TRAGEDI GAZA, Ujian Bagi Seluruh Kaum Muslimin


oleh Syaikh al-‘Allamah Masyhur bin Hasan Alu Salman*

Tragedi Gaza[Mugoddimah][1]

Segala puji hanya bagi Alloh. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, meminta ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Alloh dari kejelekan-kejelekan jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami.

Barang siapa yang Alloh beri petunjuk maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak Ilah (sembahan) yang berhak disembah selain Alloh semata-mata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian sesudah itu:

Bukanlah hal yang tersembunyi atas siapa pun tragedi yang terjadi pada hari ini di bumi Palestina yang kita cintai. Kita memohon kepada Alloh agar segera mengembalikannya ke pangkuan Islam dan kaum muslimin, dan agar Alloh selalu menjaga penduduknya secara umum dan penduduk Gaza secara khusus.

Peristiwa yang terjadi di Gaza rnenjadikan kami memaparkan beberapa perkara—yang barangkali waktu yang ada tidak cukup untuk membicarakannya secara rinci, akan tetapi di dalam isyarat di dalam pembahasan ini insya Alloh tentangnya— hal yang menjadikan kami mencoba memaparkan hukum-hukum yang selayaknya dipaparkan sehubungan dengan nazilah (peristiwa) ini.

[Wajib Atas Kaum Muslimin Untuk Membantu Palestina]

Di antara hal yang harus diketahui ialah bahwa kaum muslimin seluruhnya wajib mengerahkan apa yang mereka mampu dari usaha menghentikan tertumpahnya darah dengan segera (pertolongan pertama), siapa saja yang tidak melaksanakannya padahal mampu maka dia berdosa. Syaikhuna al-Imam al-Albani rahimahullah dalam ta’liq (catatan kaki) beliau atas Syarah Aqidah Thohawiyyah—yang beliau tulis sejak lebih dari seperempat abad yang lalu— berkata: “Sesungguhnya kaum muslimin semuanya berdosa karena kekurangan mereka pada peristiwa yang terjadi di Palestina.”[2] Jika saja dosa ini disebabkan karena sekadar perampasan orang-orang Yahudi—semoga Alloh melaknat mereka dengan laknat yang bertubi-tubi— terhadap bumi Palestina maka bagaimanakah kita mengatakan tentang hari ini dari darah-darah yang suci yang ditumpahkan oleh (orang-orang Yahudi) para pembunuh nabi-nabi[3] di bumi Palestina.

[Musuh Melahap Kita Karena Kita Ghutsa’]

Maka wajib atas orang-orang yang sholih untuk mendo’akan (kaum muslimin di Palestina). Wajib atas para ulama untuk menjelaskan —(yakni) menjelaskan hukum-hukum yang berhubungan dengannya— dengan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa dan selalu mengikuti dalil. Wajib atas para penguasa kaum muslimin dan orang-orang kaya untuk mengerahkan apa yang mereka mampu dengan seluruh sarana-sarana yang tersedia bagi mereka untuk menghentikan derasnya darah yang mengalir ini. Dan wajib atas kaum muslimin semuanya —di samping kewajiban-kewajiban mereka sekarang ini— di dalam kewajiban waktu ini yang selayaknya kita memeriksa dan meletakkan jari-jari di atas penyakit —sumber penyakit— yang membuat musuh-musuh kita rakus untuk melahap kita bahwasanya kita adalah al-ghutsa’ (buih); al-ghutsa’ ini telah datang sebutannya di dalam hadits Tsauban yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad, ath-Thobroni, dan selainnya dengan sanad yang shohih, Nabi bersabda:Ghutsa

“Hampir umat-umat manusia —dalam riwayat yang lain: umat-umat manusia dari seluruh ufuk— saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana orang-orang yang makan saling mengajak makan di nampan mereka; dalam sebagian riwayat: sebagaimana orang-orang yang makan saling menyeru atas potongan-potongan mereka.”

Maka berkatalah para sahabat tatkala mendengar hal itu dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam —perhatikanlah! — : “Bagaimana umat-umat manusia berkumpul dari semua ufuk untuk melahap kita sebagaimana mereka berkumpul atas nampan mereka, atas makanan?” Tidaklah mereka menyangka kecuali bahwa kita adalah minoritas, maka mereka berkata memohon penjelasan dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah jumlah kita waktu itu sedikit wahai Rosululloh?” Maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak, bahkan kalian banyak jumlahnya”; dalam riwayat lain yang shohih: “Bahkan jumlah kalian lebih banyak daripada jumlah musuh-musuh kalian.”

Jumlah kalian adalah satu milyar dua ratus juta! Seandainya kaum muslimin (hari) ini bersatu di atas tauhid dan semuanya meludah kepada orang-orang Yahudi maka pasti orang-orang Yahudi akan hilang tanpa bekas.

“Akan tetapi, kalian adalah buih seperti buih di aliran air yang keruh, dicabutlah rasa segan dari musuh-musuh kalian”; dalam riwayat yang lain: “Sungguh Alloh mencabut kewibawaan dari kalian”; dalam riwayat yang lain: “Sungguh Alloh menimpakan ke dalam hati-hati kalian al-wahn. “

Para sahabat bertanya: “Apakah al-wahn itu wahai Rosululloh?” Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Cinta dunia dan benci kepada kematian. “

[Perbuatan Orang-Orang Yahudi Didasarkan Atas Aqidah Mereka]

Bukanlah hal yang aneh atas (orang-orang Yahudi) pembunuh para nabi jika mereka melakukan apa yang mereka lakukan atas para penduduk Gaza, karena orang-orang Yahudi berbuat berdasarkan atas aqidah mereka. Aqidah mereka (ialah) bahwa manusia seperti keledai-keledai— semoga Alloh memuliakan antum semuanya— jika dibandingkan dengan mereka. (Menurut aqidah mereka) bahwa Alloh menciptakan seluruh manusia selain mereka untuk melayani mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, selayaknya jika mereka (orang-orang Yahudi ini) mampu maka akan membunuh manusia-manusia semuanya, tidak ada seorang pun yang mereka kecualikan, mereka akan membunuh dan menghancurkan semua manusia selain mereka.

Aqidah mereka ini yaitu bahwa Alloh telah menciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dari diri-diri mereka dan bahwasanya dihalalkan bagi orang-orang Yahudi untuk membunuh semua manusia maka bukanlah perkara yang aneh dari semisal orang-orang Yahudi ini dari peristiwa yang terjadi di Gaza, akan tetapi hal yang sangat memprihatinkan (adalah) orang-orang yang mengimani Islam sebagai agama, mengimani Alloh sebagai Robb, dan mengimani Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, mereka dalam keadaan— demi Alloh tidaklah aku katakan bahwa seorang manusia bercucuran air mata karenanya, bahkan bercucuran darah dari matanya— , Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan di dalam Shohihain dari hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Permisalan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi di antara mereka adalah seperti tubuh yang satu. Jika salah salah satu anggota merasakan sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.”

[Kecintaan Kita Kepada Palestina Adalah Karena Aqidah]

Demikianlah selayaknya keadaan kaum muslimin, tetapi persekongkolan dan konspirasi musuh atas kaum muslimin menjauhkan jarak antara kaum muslimin. Awalnya, mereka menjauhkan orang-orang selain Arab dari masalah Palestina dan akhirnya adalah membatasi masalah Palestina di dalam sebuah perkumpulan yang mereka sebut sebagai “Satu-satunya Perwakilan resmi bagi Palestina” (yaitu HAMAS) sedangkan Palestina tidak menerima hal ini. Tidaklah mungkin bagi seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq disembah selain Alloh untuk berpaling dari masalah Palestina karena kecintaan kita kepada Palestina adalah karena aqidah. Sungguh Alloh telah mengikatkan Palestina dengan aqidah kita di dalam sholat, Palestina adalah kiblat pertama sholat kita, dan Alloh telah mengikatnya dengan ikatan yang tidak mungkin lepas di dalam perjalanan mi’roj. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di-isro‘-kan ke Baitul Maqdis dan di-mi’roj-kan dari Baitul Maqdis ke langit, dan adalah Alloh seandainya tidak menghendaki agar kita memiliki perhatian terhadap ikatan ini yang tidak boleh seorang pun melepaskannya maka sungguh Alloh berkuasa untuk me-mi’roj‘-kan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung dari Makkah al-Mukarromah.

[Nilai Pertolongan Seorang Muslim Atas Saudaranya]

Saya katakan: Wajib atas kaum muslimin untuk mendo’akan saudara-saudara mereka dan mengerahkan apa yang mereka mampu untuk menjaga pertahanan terakhir mereka, wajib atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya, maka bukanlah amanah satu macam saja. Yang kami takutkan —demi Zat yang tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia— adalah adanya seorang laki-laki yang lemah (dari penduduk Palestina) atau seorang wanita atau seorang anak kecil mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a: “Ya Alloh, janganlah Engkau menolong orang yang tidak menolong kami!” Do’a ini akan menimpa kaum muslimin semuanya, wala haula wala cjuwwata illa Billah.

Pertolongan ini memiliki harga, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:47_7

…jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

…. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat. (QS. al-Baqoroh [2]: 214)

Akan tetapi kita…

Wajib atas kita untuk membuat rancangan dan mengganti umat Islam ini menjadi umat Muhammad yang sebenarnya dan agar tidak tetap sebagai umat “buih”. Umat Muhammad yang sebenarnya… tidak bermain-main … tidak berbuat kemaksiatan, umat ilmu dan pemahaman; umat yang mengetahui kewajiban-kewajibannya, mengagungkan Robbnya dan mengenal-Nya dengan ma’rifat yang benar … mengenal nabinya, mengenal hak Robbnya dan hak nabinya atasnya, dan menunaikannya.

Apakah makna “Jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu?” Jika kalian menunaikan apa yang Alloh wajibkan atas kalian maka Alloh subhanahu wa ta’ala akan menolong kalian. Bukan cukup ini saja, bahkan Dia akan meneguhkan kedudukan kalian.

Yang terjadi di Gaza bukanlah anugerah di dalamnya terdapat ujian, dan ujian ini bukanlah khusus atas penduduk Gaza bahkan umum atas kaum muslimin semuanya. Pertolongan ini adalah pertolongan bagi kaum muslimin semuanya, dan jika mereka belum mendapatkan pertolongan karena seluruh umat dari orang yang tidak tahu kewajibannya dan dari orang yang tidak menunaikan hak Alloh subhanahu wa ta’ala, mereka tidak layak mendapatkan pertolongan.

Bumi Palestina direbut kembali oleh Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu, dan Sholahuddin rahimahullah. Adalah Sholahuddin, tatkala memeriksa pasukannya dia berhenti di sebuah tenda yang di dalamnya ada prajurit-prajurit yang tidak sholat malam, dia mengisyaratkan kepada tenda tersebut seraya berkata: “Dari kemah ini datang kekalahan pada kalian, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

[Makna Pertolongan Alloh]

Pertolongan memiliki mafhum (pengertian) syar’i yang luas, kadang seseorang mati dalam keadaan belum terealisasi kehendaknya, akan tetapi jika dia berjalan di atas kewajibannya waktu itu, mengetahuinya, dan menunaikan hak Alloh subhanahu wa ta’ala atasnya, maka buah yang akan dia petik sesudahnya adalah pertolongan.

Jalan yang dia tempuh —walaupun dia sendirian, lemah, dan terusir— selama dia berjalan di jalan yang shohih maka inilah pertolongan, maka Alloh berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau sedang dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah:9_40

Jikdau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah)…. (QS. at-Taubah [9]: 40)

Ahli ilmu berkata: “Pendahuluan-pendahuluan dari hal yang menyenangkan adalah pertolongan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah wafat di penjara karena masalah-masalah tentang hukum talak. Alloh menolongnya di dalam masalah-masalah yang dia menyelisihi musuh-musuhnya dalam hal itu, dan jadilah setiap pengadilan syar’i di dunia menghukumi dengan hukumnya dalam keadaan perkataannya menyelisihi madzhab-madzhab yang diikuti, ini adalah pertolongan dari Alloh yang dilihat oleh manusia sesudahnya.

[Kekalahan Kaum Muslimin Bukan Berarti Kekalahan Islam]

Yang penting, hendaknya engkau mengetahui kewajibanmu dan engkau tunaikan hak Alloh atasmu, Engkau tidak mampu untuk menunaikan apa-apa maka tidaklah kurang dari Engkau menunaikan hak ini dengan do’a. Dan seorang hamba beradab dengan Robbnya sebagaimana telah tsabit (tetap) dalam Musnad Ahmad dan yang lainnya tatkala kejadian-kejadian di Uhud terjadi, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbunuh, 70 orang sahabat dari Anshor dan Muhajirin terbunuh, bibir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terobek, gigi serinya pecah dan kepalanya terluka, maka kaum muslimin menganggap aneh hal itu seraya berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dari mana datangnya ini, bagaimana kaum musyrikin bisa melakukan hal ini terhadap kami dalam keadaan kami di atas al-haq dan mereka di atas kebatilan?” Maka Alloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menurunkan firman-Nya:3_165

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…” (QS. Ali Imron [3]: 165)

Kalau kita ditanya: Apakah kaum muslimin kalah dalam Perang Uhud maka kita katakan: Ya. Akan tetapi, jika kita ditanya apakah Islam kalah dalam Perang Uhud maka kita katakan: Tidak, Islam ditolong, dan pertolongan Alloh adalah dekat. Kaum muslimin kalah tatkala mereka menarik diri atas kewajiban yang Alloh wajibkan atas mereka. Pada tahun 1948 dan 1967 Islam menang dan kaum muslimin kalah. Di Andalus, Islam menang dan kaum muslimin kalah. Di Irak, Islam menang dan kaum muslimin kalah.

Di antara rahmat Alloh kepada kita bahwa Dia tidak menolong kita kecuali jika kita taat kepada-Nya. Kita adalah orang-orang yang mulia atas Alloh, di antara kemuliaan kita atas Robb kita: Bahwasanya Alloh … (tidak menolong kita) kecuali jika kita kembali kepada-Nya.

[Posisi Kita Tergantung Pada Amalan Kita]

Yang wajib —wahai saudara-saudaraku dan kekasih-kekasihku Fillah— atas kita semuanya di dalam nazilah ini hendaknya kita memeriksa keadaan-keadaan kita dan mengetahui kewajiban yang dibebankan di atas pundak-pundak kita, dan karena itulah kami katakan: Kewajiban kita saat ini adalah menghentikan aliran darah ini dan di kemudian hari adalah hendaknya kita persiapkan diri-diri kita dan kita perbanyak umat kita dengan perbanyakan yang sebenarnya sehingga menjadi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya dan dalam realita, dan jika tidak maka akan menjadi umat “buih”, dan agar kita mengubah umat ini dari umat kejahilan dan umat yang hina menjadi umat yang penuh ilmu, amal, kejujuran, dan keikhlasan, umat yang mengetahui nilainya dan kedudukannya di antara umat-umat manusia. Jika kita telah menunaikan kewajiban kita maka Robb kita akan memberikan hak kita, sebagaimana di dalam riwayat yang mu’allaq di dalam Shohih al-Bukhori dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Kami adalah kaum yang memerangi musuh-musuh kami dengan amalan-amalan kami. “

Apa yang naik ke Robb kami maka akan turun kepada kami, maka peperangan kami dengan musuh-musuh kami adalah dengan amalan-amalan kami. Adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Penguasa-penguasa kalian adalah amalan-amalan kalian, “

Maka amalan-amalan kita yang memutuskan posisi-posisi kita, tidaklah mungkin —sama sekali— kita melampaui sunnah-sunnah Alloh subhanahu wa ta’ala, adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah disiksa dan para sahabatnya pun disiksa. Beliau hijrah dan mengorbankan hal-hal yang sangat mahal dan berharga, maka Alloh menolongnya dan menolong orang-orang yang bersamanya, Alloh menolongnya.

Para ulama berkata, sebagaimana banyak kita pelajari terutama dalam pelajaran Ushul Fiqh: at-Tark (membiarkan): disebut sebagai al-Fi’l (perbuatan).25_30

Berkatalah Rosul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. al-Furqon [25]: 30)

Maka meninggalkan al-Qur’an Alloh jadikan sebagai ujian.

Para fuqoha menetapkan bahwa seandainya ada seorang dokter melihat orang yang terluka kemudian dia biarkan hingga infeksi dan dia tidak melakukan  pertolongan  yang   selayaknya maka dokter tersebut telah berbuat kejahatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Mana saja dari penduduk suatu negeri yang tidur dan di antara mereka ada seorang yang kelaparan maka lepaslah dari mereka tanggungan Alloh. “

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Seandainya ada seorang fakir yang mati kelaparan di suatu kampung maka aku akan memutuskan untuk membunuh penduduk kampung itu semuanya karena orang ini mati kelaparan di tengah-tengah mereka.”

Kaum muslimin berada dalam bahaya; maka wajib atas kita untuk mengerahkan apa yang kita mampu dan tidak kurang dari do’a, dan aku akhiri kalimatku dengan bahwasanya do’a selayaknya yang bermanfaat dan terpenuhi di dalamnya syarat-syarat yang syar’i. Alloh Ta’ala berfirman:25_77

Katakanlah: “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada do’amu, padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpamu).” (QS. al-Furqon [25]: 77)

Ingatlah ayat ini dan ikatkanlah dia dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan yang lainnya dari hadits Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu:

“Sungguh kalian akan memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atau sungguh berdo’a orang-orang yang terbaik dari kalian akan tetapi tidak dikabulkan. “

Wahai kaum muslimin!

Kalian semuanya jika tidak memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar maka sesungguhnya Alloh akan menghukum kalian dengan tidak dikabulkannya do’a ulama-ulama kalian dan orang-orang sholih kalian, maka do’a orang-orang yang baik — para ulama dan orang-orang yang sholih— terikat dan dikabulkan jika kalian wahai seluruh kaum muslimin memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaanmu dari istri atau anak atau murid di madrasah atau pegawai atau pekerja di perusahaan atau tetanggamu atau temanmu atau handai tolanmu. Maka perintah dan laranganmu menjadikan orang-orang yang terbaik dari umat ini jika mereka berdo’a akan dikabulkan oleh Alloh.

Seakan-akan di dalam ayat ini bahwa kehidupan umat dan bahwa rahasia kekuatannya, rahasia tegaknya, dan eksistensinya adalah di dalam do’a:

Katakanlah: “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada do’amu.”

Yaitu tetapnya kalian di dalam berdo’a, maka rahasia eksistensi umat ini adalah dengan do’a yang tidak akan dikabulkan kecuali jika kaum muslimin semuanya memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.

Kalau demikian maka tegaknya kita bukan hanya dengan para pembesar kita saja dan bukan karena para ulama kita saja, tegaknya kita adalah dengan setiap dari kita memiliki hubungan yang erat dengan Alloh ‘azza wa jalla.

Membiarkan kaum muslimin di Gaza dalam keadaan demikian adalah tarkun fi’li (membiarkan yang dihukumi sebagai perbuatan tercela), dan perbuatan ini adalah celaan di kening setiap orang yang mampu berbuat sesuatu tetapi tidak melakukan. Tidak ada pengobatan kecuali pengobatan yang syar’i, yang pahit dan membutuhkan waktu yang lama tetapi tidaklah lurus keadaan umat ini kecuali dengannya: hendaklah mereka bersatu di atas tauhid, merasakan bahwa setiap orang yang mengucapkan (laa ilaha illa Allah, Muhammadun rosulullaah) adalah saudara mereka, dia memiliki hak atas mereka dan hendaknya mereka berusaha menyelamatkannya dengan mengorbankan hal yang mahal dan berharga. Adapun jika umat terpisah-pisah anggota-anggota tubuhnya dan tercerai-berai, dan jadilah —dengan sangat disayangkan— tidaklah saya katakan atas Arab atau atas kaum muslimin secara umum bahkan saya katakan atas pihak-pihak yang mengurus masalah Palestina jadilah keadaan mereka seperti yang Alloh sifatkan atas orang-orang Yahudi:

….Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal. (QS. al-Hasyr [59]: 14)

[Seruan Kepada Pihak-Pihak yang Berwenang di Palestina]

Apa yang ditunggu oleh pihak-pihak yang berwenang dari orang-orang Palestina secara khusus hingga mereka bisa menunaikan kewajiban mereka terhadap saudara-saudara mereka? Hal itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal, tidak ada akal pada mereka. Mereka menunggu orang yang memikirkan mereka dan yang mendikte mereka, menggerakkan mereka seperti batu-batu di atas papan catur, wala haula wala cjuwwata illa Billah.[4]

Saya rnemohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang membela agama-Nya dan membela sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallohu A’lam bishshowab.

Sumber: majalah al Furqon, no. 89 hal: 30-36in tan shurullaahu yanshurkum


* Diterjemahkan oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari makalah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman yang berjudul Haula Ahdats Ghozzah dari http://www.kulalsalafiyeen.com dan http://www.islamancient.com. Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman adalah salah seorang ulama terkenal, penulis karya-karya ilmiah yang bermanfaat, beliau salah seorang murid senior Syaikh al-Albani dan salah seorang pendiri Markaz al-Imam al-Albani di Yordania. Beliau dilahirkan di Palestina pada tahun 1380 H dan berhijrah bersama keluarganya dari Palestina ke Yordania pada tahun 1387 H/1967 M karena agresi Yahudi ke Palestina.

[1] Pokok-pokok bahasan dalam tanda kurung siku dan catatan-catatan kaki merupakan tambahan dari penerjemah.

[2] Syaikh al-Albani berkata (Aqidah Thohawiyyah Syarah wa Ta’liq hlm. 71): “Sesungguhnya jihad terbagi menjadi dua: Yang pertama adalah fardhu ain, yaitu menghalau musuh yang menyerang sebagian negeri kaum muslimin, seperti orang-orang Yahudi sekarang ini yang menjajah Palestina. Maka kaum muslimin sekarang berdosa hingga mengeluarkan mereka dari Palestina….”

Syaikh Zuhair Syawisy berkata: “Sampai dalam persiapan jihad di Palestina Syaikh al-Albani telah menyiapkan dirinya untuk melawan agresi Zionis. Beliau hampir sampai di Palestina kalaulah bukan karena larangan penguasa waktu itu.” (Makalah berjudul Niqoth Yasiroh Fi Siroh ‘Athiroh Lisy Syaikh al-Albani dalam Majalah al-Furqon edisi 115 hlm. 19)

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata: “Syaikh al-Albani telah sampai di Palestina pada tahun 1948 M dan sholat di Masjidil Aqsho. Beliau pulang dalam keadaan menjadi pengarah agama pasukan Saudi sesudah mereka menamakan beliau sebagai orang yang menunduk, pasukan Saudi waktu itu tersesat di jalan. Beliau menjelaskan hal itu secata detail di dalam kitab beliau yang berjudul Rihlati Ila Najd.” (Salafiyyun wa Qodhiyyatu Filisthin hlm. 31)

[3] Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

…. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Alloh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. (QS. al-Baqoroh [2]: 61)

[4] Syaikh Abdul Aziz bin Royyis ar-Royyis berkata: “Satu hal yang tidak bisa dimengerti adalah apa yang mendorong HAMAS untuk melakukan serangan secara terang-terangan terhadap Yahudi kafir terlaknat itu. Padahal HAMAS juga menyadari bahwa kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Yahudi. Kenekadan mereka itu justru mengakibatkan makin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada kaum muslimin yang lemah di Gaza. Yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang berkeras meneruskan perang, sampai-sampai orang lain yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Pernyataan HAMAS cukup memprihatinkan, mereka beralasan dengan blokade Yahudi untuk membenarkan tindakan mereka melancarkan serangan-serangan tersebut. Mereka memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat blokade musuh menuju bahaya lain yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan bahaya blokade musuh sekaligus membuka celah menuju terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka harus diusir agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh diobati dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu membuka jalan tertumpahnya darah orang-orang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.”

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat besar adalah memberi kesempatan kaum Syi’ah bergabung dengan barisan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) justru memberikan tempat bagi kaum Syi’ah yang telah mengkaflrkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Syi’ah juga menuduh ibunda kaum mukminin—sosok yang sangat dicintai Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus istri beliau— telah berzina. Kaum Syi’ah juga mengangkat kedudukan para imam mereka sebagaimana halnya Alloh …. Salah satu contoh kekeliruan mereka adalah kunjungan Kholid Misy’al —seorang tokoh HAMAS— ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur Khomeini beserta pernyataannya bahwa Khomeini adalah bapak rohani dakwah HAMAS di Palestina!”

“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan di dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah (3/377); ‘Banyak di antara mereka—Rofidhoh/Syi’ah—justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah, ketika pasukan kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurosan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rofidhoh justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Menteri Baghdad saat itu yang dikenal dengan nama Ibnul Alqomi (seorang Syi’ah) dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang memiliki peran paling besar dalam membantu orang kafir menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rofidhoh yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rofidhoh pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rofidhoh sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka….’.”

“Semoga Alloh mematikan kita sebagai syuhada di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Semoga Alloh menjaga saudara-saudara kita di Gaza dan di mana saja, dan semoga Alloh memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.” (Durus Manhajiyyah min Ahdats Ghozzah al-Filisthiniyyah dari www.islamancient.com

Iklan