Mengkritisi Buku: FIQIH DEMONSTRASI


Disusun oleh: Abu Ahmad As-Salafi

MUQODDIMAH

Demonstrasi adalah sebuah virus ganas yang dicetuskan oleli orang-orang kafir, yang kemudian menular ke dalam tubuh kaum muslimin dan menimbulkan banyak musibah ke dalam diri kaum muslimin.

Akan tetapi realita yang ada, sedikit kaum muslimin yang menyadari masalah ini, bahkan banyak dari mereka yang menjadikan demonstrasi sebagai kendaraan untuk merealisasikan ambisi-ambisi mereka, mereka mengemas dan membumbui demonstrasi dengan label-label islami, seperti dikatakan sebagai “jihad islami”, “amar ma’ruf nahi munkar” dan sebagainya.

Di antara tulisan-tulisan yang berusaha melegalkan demonstrasi dalam Islam adalah buku yang berjudul Fiqih Demonstrasi, Kajian Hukum Dan Urgensi Unjuk Rasa Dalam Pandangan Islam oleh Aus Hidayat Nur. Buku ini mengumpulkan berbagai macam syubhat-syubhat para pembela demonstrasi dari kalangan harokiyyin (pergerakan red), bahkan di antara syubhat yang dia katakan bahwa ada di antara ulama Salafi yang membolehkannya!               –

Insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kami singkap sebagian syubhat-syubhat buku ini sebagai saham kami di dalam memberikan nasehat kepada Islam dan kaum muslimin.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Aus Hidayat Nur, dan diterbitkan oleh Pustaka Tarbiatuna Jakarta cetakan pertama Oktober 2002.

HUKUM ASAL DEMONSTRASI

Penulis berkata di dalam hlm. 13 dari bukunya ini: “Para ulama yang dapat dipercaya di abad ini berpendapat al-ashlu fil muzhahaah al-ibahah (hukum asal muzhaharah adalah boleh), berdasarkan kesesuaiannya dengan maqashid syari’ah yaitu melindungi dan memelihara agama, nasab, harta, jiwa dan kehormatan.”

Kami katakan: Siapakah ulama yang dapat dipercaya di abad ini yang membolehkan demonstrasi ?! tidak lain adalah para tokoh harokiyyin seperti Sayyid Quthb dan murid-muridnya, adapun para ulama Sunnah maka mereka sepakat bahwa demonstrasi adalah produk musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, Syaikh al-Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi berkata: “…Aksi unjuk rasa dan demonstrasi, sedangkan Islam tidak mengakui perbuatan ini, dan tidak membenarkannya, bahkan dia adalah perkara yang baru, buatan orang-orang kafir, dan telah menular dari mereka kepada kita…” (al-Maurid al-‘Adzbu Zallal hlm. 228)

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidak pernah menggunakan demonstrasi dan unjuk rasa, beliau tidak pernah mengancam manusia akan merusak harta benda mereka dan menculik mereka ” (Majalah Buhuts Islamiyyah Edisi 38 hlm. 310)

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru, -tidak pernah dikenal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga pada zaman Khulafaur Rosyidin, dan pada zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum ” (al-Jawabul Abhar oleh Fuad Siraj hlm. 75)

Maka melakukan demonstrasi adalah tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir, padahal Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan Ahmad dalam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Gholih 1269: Hasan Shahih)

 

MENGIDENTIKKAN DEMONSTRASI DENGAN SYI’AR-SYI’AR ISLAM

Penulis berkata di dalam hlm. 16: “Ruh Syari’at Islam Menunjukkan Pentingnya Muzhaharah. Syariat Islam datang dengan membawa banyak syi’ar untuk izhhar izzah al Islam wa ad-da’wah ilaih (unjuk kebanggaan Islam dan dakwah Islam) seperti: Shalat Jama’ah, Jum’at dan hari Raya/”

Kami katakan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah telah membantah syubhat ini di dalam bantahan beliau kepada Abdurrohman Abdul Kholiq yang memakai dalih di atas untuk melegalkan demonstrasi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz berkata: “Adapun yang berhubungan dengan sholat Jum’at, sholat led dan yang semacamnya dari pertemuan-pertemuan yang kadang diserukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sholat Kusuf, sholat Istisqo’, maka semua itu termasuk menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dan tidak ada hubungannya dengan demonstrasi.” (Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid  8/257)

DEMONSTRASI UNTUKMEMBELA AGAMA ADALAH BID’AH

Penulis berkata di dalam hlm. 22: “Muzharah adalah ibadah dan jihad yang berpahala.”

Kami katakan: Merupakan kaidah yang dimaklumi, bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang, kecuali jika ada dalil yang memerintahkannya. Jika seorang menjadikan demonstrasi sebagai sarana ibadah, maka demonstrasi merupakan bid’ah dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak,” (Diriwayatkan oleh Bukhori di dalam Shohihnya: 2499 dan Muslim di dalam Shohihnya: 3243), dan di dalam lafadz yang lain:

Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.

Dan inilah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sebagian sahabatnya tatkala mereka mengadukan kepadanya apa yang mereka terima dari siksaan orang-orang musyrik:

Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap kemudian digalikan lubang baginya dan dia dimasukkan ke dalamnya, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya dan dia dibelah menjadi dua, ada yang disisir tubuhnya dengan sisir besi di antara daging dan tulangnya, hal itu semua tidaklah menghalanginya dari agamanya. Demi Alloh sungguh Alloh akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shon’a ke Hadhromaut, tidaklah takut kecuali kepada Alloh dan serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa ” (Shohih Bukhori 6/2546)

Maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan para sahabatnya agar melakukan demonstrasi.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun demonstrasi dan unjuk rasa di waktu haji di Makkah atau di tempat yang lainnya -dalam rangka untuk mengumumkan sikap antipati kepada kaum musyrikin- maka itu adalah bid’ah yang tidak ada asalnya, yang akan menimbulkan kerusakan dan kejelekan yang besar, maka wajib atas setiap pelakunya agar meninggalkannya, dan wajib atas pemerintah agar mencegahnya, karena dia adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at yang suci, dan karena akan mengakibatkan berbagai macam kerusakan, kejelekan, dan gangguan terhadap orang-orang haji dan yang lainnya. Dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ

Katakanlah: Jika benar-benar kalian cinta kepada Alloh maka ittiba’ lah kepadaku, maka Alloh akan mencintai kalian. (Ali Imron [3]: 31)

Demonstrasi ini tidak pernah ada dalam perjalanan hidup Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak juga para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, seandainya itu adalah suatu kebaikan maka pasti mereka akan mendahului kita untuk melakukannya.” (Fatawa dan Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8 Bab al-Qiyam Bil Masirot wa Mudhoharot Bismil Baroh Minal Musyrikin Bid’ah La Ashla Lahu)

MENGIDENTIKKAN DEMONSTRASI DENGAN  INKARUL MUNKAR

Penulis berkata di dalam hlm. 31: “Muzhaharah (demonstrasi red.) salah satu bentuk inkarul munkar.”

Kami katakan: Cara mengingkari kemungkaran wajib ittiba’ kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, karena agama Islam ini telah sempurna. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya semua kebaikan dan melarang mereka dari semua kejelekan, tatkala Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan adab-adab buang hajat, maka bagaimana Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan kepada umatnya sarana untuk ingkarul munkar?! Maka barangsiapa yang menjadikan demonstrasi sebagai sarana ingkarul munkar maka sungguh dia telah menambah ke dalam agama ini yang telah dilarang dengan keras oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan terto-lak.” (Diriwayatkan oleh Bukhori di dalam Shohihnya: 2499 dan Muslim di dalam Shohihnya: 3243), karena Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukan demonstrasi ini sebagaimana dalam bahasan terdahulu.

Kemudian juga bahwa kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran yang semisalnya, karena akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz berkata: “Sebagaimana aku wasiatkan kepada para ulama dan semua da’i serta para pembela al-haq agar menjauhi unjuk rasa dan demonstrasi yang memadhorotkan dakwah dan tidak memberi manfaat kepadanya serta menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin dan fitnah antara pemerintah dan rakyat.

Sesungguhnya yang wajib adalah menempuh jalan yang bisa mengantarkan kepada al-haq dan menggunakan sarana-sarana yang bermanfaat, tidak bermadhorot, mempersatukan, tidak memecah belah, dan menebarkan dakwah di antara kaum muslimin, serta menjelaskan kepada mereka kewajiban-kewajiban mereka dengan tulisan-tulisan, kaset-kaset yang herfaidah, ceramah-ceramah yang bermanfaat, khutbah-khutbah Jum’at yang menjelaskan al-haq dan menyeru kepadanya, menjelaskan kebatilan dan memperingatkan darinya, juga dengan kunjungan-kunjungan yang berfaidah untuk para penguasa dan pihak yang berwenang, saling menasehati dengan tulisan atau secara langsung dengan ucapan dengan kelembutan, hikmah, dan metode yang baik, sebagai pengamalan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala ketika menyifati Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allohlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. ” (QS. Ali Imron [3]: 159), dan firman Alloh Ta’ala kepada Harun dan Musa ketika Alloh mengutus keduanya untuk mendakwahi Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thoha [20]: 44) (Fatawa dan Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 7 Bab ar-Robithoh Islamiyyah Hiya A’dhamul Wasail Allati Tarbithu Bainal Muslimin)

KISAH UNJUK RASA UMAR DAN HAMZAH

Penulis berkata di dalam hlm. 30: “Seorang ulama Salafy dari Kuwait, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq berkata: ” Muzaharat disebutkan sebagai pemaparan berbagai sarana yang dijadikan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai media unjuk Islam dan dakwah kepadanya, karena ada riwayat yang menjelaskan bahwa kaum muslimin keluar menampakkan diri setelah Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu masuk Islam. Dan hal itu dilakukan atas perintah Rasulullah. Muzhaharah dilakukan dalam dua barisan sebagai ekspresi dari izh-har quwwah (unjuk kekuatan) Pada salah satu barisan ada Hamzah Radhiyallahu Anhu dan pada barisan lain ada Umar bin Al-Khaththab Radhiyallau Anhu…”

Kami katakan: Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 dan Dalail Nubuwwah no. 194 dari jalan Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khaththab.

Kisah ini adalah kisah yang lemah sekali karena berkisar pada Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah yang dilemahkan oleh para ulama hadits, bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa dia adalah pendusta:

Dia dikatakan oleh Ibnu Sa’d: “Dia banyak haditsnya meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar dan ahli hadits tidak berhujjah dengan haditsnya.”

Al-Imarn Bukhari rahimahullah berkata: “Mereka meninggalkan haditsnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tidak halal meriwayatkan hadits darinya,”

Dia dikatakan matruk oleh al-Fallas, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasai, Daruquthni, dan al-Barqoni

Ibnu Khirasy dan Ibnu Ma’in – dalam riwayat Ali bin Hasan – berkata: Dia seorang pendusta (Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/240-242)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan perkataan para ulama terhadap Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah dalam Taqribut Tahdzib hltn. 130: Matruk.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz – di dalam bantahan beliau kepada Abdurrohman Abdul Kholiq– mengomentari riwayat ini dengan mengatakan: “Sesungguhnya riwayat ini berkisar pada Ishaq bin Abi Farwah yang dia tidak bisa dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shohih maka dia terjadi di awal Islam sebelum hijrah dan sebelum sempurnanya syari’at. Tidaklah tersembunyi bahwa yang dijadikan sandaran di dalam perintah dan larangan serta perkara-perkara lain di dalam agama adalah yang sudah ditetapkan sesudah hijrah.” (Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8/257)

Maka penisbatan demonstrasi kepada Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu merupakan kedustaan atas nama beliau.

Kemudian tentang perkataan penulis “Seorang ulama Salafy dari Kuwait, Syaikh Abdur Rahman Abdul Khaliq” maka ini adalah pernyataan yang keliru, karena Abdurrohman Abdul Kholiq dikenal begitu keras permusuhannya terhadap para ulama Salafiyyin dan manhaj Salafi, di sisi lain dia mengelu-elukan manhaj bid’ah dan tokoh-tokoh ahli bid’ah seperti Sayyid Quthb, Hasan al-Banna, al-Maududi, dan yang lainnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah memberikan bantahan terhadap penyimpangan-penyimpangan Ab-durrohman Abdul Kholiq dalam kitab-kitabnya seperti Ushul Amal Jama’i, Khuthuth Roisiyyah Liba’tsil Ummah Islamiyyah, Masyru’iyatul Amal Jama’i dan yang lain-nya di dalam Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8/257, demikian juga Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi telah membantah penyelewengan-penyelewengan Abdurrohman Abdul Kholiq di dalam dua kitab beliau Jama’ah Wahidah danAn-Nashrul Aziz.

DEMONSTRASI MEMBAWA KEJAYAAN ISLAM ?

Penulis berkata di dalam hlm. 50: “Muzhaharah mengurangi penderitaan suatu bangsa dan membebaskan mereka dari tirani. Manfaat Muzhaharah yang besar dan tampak jelas dalam hal kemampuannya menghilangkan berbagai penyakit di dalam masyarakat. Hal ini berlaku pada berbagai barigsa sepanjang sejarah.”

Kami katakan: Sejak kapan Islam menjadi terhormat dengan cara-cara orang kafir?! Bahkan kita merasakan sendiri betapa keadaan kaum muslimin semakin terpuruk tatkala mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan mengikuti cara-cara orang-orang kafir, sesuai dengan sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Jika kalian telah jual beli dengan cara ‘inah[1], disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya: 3462, Baihaqi dalam Sunan Kubro 5/3 16 dan Thobroni dalam Musnad Syamiyyin hlm. 464 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 11)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru, -tidak pernah dikenal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga pada zaman Khulafaur Rosyidin, dan pada zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum, kemudian demonstrasi menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang membuat dia terlarang, di mana dia membuat kaca-kaca dipecahkan, pintu-pintu dirusak dan yang lainnya.. terjadi campur baur laki-laki dan wanita, yang tua maupun yang muda, dan yang serupa dari kerusakan-kerusakan dan kemungkaran-kemungkaran.

Adapun masalah menekan penguasa, jika penguasa adalah muslim maka cukuplah menasihatinya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah hal terbaik yang dipaparkan pada seorang muslim, dan jika penguasa adalah kafir maka mereka tidak akan peduli dengan para demonstran, mereka akan basa-basi kepada mereka secara Nampak, adapun yang mereka sembunyikan adalah jauh lebih jelek. Karena inilah, kami memandang bahwa demonstrasi adalah perkara yang mungkar. Adapun perkataan mereka bahwa demonstrasi ini adalah aksi damai, maka dia kadang adalah damai di awalnya atau di kali yang pertama, kemudian menjadi aksi perusakan. Dan aku nasehatkan kepada para pemuda agar mengikuti jalan para salaf, karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor, dan memuji kepada orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.” (al-Jawabul Abhar oleh Fuad Siraj hlm. 75)

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bias kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.[2]

Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ka jalan-Nya yaag lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.

Sumber: majalah al-Furqon edisi 01 tahun kedelapan/ Sya’ban 1429/ Agust’ 08, hal. 27-30. 41


[1]Inah adalah sistem jual beli dimana penjual menjual barang kepada pembeli dengan pembayaran di belakang. Penjual tnenyerahkan barang tersebut kepada pembeli, kemudian penjual membeli lagi barang itu dari pembeli sebelum ia menerima uang pembayaran dari pembeli dengan harga yang lebih rendah dari harga sebelumnya dengan cara kontan. Jika hal dilakukan dengan kesepakatan keduanya maka hukumnya adalah bathil.

[2] Untuk melihat lebih rinci tentang pandangan Islam terhadap demonstrasi, silahkan merujuk buku kami Demonstrasi dalam Pandangan Syar’i – Semoga Allah memudahkan penerbitannya.

One thought on “Mengkritisi Buku: FIQIH DEMONSTRASI

  1. Ping-balik: Begitukah Cara Mencintai Nabi? | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.