Beberapa Catatan DALAM MEMAHAMI FADHAILUL A’MAL


1. fadhail amalBerkaitan dengan amal shaleh yang menjanjikan masuk surga, telah menjadi sebuah ketetapan syariat bahwa surga tidak dimasuki oleh seorang hamba kecuali dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Ia masuk bukan murni karena amalannya.

Di satu sisi, mernang disebutkan amalan menjadi faktor yang memasukkan orang ke surga berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.(Qs an-Nahl/16:32)

Namun perlu dipahami juga, di sisi lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan amal shaleh seorang hamba sebagai penghantar menuju surga dalam sabdanya:

Lan yudkhila ahadan al-jannah ‘amaluhu

Seseorang tidak akan masuk surga karena amal (shaleh)nya. (HR. Bukhori no. 5241)

Dalam riwayat lain:

lan yanjuwa ahadun bi ‘amalihi

Seseorang tidak akan selamat karena atnal (shaleh)nya. (Muttafaq ‘alaih)

Untuk memadukan dua dalil di atas, bahwa penafian yang termuat dalam hadits adalah menafikan surga sebagai balasan setimpal atas amal shaleh yang dilakukan oleh seorang hamba. Karena surga dengan segala kenikmatannya yang tak terukur dan tak terkira itu, tidak sepadan dan tidak sebanding untuk dijadikan imbalan atas perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang yang dimasukkan ke dalamnya. Itu tiada lain karena rahmat Allah ‘azza wa jalla yang luas bagi hamba-Nya yang taat.

Sementara huruf ba’ dalam ayat di atas bermakna sababiyyah yang menandakan bahwa amal shaleh itu menjadi sebab masuk ke dalam surga, akan tetapi tidak bisa berdiri sendiri tanpa keberadaan rahmat Allah  ‘azza wa jalla.[1]

2. Untuk menggapai pahala yang tercantum  dalam fadhailul a’mal harus dipenuhi syarat keimanan. Artinya, meskipun seseorang melakukan salah satu amalan yang keutamaannya besar, bukan seorang Mukmin/Muslim (atau telah murtad), ia tidak memperoleh kebaikan sedikit pun.

3. Mesti menjalankan kewajiban-kewajiban terlebih dahulu. Sebab, menjalankan amalan-amalan wajib adalah cara terbaik untuk mendapatkan pahala besar dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “…Sesungguhnya tidak akan diterima ibadah sunnat sampai ditunaikan terlebih dahulu ibadah-ibadah yang wajib. “(Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/36)

4.     Beragamnya pintu fadhdilul a’mal merupakan rahmat Allah  subhanahu wa ta’ala  bagi para hamba-Nya. Terkadang seseorang belum bisa (tidak dapat) menjalankan satu amalan yang keutamaannya besar. Namun ia masih dapat menggenggam keutamaan dari amalan lain yang tak kalah besar pahalanya. Misal, dijumpai ada orang yang mudah untuk melaksanakan shalat malam, akan tetapi ia sulit untuk berpuasa sunnat. Sementara orang lain, kondisinya berkebalikan.

Atas dasar itu, ketika salah pintu fadhdilul a’mal telah terbuka dan mudah ditempuh, seorang Muslim hendaknya memanfaatkan kesempatan itu. Seorang Ulama dari generasi Tabi’in, Khalid bin Ma’dan rahimahullah berkata:

Jika telah terbuka pintu kebaikan bagi salah seorang dari kalian, hendaknya ia bersegera melakukannya, Sebab ia tidak tahu kapan akan tertutup baginya”. (Kitab az-Zuhd, Imam Ahmad, hal. 384). Wallahu A’Iam.

Sumber: Baituna edisi 02/thn. XIII/ Jumadil Ula 1430 H/ Mei 2009 M


[1] Lihat Hadil Arwah (61), Fathul Bari (11/295-297)