Apakah Perilaku Sang Buah Hati Normal?


Oleh Abdurrahim al-Basyir, M. Pd.

Anak adalah makhluk ciptaan Alloh yang dititipkan kepada orang tuanya sebagai amanah. Alloh Ta’ala menganugerahkan bermacam-macam perilaku kepada anak.

Perilaku anak ada yang bermanfaat dan ada juga yang membahayakan si anak. Kecerdasan dan rasa sensitif anak adalah modal dasar yang digunakan anak ketika berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Perilaku anak berbeda-beda, sesuai dengan umurnya. Artinya, setiap umur memiliki perilaku khusus. Dari sinilah lahir kepribadian anak.

Peran orang tua menjaga, mendidik dan mengasuh anak sangatlah penting, sebagai modal dasar pertumbuhan otaknya menjadi optimal sehingga mudah berinteraksi dengan lingkungannya. Pendidikan yang disuguhkan kepada anak sangat bermanfaat agar mampu berinteraksi dan menghadapi kehidupan yang baru. Mendidik dan mengasuh anak hanya bisa didapatkan dengan cara praktik dan pengalaman yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan setiap hari. Faktor pendukungnya antara lain, perhatian dan kasih sayang orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh bagi aspek emosional anak, mulai dari kontak fisik, sentuhan, belaian dan lainnya. Dengan cara ini balita bisa mengenal dirinya dan menyampaikan pesan kepada orang lain untuk meresponnya, apakah dia sedang dalam situasi yang tidak menyenangkan atau ceria.

Rutinitas yang dialami oleh anak sehari-hari akan merangsang dan membentuk watak dan perilakunya, baik dan buruknya, suka melawan, membangkang, suka berbagi, atau mementingkan diri sendiri, suka memiliki barang orang lain, kasar dan memaksa. Perilaku dan tingkah anak seperti ini sering menjadikan orang tua salah paham dan menganggap hal itu sebagai penyakit mental yang dialami anaknya. Karena perilaku dan tingkah anak seperti ini tidak tampak langsung atau terjadi secara spontanitas saja, tetapi secara terus-menerus dan tidak bisa hilang begitu saja. Penanggulangan masalah perilaku seperti ini membutuhkan waktu yang cukup dan peran penting orang tua.

Langkah yang terpenting dalam mengasuh anak adalah berinteraksi dengannya secara langsung. terlebih pada anak berumur 1 hingga 3 tahun. Di usia ini, balita cenderung berinteraksi dengan mainannya, sekalipun dia tidak mengerti dan tidak mengenal apa-apa. Nah, pada masa inilah berlangsung fase pembentukan dasar pada anak. Jika pada masa ini digunakan dengan seefektif mungkin, anak akan mudah mengerti dan memahami sekelilingnya, bisa mencerna perkataan, suara dan apa yang dikerjakan orang lain.

Balita pada usia ini cenderung pasif. Anak tidak mau memperhatikan yang dikatakan orang tuanya, karena asyik dengan mainannya atau bermain dengan bercanda dengan saudara-saudaranya. Pada fase ini, anak akan mengalami perkembangan perilaku yang cukup banyak dan terus akan tumbuh sesuai dengan perkembangan umurnya. Perkembangan tersebut biasanya akan berhenti sebelum masuk umur tiga tahun. Interaksi orang tua dan lingkungan sekitarnya sangat mempengaruhi tingkatan perkembangan atau menurunnya perilaku anak.

Pada fase ini, si kecil mulai mengenal benda dan sudah biasa menyampaikan secara langsung apa yang diinginkannya dengan menggunakan bahasa isyarat ataupun dengan kata-kata. Selain itu, balita pada usia ini pun sudah mengenal kepemilikan benda yang di tangannya atau ingin memiliki yang dilihatnya. Anak-anak pada usia 1 hingga 3 tahun suka mengeluarkan kata-kata seperti, “saya, milik saya, dan saya sendiri.”

Selain itu, rasa cinta dan sayang kepada orang tuanya juga sangat kuat, sehingga sering merasa cemburu dan merasa merebut kasih sayang orang tuanya. Perilaku ini tampak dengan seringnya anak memotong pembicaraan, ketika orang tuanya sedang berbicara dengan orang lain. Balita seumur ini biasanya selalu berusaha supaya dia yang memulai pembicaraan dan bahan pembicaraan hanya tentang yang ada di sekitarnya.

Fase pasif mempunyai indikasi yang cukup banyak. Di antaranya orang tua akan merasa terganggu dan risau dengan perilaku si kecil, sehingga semua yang dilakukan anak akan sangat diperhatikan. Si kecil pada masa ini tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya. Dia sering melanggar larangan dan tidak mau menjalankannya yang disuruh. Perilaku tersebut tidak hanya ketika di rumah saja. Di luar rumah, seperti di tempat-tempat umum, perilaku si kecil akan lebih parah. Bisa-bisa dia lari ke sana kemari, melompat-lompat, girang, menjerit, berteriak, merusak, dan memecahkan benda yang ada di depannya.

Tidak semua perilakunya ini disebabkan karena faktor yang jelas. Bisa jadi untuk menekan orang tuanya, agar mau mememihi permintaanya, seperti membelikan mainan dan permen. Cara yang dilakukan si kecil ini memang cukup ampuh dan membuat orang tua memang tidak mampu menahan perilaku anaknya, sehingga dia mau memenuhi permintaan itu dan merasa aman dari gangguan si kecil.

Akan tetapi sikap dan tindakan orang tua seperti ini bisa membahayakan mental si kecil. Karena bisa jadi hal-hal seperti ini sedikit demi sedikit bisa tumbuh dan berkembang. Alhasil, permintaan dan cara si kecil untuk membujuk orang tua menjadi lebih ampuh, bahkan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan yang dijadikan cara ampuh untuk menekan orang tuanya. Dengan demikian, si kecil dengan mudah menguasai orang tua dan orang-orang yang ada di rumah.

BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB MASALAH PEKILAKU ANAK

Masalah perilaku akan terjadi pada setiap anak dan berkembang dengan bentuk yang tidak sama, dan biasanya akan berkurang dan bisa jadi hilang sebelum anak berusia 3 tahun atau beberapa bulan setelah berusia 3 tahun. Peran interaksi orang tua dan lingkungan sangat mempengaruhi faktor tingkatan atau penurunan masalah perilaku anak tersebut.

Di antara penyebab masalah perilaku anak itu adalah:

  1. Memanjakan anak secara berlebihan. Mungkin karena anak pertama, atau putra bungsu dan saudara-saudaranya yang lain adalah perempuan.
  2. Perhatian kedua orang tua atau salah satunya yang terlalu melampaui batas ketika si anak sakit dan lainnya.
  3. Si kecil tidak merasa nyaman, terutama kalau anggota keluarga terlalu padat atau kondisi rumah yang sunyi.
  4. Ada bayi yang baru lahir di keluarganya. Hal ini bisa saja membuat anak merasa tersaingi dan tidak penting lagi, karena orang-orang lebih perhatian kepada bayi yang beru lahir tersebut.
  5. Iklim keluarga yang begitu kejam, biasa terdengar dan terjadi suara makian, cacian dan pemukulan.
  6. Tidak memberikan si kecil kebebasan yang cukup dalam bergerak, bermain, dan mengungkapkan sesuatu.
  7. Kurang perhatian orang tua karena sibuk bekerja di luar rumah, atau karena sibuk dengan pekerjaan sehari-hari.
  8. Suka mengikuti perilaku anak-anak lain seusianya.

MENGALAMI GANGGUAN KEJIWAAN?

Masalah perilaku kerap kali terjadi pada semua anak dengan tingkatan yang berbeda-beda, sesuai dengan tingkatan usia dan bentuknya yang bermacam-macam. Adanya masalah perilaku ini bukan berarti si anak mengalami gangguan kejiwaan atau mental. Tapi perlu diingat, bahwa ulah dan tingkah anak yang tidak sewajarnya akan bisa menjadi penyakit.

AKAN MENGGANGGU KECERDASANNYA?

Masalah perilaku anak juga tidak mengganggu perkembangan kecerdasannya. Hal ini juga bukan termasuk indikasi tertentu yang dapat mengganggu kecerdasan otaknya. Namun, harus diperhatikan dengan cermat, bahwa ada beberapa indikasi yang mengisyaratkan bahwa tingkatan kecerdasan anak terganggu, di antaranya seperti lama bisa berbicara, geraknya lambat ketika berjalan, susah makan, susah tidur, atau tidak mau bermain dengan yang lain. Apabila indikasi-indikasi ini terdapat pada anak-anak Anda, kami sarankan untuk langsung berkonsultasi dengan psikiater anak, agar kekhawatiran Anda cepat teratasi.

CARA MENGATASINYA

Untuk mengantisipasi terjadinya masalah perilaku pada anak, Anda bisa melakukan penjajakan perilaku kebiasaan si kecil semenjak dini. Apabila sudah nampak jelas ada perilaku yang tidak sewajarnya dilakukan oleh anak Anda, maka mengantisipasinya adalah dengan cara memberikan arahan langsung kepadanya. Dengan cara ini Anda dapat menanggulangi sikap atau perilaku yang bermasalah pada anak Anda. Paling tidak, bias sedikit mengurangi bahaya masalah perilaku anak.

Berikut poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam mengantisipasi terjadinya masalah perilaku anak:

1. Berikan kasih saying dan cinta yang penuh kepada si kecil, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun tindakan.

2. Tunjukkan kepada anak bahwa dia begitu penting bagi hidup Anda.

3. Berbicaralah kepadanya, seakan-akan si kecil bisa memahami apa yang Anda bicarakan. Walaupun anak tidak mengerti, tetapi secara tidak langsung ada ikatan emosional dan perasaan saling berhubungan.

4. Hati-hati dengan sikap Anda! Hindarilah perkataan yang tidak baik, mencela, dan memukul! Karena cara ini tidak baik dalam mengasuh anak.

5. Jika anak Anda melakukan hal-hal yang tidak Anda suka atau kurang tepat, maka jangan pernah menertawakannya. Dan, jangan pula Anda membiarkannya terlarut dalam melakukan hal itu. Atasilah dia dengan cara yang baik, sehingga dia lupa dengan perbuatan itu.

6. Ketika si kecil melakukan hal yang tidak sesuai dengan tempat, kondisi ataupun situasi Anda ketika itu, mungkin karena di tempat umum, atau karena Anda sedang menjamu tamu di rumah, maka janganlah Anda melarangnya dengan   membentak   atau   menakut-nakutinya. Karena orang lain juga mempunyai anak dan dapat mengarahkannya.

7. Apabila si kecil meminta sesuatu dengan cara-cara melakukan hal yang tidak wajar, janganlah langsung memenuhi permintaan itu. Ajaklah berbicara, bujuk, dan berikan sesuatu yang kecil setelah itu. Wallohu ‘alam. ◙

Sumber: majalah al-Mawaddah, vol. 36, hal. 59-61

Iklan

One thought on “Apakah Perilaku Sang Buah Hati Normal?

  1. Ping-balik: FIQIH NAFKAH (Memahami Kewajiban Memberi Nafkah dalam Islam) | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.