Dalil Tabur Bunga di Kuburan?


Oleh: Ustadz Aris Munandar

dua buah kuburDari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  melewati dua buah kubur lantas bersabda, ‘Sesungguhnya penghuni dua kubur ini sedang disiksa. Tidaklah keduanya disiksa karena permasalahan yang besar dalam pandangan keduanya atau bukan permasalahan yang besar dan berat untuk ditinggalkan. Orang yang pertama itu tidak menjaga diri dari percikan air kencing. Sementara itu, orang yang kedua itu berjalan menebar adu domba di tengah masyarakat.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  lantas mengambil satu pelepah kurma yang masih basah lalu beliau belah menjadi dua bagian. Masing-masing bagian beliau tancapkan ke masing-masing dari dua kubur tersebut. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan hal tersebut?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Semoga keduanya mendapatkan keringanan siksaan selama dua potongan pelepah  kurma   tersebut  belum  kering.”  (HR Bukhari no. 218 dan Muslim no. 292)

 

MELURUSKAN PEMAHAMAN YANG SALAH

Sebagian orang .yang berdalil dengan hadits di atas untuk membolehkan tabur bunga di pekuburan, menancapkan pelepah kurma atau menanam pohon di kompleks pemakaman. Mereka beralasan bahwa sebab diringankannya siksaan kubur untuk dua orang tersebut adalah belum keringnya dua potongan pelepah kurma karena sesuatu yang masih basah dan belum kering itu bertasbih tidak sebagaimana sesuatu yang kering.

Alasan ini tertolak mengingat firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan tidak ada satu pun melainkan bertasbih sambil memnji-Nya.” (QS al-Isra’ [17]: 44) Andai sebab diringankannya siksaan kubur adalah tasbih benda-benda di dekat mayit, tentu tidak ada satu pun orang yang disiksa dalam kuburnya karena tanah dan kerikil yang ada di dekat mayit itu bertasbih berdasarkan ayat di atas.

Al-Albani rahimahullah dalam Ahkam al-Jana’iz hlm. 201 mengatakan, “Andai tidak keringnya benda di dekat mayit itu dimaksudkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu salaf shalih telah lebih dahulu memiliki pemahaman semisal itu dan tentu saja mereka telah mempraktikkannya. Tentu para ulama salaf akan menancapkan pelepah kurma atau pohon yang masih segar di kubur orang yang mereka ziarahi. Andai mereka melakukan hal ini, tentu saja cerita mengenai hal ini adalah cerita yang terkenal dan diceritakan oleh para perawi yang terpercaya karena kejadian semisal ini adalah kejadian yang menarik perhatian sehingga ada banyak faktor pendorong untuk menceritakannya. Jika tidak ada sama sekali riwayat tentang hal ini maka itu menunjukkan bahwa memang di masa salaf hal ini tidak pernah dilakukan sehingga mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan melakukan hal ini adalah bid’ah. Dengan uraian di atas jelaslah kebid’ahan perbuatan ini. Sementara itu, riwayat dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berpesan agar ditancapkan pada kuburnya dua pelepah kurma maka ini adalah ijtihad pribadi beliau, sedangkan ijtihad itu bisa benar bisa juga salah. Yang benar adalah tidak melakukan hal tersebut.”

Ibnu Baz rahimahullah dalam komentar beliau untuk Fathul Bari mengatakan, “Pendapat yang mengatakan bahwa syari’at menancapkan pelepah kurma di kuburan adalah syari’at yang khusus untuk dua kubur tersebut adalah pendapat yang benar dengan alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidaklah menancapkan pelepah kurma kecuali pada kubur yang beliau tahu bahwa penghuninya sedang mendapatkan siksaan kubur, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak melakukan hal ini pada semua kubur yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  lewati. Andai hal ini adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melakukannya pada semua kubur, tanpa pilih-pilih. Di samping itu, para Khulafaur Rasyidin dan para sahabat senior lainnya tidak ada yang melakukan hal tersebut. Andai hal tersebut memang dituntunkan, tentu saja mereka telah bersegera melakukannya.”

Di antara judul bab dalam Shahih Bukhari terdapat judul bab “Bab mengenai menancapkan pelepah kurma di kuburan”. Judul bab ini dikomentari oleh Ibnu Rusyd rahimahullah sebagai berikut, “Dari perbuatan Bukhari di bab ini bisa disimpulkan bahwa menancapkan pelepah kurma adalah hukum yang khusus berlaku pada dua kubur tersebut. Oleh karena itu, setelah membawakan hadits di atas, Bukhari membawakan perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu saat melihat ada tenda yang dipasang di atas kubur Abdurrahman, ‘Robohkan tenda tersebut karena yang bisa menaunginya hanyalah amalnya.’ Para ulama mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah khusus (pada kasus tertentu saja) yang dimungkinkan hanya berlaku untuk orang yang Allah ‘azza wa jalla beri tahukan kepadanya kondisi si mayit di alam kubur (baca: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Al-Khaththabi rahimahullah dalam Ma’alim as-Sunan (1/27) mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Hal tersebut termasuk ngalap berkah dengan benda yang pernah disentuh Nabi dan ngalap berkah dengan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang meminta keringanan untuk dua penghuni kubur tersebut. Seakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjadikan masa mengeringnya dua potong pelepah kurma tersebut sebagai batas waktu atau timer berlakunya permohonan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meringankan siksaan keduanya. Jadi, bukan dikarenakan pada pelepah kurma yang basah ada sesuatu yang tidak ada pada pelepah kurma yang kering. Orang awam di berbagai tempat menancapkan pelepah kurma di kubur. Kunilai mereka punya pandangan semacam ini yaitu pelepah kurma yang basah punya keistimewaan yang tidak ada pada pelepah yang kering padahal pandangan mereka tersebut sama sekali tidaklah memiliki dasar pijakan ilmiah.”

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam syarah beliau untuk Tirmidzi (1/103) setelah membawakan perkataan al-Khaththabi di atas mengatakan, “Benar apa yang dikatakan oleh al-Khaththabi. Bahkan, sekarang orang awam semakin ngotot dan kelewat batas untuk melakukan amalan yang tidak ada dasarnya ini terutama di Mesir karena mengekor orang-orang Nasrani. Sampai-sampai mereka letakkan karangan bunga di kubur dan mereka saling memberikan hadiah dengannya. Banyak orang yang meletakkan karangan bunga pada kubur kerabatnya atau teman kenalannya sebagai bentuk penghormatan terhadap yang sudah meninggal dan basa-basi dengan keluarganya yang masih hidup. Bahkan hal ini menjadi kebiasaan semi-resmi dalam kunjungan kenegaraan. Anda jumpai seorang pejabat negara muslim jika mengunjungi salah satu negara Eropa maka dia akan menziarahi kuburan pembesar negara tersebut atau pun kuburan pahlawan yang tidak dikenal untuk meletakkan karangan bunga di sana.

Bahkan sebagian orang meletakkan karangan bunga yang terbuat dari plastik (yang memang, -adm) sama sekali tidak basah, sehingga tidak ada kering yang dinantikan karena mengekor orang-orang Eropa dan mengikuti jalan umat terdahulu (baca: Nasrani). Anehnya, ini semuanya tidak diingkari oleh para ulama yang mirip orang awam. Bahkan Anda jumpai para ulama tersebut juga meletakkan karangan bunga di kubur salah seorang kerabatnya. Sungguh aku mengetahui sebagian usaha produktif yang keuntungan usaha tersebut diwakafkan yntuk membeli pelepah kurma dan bunga-bunga yang hendak diletakkan di kuburan.

Ini semua adalah bid’ah dan kemungkaran yang tidak memiliki landasan ilmiah dalam Islam dan tidak punya pijakan berupa dalil al-Qur’an dan sunnah. Karenanya, setiap ulama punya kewajiban untuk memberantas kebiasaan ini semaksimal kemampuannya.”

Al-Albani rahimahullah dalam Ahkam al-Jana’iz hlm. 201 mengatakan, “Dalil penguat yang menunjukkan bahwa menancapkan pelepah kurma adalah hukum khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan keringanan siksaan itu bukanlah disebabkan belum keringnya potongan pelepah tersebut adalah beberapa dalil—di antara yang beliau sebutkan adalah— hadits riwayat Muslim yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan:

Aku melewati

“Aku melewati dua buah kubur yang kedua penghuninya sedang disiksa maka aku ingin dengan sebab do’aku keduanya mendapatkan keringanan siksaan sampai dua potongan tersebut mengering.”

Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa keringanan siksaan itu disebabkan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan karena masih segar dan basahnya potongan tersebut, baik kisah yang diceritakan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, itu sama dengan kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma—sebagaimana pendapat al-Aini— atau merupakan kisah yang berbeda—sebagaimana pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Menurut pendapat al-Aini, sisi perdalilannya jelas. Sementara itu, jika menurut pendapat Ibnu Hajar maka akal sehat mengatakan bahwa sebab keringanan siksaan kubur dalam dua kisah ini hendaknya sebabnya itu sama karena sangat miripnya dua kisah ini.

Di samping itu, keyakinan tidak keringnya suatu benda adalah sebab adanya keringanan siksa kubur adalah suatu hal yang tidak dikenal dalam syari’at atau pun menurut akal sehat. Andai memang demikian, tentu saja orang yang paling ringan siksaannya adalah orang-orang kafir yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang bak surga karena banyaknya tanaman yang ada di sana plus pepohonan yang menghijau baik di musim panas maupun musim dingin.

Di samping itu, pendapat sebagian ulama semisal Suyuthi yang menjelaskan bahwa penyebab benda basah itu bisa mefingankan siksaan adalah karena selama basah benda tersebut terus bertasbih. Jika mengering maka tasbih berakhir. Pendapat Suyuthi semisal ini menyelisihi firman Allah ‘azza wa jalla di QS al-Isra’ [17]: 44. Jika hal ini telah dipahami dengan baik maka dengan mudah kita bisa mematahkan qiyas (analogi) tidak bermutu yang dikutip oleh Suyuthi dalam Syarh Shudur dari seseorang yang tidak beliau sebutkan namanya.

Anonim mengatakan, ‘Jika siksa kubur diringankan disebabkan tasbih pelepah kurma, lantas bagaimana lagi dengan bacaan al-Qur’an yang dibaca oleh seorang mukmin?’ Anonim juga mengatakan, ‘Hadits ini adalah dalil disyari’atkannya menanami pemakaman dengan pepohonan (baca: kamboja).’

Aku (baca: al-Albani) katakan, ‘Andai analogi tersebut benar tentu saja para ulama salaf telah bersegera melaksanakannya karena mereka adalah orang lebih bersemangat dalam melaksanakan kebaikan dibandingkan kita.'”

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa menancapkan pelepah kurma di kubur itu hanya khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan sebab adanya keringanan siksaan dari dua penghuni kubur itu bukan karena basahnya pelepah kurma yang dimaksudkan, melainkan karena do’a baik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk keduanya. Do’a semacam ini tentu saja tidak akan lagi terjadi setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping tidak akan terjadi pada selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  karena mengetahui bahwa penghuni suatu kubur itu sedang disiksa ataukah tidak, adalah hak khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Alam kubur itu termasuk hal gaib yang tidak akan Allah subhanahu wa ta’ala beritahukan kecuali kepada para rasul, sebagaimana dalam firman Allah  ‘azza wa jalla:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً ۝ إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada orang yang Allah ridhai dari para utusan. (QS al-Jinn [72]: 26-27)

Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin.[]

 

Sumber: majalah Al Furqon, no. 134 edisi 9 thn-12, hal. 12-14

4 thoughts on “Dalil Tabur Bunga di Kuburan?

    • makan jenggkol 😀 adalah ‘adah bukan ibadah, mana ada orang makan jengkol secara dzatnya mengharapkan pahala. beda halnya kalo ada orang tabur bunga, ni masuk dalam ranah ibadah (yg diada2kan) karena ada unsur mengharap pahala dari dzat perbuatannya.

Komentar ditutup.