Selamatkan Jiwa dari SU’UZHZHON


Oleh: Ustadz Abu Bakr al-Atsari

Sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan hati dalam tubuh manusia bukan tanpa maksud dan hikmah yang kosong. Dia menyuruhnya untuk beribadah dan berbakti kepada-Nya.

Namun, sedikit sekali yang punya hati menyadarinya karena menyangka bahwa yang dipertanggungjawabkan kelak hanya anggota badannya. Bahkan, ada yang membiarkan hatinya terjangkiti penyakit tanpa ada usaha untuk mendiagnosa dan mengobatinya.

Di antara penyakit hati yang banyak menggerogoti manusia adalah su’uzhzhon atau buruk sangka. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memperingatkan akan bahaya penyakit ini:

“Hati-hatilah kalian dari berburuk sangka, karena buruk sangka adalahpembicaraan yangpaling dusta.”(HR. al-Bukhori 4849)

PENGERTIAN SU’UZHZHON

Zhon bisa berarti keraguan[1], tuduhan[2], perkiraan[3], dan keyakinan[4]. Sedangkan su’u bermakna jelek atau lawan dari baik[5] atau segala sesuatu yang menyusahkan[6]. Jadi, su’uzhzhon adalah membuat-buat kebohongan atau perkiraan terhadap orang lain sehingga membuatnya sedih tanpa ada alasan yang dibenarkan.[7] Sebab-sebab su’uzhzhon adalah:

1.Tidak adanya pijakan yang benar dalam menghukumi seseorang atau suatu permasalahan. Pijakan yang dimaksud adalah:

  1. Memperhatikan fakta di lapangan dan menyerahkan rahasia batinnya kepada Alloh Ta’ala. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ia berkata: ‘Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang, kemudian pada pagi harinya kami menyerang Bani Huroqot dari Juhainah. Lalu saya menjumpai seseorang mengatakan: Laa ilaaha illalloh, kemudian aku menikamnya sehingga jiwaku menjadi tidak tenang. Aku menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata: “Apakah setelah ia mengatakan Laa ilaaha illalloh kemudian kamu membunuhnya…?! Aku berkata: ‘la mengatakannya hanya karena takut senjata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga mengetahui apakah hatinya mengucapkannya atau tidak …?!”
    ‘Beliau terus mengulangi pertanyaannya kepadaku, sampai aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam pada hari itu.’ (HR. al-Bukhori 5/183, Muslim 96, 97).
  2. Berpatokan kepada dalil (bukti) atau argumen yang kuat (baca QS. al-Baqoroh [2]: 111).
  3. Meneliti kebenaran dalil atau argumen tersebut (baca QS. an-Nisa’ [4]: 94). Demikian pula sebelum memutuskan suatu hukum harus didasari prinsip tabayyun (mencari kejelasan) sebingga tidak menyesal di kemudian hari.
  4. Tidak adanya pertentangan antara dalil atau argumen yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, alasan orang-orang yang melakukan kesyirikan atau kemaksiatan dengan mengatakan: “Jika Alloh menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Maka Alloh Ta’ala membantahnya:
    1. قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إَلاَّ تَخْرُصُونَ

Katokanloh: “Apakah kamu mempunyai suatu pengetahuan sehingga kamu bisa mengemukakannya kepada kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. ” (QS. al-An’am [6]: 148)

2. Mengikuti hawa nafsu. Terkadang seseorang karena hawa nafsunya cenderung memihak kepada seseorang sekalipun orang tersebut nyata-nyata bersalah. Sedangkan tatkala ia memang dari awalnya tidak suka atau membenci seseorang, apakah karena iri, dengki atau sebab yang lain, maka secara psikologis ia akan selalu menyalahkan dan berprasangka negatif kepadanya sekalipun orang itu di atas kebenaran. Alloh Ta’ala mencela perilaku tersebut dengan firman-Nya:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orangyang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dariAlloh sedikitpun. (QS. al-Qoshosh [28]: 50)

3. Terpengaruh oleh syubhat. Syubhat atau pemikiran-pemikiran menyimpang sangat besar peranannya menumbuhkan sikap berburuk sangka, baik dengan sengaja maupun tidak. Dengan syubhat, sahabat bisa menjadi musuh dan panutan bisa menjadi ejekan.

Dari Ali bin Husain radhiyallahu ‘anhuma bahwa Shofiyyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di masjid bersama para istri beliau, kemudian mereka pulang petang hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada: Shofiyyah binti Huyaiy: “Jangan terburu-buru, aku mau pulang bersamamu. ” Ketika itu Shofiyyah tinggal di rumah Usamah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersamanya, kemudian bertemu dengan dua orang laki-laki Anshor. Mereka berdua melihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berlalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memanggil keduanya: “Ke sinilah, wanita ini adalah Shofiyyah.”Mereka berdua berkata: ‘Subhanalloh, wahai Rosululloh!’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setan mengalir dalam peredaran darah manusia. Dan aku khawatir aka ada sesuatu (prasangka negatif) dalam diri kalian. ” (HR. al-Bukhori 1933, Abu Dawud 2470)

4. Tidak menjaga adab yang benar dalam berbisik-bisik. Berbisik-bisiknya antara dua orang atau lebih dengan membiarkan orang ketiga, atau berbisik-bisik bukan dengan bahasa nasional dapat menyebabkan prasangka buruk bagi orang yang tidak memahaminya. Demikian pula berbisik-bisik dalam hal maksiat atau dalam perkara-perkara yang tidak penting (baca QS. al-Mujadilah [58]: 10).

BAHAYA SU’UZHZHON

  1. Su’uzhzhon akan melahirkan rangkaian dosa dan maksiat seperti ghibah, namimah, hasad, permusuhan, perselisihan bahkan dapat memutuskan silaturrahmi.
  2. Orang yang senang berburuk sangka, kehidupannya akan sempit dan hatinya selalu merana. (QS. Thaha: 124)
  3. Pelakunya akan dijauhi oleh manusia dan itulah sejelek-jelek manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha; (artinya): “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Alloh adalah orang yang meninggalkannya atau memisahkan diri darinya karena takut kejelekannya. ” (HR. al-Bukhori 5780)
  4. Akan berujung kepada penyesalan. (QS. al-Maidah [5]: 52)
  5. Menyia-nyiakan waktu, tenaga dan pikiran tanpa ada manfaatnya.

Namun terkadang su’uzhzhon diperbolehkan, bahkan wajib hukumnya. Diperbolehkan su’uzhzhon kepada orang yang terang-terangan melakukan maksiat dan menampakkan kejahatannya karena adanya dalil yang kuat, sebagaimana hadits Aisyah di atas. Sedangkan kepada orang-orang kafir dan munafik yang memamerkan kekafirannya dan memusuhi kaum muslimin maka kita wajib untuk su’uzhzhon kepada mereka.

Disarikan dari Kitab Afatut Thoriq karya Syaikh Dr. as-Sayyid Muhammad Nuh hafidzhahullah

Sumber: majalah al-Mawaddah vol. 36, hal. 33-34


[1] QS. al-Hajj [22]: 15

[2] QS. al-Ahzab [33]: 10

[3] QS. al-Anbiya'[21]: 78

[4] QS. al-Baqoroh[2]:45-46

[5] QS. al-A’rof [7]: 95

[6] Bashoir Dzawi at-Tamyiz fi Lathoifil Kitabil ‘Aziz, Fairuz Abadi 3/545-547, 288-289

[7] Afatut Thoriiq, Dr. as-Sayyid Muhammad Nuh, juz 3.