diperingati atau sekitarnya, tetapi ada pula yang diselenggarakan di rumah, masjid, dan lain-lain. Adapun waktunya, biasanya diselenggarakan tepat pada hari ulang tahun wafat mayit yang diperingati, yang lazimnya tergolong orang yang berjasa kepada Islam dan kaum muslimin semasa hidupnya. Acara ini biasanya berlangsung sampai tiga hari tiga malam dengan aneka variasi acara.

Dan bagi yang diselenggarakan secara pribadi, biasanya hanya secara sederhana dengan memakan waktu beberapa saat dengan sekadar penyelenggaraan acara tahlilan dan hidangan makan sesudahnya.

Suasana acara

Apabila acara haul ini untuk seorang yang berpengaruh besar di masa hidupnya, maka biasanya diselengarakan besar-besaran dengan dibentuk panitia lengkap dengan bagian-bagiannya.

Acara tersebut berjalan dengan meriah dengan berbagai acara seperti tilawah al-Qur/an, bacaan tahlil secara massal dengan selingan acara kesenian seperti seni hadhroh (pemukulan rebana dengan bacaan sholawat Nabi).

Dan di sepanjang jalan dalam jarak beberapa ratus meter dari pusat penyelenggaraan acara, biasanya penuh dengan aneka macam stan penjualan berbagai macam barang dagangan dan berbagai rupa makanan, di samping penjualan mainan anak-anak yang menambah semaraknya suasana sehingga situasi pada hari-hari tersebut sangat meriah, tak ubahnya seperti pasar malam.

Maksud dan tujuan acara

Maksud penyelenggaraan acara ini antara lain untuk kirim pahala bacaan ayat-ayat suci al-Quran dan bacaan-bacaan lainnya di samping juga untuk tujuan seperti tawassul, tabarruk (ngalap berkah), istighotsah, dan pelepasan nadzar kepada si mayit.

Disebutkan bahwa tujuan inti dari acara tersebut diadakan adalah dalam rangka mengenang sejarah atau biografi seorang yang ditokohkan. Oleh sebab itu, momentum haul selalu dinanti dengan tujuan, menapaktilasi dan meneladani rekam jejak perjuangan orang yang di-haul-i.

SEJARAH PERAYAAN HAUL

Ketahuilah wahai saudaraku—semoga Alloh ‘azza wa jalla memberikan kepahaman kepadamu— bahwa perayaan haul ini tidaklah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Perayaan tersebut tidak pula dikenal oleh imam-imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i. Karena memang perayaan ini adalah perkara baru dalam agama Islam. Adapun yang pertama kali mengadakannya adalah kelompok Rofidhoh (Syi’ah) yang menjadikan hari kematian Husain pada bulan Asyuro yang telah diingkari oleh para ulama.

Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah, “Adapun menjadikan hari Asyuro sebagai hari kesedihan (ratapan) sebagaimana dilakukan oleh kaum Rofidhoh karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Alloh dan rosul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?”[8]

Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perkawinan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu dengan putri beliau, Fatimah binti Rosulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Husain sangat dicintai oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, apa pun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak boleh menjadi alasan untuk bertindak melanggar aturan syari’at dengan memperingati hari kematian Husain!! Sebab, peristiwa terbunuhnya orang yang dicintai Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum Husain juga pernah terjadi, seperti terbunuhnya Hamzah bin Abdil Mutholib radhiyallahu ‘anhu, dan hal itu tidak menjadikan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhuma mengenang atau memperingati hari terjadinya peristiwa tersebut sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syi’ah untuk mengenang terbunuhnya Husain!![9]

Apalagi kalau kita telusuri bersama, sejatinya perayaan kematian seperti ini adalah berawal dari kepercayaan-kepercayaan nonmuslim tentang kembalinya arwah-arwah mayit sehingga perlu dibuatkan sajen-sajen. Tentu saja, kepercayaan-kepercayaan tersebut adalah batil menurut pandangan syari’at Islam.[10]

HUKUM PERAYAAN HAUL

Menghukumi sesuatu ini boleh atau tidak bukanlah perkara yang amat mudah. Tidak boleh kita gegabah dalam menghukumi, apalagi tentang permasalahan ini yang sudah mendarah daging di masyarakat hingga saat ini. Marilah kita tinggalkan semua fanatisme golongan, hawa nafsu, dan adat yang tidak berdasar. Marilah kita kembalikan semua perselisihan kepada al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Alloh:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’ [4]: 59)

Setelah kita mengembalikan masalah ini kepada al-Qur’an dan Sunnah, ternyata tidak kita dapati satu pun dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perayaan ini. Demikian juga kita tidak mendapati bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan para ulama/ imam salaf mengadakan perayaan haul, sehingga jelaslah bagi orang yang hendak mencari kebenaran dan jauh dari kesombongan bahwa perayaan maulid Nabi adalah perbuatan yang tertolak. Sekali lagi, janganlah standar kita adalah kebanyakan orang tetapi jadikan standar hukum kita adalah al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa argumen yang menguatkan batilnya perayaan haul ini sebagai berikut:

Pertama:

Seandainya perayaan ini disyari’atkan, tentu akan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafatnya karena Alloh telah menyempurnakan agama-Nya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu. (QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Kedua:

Seandainya perayaan ini merupakan bagian agama yang disyari’atkan, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskannya kepada umat, maka itu berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam | berkhianat. Hal ini tidak mungkin karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah Alloh dengan amanah dan sempurna sebagaimana disaksikan oleh umatnya dalam perkumpulan yang besar di Arafah ketika haji wada’:

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu tentang kisah hajinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah beliau berkhotbah di Arafah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian akan ditanya tentang diriku, lantas apakah jawaban kalian? ” Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan, dan menasihati.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit dan mengisyaratkan kepada manusia, “Ya Alloh, saksikanlah, ya Alloh saksikanlah, sebanyak tiga kali.”[11]

Ketiga:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim: 3243)

Hadits ini dan yang semakna dengannya menunjukkan tercelanya bid’ah dalam agama sekalipun dianggap baik oleh manusia. Dan perayaan haul termasuk perkara yang bid’ah dalam agama karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Keempat:

Seandainya perayaan ini disyari’atkan, niscaya tidak akan ditinggalkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan para generasi utama yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sebaik-baik manusia adalah masaku.” (HR. al-Bukhori: 3651, Muslim: 2533)

Seandainya perayaan haul ini baik, tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita karena mereka jauh lebih bersemangat dalam melaksanakan kebaikan dari pada kita.

Kelima:

Perayaan haul termasuk acara slametan (selamatan, Jawa) kematian/tahlilan yang dilarang dalam hadits dan pendapat ulama dari berbagai madzhab.

Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Kami (para sahabat) menganggap (dalam riwayat lain berpendapat) bahwa berkumpul-kumpul kepada ahli mayit dan membuat makanan setelah (si mayit) dikubur termasuk kategori  niyahah (meratapi).”[12]

Dan para ulama dari berbagai madzhab telah menegaskan tentang bid’ahnya acara kematian baik 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya atau i.ooo harinya, atau setahunnya. Dan yang paling tegas mengingkari bid’ahnya acara kematian tersebut adalah ulama-ulama madzhab Syafi’i.[13] Di antaranya al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Dan saya membenci berkumpul-kumpul (dalam kematian) sekalipun tanpa diiringi tangisan karena hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memberatkan tanggungan (keluarga mayit) serta berdasarkan atsar (hadits) yang telah lalu. “[14]

Ucapan al-Imam asy-Syafi’i di atas sangat jelas menunjukkan bahwa beliau melarang peringatan kematian/slametan/tahlilan/haul karena tiga alasan:

  1. Mengingatkan kembali rasa kesedihan
  2. Menyusahkan diri
  3. Hadits yang menegaskan bahwa hal itu termasuk meratapi mayit.

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN PERAYAAN HAUL

Perayaan haul ini di samping tidak ada ajarannya dalam agama Islam, juga banyak mengandung kemungkaran-kemungkaran yang bertentangan dengan syari’at. Bila demikian keadaannya, maka mungkinkah syari’at Islam yang mulia ini menganjurkan atau membolehkannya?!!

1. Ghuluw

Dalam perayaan haul terdapat wasilah ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang sholih dan tempat-tempat keramat[15], sehingga berdo’a dan memohon pertolongan kepada selain Alloh, bertabarruk (ngalap berkah) yang keliru[16], dan keyakinan-keyakinan keliru lainnya. Firman Alloh:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 171)

Ayat ini, sekalipun ditujukan kepada ahli kitab, maksudnya adalah untuk memberikan peringatan kepada umat ini agar menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan murka Alloh kepada umat-umat sebelumnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sikap berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. “[17]

2. Perayaan di kuburan

Bila perayaan ini diselenggarakan di area pekuburan maka terjatuh dalam larangan menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai ‘id (perayaan) dan bersholawatlah kamu kepadaku karena sholawat itu akan sampai kepadaku di mana pun kamu berada. “[18]

Jika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburannya dijadikan sebagai tempat hari raya, haul, atau tempat kunjungan beramai-ramai, bagaimana dengan kuburan selainnya?!! Tentu saja lebih dilarang juga.[19]Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah al-Baqoroh.” (HR. Muslim: 1300)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat untuk beribadah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk membaca al-Qur’an di rumah dan melarang menjadikan rumah sebagai kuburan yang tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya.[20]

3. Ratapan kepada mayit

Perayaan kematian ini termasuk meratapi mayat sebagaimana dalam hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu di atas. Sementara itu, meratapi mayit hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama. Meratapi juga termasuk perkara jahiliah dan dosa besar[21], karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam pelakunya dengan adzab[22]. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Semua itu adalah haram dan termasuk perkara jahiliah tanpa ada perselisihan ulama.”[23]

Di antara hikmah di balik larangan ini adalah karena hal itu menyalakan kembali api kesedihan. Dikisahkan bahwa Ibnu Aqil —seorang ulama— pernah mengantarkan jenazah putra kesayangannya yang bernama Aqil. Tatkala berada di kuburan, ada seorang berteriak seraya membacakan firman Alloh:

قَالُواْ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَباً شَيْخاً كَبِيراً فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Mereka berkata, “Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara Kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik. ” (QS. Yusuf [12]: 78)

Mendengar hal itu, Ibnu Aqil rahimahullah berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan untuk menenangkan kesedihan, bukan untuk menyalakan kesedihan.”[24]

4.  Pemborosan dan memberatkan diri

Islam adalah agama yang mudah. Namun, sebagian orang mempersulit diri sendiri dan menyusahkan diri sendiri dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit guna mengadakan perayaan ini, baik karena malu atau takut celaan masyarakat, dan kadang untuk bergaya, sehingga terjatuh dalam pemborosan dan mengamburkan harta secara sia-sia. Tahukah anda bahwa pada sebagian peringatan haul besar bisa sampai mengeluarkan dana ratusan juta?!! Bukankah sebaiknya jika dishodaqohkan kepada fakir miskin atau kebutuhan yang bermanfaat lainnya?! ! Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Robbnya. (QS. al-Isro’ [17]: 27)

5. Ikhtilath

Suatu yang tidak dipungkiri lagi bahwa perayaan haul tidak sepi dari kemungkaran seperti ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, merokok, dan lain sebagainya.[25]

SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Pembahasan tentang upacara kematian ini sebenarnya cukup luas dan syubhat-syubhat tentangnya juga cukup banyak.[26] Namun, di sini saya akan mencantumkan satu syubhat secara khusus tentang acara peringatan haul yang dijadikan dalil oleh sebagian orang yang merayakannya. Berikut kutipan ucapan mereka:

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di Bukit Uhud pada setiap tahun. Demikian juga para sahabat:

AI-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya disana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fanl’ma uqbad daar” QS Ar-Ra’d: 24 Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.

Lanjutan riwayat:

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salatn kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para saha-batnya lalu berkata, “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

Demikian dalam kitab Syarah Al-lhya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far AI-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke makam Sayidina Hamzah yang ditradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.[27]

 

JAWABAN:

Sebetulnya syubhat seperti ini sangat nyata sekali kelemahannya, maka izinkanlah kami memberikan komentar terhadap syubhat ini:

1. Kami telah mengecek kitab Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi, bahkan kami juga melacaknya melalui program “Maktabah Sya-milah” yang menghimpun ribuan kitab, namun sayangnya hadits dengan redaksi di atas tidak kami temukan. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat, kami berharap kepada saudara kami yang membawakan hadits di atas untuk mencantumkan sumbernya secara jelas juz dan halamannya, agar kita lihat sanad hadits ini, sebab bila tanpa sanad, maka semua orang bisa berbicara, sebagaimana kata al-Imam Ibnul Mubarok rahimahullah.

2. Kalau kita cermati nukilan di atas, kita akan merasakan kejanggalan, bagaimana al-Waqidi langsung meriwayatkan dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau (al-Waqidi) wafat tahun 207 H. Berarti ada mata rantai sanad yang terputus. Apalagi, al-Waqidi telah dilemahkan haditsnya oleh mayoritas ulama ahli hadits seperti al-Bukhori, an-Nasa’i, ad-Daroquthni, dan lain-lain, sehingga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata menyimpulkan statusnya,  “Matruk (ditinggalkan haditsnya) sekalipun dia luas ilmunya.”[28]

3. Anggaplah hadits ini shohih, tetap tidak bisa dijadikan dalil tentang perayaan haul! Coba anda bayangkan, dari arah mana segi pendalilan hadits ini? Bukankah yang terdapat dalam hadits ini hanya berbicara tentang ziarah kubur saja, lantas bagaimana bisa disamakan dengan perayaan haul yang lazim diamalkan manusia zaman sekarang dengan aneka variasi acaranya yang khas? Pernahkah model perayaan seperti (dalam bentuk haul, -admin) diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya?! Sungguh, ini adalah penyesatan yang sangat nyata dalam berdalil.

4. Kami tambahkan di sini bahwa mimpi Syaikh Junaid al-Masro’i di atas bukanlah hujjah sama sekali, karena mimpi bukanlah landasan dalam agama Islam[29], itu hanyalah bualan kaum sufi belaka yang beribadah dengan impian dan hawa nafsu. Demikian juga ritual rojabiyyah itu tidak ada dasarnya dalam agama, bahkan termasuk bid’ah dalam agama.[30]

PENUTUP

Demikianlah penjelasan singkat tentang perayaan haul. Semoga tulisan ini dapat menjadi sinar kebenaran bagi para pencari kebenaran. Carilah kebenaran itu dan peganglah erat-erat. Tinggalkan segala belenggu fanatik dan taklid yang acapkali membutakan pandangan orang dan yakinlah bahwa timbangan kebenaran itu bukanlah pada mayoritas atau minoritas, melainkan pada dalil yang dibangun di atas al-Qur’an, hadits shohih sesuai dengan pemahaman salaf sholih. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk para pencari kebenaran dan penegak kebenaran. Amin.

Sumber: majalah al-Furqon, no. 113 ed. 10 thn. 10, Jumada Ula 1432 H, hlm. 56-63

 


[1] Al-I’tishom 1/64-65 al-Imam asy-Syatibi (tahqiq: Salim al-Hilali)

[2] HR. Ahmad: 3/103, Abu Dawud: 1134, dan an-Nasa’i: 3/179.

[3] Fathul Bari: 1/159, Tafsir Ibnu Rojab: 1/390.

[4] Latho’iful Ma’arif  hlm. 228

[5] ledul Yuyil Bid’atun Fil Islam hlm. 7-8

[6] Ahkam ledain fi Sunnah al-Muthohharoh hlm. 14, Ali bin Hasan al-Halabi

[7] Dirjngkas dari buku Kupas Tuntas Masalah Peringatan Haul karya Imron AM, hlm. 13-14, cet. al-Fikar, tahun 2005 M.

[8] Latho’iful Ma’arif  hlm. 113

[9] Syahr al-Muharrom wa Yaum ‘Asyuro, Abdulloh Haidir, hlm. 29

[10] Al-Arba’in wal Khomis wa Dzikro Sanawiyyah hlm. 12-13 oleh Amr Abdul Mun’im. Lihat pula buku Santri NU Menggugat Tahlilan oleh Harry Yuniardi dan buku Muallaf Menggugat Tahlilan oleh Ust. Abdul Aziz (mantan pendeta Hindu).

[11] HR. Muslim: 1218

[12] Shohih. Dikeluarkan Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya (2/204) dan ini lafazhnya dan Ibnu Majah dalam Sunannya (1/514 no. 1612) dan dishohihkan oleh an-Nawawi,  al-Bushoiri,  asy-Syaukani, Ahmad Syakir, dan al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hlm. 210 cet. Mkt. Ma’arif.

[13] Lihat al-Majmu’: 5/290 karya an-Nawawi, al-Amru Bil Ittiba’ hlm. 288 karya as-Suyuthi, I’anah Tholibin: 2/145-146 oleh Syaikh Abu Bakar Muhammad Syatho.

[14] Al-Umm: 1/318

[15] Lihat masalah ini dalam al-Atsar wal Masyahid wa Atsaru Ta’zhimihima ‘Ala Ummat Islamiyyah  oleh Dr. Abdul Aziz al-Jufar.

[16] Di antara kepercayaan masyarakat yang sampai saat iru masih menebal adalah bahwa barokah mayit yang diupacarai itu menembus sampai ke berkat (nasi/bubur kharisa hasil kenduri) upacara khaul sehingga mereka menyimpan berkat tersebut untuk persediaan selama setahun dengan cara dikeringkan, biasanya untuk obat panas dengan cara direndam dalam air kemudian diminumkan pada si sakit atau setiap kali mereka menanak nasi maka berkat khaul tadi ditaburkan sedikit agar berasnya tidak habis-habis karena berkahnya mbah Kyai. (Lihat Buku Putih Kyai NU hlm. 184 oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni). Dan lihat tentang masalah tabarruk dengan kuburan orang sholih dalam kitab at-Tabaruk oleh Dr. Nashir al-Juda’i hlm. 388-415.

[17] HR. an-Nasa’i: 3057 dengan sanad shohih

[18] HR. Abu Dawud: 1746 dishohihkah oleh al-Albani dalam Shohihul ]ami’ no. 7226.

[19] An-Nubdzah asy-Syarifah an-Nafisah fir-Roddi ala al-Quburriyyin hlm. 152 kar. Hamd bin Nashir.

[20] Lihat Fathul Bari kar. Ibnu Hajar: 1/685.

[21] Lihat al-Kaba’ir oleh al-Imam adz-Dzahabi (tahqiq: Masyhur bin Hasan) hlm. 358-359

[22] Karena patokan (definisi) dosa besar adalah “setiap dosa yang memiliki hukuman di dunia seperti membunuh, berzina, mencuri, atau yang mendapat ancaman di akhirat berupa adzab, murka, atau dilaknat pelakunya oleh Alloh atau melalui lisan rosul-Nya”. (Lihat Majmu’ Fatawa:11/650-657 Ibnu Taimiyyah, al-Kaba’ir hlm. 89  adz-Dzahabi)

[23] Al-Mufhim: 2/577

[24] Al-Qoulul Mufid: 2/25 Ibnu Utsaimin

[25] Lihat pula Bid’aul Qubur Anwa’uhu wa Ahkamuhu hlm. 339-340 oleh Syaikh Sholih al-Ushoimi dan at-Tabarruk hlm. 417 oleh Dr. Nashir al-Juda’i, al-Arba’in wal Khomis wa Dzikro Sanawiyyah hlm. 14-46 dan buku al-Mawalid oleh Amr Abdul Mun’im, 2/260.

[26] Sudah banyak ustadz dan peneliti yang menulis buku ten-tang hal ini, seperti Ustadzuna Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam Hukum Tahlilan Menurut Empat Madzhab, Ustadz Abu Ihsan al-Medani dalam Bincang-Bincang Seputar Tahlilan Yasinan dan Maulidan, ustadzuna Abu Ibrohim dalam Penjelasan Gamblang Tentang Yasinan Tahlilan dan Selametan, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dalam Tarekat Tasawwuf Tahlilan dan Maulidan, Ustadz Abdul Aziz dalam MuallafMenggugat Tahlilan, saudara Harry Yuniardi dalam Santri NU Menggugat Tahlilan. Dan saya juga memiiliki tulisan ringkas mengenai hal ini berjudul Tahlilan Dalam Pandangan Ulama Madzhab, tercetak bersama buku saya Polemik Perayaan Maulid Nabi.

[28] Tahdzib Tahdzib: 9/364-365. Lihat pula as-Siroh an-Nabawiyyah Fi Dhou ‘i al-Mashodir Ashliyyah: 1/32-33 oleh Dr. Mahdi Rizqulloh.

[29] Lihat masalah ini secara bagus dalam al-Muqoddimat al-Mumahhidat as-Salafiyyat Fi Tafsir Ru’a wal Manamat hlm. 247-276 oleh Masyhur Hasan Salman dan Umar Abu Tholhah, dan kitab Ushulun Bila Ushulin hlm. 63-76 oleh Dr.Muhammad bin Isma’il al-Muqoddam

[30] Lihat Bida’un wa Akhtho’ 3 hlm. 18 oleh Ahmad as-Sulami.

 

Iklan

2 thoughts on “Peringatan HAUL, Tradisi Islami?

  1. tidak boleh haul, tp di KSA pusatnya Sawah malah mengamalakan, bener2 teralalu

    http://generasisalaf.wordpress.com/2013/01/26/salafy-wahabi-melarang-perayaan-maulid-dan-haul-tetapi-di-saudi-negri-salafy-wahabi-ada-perayaan-haul-syeikh-utsaimin-meskipun-tidak-setiap-waktu/

    Itu bukan menjadi tolok ukur, mas. Hujjah antum sangat rapuh sekali, serapuh sarang laba-laba. Apakah yg berkuasa di sana adalah para ulamanya? Lalu bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Yang pemerintahnya begini dan begitu? Mau gak kesalahan pemerintah dinisbatkan kepada kaum asy’ariyun yg notabene banyak menduduki kursi kepemerintahan, dan juga ormas terbesar di negeri ini? Tentu gak mau khan?!

    • nabi muhammad saw para sahabat serta imamsyafiipun tidak pernah melakukan haul jadisaya bingungsiapa yg menyebarkan haul pertama kali mohon ane dikasih tau

Komentar ditutup.