Tawassul, Mengapa Tidak?


Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Kami menjumpai sebuah majalah yang di dalamnya terdapat alasan-alasan dibolehkannya bertawassul dengan orang mati dan benda mati, di antaranya:

1. Tawassul dengan orang mati sama dengan orang sakit bertawassul dengan obat, penuntut ilmu bertawassul dengan menuntut ilmu, orang ingin punya anak bertawassul dengan menikah.

2. Menghadap kiblat adalah bentuk tawassul supaya sholat diterima.

3. Kebanyakan manusia tidak dikabulkan do’anya secara langsung  maka dibutuhkan  perantara berupa orang-orang sholih yang dekat kepada Alloh.

4. Kisah ashabul kahfi adalah sebuah dalil bolehnya bertawassul dengan amalan, maka boleh juga bertawassul dengan orang mati.

5. Dalam  tafsir  al-Khozin  dan al-Kasysyaf ketika menafsirkan Surat al-Baqoroh [2]:  89, dahulu Bani Quroizhoh setiap kali bertawassul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu diberi kemenangan dalam perang, Alloh membenarkan hal ini, namun setelah mereka ingkar kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Alloh mencela mereka.

6. Ketika terjadi kemarau panjang Bilal bin Harits datang ke kubur Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Rosululloh, mohonkan kepada Alloh agar menurunkan hujan buat umatmu karena sekarang dalam keadaan bahaya.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lewat mimpinya mengabarkan turunnya hujan, dan benar pagi harinya turunlah hujan.

7. Dalam hadits riwayat ath-Thobroni, al-Hakim, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dikisahkan ada seorang buta minta dido’akan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya sembuh, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya sholat dua roka’at dan berdo’a:

Allahumma inni as-aluka wa atawwajahu ilaika bi nabiyyika muhammadin, nabiyyir rohmati, ya muhammadu inni tawajjahtu bikaila robbi fii haajati hadzihi latuqdhiyin haajati, allahumma fasyaffa’hu fiyya.

Setelah melakukannya si buta tadi segera sembuh.

8. Dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah HR, Baihaqi dan al-Hakim dari Umar, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Nabi Adam ‘alaihis salam ketika bersalah dan bertobat berdo’a dengan do’a:

yaa robbi as-aluka bi haqqi muhammadin lima ghofarta lii

9. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertawassul dengan dirinya sendiri dalam HR. ath-Thobroni dalam al-Aushath dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ketika ibunya dimakamkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

allahuma bi haqqiy wa haqqil anbiyaa-I min qobliy ighfir li ummi ba’da umma

10. Nabi Daud ‘alaihis salam bertawassul dengan membawa Tabut Nabi Musa ‘alaihis salam yang di dalamnya ada pakaian dan sandalnya, maka dengan ini Nabi Daud ‘alaihis salam mendapat pertolongan dari Alloh melawan musuhnya. (al-Bidayah wan Nihayah: 2/8 Ibnu Katsir)

11. Bertawassul kepada para wali dasarnya HR. ath-Thobroni, jika seorang tersesat, maka hendaknya mengatakan:

Yaa ‘ibaadallaahi aghiitsuunii

Atau

Yaa ‘ibaadallaahi dullanaa ‘alat thoriiq

Apakah semua yang disebutkan di atas benar-benar shohih? (Shalih Nasar-Pasuruan)

Jawab[1]:

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

1. Dalil yang digunakan adalah dalil qiyas sedangkan dalam penetapan ibadah tidak ada qiyas. Ini menunjukkan bahwa penulis artikel di majalah tersebut tidak mampu mendatangkan dalil sehingga mendatangkan dalil qiyas tanpa dalil al-Qur’an dan sunnah, bahkan qiyasnya pun tidak sah. Kalau orang sakit memang diperintah untuk berobat, orang ingin punya anak diperintah menikah dan semua ini diperintah oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi berdo’a tidak diperintah bertawassul dengan yang telah mati.

2. Jawaban syubhat ini tidak jauh dari yang pertama, dan menghadap kiblat jelas-jelas perintah Alloh dan Rosul-Nya, sedangkan bertawassul dengan yang telah mati sama sekali tidak ada landasannya.

3. Perkataankebanyakan manusia tidak dikabulkan langsung do’anya sehingga butuh adanya perantara (berupa orang yang mati)” perlu ditinjau lagi. Justru dalam banyak ayat dan hadits ditegaskan bahwa Alloh itu dekat, Dia mengabulkan do’a siapa pun asalkan memenuhi persyaratan. Sebagai contoh firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqoroh [2]: 186)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan siapa saja berdo’a selama do’anya bukan kezaliman pasti dikabulkan oleh Alloh, dalam sabdanya:

Laa yazaalu yustajaabu lil ‘abdi maa lam yad’u bi itsmin au qotii’ati rohmin maa lam yasta’jil.

“Senantiasa doa seorang hamba dikabulkan selagi tidak berdo’a (dalam perkara) dosa, atau memutus tali silaturrahmi, dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Mus-lim: 2735)

Alloh telah mengajari kita berbagai macam do’a dan Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga mengajarkan berbagai macam do’a. Tidak satu pun dari do’a tersebut yang disertai tawassul dengan makhluk yang telah mati atau benda mati lainnya. Kalau kita tidak puas dengan dengan ajaran Alloh dan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempuma ini lalu kita membuat-buat sendiri cara baru dalam berdo’a maka kita jatuh dalam firman-Nya:

قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

…. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang lebih rendah sebagai pengganti yang lebih baik?…. (QS*al-Baqoroh [2]: 61)

4. Adapun berdalil dengan kisah ashabul kahfi, maka tertolak karena hadits itu justru secara gamblang menerangkan bertawassul dengan amal sholih bukan dengan orang mati (yaitu dengan birrul walidain, menjaga kehormatan, dan berbuat baik dengan menepati janji kepada pegawainya), dan amal sholih bermanfaat bagi pelakunya berbeda dengan orang mati (lihat at-Tawassul kar. al-Albani: 1/32).

5. Seandainya perkataan di atas benar, maka itu adalah amalan orang-orang Yahudi bukan muslim. Akan tetapi, kisah ini tidak disandari dengan sanad yang jelas sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.  Justru  terdapat banyak  riwayat  yang menjelaskan bahwa makna ayat tersebut –dalam QS. al-Baqoroh [2]: 89– adalah orang-orang Yahudi menyebut-nyebut kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berperang melawan orang-orang Arab karena  menyangka bahwa Muhammad —nabi yang mereka tunggu-tunggu— dari Yahudi. Namun, tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata diutus dari orang Arab, mereka pun ingkar dan menjadi kafir.

Imam ath-Thobari dalam tafsir QS. al-Baqoroh meriwayatkan sebuah hadits dari Yunus dari Ibnu Wahb berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Zaid tentang tafsir firman-Nya (QS. al-Baqoroh [2]: 89), beliau berkata: “Dahulu orang-orang Yahudi ber-istiftah (dengan kabar kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika melawan orang-orang kafir Arab, mereka mengatakan: ‘Demi Alloh, sungguh akan datang seorang nabi bernama Ahmad (nama lain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang telah dikabarkan oleh Musa dan Isa. Sungguh kami akan menang mengalahkan kalian.’ Orang-orang Yahudi menyangka bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dari kalangan orang Yahudi (tetapi ternyata bukan). Demikianlah mereka beristiftah dengan kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tatkala datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka ketahui (bukan orang Yahudi) mereka ingkar/kafir dan dengki kepadanya.”

Ibnu Abi Hatim (dalam Tafsir-nya: 3/490) meriwayatkan sebab turunnya QS. al-Baqoroh [2]: 89 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Orang Yahudi dahulu beristiftah (menyebut-nyebut Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebelum diutusnya ketika melawan suku Aus dan Khozroj. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dari Arab, mereka menjadi kafir dan ingkar terhadap perkataan (istiftah) mereka sendiri.” Mu’adz bin Jabal, Bisyr bin Barro’, Dawud bin Maslamah berkata: “Wahai sekalian orang Yahudi, takutlah kepada Alloh dan masuklah kepada agama Islam. Sungguh kalian dahulu beristiftah dengan kabar diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melawan kami yang saat itu kami adalah orang-orang musyrik. Kalian beristiftah dengan mengatakan bahwa akan diutus (dari golongan kalian) dan kalian menyebut sifat-sifatnya.” Salam bin Misykam, saudaranya Bani Nadzir, berkata: “Dia (Muhammad) tidak membawa bukti yang kita ketahui, dia bukan nabi yang selalu kami sebutkan kepada kalian.” Lalu turunlah ayat tersebut.

6. Kisah ini juga tidak sah karena karena dalam riwayat tersebut dikatakan: ‘an malikid daari (dari pemilik rumah…) yang disebutkan tidak diketahui siapa sebenarnya dan tidak dikenal sebagai rowi hadits yang terpercaya sebagaimana syarat sahnya hadits. Riwayat ini juga tidak disebutkan rowi darinya kecuali Abu Sholih as-Saman sedangkan dia juga majhul (tidak dikenal). Kedua, di samping lemah riwayat tersebut juga bertentangan dengan syari’at yang shohih ketika terjadi terlambatnya hujan, yang mana Rosululloh m memerintah umatnya untuk melaksanakan sholat istisqo’ (minta hujan) dan berdo’a minta hujan (sebagaimana HR. al-Bukhori 1005 dan Muslim 1162).

Adapun riwayat yang menyebutkan pelaku kisahnya adalah Bilal bin Harits dalam riwayat Saif bin Umar at-Tamimi, maka Saif adalah perowi yang dho’if (lemah) berdasarkan kesepakatan pakar hadits, bahkan Ibnu Hibban mengatakan: “Dia (Saif) meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para rowi terpercaya dan mereka berkata dia meriwayatkan hadits palsu.”

7.  Adapun kisah orang buta adalah shohih sebagaimana dalam HR. Ibni Majah: 1385, dishahihkan al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 2495. Akan tetapi, kisah ini tidak menjadi dalil bertawassul dengan orang mati, berdasarkan alasan:

a. Orang buta tersebut datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya beliau do’akan bukan bertawassul dengan orang mati. Oleh karenanya, dia berkata kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ud’ullaaha an yu’aafiyani
“Do’akan saya kepada Alloh supaya menyembuhkan aku. ”
Bertawassul dengan minta dido’akan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sah karena kita mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam do’anya lebih dikabulkan, berbeda dengan selain beliau.

b. Seandainya orang buta itu bermaksud tawassul kepada jasad atau kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mestinya dia duduk di rumahnya dan bertawassul, tidak perlu bersusah payah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta did’oakan di hadapannya.

c. Dalam kisah itu dijelaskan bahwa orang buta itu memohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya beliau mendo’akannya kepada Alloh bukan meminta diajari cara berdo’a. Oleh karena itu, di akhir do’anya dia berkata:
Allaahumma fasyaffa’hu fiyya
Ya Allah, berikanlah sayafa’atnya kepadaku.”

d. Apabila kita menerima bahwa orang buta itu bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini hanya dilakukan ketika masa hidup beliau dan khusus bagi beliau karena bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya tidak pernah dikenal para salaf shalih semuanya.

e. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa orang buta itu bermaksud dalam perkataan:
Allaahumma inni as-aluka wa atawassalu ilaika bi nabiyyika muhammadin
Ya Alloh, aku bertawassul dengan (do’a) Nabimu Muhammad” bukan “dengan kedudukan Nabi-Mu” sebab di dalam rangkaian kata itu ada yang dihilangkan karena sudah dipahaml dari qoro‘in (penguat-penguat) yang telah disebutkan, dan susunan kata seperti ini sering kita jumpai dalam bahasa Arab atau yang lain, seperti dalam firman-Nya:
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا
Bertanyalah kepada kampung yang kami tinggal di dalamnya”[2], padahal maksudnya adalah penduduk kampung.[3]

8. Kisah ini adalah MAUDHU’/PALSU, dikeluarkan oleh al-Hakim: 2/615, Ibnu Asakir: 2/323/2, al-Baihaqi dalam Dalailul Nubuwwah: 5/488. Hadits tersebut dari jalan Abdulloh bin Muslim al-Fihri, dari Abdurrohman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya, dari kakeknya dari Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu.
Imam   adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Hadits  ini maudhu‘ (palsu) karena Abdurrohman bin Zaid bin Aslam rowi yang batil, dan (tentang) Abdulloh al-Fihri saya tidak kenal siapa dia. Demikian dikatakan oleh al-Baihaqi tentah kelemahan Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam.”
Begitu pula sebelumnya ada Abdulloh bin Muslim bin Zaid, dia rowi wadhdho’ (tukang memalsukan hadits).[4]

9.  Adapun hadits yang disebutkan di atas, kami tidak mendapati hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad (diakui para ulama). Seandainya benar-benar ada, maka harus diketahui keabsahan hadits tersebut, dan sampai saat ini kami belum menjumpainya. Allohu A’lam.

10. Perkataan ini tidak didasari oleh dalil yang jelas baik dari ayat al-Qur’an atau hadits yang shohih sehingga tidak dapat dijadikan dalil bolehnya bertawassul dengan benda mati.

11. Hadits ini DHO’IF/LEMAH.

Diriwayatkan oleh Imam ath-Thobroni dalam al-Kabir: 6/55/1, dari al-Hasan bin Ishaq, dari Ahmad bin Yahya al-Shufi, dari Abdurrohman bin Syarik, dari ayahnya, dari Abdulloh bin Isa, dari Ibnu Ali, dari Utbah bin Ghufron, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Letak kelemahannya:

  • Abdurrohman bin Syarik dan ayahnya, keduanya rowi yang dho’if sebagaimana dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar.
  • Hadits ini juga terputus sanadnya, karena Ibnu Ali tidak berjumpa dengan Utbah bin Ghufron, sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’: 10/132.

Oleh karena itu, para salaf sholih tidak mengamalkan hadits ini ketika mereka tersesat karena haditsnya tidak sah, sebagaimana yang terjadi pada diri Abdulloh ibnul Mubarok ketika beliau tersesat dan pernah mendengar hadits ini, lalu beliau mencari kebenaran sanad hadits ini, lalu beliau tidak membolehkan ucapan tersebut karena haditsnya tidak sah (al-Harowi dalam Dzammil Kalam: 1/68/4); dinukil dari Ilmu Ushulil Bida’ hlm. 173.

Dari keterangan tadi jelaslah bahwa alasan-alasan yang disampaikan dalam pertanyaan di atas tidak sah sehingga tidak dapat dijadikan sandaran bertawassul kepada orang mati. Adapun tawassul yang dibolehkan telah kami [penulis makalah, _adm] jelaskan di majalah ini Tahun ke-7 Edisi 1 pada rubrikSoal Jawab.

Sumber: majalah al-Furqon no. 89, hal. 4-7


[1] Jawaban ini kami rangkum dari Silsilah Dho’ifah: 1/88-101, at-Tawasul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, keduanya oleh al-Albani, dan al-Qo’idah al-Jalilah Fit Taivassul wal Wasilah kar. Ibnu Taimiwah.

[2] QS. Yusuf [12]: 82

[3] Lihat keterangan lebih luas dalam at-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu kar. al-Albani yang dikumpulkan oleh Muhammad Id al-Abbasi terbitan al-Maktab al-Islami cetakan ke-3.

[4] Demikian juga kelemahan hadits ini dikuatkan [kelemahannya, _adm] oleh al-Haitsami, Ibnu Hibban, Abu Nu’aim, Abu Bakar al-Ajuri, dan lainnya (lihat al-Qo’idah al-Jalilah Fit Tawassul wal Wasilah hlm. 69, Ibnu Katsir dalam Tarikh-nya: 2/323, ul-Majmu’: 8/253, asy-Syari’ah hlm.427, dan Silsilah Dho’ifah kar. al-Albani no. 25)

 

Iklan

3 thoughts on “Tawassul, Mengapa Tidak?

  1. Ping-balik: FIQIH NAFKAH (Memahami Kewajiban Memberi Nafkah dalam Islam) | maktabah abi yahya™

  2. islam agama yang fleksibel, cocok untuk segala tempat waktu dan zaman, maka syariat harus difahami dengan pemikiran yang fleksibel, kalau semua persoalan harus persis sesuai dengan lahirnya nash maka islam tidak akan bisa masuk pada dunia modern yang serba muncul persoalan yang komplek

    • Itu kalo wahyu turun kepada kita, sehingga kita bebas memahamkan semau kita. Tapi wahyu turun kpd Rosululloh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ya mau tidak mau kita musti tunduk dg apa yg beliau pahami dan amalkan.

Komentar ditutup.