Hubungan KALENDER HIJRIYYAH Dengan HUKUM SYAR’I


OLEH: USTADZ AHMAD SABIQ
ABU YUSUF

Banyak sekali hukum-hukum  dalam syari’at Islam yang mulia ini yang berkaitan dengan kalender hijriyyah, baik yang bersifat tahunan, bulanan maupun harian. Dan perlu diketahui bahwa apabila Alloh subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya menyebut tahun, bulan dan hari (dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah), maka yang dimaksud adalah tahun, bulan dan hari dalam kalender hijriyyah, bukan masehi.

 HUKUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN TAHUN DAN BIJLAN SYAR’I

Yang kami maksud di sini adalah tahun dan bulan hijriyyah, yang mana masuk dan keluarnya bulan ditentukan dengan ru’yatul hilal (melihat bulan) secara visual, terutama yang berhubungan dengan bulan ibadah. Adapun menetapkan bulan ibadah dengan ilmu hisab, maka boleh-boleh saja kalau hanya untuk urusan sipil dan administrasi.

Di antara hukum syar’i yang berhubungan dengan tahun dan bulan ialah:

1. Puasa Romadhon dan hari raya Idul Fithri dan Idul Adh-ha.

Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:puasalah karena melihat hilal

“Berpuasalah kalian karena melihat (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Lalujika tertutupi atas kalian maka sempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. ” (HR. al-Bukhori Muslim)[1]

2. Haul zakat.

Salah satu syarat wajibnya zakat ialah bila telah mencapai satu haul. Maknanya, telah dimiliki selama satu tahun hijriyyah. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila kamu memiliki dua ratus dirham (perak) dan telah sampai satu haul, maka wajib mengeluarkan lima dirham. Dan kamu tidak wajib membayar apapun sampai memiliki emas dua puluh dinar. Namun apabila kamu telah memiliki emas dua puluh dinar dan telah sampai satu haul, maka wajib membayar setengah dinar.” (Shohih Abu Dawud 1391)

Hal ini berlaku untuk semua harta zakat kecuali harta pertanian dan rikaz (harta temuan). Harta pertanian dikeluarkan saat panen, berdasarkan firman Alloh ‘azza wa jalla:

وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) saat hari panennya. (QS. an-An’am [6]: 141)

Adapun rikaz dikeluarkan 20 % saat mendapatkannya, berdasarkan kesepakatan para ulama’.

3. Haji.

Haji adalah ibadah yang ditentukan waktunya oleh Alloh ‘azza wa jalla dan Rosul-Nya, yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka ia tidak boleh berbuat rofats, fasik dan berbantah-bantahan selama masa mengerjakan haji. (QS. al-Baqoroh [2]: 197)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. al-Baqoroh [2]: 189)

4. Waktu Ila’.

Meng-ila’ istri maksudnya adalah bersumpah tidak akan mencampuri istri. Dengan sumpah ini seorang wanita akan menderita karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Apabila ini terjadi, maka suami setelah empat bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi istrinya atau membayar kaffaroh sumpah atau menceraikannya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَآؤُوا فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kepada orang-orang yang meng-ila’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqoroh [2]: 226)

5. Puasa kaffaroh.

Apabila seseorang jima’ dengan istrinya di siang hari bulan Romadhon, atau menzhihar istrinya atau membunuh tanpa sengaja, maka dia wajib membayar kaffaroh, yang salah satunya adalah dengan berpuasa dua bulan berturut-turut, sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab-kitab fikih. Dan dua bulan yang dimaksud tersebut ialah dua bulan hijriyyah, bukan masehi.

Tentang zhihar ini, Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَراً مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوراً وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ _وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ _فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا فَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِيناً ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Alloh laha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu. Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Namun siapa yang tidak kuasa, maka (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Alloh, dan bagi orang kafir ada siksaan  yang sangat  pedih. (QS. al-Mujadilah [58]: 2-4)

Adapun tentang membunuh tanpa sengaja, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari Alloh. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisa’ [4]: 92)

Dan tentang jima’ dengan istri di siang hari Romadhon wajib baginya berpuasa, maka berdasarkan hadits dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: ‘Saya telah binasa.’ Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya: ‘Memangnya ada apa?’ Dia menjawab: ‘Saya jima’ dengan istriku pada (siang) hari Romadhon.’ Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu bisa memerdekakan budak?’‘Tidak.’ Jawabnya. ‘Kalau begitu apakah kamu mampu puasa dua bulan berturut-turut?’ Diapun menjawab: ‘Tidak.’ ‘Lalu apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Dia pun masih menjawab: ‘Tidak. ‘ Saat itu datanglah salah seorang sahabat Anshor dengan membawa satu keranjang kurma, lalu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: ‘Shodaqohkanlah kurma mi.’ Dia pun malah menjawab: ‘Wahai Rosululloh, apakah harus saya shodaqohkan kepada orang yang lebih membutuhkan daripada kami? Demi Alloh, di kota Madinah ini tidak ada yang lebih membutuhkannya dibandingkan keluarga kami. ‘ Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Kalau begitu, pergilah dan berikanlah kepada keluargamu. ‘ (HR. al-Bukhori Muslim)

6. Iddah wanita yang ditinggal wafat suami.

Wanita yang ditinggal wafat suaminya wajib untuk menjalani masa iddah (masa tunggu untuk bisa menikah lagi) dan ihdad (masa berkabung) selama empat bulan sepuluh hari. Firman Alloh subhanahu wa ta’ala :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari, (QS. al-Baqoroh [2]: 234)

7. Iddah wanita yang cerai dengan suaminya saat dia masih belum keluar darah haid atau sudah menopause.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِن نِّسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. (QS. ath-Tholaq [65]: 4)

8. Hukum seputar bulan-bulan haram.

Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ _ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agamayang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulanyang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Orang-orang yang kafir disesatkan dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Alloh haramkan, lalu mereka menghalalkan apa yang diharamkan Alloh. (Setan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. at-Taubah [9]: 36-37)

9. Waktu minimal kehamilan.

Para ulama’ sepakat bahwa masa minimal kehamilan adalah enam bulan. Ini berkonsekwensi bahwa apabila ada bayi yang dilahirkan hidup namun kurang dari enam bulan hijriyyah dari awal bergaulnya suami-istri atau dari pernikahan keduanya, maka bayi tersebut adalah anak zina, karena berarti bayi tersebut telah ada sebelum akad nikah. Namun bila ada bayi yang dilahirka lebih dari enam bulan hijriyyah dalam keadaan hidup, maka anak itu adalah anak syar’i. Hal ini berdasarkan pemahaman tiga firman Alloh subhanahu wa ta’ala berikut ini:

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً

Dan masa hamil serta menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (QS. al-Ahqof [46]: 15)

وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

Dan dia menyapihnya dalam masa dua tahun. (QS. Luqman [31]: 14)

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. (QS. al-Baqoroh [2]: 233)

Sisi pengambilan dalilnya: Alloh subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa waktu hamil sampai menyapih anak adalah 30 bulan, sedangkan waktu menyusui sampai menyapihnya adalah dua tahun (24 bulan). Berarti masa hamilnya adalah enam bulan. (At-Tahqiqot al-Mardhiyyah Syaikh Fauzan hlm. 218)

10. Semua yang ditetapkan waktunya oleh syar’i.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Semua waktu yang ditentukan oleh syar’i, maka yang dijadikan patokan adalah hilal.”(Majmu’ Fatawa 25/134)

HUKUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARI SYAR’I

Perhitungan hari dalam kalender masehi dengan kalender hijriyyah —yang merupakan hari syar’i— sangat jauh berbeda. Padahal semua waktu termasuk hari yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang dimaksud adalah hari syar’i.

Perbedaannya, kalau dalam kalender masehi, pergantian hari dimulai dari jam 24.00 (jam 12 malam). Sebingga jika sudah melewatati jam 12 malam, maka pindah ke hari berikumya yang berarti sudah masuk waktu pagi hari. Berdasarkan ini, kalau ada seorang bayi yang lahir sebelum jam 12 malam, maka dia tercatat lahir hari sebelumnya, sedangkan kalau lahirnya setelah lewat jam 12 malam, maka dia tercatat lahir pada hari berikutnya.

Ini sangat berbeda dengan perhitungan hari secara syar’i yang terdapat dalam kalender hijriyyah. Pergantian hari dimulai dengan tenggelamnya matahari (saat adzan Maghrib) dan itu adalah awal malam. Malam akan berakhir dengan terbitnya fajar, setelah itu datanglah pagi. Lalu jika matahari sudah agak meninggi, maka itulah waktu Dhuha. Apabila matahari sudah tergelincir ke arah Barat, itulah waktu Zhuhur. Dan apabila bayangan sudah sama dengan bendanya, maka datanglah waktu Ashar sampai terbenamnya matahari, lalu setelah terbenam maka masuk malam hari yang berarti telah berganti hari berikutnya.

Atas dasar ini, kalau ada bayi yang lahir hari Senin jam 5 sore, maka dia terhitung lahir hari Senin. Namun bila lahirnya hari tersebut setelah Maghrib, maka dia terhitung lahir hari Selasa. Penentuan hari ini akan sangat berpengaruh pada hari aqiqohnya.

Ketentuan waktu harian syar’i ini sangat terkait dengan beberapa hukum, di antaranya:

1. Waktu sholat Isya’

Menurut pendapat terkuat, waku sholat Isya’ habis sampai pertengahan malam. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdulloh bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila kalian sholat Shubuh maka masih berlangsung waktunya sampai matahari terbit, kemudian jika kalian sholat Zhuhur maka sampai datang waktu Ashar, dan jika kalian sholat Ashar maka waktunya berlangsung sampai matahari menguning, lalu jika kalian sholat Maghrib maka itu masih waktunya sampai hilang mega merah, dan jika kalian sholat Isya’ maka masih waktunya sampai pertengahan malam.” (HR. Muslim)

Dan yang dimaksud dengan pertengahan malam bukanlah jam 12 malam, tapi pertengahan malam itu dihitung dari matahari terbenam sampai terbit fajar lalu dibagi dua. Contoh: kita asumsikan matahari terbenam pukul 18.00 WIB dan fajar muncul pukul 04.00 WIB. Berarti malam hari ada sepuluh jam, sehingga tengah malamnya adalah jam 11 malam.

2. Sepertiga malam terakhir.

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat mulia, karena itu adalah waktu nuzul ilahi (turunnya Alloh ta’ala ke langit dunia). Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Robb kita turun setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam yang akhir dan berfirman, ‘Barangsiapa yang minta kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, barangsiapa yang minta ampunan niscaya akan Saya ampuni.'” (HR. al-Bukhori Muslim)

Lalu bagaimana kita menentukan sepertiga malam terakhir? Jawabnya tidak berbeda dengan menentukan pertengahan malam, yaitu waktu saat matahari terbenam sampai terbit fajar dibagi tiga. Sepertiga yang terakhir itulah yang dimaksud dengan hadits ini. Wallohu a’lam.

3. Dzikir pagi petang.

Di antara syari’at Islam yang mulia adalah dzikir yang dibaca pada waktu pagi dan petang atau sore. Kapankah dzikir ini dibaca?

Dzikir pagi dibaca setelah Shubuh sampai sebelum terbitnya matahari, karena itulah waktu pagi menurut syar’i. Sedangkan dzikir petang dibaca setelah Ashar sampai sebelum terbenamnya matahari, karena itulah waktu sore. Adapun kalau dibaca sebelum Shubuh, maka saat itu belum pagi tapi masih malam. Demikian juga kalau dibaca setelah Maghrib, maka itu sudah bukan lagi sore/petang tapi sudah memasuki waktu malam. (al-Wabilush Shoyyib Ibnul Qoyyim rahimahullah 121 dan al-Adzkar an-Nawawi hlm. 198)

4. Waktu aqiqoh.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan aqiqoh untuk anak yang baru lahir. Satu kambing untuk anak wanita dan dua kambing untuk anak laki-laki, yang dilakukan pada hari ketujuh pasca kelahiran anak. Dalam sebuah hadits dari Samuroh radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqohnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, diberi nama dan rambut kepalanya dicukur. ” (Shohih, HR. Abu Dawud 2821, Ibnu Majah 3165)

Dan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:

“Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengaqiqohi anak laki-laki dengan dua ekor kambing dan untuk anak wanita dengan seekor kambing.” (Shohih, HR. at-Tirmidzi 1549, Ibnu Majah 3163)

Lalu bagaimana menghitung hari ketujuh? Cara menghitungnya: hari kelahiran dihitung sebagai hari pertama. Jika lahirnya Senin maka aqiqohnya Ahad. Jika lahirnya Jum’at maka aqiqohnya Kamis, begitu seterusnya. Dan untuk menentukan hari kelahiran, maka dikembalikan pada kaidah pergantian hari secara syar’i sebagaimana telah disinggung di muka, yaitu terbenamnya matahari.

5. Wajib zakat Fithri.

Zakat Fithri merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi mewajibkan zakat Fithri berupa satu sho’ gandum atas hamba maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk dikeluarkan sebelum keluarnya manusia menuju sholat Id.”(HR. al-Bukhori Muslim)

Ada khilaf di kalangan para ulama’ tentang waktu wajibnya zakat Fithri. Pendapat yang terkuat, insya Alloh, bahwa waktu wajib menunaikan zakat Fithri dimulai dari terbenamnya matahari pada akhir bulan Romadhon. Inilah madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah dan salah satu pendapat Malikiyyah.

Perhatikan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Sesungguhnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat Fithri dari bulan Romadhon berupa satu sho’…” (HR. Muslim)

Fithri artinya berbuka. Maka makna hadits ini ialah bahwa zakat itu baru dibayar saat berbuka dari puasa Romadhon. Dan sudah dipahami bahwa berbuka dari puasa itu ditandai dengan terbenamnya matahari.

Atas dasar ini, maka muncul beberapa hukum:

a.  Seseorang yang wafat setelah terbenamnya matahari di hari terakhir Romadhon, maka wajib untuk dibayarkan zakat Fithrinya, karena dia masih hidup saat waktu wajibnya zakat Fithri.

b.  Seseorang yang wafat sebelum terbenamnya matahari hari terakhir Romadhon, tidak wajib dibayarkan zakat Fithrinya, karena dia telah meninggal dunia sebelum menemui waktu wajibnya zakat Fithri.

c.   Bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari hari terakhir Romadhon, wajib dikeluarkan zakat Fithrinya, karena dia telah menemui waktu wajibnya zakat Fithri.

d.   Bayi yang lahir setelah terbenamnya hari terakhir Romadhon, ia tidak wajib dikeluarkan zakat Fithrinya, karena dia belum menemui waktu wajibnya zakat Fithri. (Mausu’ah Fiqhiyyah Quwaitiyah 23/340, Shohih Fiqh Sunnah 2/84). Wallohu alam.

Sumber: Suplemen majalah al-Mawaddah vol. 36, hal. 6-11


[1] Baca masalah ini secara lebih lengkap dalam buku Bid’ahkah llmu Hisab?!