MENUMBUHKAN SIFAT TAWADHU’


MENUMBUHKAN SIFAT

TAWADHU’


Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman  خفظه الله

MUQODDIMAH

Makin berisi makin merunduk. Begitulah peribahasa ‘ilmu padi‘ yang sering kita dengar. Dalam syari’at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang serupa, sifat dan sikap tawadhu’.

Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’ dan mengancam orang yang sombong. Tidak ada keutamaan seseorang terhadap yang lain kecuali nilai takwanya. Alloh عزّوجلّ berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurot [49]: 13)

Maka yang menjadi ukuran adalah ketakwaan, bukan banyaknya harta, tingginya pangkat atau kemuliaan nasab. Takwa adalah barometer dalam segala perkara. Tidak akan bermanfaat harta, pangkat dan keturunan kecuali diiringi dengan takwa. Salah satu perangai ketakwaan yang dianjurkan dalam agama adalah sifat tawadhu’.

DEFINISI TAWADHU’

Tawadhu’ secara bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu.[1]  Sedangkan secara istilah adalah menampakkan perendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Ada juga yang mengatakan tawadhu’ adalah mengagungkan orang karena keutamaannya. Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dan tidak menentang hukum.[2]

Tidak ada yang mengingkari, tawadhu’ adalah akhlak yang mulia. Yang menjadi pertanyaan, kepada siapa kita merendahkan hati. Alloh عزّوجلّ menyifati hamba yang dicintai-Nya dalam firman-Nya;

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 54)

SYARAT TAWADHU’

Tawadhu’ adalah akhlak yang agung dan ia tidak sah kecuali dengan dua syarat;

Pertama: Ikhlas karena Alloh عزّوجلّ semata. Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh, kecuali Alloh akan angkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Kedua: Kemampuan

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

Barangsiapa yang meninggalkan pakaian[3]  karena tawadhu’ kepada Alloh[4] padahal dia mampu, maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Alloh memberinya pilihan dari perhiasan penduduk surga, ia bisa memakainya sekehendaknya.” [5]

KEUTAMAAN TAWADHU’

Tidaklah sifat yang terpuji melainkan menyimpan keutamaan. Ini adalah sebagai pendorong bagi kita agar segera berhias dengan sifat tersebut. Di antara keutamaan sifat tawadhu’ adalah;

1. Menjalankan perintah Alloh عزّوجلّ

Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. asy-Syu’aro [26]: 215)

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa, maka Alloh عزّوجلّ memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman yang mengikati Nabi صلي الله عليه وسلم.'” [6]

2. Alloh عزّوجلّ membenci orang yang sombong

Alloh سبحانه و تعالي berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

Sahabat mulia Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: “Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian merendahkan hamba Alloh dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara kepadamu.” [7]

3. Perangai hamba yang terpuji

Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)

Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan: “Firman Alloh عزّوجلّ berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [8]

4. Jalan menuju surga

Alloh سبحانه و تعالي berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat[9] itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu[10] adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qoshos [28]: 83)

5. Mengangkat derajat seorang hamba

Selayaknya bagi setiap muslim untuk berhias diri dengan sifat tawadhu’ karena dengan tawadhu’ tersebut Alloh if. akan meninggikan derajatnya. Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda;

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh kecuali Alloh عزّوجلّ mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:

Pertama: Alloh سبحانه و تعالي akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Alloh عزّوجلّ mengangkat derajatnya di mata manusia.

Kedua: Pahala di akhirat, yakni Alloh عزّوجلّ akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia.[11]

6. Mendatangkan rasa cinta, persaudaraan dan menghilangkan kebencian

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Sesungguhnya Alloh عزّوجلّ mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada lagi orang yang menyakiti atas orang lain.” (HR. Muslim: 2865)

MACAM-MACAM TAWADHU’

Pertama: Tawadhu’ yang terpuji

Yaitu tawadhu’nva seorang hamba ketika melaksanakan perintah Alloh عزّوجلّ dan meninggalkan larangan-Nya. Karena jiwa ini secara tabiat akan mencari kesenangan dan rasa lapang serta tidak ingm terbebani sehingga akan menimbulkan keinginan lari dari peribadatan dan tetap dalam kesenangannya. Maka apabila seorang hamba mampu  menundukan dirinya dengan melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, sungguh ia telah tawadhu’ dalam peribadatan.

Kedua: Tawadhu’ yang tercela

Yaitu tawadhu’nya seseorang kepada orang yang mempunyai pangkat dunia karena berharap mendapat bagian dunia darinya.

Orang yang memiliki akal sehat dan selamat tentunya ia akan berusaha meninggalkan tawadhu’ tercela ini dan akan berusaha berhias dengan sifat tawadhu’ yang terpuji.[12]

TINGKATAN TAWADHU’

Pertama: Tawadhu’ di dalam agama

Yaitu patuh dan mengerjakan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم secara pasrah, runduk dan taat. Hal itu tidak bisa terwujud kecuali dengan tiga perkara;

  1. Tidak mempertentangkan ajaran yang dibawa oleh Nabi صلي الله عليه وسلم dengan akal, analogi, perasaan, atau siasat.
  2. Tidak menuduh bahwa dalil-dalil dalam agama ini adalah cacat dan jelek serta berprasangka bahwa dalil-dalil agama ada yang kurang, atau yang lainnya lebih utama. Barangsiapa yang terlintas dalam pikirannya hal seperti ini, maka salahkanlah pemahamannya.
  3. Tidak menyelisihi nash dan dalil yang telah tetap.

Kedua: Menerima kebenaran dari orang yang dicintai atau yang dibenci

Tidak termasuk sikap tawadhu’ adalah menolak kebenaran dikarenakan ia berasal dari musuh.

Ketiga: Menjunjung al-haq

Yaitu menjadikan al-haq dan perintah sebagai dasar perbuatan dan menjalankan ibadah kepada Alloh عزّوجلّ semata-mata karena perintah dari Alloh سبحانه و تعالي dan bukan karena kebiasaan atau hawa nafsu.[13]

TAWADHU’ DAN MENGHINAKAN DIRI

Kita sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan diri. Keduanya sangat berbeda. Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Alloh عزّوجلّ dan karena pengagungan dan kecintaan kepadaNya serta kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.

Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu’ dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Alloh سبحانه و تعالي, patuh dan berserah diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas orang lain dan ti-dak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Alloh عزّوجلّ kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.

Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.

Semua ini adalah bentuk penghinaan diri dan bukan tawadhu’. Alloh عزّوجلّ hanya mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan membenci perendahan dan penghinaan diri.[14]

Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi رحمه الله mengatakan: “Sikap pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.” [15]

KIAT MENGGAPAI TAWADHU’

1.    Berfikirlah dari apa kita diciptakanJika seorang muslim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.

Berawal dari tidak bisa mendengar, tidak melihat dan lemah kemudian menjadi insan yang sempurna penciptaannya. Alloh عزّوجلّ berfirman;

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ. ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

Dari apakah Alloh menciptakannya? dari setetes mani, Alloh menciptakannya lalu menentukannya, kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa [80]: 18-20)

Alloh عزّوجلّ juga berfirman;

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS. al-Insan [76]: 2)

Apabila kondisi manusia seperti ini, mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?!

Imam Ibnu Hibban Asy-Sayfi’i رحمه الله mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia membawa kotoran?” [16]

2.    Kenalilah diri AndaAlloh سبحانه و تعالي berfirman:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. al-Isro’ [17]: 37)

Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi رحمه الله berkata: “Wahai orang yang sombong, engkau adalah orang yang lemah, hina dan terbatas di dunia ini. Bumi yang engkau berpijak di atasnya, engkau tidak bisa berbuat apapun walaupun engkau injak dengan sekuat tenaga. Jangan angkuh, jangan berjalan di muka bumi ini dengan sombong.” [17]

POTRET TAWADHU’ RASULULLAH

Barangsiapa yang ingin membersihkan hatinya dari sifat sombong dan ingin berhias dengan tawadhu’, maka hendaklah ia melihat suri tauladan kaum muslimin yakni Rosululloh صلي الله عليه وسلم. Sungguh Alloh M telah memuji dan menyempurnakan akhlaknya.

Alloh سبحانه و تعالي berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qolam [68]: 4)

Di antara sifat tawadhu’ Rosululloh عزّوجلّ adalah:

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebihan kepada Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Katakanlah; hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Bukhori: 3445)

Aisyah رضي الله عنها berkata: “Rosululloh صلي الله عليه وسلم sangat perhatian dalam membantu urusan keluarganya. Apabila telah tiba waktu sholat, beliau bergegas pergi menuju sholat.” (HR. Bukhori: 676)

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda: “Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba, dan aku duduk sebagaimana duduknya seorang hamba.” [18]

Rosululloh صلي الله عليه وسلم melewati sekumpulan anak kecil, kemudian beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan salam kepada mereka. (HR.Bukhori: 6247, Muslim: 2168)

Rosululloh صلي الله عليه وسلم menjahit sandalnya, menambal bajunya, memeras susu ternak untuk keluarganya dan memberi makan unta. Beliau صلي الله عليه وسلم makan bersama pembantunya dan mengundang orang-orang miskin. Berjalan bersama para janda dan anak-anak yatim untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beliau صلي الله عليه وسلم memulai salam lebih dahulu jika bertemu orang lain dan beliau صلي الله عليه وسلم memenuhi undangan orang yang mengundangnya sekalipun dalam sesuatu undangan yang ringan.[19]

Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه berkata: “Cintailah orang-orang yang miskin karena aku mendengar Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda dalam do’anya: “Ya Alloh, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaaan miskin dan masukkanlah aku bersama orang-orang yang miskin pada hari kiamat.” [20]

Al-Hafizh Ibnu Rojab رحمه الله mengatakan: “Yang dimaksud dengan miskin dalam hadits ini adalah orang yang di dalam hatinya ada rasa tenang, tunduk dan khusyu’ kepada Alloh عزّوجلّ.[21]

MUTIARA SALAF SEPUTAR TAWADHU’

  1. Sahabat mulia Abu Bakr as-Shiddiq رضي الله عنه berkata: “Kami mendapati kemuliaan dalam ketakwaan, kecukupan dalam keyakinan dan kehormatan dalam tawadhu’.” [22]
  1. Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها berkata: “Kalian telah melupakan ibadah yang paling afdhol yaitu tawadhu’.” [23]
  2. Fudhail bin Iyadh رحمه الله pernah ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Tawadhu’ adalah engkau tunduk terhadap kebenaran, mengamalkan dan menerimanya dari orang yang mengucapkannya. Sekalipun mendengarnya dari seorang anak kecil maka ia akan menerimanya atau walaupun mendengarnya dari manusia yang paling bodoh maka ia akan tetap menerimanya.” [24]
  3. ‘Urwah bin Wardi رحمه الله berkata: “Tawadhu’ adalah salah satu tujuan kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang hasad kecuali tawadhu’.” [25]
  4. Ibrohim bin Adham رحمه الله berkata: “Tidak pantas bagi seseorang untuk merendahkan dirinya di bawah kedudukannya. Dan janganlah dia mengangkat dirinya di atas kedudukannya”.[26]

Demikian indahnya sifat tawadhu’. Ya Alloh, tunjukilah kami agar bisa berhias dengan akhlak yang mulia dan jauhkanlah kami dari sifat yang tercela. Amiin. Alloh Alam


  1. Mu’jam Maqoyis al-Lughoh hlm.1055, Ibnu Faris, al-Mufrodaat hlm.540, al-Ashfahani
  2. Madarij as-Salikin 2/379, Ibnul Qoyyim, Fathul Bari 11/341, Ibnu Hajar
  3. Yaitu pakaian yang bagus dan mahal.
  4. Maksudnya bukan karena ingin dikatakan dia adalah orang yang tawadhu’, zuhud atau lainnya. (Tuhfatul Ahwadzi 7/154, Mubarok Fury)
  5. HR. Tirmidzi: 2481, Ahmad 3/439, Hakim 4/183, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/48 dll. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no.718
  6. Syarah Riyadhus Sholihin 3/515
  7. Fathul Qodir 4/301, Syaukani
  8. Madarijus Salikin 2/375, Ibnul Qoyyim, Tahqiq: Amir Ali Yasin
  9. Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat
  10. Maksudnya: surga
  11. Syarah Shohih Muslim 16/143
  12. Roudhotul Uqola hlm.59, Ibnu Hibban, Nadhrotun Na’im 4/1256-1257, Nahwa Akhlaq as-Salaf  hlm.153, Salim al-Hilali, Aina Nahnu Min Haulaa hlm.127, Abdul Malik al-Qosim
  13. Madarij as-Salikin 2/383-388, Ibnul Qoyyim
  14. Ar-Ruuh hlm.273, Ibnul Qoyyim
  15. Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm.298, Tahqiq: Ali Hasan Ali Abdul Hamid
  16. Roudhotul Uqolaa hlm.61
  17. Adhwaaul Bayan 3/592
  18. HR. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 13/248. Dicantumkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 544
  19. Madarij as-Salikin 2/377-378
  20. HR.Tirmidzi: 2352, Ibnu Majah: 4126. Hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 308, al-Irwaa: 861
  21. Adz-Dzul Wal Inkisar Lil Azizil Jabbar, termuat dalam Majmu’ Rosail al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali 1/309.
  22. lhya’ Ulumuddin 3/343, al-Ghozali
  23. Az-Zuhud 2/463, Imam al-Waki’
  24. Madarij as-Salikin 2/379
  25. lhya Ulumuddin 3/343
  26. Syu’abul Iman no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na’im 4/1267-1268, Min Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani

Sumber: 

Majalah Al-Furqon No.103 Ed.11 Th. Ke-9_1431/2010 melalui Download ebook Islam dari http://ibnumajjah.wordpress.com/

About these ads

One thought on “MENUMBUHKAN SIFAT TAWADHU’

Komentar ditutup.