Berinteraksi dan Mengikuti PERHITUNGAN Bulan SYAMSIYYAH


Klik gambar untuk memperbesar, dan klik tombol "go back" untuk kembali ke halaman blog.

Klik gambar untuk memperbesar, dan klik tombol “go back” untuk kembali ke halaman blog.

JAWAB:

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi washohbihi, amma ba’du…

Sesungguhnya bangsa Arab dahulu senantiasa mengikuti perhitungan bulan. Mereka menyandarkan hal itu dengan melihat hilal secara langsung. Hal ini diawali dengan menyaksikannya pertama kali dari bulan itu sampai menyaksikannya untuk kedua kalinya pada awal bulan berikutnya. Dan perhitungan bulan di sisi mereka ada 12 bulan. Yang demikian itu karena mereka mengetahui bahwa musim-musim akan kembali pada tempat peredarannya setelah berlalu 12 kali dari tempat-tempat peredaran bulan. Al-Qur’an datang untuk menguatkan fakta ini, di mana Alloh Si berfirman (artinya):

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Alloh adalah 12 bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Alloh pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada 4 bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzholimi dirimu dalam (bulan yang 4) itu. Dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Alloh bersama orang-orang yang bertakwa.[1]

Dan sungguh Kholifah yang kedua Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu menjadikan penanggalan Hijriyyah agai wujud dari bulan-bulan Qomariyah. Hal ini setelah beliau mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka untuk bermusyawarah tentang kalender apa yang akan mereka jadikan patokan.

Maka mereka bersepakat untuk menjadikan penanggalan Hijriyyah setelah dipaparkan beberapa peristiwa-peristiwa besar berupa lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, turunnya wahyu dan wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dipaparkan penanggalan umat-umat yang lain. Akbirnya mereka memilih penanggalan Hijriyyah (berpatokan pada hijrahnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Madinah). Hal ini berdasarkan beberapa faktor, di antaranya untuk menyelisihi orang-orang musyrik yang kita diperintahkan untuk menyelisihinya. Selain itu untuk membedakan umat ini dengan umat yang lainnya

Seluruh taklif syar’i (beban syari’at) juga dikaitkan dengan adanya hilal. Oleh karena itulah tahun yang dijadikan sandaran oleh Islam adalah tahun Qomariyyah dan bulan yang dianggap adalah bulan Qomariyyah. Adapun bulan-bulan Syamsiyyah, maka sudah dikenal sejak dahulu. Bulan-bulan tersebut kadang dikaitkan dengan kematangan hasil ladang atau dengan musim-musim yang ada: musim hujan, panas, dingin dan selainnya, atau perubahan-perubahan iklim yang diakibatkan oleh perputaran matahari. Dari penjelasan ini, maka jelaslah bagi kita bahwa taklif syar’i berupa zakat, puasa, haji, selesainya masa ‘iddah dan yang lainnya, harus menggunakan bulan-bulan Qomariyyah.

Adapun bermuamalah atau aktivitas lainnya berupa ketetapan-ketetapan yang dibutuhkan manusia, maka tidak ragu lagi bahwa mencukupkan dengan bulan-bulan Qomariyyah (kalender Hijriyyah) lebih utama karena padanya terkandung penyelisihan terhadap orang-orang musyrik, meskipun seandainya seseorang dalam urusan dunianya menggunakan bulan-bulan Syamsiyyah tidaklah mengapa terutama ketika hal itu sangat di butuhkan. Wallohu a’lam. (Mufti Markaz Fatwa oleh DR. Abdulloh al-Faqih [www.islamweb.net])

Sumber: Suplemen majalah al-Mawaddah vol. 36, hal. 15-16


[1] QS. at-Taubah [9]: 36