HUKUM MENGGUNAKAN KALENDER MASEHI


New Picture (1)

Klik gambar untuk memperbesar

Jawab:

Pertama, pada dasarnya penentuan waktu dengan hilal (bulan sabit) merupakan pokok bagi semua manusia. Bacalah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.”[1]

Ini berlaku bagi semua manusia, baik yang muslim maupun kafir. Baca juga firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh ialah 12 bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.[2]

Lantas apa yang dimaksud dengan empat bulan tersebut? Yang dimaksud ialah bulan-bulan Qomariyyah. Karena itulah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan ayat tersebut dengan empat bulan haram, yaitu Rojab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom. Ini adalah asal dan pokoknya.

Adapun bulan-bulan yang sekarang dipakai manusia (bulan-bulan Masehi) adalah bulan-bulan yang meragukan karena tidak dibangun di atas dasar dan pondasi yang benar. Seandainya bulan-bulan tersebut merupakan sekumpulan bintang, niscaya dia punya dasar yang kuat. Sekumpulan bintang itu jelas di langit dan waktu terbitnya juga mudah diketahui. Akan tetapi bulan-bulan yang meragukan tersebut tidak mempunyai pijakan yang kuat sama sekali. Hal ini diketahui dengan jumlah harinya, ada yang 28 hari dan ada juga yang 31 hari. Ini terjadi karena tidak dibangun di atas asas yang kuat (al-Qur’an dan as-Sunnah).

Namun apabila kita diuji dan harus menyebutkan kalender Masehi, maka kenapa kita harus meninggalkan kalender Hijriyyah dan menggunakan kalender Masehi yang meragukan dan tidak punya pijakan yang kuat itu? Padahal sangat memungkinkan bagi kita untuk menulis kalender Hijriyyah kemudian menulis setelahnya kalender Masehi. Lihatlah kebanyakan negeri kaum muslimin! Tatkala orang-orang kafir menguasainya, mereka berusaha mengubah kalender Hijriyyah dengan kalender mereka (Masehi). Hal ini dilakukan dalam rangka perbudakan dan penghinaan terhadap kaum muslimin yang menempati negeri tersebut.

Maka kami katakan: apabila kita diuji dan harus menyebutkan kalender Masehi, maka kita sebutkan kalender Hijriyyah terlebih dahulu, kemudian kita katakan hal ini bertepatan dengan tanggal sekian (kalender Masehi).

Kedua, hukumnya adalah mudah. Bukankah kita bisa menggabung keduanya? Misalnya, saya ada perjanjian dengan fulan atau perusahaan ini pada hari Ahad yang bertepatan dengan tanggal sekian (kalender Hijriyyah), kemudian disebutkan juga kalender Masehinya. Lantas orang yang bertanya tadi menjawab: “Benar.” Bukankah ini mungkin untuk dilakukan? Hal ini mungkin dilakukan. (Syaikh Sholih al-Utsaimin dalam Liqo’ al-Bab al-Maftuh 169:13)

Sumber: Suplemen majalah al-Mawaddah vol. 36, hal. 14-15


[1] QS. al-Baqoroh [2]: 189

[2] QS. at-Taubah [9]: 36