Buku Tamu


Silahkan untuk berkomentar yang positif dan membangun serta saran-saran bagi kami guna memperbaiki hal-hal yang belum terlengkapi di website ini.

Mohon untuk tidak mencantumkan pertanyaan sekitar masalah syar’i, anda bisa menanyakannya langsung di link-link ustadz yang sudah kami cantumkan.

Iklan

8 thoughts on “Buku Tamu

    • Wa’alaikumus salaam warohmatullaah. Ahlan wa sahlan akh. Copi kode ini di widget bagian teks:

      [gigya src="http://www.kajian.net/radiobox/mediaplayer.swf" quality="high" flashvars="width=160&height=350&file=http://www.kajian.net/radiobox/playlist.xml&displayheight=100&shuffle=false&showeq=true&showstop=true&overstretch=fit" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" height="350" width="160"]

  1. Mohon Pencerahannya, saya menemukan tulisan seperti ini:
    Seperti biasa, untuk mendukung dakwah jahilnya wahabi selalu
    menggunakan dalil-dalil atau perkataan Ulama yang sekiranya
    bisa “mendukung” atau “melegalkan” ajaran mereka, meskipun tidak
    nyambung dan lebih terkesan di paksakan. Tidak terkecuali ayat
    Al-Qur’an, tidak terkecuali Hadits, tidak terkecuali atsar sahabat
    tidak terkecuali ucapan para Imam Mazhab yang 4 pun terkena di seret
    semaunya. Diantara ucapan Imam Syafi’i yang sering mereka gunakan
    adalah :

    Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah
    Rasulullah SAW maka ambillah sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah
    pendapatku.

    Ucapan Imam Syafi’i yang ini sering digunakan wahabi diulang
    dimana-mana bahkan di setiap perdebatan atau dialog atau ceramah yang
    mereka lakukan mereka selalu mengulang-ulang ucapan Imam Syafii ini.
    Menurut mereka dengan ucapan Imam Syafii yang ini maka kita harus
    berpikir dulu untuk bermadzhab Syafii karena Imam Syafii sendiri pun
    sudah berkata demikian. Maka kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan
    As-Sunnah dan tidak penting bermadzhab, karena didalam madzhab bisa
    saja ada kekeliruan sementara didalam hadits yang shahih tidak ada
    kekeliruan.

    Inilah salah satu akal bulus mereka. Mereka sama sekali tidak memahami
    karakter gaya bahasa yang di gunakan Imam Syafii. Mereka terlalu
    dangkal menyimpulkannya, entah karena tidak paham atau sengaja
    menyelewengkan makna untuk menipu orang awam.

    Apakah benar definisi ucapan Imam Syafii ini berarti kita harus
    melepaskan madzhab???

    Imam Syafii berkata seperti ini bukanlah dimaksudkan seperti yang
    mereka (wahabi) katakan. Di zaman itu orang lebih mendengar pendapat
    ulama hadits ketimbang ulama fiqih, Namun orang-orang melihat bahwa
    Imam Syafii sepertinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
    mendalami ilmu fiqih ketimbang Ilmu hadits, itu sebabnya nama Imam
    Syafi’i tidak termasuk didalam Kutubussittah dan kutubusshiroh karena
    Imam Syafii lebih banyak menghabiskan usianya untuk mendalami masalah
    fiqih ketimbang Ilmu Hadits. Sehingga ketika Imam Syafi’i mengasas
    Mazhab Syafii banyak sekali orang-orang yang meragukan mazhab ini,
    karena orang-orang meragukan keilmuan Imam Syafii dibidang Hadits.
    Terlebih-lebih lagi dizaman itu sudah ada 2 mazhab besar, Madzhab
    Maliki dan Madzhab Hambali, dimana Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah
    terkenal sebagai 2 raja hadits dizaman itu. Kita tahu pada masa itu
    baru berkembang 2 kutub fiqih, yaitu kutub Baghdad dengan Abu Hanifah
    sebagai maha guru, dan kutub Hijaz dengan imam Malik sebagai maha guru.

    Masing-masing punya keistimewaan. Abu Hanifah telah berhasil memecahkan
    sistem istimbath hukum dengan kondisi minimnya hadits shahih dan
    berserakannya hadits dhaif dan palsu. Kondisi yang demikian telah
    memaksa beliau melakukan ijtihad dan pengembangan logika hukum dengan
    tetap berlandaskan kepada hadits-hadits shahih, meski jumlahnya sangat
    minim di negerinya.

    Di belahan bumi yang lain, ada Imam Malik yang tinggal di Madinah dan
    menjadi imam masjid sekaligus menjadi mufti. Madinah adalah kota suci
    nabi Muhammad SAW dan para shahabat rahiyallahu anhum ajmain. Saat itu,
    100 tahunan sepeninggal generasi Rasulullah SAW dan para shahabat, di
    Madinah masih tersisa banyak anak cucu dan keturunan generasi terbaik.

    Nyaris tidak ada yang berubah dari pola kehidupan di zaman nabi. Bahkan
    Imam Malik berkeyakinan bahwa setiap perbuatan dan tindakan penduduk
    Madinah saat itu boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Lantaran
    beliau yakin bahwa mustahil generasi keturuan nabi dan para shahabat
    memalsukan hadits atau berbohong tentang nabi.

    Maka salah satu ciri khas mazhab Malik adalah kekuatan mereka
    menggunakan dalil, meski kalau disandingkan dengan syarat ketat versi
    Al-Bukhari nantinya, hadits itu dianggap kurang kuat. Dan Imam Malik
    nyaris menghindari logika fiqih semacam qiyas dan sejenisnya, karena
    memang nyaris kurang diperlukan. Sebab kondisi sosial ekonomi di
    Madinah di zamannya masih mirip sekali dengan zaman nabi SAW.

    Berbeda dengan kondisi sosial ekonomi di Iraq, tempat di mana Al-Imam
    Abu Hanifah mendirikan pusat ilmu. Selain hadits palsu banyak
    berseliweran, Iraq sudah menjadi kosmopolitan dengan sekian banyak
    dinamika yang melebihi zamannya. Banyak fenomena yang tidak ada
    jawabannya kalau hanya merujuk kepada nash-nash hadits saja. Maka wajar
    bila Abu Hanifah mengembangkan pola qiyas secara lebih luas.

    Imam Syafii adalah murid paling pandai yang berguru kepada Al-Imam
    Malik ketika beliau tinggal di Madinah. Namun beliau ke Iraq, beliau
    juga belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah. Maka mazhab fiqih
    yang beliau kembangkan di Iraq adalah perpaduan antara dua kekuatan
    tersebut. Semua keistimewaan mazhab Malik di Madinah dipadukan dengan
    keunikan mazhab Hanafiyah di Iraq. Dan hasilnya adalah sebuah mazhab
    canggih, yaitu mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

    Sayangnya banyak orang yang tidak tahu sejarah seperti ini, sehingga
    tidak sedikit yang memandang mazhab Asy-Syafi’i dengan pandangan minor
    dan kurang respek. Padahal, logika sederhananya, dengan menggunakan
    mazhab Asy-Syafi’i, boleh dibilang bahwa setiap orang sudah otomatis
    menggunakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sekaligus. Meski tidak secara
    pas boleh dikatakan demikian.

    Maka orang-orang dizaman itu lebih ‘memandang’ mazhab hanafi dan mazhab
    maliki ketimbang mazhab Syafii, yang baru saja di asas. Mereka
    meragukan mazhab syafii ini karena mereka lebih banyak melihat Imam
    Syafii menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu fiqih ketimbang ilmu
    hadits, sehingga orang-orang meragukan kualitas hadits-hadist didalam
    mazhab Syafi.

    Untuk menjawab keraguan orang-orang ini terlebih-lebih lagi bagi
    murid-murid beliau maka Imam Syafii mengeluarkan ucapan

    Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah
    Rasulullah SAW maka ambillah sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah
    pendapatku.

    Ucapan ini untuk menjawab keragu-raguan orang akan mazhabnya, untuk
    menantang orang-orang yang meragukan Mazhabnya. Pada kesempatan lain
    lagi Imam Syafii berkata:

    Bila sebuah hadits dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.

    Mazhabku itu apa?? ya Mazhab Syafii. Itu artinya hadits didalam
    mazhabnya adalah shahih semua. Dalam kesempatan lain Imam Syafii
    kembali menekankan bahwa pendapat beliau hanya berlandaskan kepada
    hadits shahih

    Imam Syafii berkata :

    Kalian lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila
    suatu hadits dinyatakan sahih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun
    asalnya, dari Kufah, Basrah atau Syam. Bila benar sahih aku akan
    menjadikannya mazhabku (Mazhab Syafii).

    Seakan-akan Imam Syafii berkata begini : Buat yang paham hadits jika
    nanti menemukan hadits shahih dari berbagai tempat kasih tahu aku,
    karena akan aku jadikan sebagai dalil didalam mazhabku. Ini adalah
    sebagai bentuk penekanan bahwa Imam Syafii hanya mau menjadikan hadits
    shahih sebagai landasan mazhabnya.

    Dalam kesempatan lain Imam Syafii kembali menegaskan bahwa dalil-dalil
    didalam mazhabnya adalah Shahih semua :

    Setiap masalah yang ada haditsnya dari Rasulullah SAW menurut ahli
    hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut
    pendapatku baik selama aku masih hidup atau setelah matiku.

    Demikian pula penekanan-penekanan Imam Syafii pada kesempatan lain :

    Bila kalian melihatku mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada
    hadits sahih yang bertentangan dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa
    pendapatku tidak pernah ada.

    Namun tentu saja sebagai ulama besar beliau tetap bertawadhu, tidak
    menyombongkan diri dan menghargai pendapat ulama lain di zaman itu,
    terutama pendapat guru beliau Imam Malik dan Imam Hanafi, serta murid
    beliau Imam Ahmad bin Hambal :

    Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rasulullah SAW yang sahih
    bertentangan dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits
    Rasulullah SAW, janganlah bertaklid kepadaku.

    Namun nyatanya dalil didalam mazhab Syafii adalah shahih semua. Jika
    fatwa Imam Syafii ada yang tidak shahih dan menyalah, tidak perlu
    menunggu reaksi dari wahabiyyun, tentu pembantahannya sudah dilakukan
    oleh ulama yang hidup sezaman dengan Imam Syafii yang ilmunya jauh
    lebih tinggi ketimbang wahabiyyun.

    Kita bisa melihat kitab tarikh, atau kitab-kitab lain untuk menelusuri
    kejadian dizaman itu. Apakah kita temukan keterangan didalam
    kitab-kitab bahwa dizaman itu ada ulama yang membantah pendapat Imam
    Syafii?? Nyatanya tidak ada. Jangankan kyai-kyai wahabi ini yang baru
    lahir diabad ini yang hanya kebagian sisa-sisa hadits dari ulama,
    bahkan guru Imam Syafii yang notabenenya adalah Syaikhul Akbar sendiri
    seperti Imam Malik dan Imam Abu Hanifah saja tidak berani membantah
    pendapat Imam Syafii. Jika pendapat Imam Syafii ada yang salah, apa
    mungkin sang guru mendiamkannya?? Mustahil…!!!

    Ini artinya apa?? Ini artinya semua pendapat Imam Syafii shahih semua.

    Siapa mereka wahabi-wahabi ini yang ‘nekad’ ingin menumbangkan pendapat
    Imam Syafii??

    Imam Syafii adalah Muhaddits dan Hujjatul islam, syarat seorang
    mencapai derajat Hujjatul islam adalah hafal 300 ribu hadits dengan
    sanad dan matannya, sedangkan satu kalimat pendek hadits saja bila dg
    hukum sanad dan matannya bisa menjadi dua halaman panjangnya,
    lalu bagaimana dengan 300 ribu hadits dg sanad matan?

    Ketahuilah bahwa Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dg
    sanad dan matannya, sedangkan Imam Ahmad ini adalah murid Imam Syafii,
    dan Imam Syafii adalah murid Imam Malik.

    Imam Syafii menulis seluruh fatwa dan catatan2nya hingga memenuhi
    kamarnya (entah berapa juta halaman), lalu berkata Imam syafii, “sulit
    sekali aku, karena tak bisa bepergian kemana mana karena ilmuku semua
    terkumpul di kamar kerjaku, maka aku menghafal kesemuanya, lalu kubakar
    seluruh catatan itu, karena sudah kupindahkan ke kepalaku kesemuanya”.

    Imam Malik telah menulis sebuah buku hadits yg dinamakan : Almuwatta’,
    yg artinya : “yg menginjak”, karena kitabnya itu mengungguli dan
    menengelamkan semua kitab para ulama Imam imam dan Muhadditsin lainnya
    di zamannya, semua terinjak/terkalahkan oleh kitab beliau. dan Imam
    Syafii sudah hafal kitab ALmuwatta pada usia 15 tahun, ia hafal
    Alqur’an pada usia 10 tahun, dan berkata Imam Ahmad bin Hanbal, tak
    kulihat orang yg lebih menginginkan berada pada sunnah melebihi Imam
    Syafii. Ini menegaskan bahwa Imam Syafii tidak hanya luar biasa didalam
    ilmu fiqih, tapi juga ilmu haditsnya tidak bisa di remehkan.

    Nah.. apalah artinya ucapan ucapan mereka itu dibanding Imam Imam besar
    yg mereka itu tak akan melupakan sebutir kesalahanpun dalam fatwanya,
    dan bila fatwanya ada kesalahan, niscaya sudah dilewati beribu2
    muhaddits dan Imam Imam yg menyangkalnya dizamannya, sehingga disuatu
    kesempatan Imam Syafii kembali menegaskan kepada orang-orang yang
    meragukan mazhabnya.

    Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku (mazhab syafii), dan
    kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.
    (Siyar A’laamin Nubala’ 3/3284-3285).

    Ini adalah penegasan dari Sang Imam Akbar buat orang-orang yang
    meragukan ucapan Imam Syafii (semacam wahabi) yang suka meragukan
    fatwanya. Dan jawaban dan pengamanan bagi orang-orang didalam mazhab
    syafii bahwa dalil didalam mazhab Syafii semuanya adalah shahih. Dan
    Inilah makna yang sebenarnya.

    Inilah karakter gaya bahasa Imam Syafii yang sulit dipahami oleh
    orang-orang polos seperti wahabi. Mereka mengartikannya secara
    bulat-bulat tanpa mengerti maksud disebalik ucapan Imam Syafii itu. Ini
    akibat belajar tanpa berguru dan tidak punya sanad. Sehingga banyak
    keliru menafsirkan ucapan ulama.
    Kita lihat ucapan yang lain. Dalam kesempatan lain Imam Syafii pernah
    berkata :

    “Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syiah, maka saksikanlah wahai
    seluruh jin dan manusia bahwa aku ini adalah Syiah…!!”

    Jika ucapan Imam Syafii yang ini diartikan dengan metode yang wahabi
    gunakan dalam mengartikan ucapan Imam Syafii diatas tadi secara polos,
    tentu kita akan menyimpulkan bahwa Imam Syafii adalah syiah. Ucapan
    Imam Syafii ini sering digunakan oleh syiah bahwa Imam Syafii adalah
    syiah, padahal bukan. Jika Imam Syafii adalah Syi’ah tidak perlu beliau
    kalimatnya seperti itu. Beliau cukup berkata “Aku adalah Syi’ah”, tanpa
    perlu embel-embel “jika mencintai ahlul bait/keluarga Rasulullah saw”.

    Imam Syafi’i berkata seperti ini untuk menghilangkan keraguan
    orang-orang dizaman itu yang mencintai keluarga Rasulullah saw (Ahlul
    Bait). Karena dizaman itu setiap orang yang mencintai ahlul bait akan
    dibilang syi’ah, sehingga orang menjadi ragu-ragu untuk mencintai
    ahlulbait, karena takut akan di cap syi’ah. Padahal yang mencintai
    ahlul bait tidak harus syi’ah tapi adalah semua umat Islam. Itu
    sebabnya Imam Syafii menegaskan untuk menjawab keraguan orang-orang itu
    seraya berkata

    Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syiah, maka saksikanlah wahai
    seluruh jin dan manusia bahwa aku ini adalah Syiah…!!”.

    Namun nyatanya Imam Syafii bukanlah syi’ah. Beliau adalah Ahlus Sunah
    Wal Jama’ah. Nah demikianlah segelintir pengertian ucapan Imam Syafii
    yang sering diselewengkan maknanya zhahirnya oleh wahabi untuk
    menumbangkan mazhab, entah karena tidak mengerti atau sengaja licik
    demi memuluskan jalan mereka karena mereka sering melakukan keduanya.
    Menyelewengkan ucapan ulama dan tidak mengerti ucapan ulama. Yang
    menjadi korban tentu orang-orang awam yang menjadi sasaran dakwah
    mereka untuk di tarik menjadi golongan mereka yang pada akhirnya
    akan “DIPAKSA” mengakui bahwa kedua orang tua Rasulullah saw masuk
    neraka dan mengakui bahwa Allah memiliki tangan, kaki, gusi, berlari,
    bersemayam, menempati ruang tertentu.

Apa Komentar Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s